Cruel Fate

Cruel Fate
Part 29.2


__ADS_3

“Semua persiapan telah selesai. Pasukan kita siap kapanpun untuk di turunkan ke medan perang…” kata Aiden yang memasuki tenda besar milik Athens bersama dengan Arsen di sana.


“Hmm… pasukan yang lain juga sudah siap. Senjata ini juga sepertinya siap di gunakan kembali setelah ribuan tahun di istirahatkan. Tangan dari pewarisnya telah siap juga untuk masuk ke medan perang yang sesungguhnya,” ujar Athens dan melirik Arrio.


“Akhirnya kita bisa isirahat sebentar sebelum perang di mulai. Bagaimana kalau malam ini kita adakan makan malam keluarga khusus, untuk menyambut kedatangan dari sang penyembuh bersama semua pasukan? Aku yakin mereka menyukainya dan akan menambah semangat dari semua pasukan kita saat melihat sang penyembuh yang berada di dekat kita,” usul Aksel yang di angguki Jason.


“Aku setuju dengann usulan kembaranku ini. Sekalian, kita bisa memperkenalkan dunia kita pada kak Arra. Agar dia bisa lebih terbiasa dengan semua yang ada di sini…” lanjut Jason.


“Bagaimana menurutmu Arrio?” tanya Athens.


“Aku tidak masalah dengan itu. Umumkan saja pada semuanya kalau malam ini akan ada makan malam bersama denganku dan sang penyembuh. Tak perlu dibuat terlalu khusus karena kita tengah dalam situasi yang mendekati perang. Tak elok jika kita melakukan perayaan sebelum peperangan terjadi…” jelas Arrio.


“Oke! Aku yang akan meminta semuanya menyiapkan meja. Dan kau Aksel, pergilah ke tenda Arra dan minta dia bersiap untuk makan malam bersama,” ujar Arrio.


“Siap laksanakan!” Aksel berseru dengan wajah bahagianya dan segera keluar dari tenda.


Sementara itu, Arsen dan Jason memilih membersihkan kembali tenda Athens yang berisi banyak kertas dan perkamen yang tersebar hampir di setiap sudutnya.


**


Aksel segera menghentikan langkahnya begitu dia hampir mendekati tenda milik Arra. Ada aura gelap yang begitu terasa di sana dan hilangnya pengawal yang menjaga area tenda itu juga menjadi pertanyaan besar untuk Aksel. Malaikat muda itu segera memakai jubahnya hingga menutupi kepala dan memasuki tenda milik Arra dengan berhati – hati. Pedang di tangannya kini juga sudah siap dan di genggamnya sangat erat.

__ADS_1


Aksel dengan cepat menyingkap tirai di tenda Arra dan terkejut karena kondisi tenda yang begitu sunyi dan masih begitu rapih tanpa ada tanda – tanda penyerangan di sana. Malaikat muda itu lagi – lagi bergerak dengan cekatan untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam tendanya dan memeriksa keberadaan Arra yang masih tak terlihat.


“Kak Arra! Arra!” panggilnya sambil mengelilingi tenda. “Kak Arra! Kau di mana? Arra!” teriak Aksel dan segera menghambur keluar, berjalan menuju ruang ganti khusus namun di sana juga kosong.


Kemudian dia mendekati ranjang tempat Arra tertidur dan melihat selimut yang sudah berantakan bekas di pakai. Namun ada sesuatu yang aneh disana. Ada bekas hangus seperti terbakar di ujung selimutnya dan beberapa titik lainnya. Juga ada beberapa helai bulu berwarna hitam yang bertebaran di sekitar ranjang gadis itu dan juga ke arah bagian belakang tenda.


Aksel memperhatikan bulu hitam itu dengan lebih cermat dan terbelalak ketika dengan kemampuannya dia bisa mengetahui siapa pemilik bulu hitam yang mirip seperti bulu burung gagak di sana. Ini adalah milik Ellard, yang tak lain adalah Panglima Perang dari para Iblis.


Lenyapnya Arra dari tempat itu dan semua bekas yang tertinggal disana dengan aura hitam yang melingkupi tempat tersebut juga semakin membuat Aksel yakin bahwa kakak iparnya itu sudah di bawa oleh Ellard yang berhasil menerobos masuk ke dalam wilayah para malaikat.


“Brengsek!” Aksel segera berlari dengan cepat keluar dari tenda tersebut.


**


Hilangnya Arra membuat geger seluruh wilayah para malaikat yang sebelumnya begitu tenang. Mereka kini kembali berkumpul di dalamm tenda milik Athens guna merundingkan strategi yang harus di lakukan dengan dua tugas besar yang kini berada tepat di hadapan para malaikat. Pertama adalah memenangkan perang dan yang kedua juga utama adalah menyelamatkan sang penyembuh yang saat ini berada di tangan para iblis laknat itu.


Arrio sendiri masih berdiri di luar dan menatap jauh ke arah tenda para iblis saat Athens menghampirinya.


“Aku paham apa yang kau pikirkan, meski aku tak bisa merasakan yang kau rasakan sepenuhnya. Masuklah dulu, kami akan membantumu membawanya kembali ke tempat ini,” ucap Athens.


“Kau tahu, apa yang membuatku lebih terluka?” tanya Arrio. “Aku menjanjikan padanya, bahwa ini akan menjadi tempatnya yang paling aman. Aku membawanya kesini, dengan harapan besar bahwa setiap sudut tempat ini akan melindungi dia dari semua mata jahat yang mengincarnya. Tapi sekarang… dia ada disana, bahkan tanpa aku bisa melindunginya sama sekali… aku merasa, aku sudah gagal, Athens,” ujar Arrio dengan mata berkaca – kaca.

__ADS_1


Athens menghela nafas nya dan menepuk pundak Arrio perlahan,


“Apa yang terjadi di sini sekarang, bukanlah kesalahanmu Arrio… in juga keteledoranku juga. Yang membuat penjagaan tak terlalu kuat karena memganggap penjagaan di tempat ini sudah sangat cukup hanya dengan kerumunan dari para malaikat,” kata Athens.


“Aku tak tahu apa yang tengah terjadi padanya saat ini…”


“Aku yakin dia akan baik – baik saja. Mendengar apa yang sudah dia dapatkan dari si kembar. Aku yakin dia bisa mengatasinya. Ayo masuklah sekarang dan bersiap,” ajak Athens yang merangkul pundak Arrio untuk segera masuk ke dalam tendanya.


**


Sementara itu, di tempat yang berhadapan dengan tenda para malaikat. Di dalam sebuah tenda besar berwarna hitam dengan bendera besar dengan lambang iblis yang begitu megah, ada seorang gadis yang terlihat sudah sangat tak karuan. Tubuhnya oenuh dengan luka cakar dan baju yang di pakainya pun hampir koyak di seluruh bagiannya. Belum lagi rambutnya yang sudah sangat berantakan dengan keringat yang mengalir di kening, tangan, serta punggungnya.


Gadis itu terus bergerak tanpa henti, berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikat kuat kedua tangannya ke belakang. Mulutnya yang di bekap dengan kain hitam pun terasa sangat sakit. Telapak kakinyapun sudah berdarah karena sempat tersengat api yang sengaja di berikan oleh para iblis untuk menyiksanya.


Dan saat itulah satu sosok iblis dengan ukuran tubuh lebih besar dari yang lainnya masuk, dia membawa senjata berupa pedang yang mirip dengan milik Arrio namun dengan kilatan berwarna hitam.


“Apa dia Darrick?” batin Arra bertanya – tanya.


Namun sepertinya bukan, karena iblis itu hanya menatapnya dan tersenyum melecehkan dirinya sambil tangannya berusaha menyentuh wajah serta tubuh Arra yang terikat. Gadis itu terus saja berusaha melepaskan diri sekarang dari tali yang mengikatnya saat tangan kasar Ellard menyusuri lekuk tubuhnya dengan perlahan. Ekspresi wajah iblis itu yang sangat menjijikkan membuat Arra ingin meludah di wajahnya. Namun dia hanya bisa menggeram tanpa mampu melawan saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2