
“Kami yang akan maju dan menyelamatkan Arra…” putus Jason setelah mereka selesai merundingkan strategi yang akan di jalankan.
“Maksudmu, kau dan Aksel yang akan masuk ke sana?” tanya Arsen.
“Benar… lebih baik kami yang masuk ke tempat itu dan menyelamatkan kak Arra. Karena kak Arrio di butuhkan di medan perang. Kalau kak Arrio turun ke medan perang, maka bisa di pastikan Darrick juga Ellard akan ikut turun, dan itu akan mempermudah kami menyelamatkan kak Arra. Kami mampu untuk meghabisi semua iblis kecil itu. Aku yakin!” ujar Aksel dengan sangat percaya diri.
Arrio terlihat masih belum yakin dan terus diam sambil berpikir keras. Dia harus memastikan sendiri kondisi Arra memang baik – baik saja, tapi disisi lain, dia juga tahu bahwa apa yang di usulkan kedua adiknya memang benar. Jika dirinya yang masuk ke benteng pertahanan mereka dan tidak muncul di hadapan para pasukan iblis. Maka bisa di pastikan Darrick juga tidak akan turun dan hanya mengutus Ellard. Yang artinya, dia bisa saja membawa Arra pergi lebih jauh saat peperangan tengah terjadi dan membuat Arrio terkecoh.
“Lagipula, kami memang punya tugas untuk melindungi sang penyembuh kan kak. Jadi kau tak perlu khawatir, kami juga punya kekuatan yang cukup besar…” ucap Jason mencoba meyakinkan Arrio sekali lagi.
“Mereka berdua benar Arrio. Aku tahu apa yang kau inginkan, tapi jalan ini memang yang terbaik demi kemenangan dari segala sisi. Dan keselamatan Arra…” tukas Athens yang di setujui oleh Arsen dan juga Aiden secara bersamaan.
Arrio menghela nafas berat dan akhirnya mengangguk, dia menyetujui apa yang di usulkan demi Arra dan demi semua yang sekarang tengah bertumpu pada dirinya. Arrio sadar, dia tak boleh egois karena ini bukan hanya masalah cinta atau sekedar perasaannya semata yang harus di pikirkan. Namun juga kepentingan banyak pihak yang sudah terlibat dalam hal besar ini.
Aksel yang melihat kakaknya sudah mengangguk pun segera keluar tenda guna mengambil senjatanya, dia akan bersiap dengan baju zirah dan jubah malaikat miliknya. Juga pedang dan busur serta panah yang memang menjadi miliknya. Begitu pula Jason yang kini langsung bersiap tanpa menunggu lebih lama.
Namun…
**
“Tuanku! Tuanku! Panglima, Panglima Ellard!” sesosok iblis kini berlarian dan merangsek masuk tanpa permisi, memasuki tenda dimana Arra dan Darrick berada di dalamnya.
“Apa yang kau lakukan, Hah! Kau tidak lihat ada siapa disini sekarang?” bentak Darrick.
“M-maafkan hamba Yang Mulia. T-tapi… Panglima Ellard, dia--” si iblis itu nampak begitu ketakutan dan tak bisa bicara dengan benar.
“Apa yang terjadi! Kenapa dia? Jawab!” paksa Darrick lagi.
__ADS_1
“T-tuanku… Ellard… dia… tubuhnya, mengeluarkan asap dan terbakar. D-dia kesakitan dan terus berteriak. Sekujur tubuhnya bahkan melepuh seperti habis terbakar sesuatu Y-yang Mulia…” lapor iblis itu meski dengan nada bicara yang terbata – bata.
“Apa?! Bagaimana bisa?” tanya Darrick yang tentunya tak bisa di jawab oleh si iblis.
Sementara itu, di hadapannya kini Arra justru mengulas senyum penuh kelegaan.
“Kau…” Darrick kini berbalik menatap Arra yang masih memandangnya dengan sangat tenang tanpa rasa takut sama sekali. “Apa yang kau lakukan sebenarnya. Bagaimana bisa!” teriak Darrick.
“Kenapa kau masih bertanya. Saat aku sudah memberikan peringatan padamu. Tanganku, memang penyembuh… tapi bukan untuk kaum mu…” ucap Arra dengan santai dan menunjukkan telapak tangannya ke arah Darrick.
“Kau bukan manusia! Kau bukan manusia! Kau mengerikan!” teriak Darrick.
Iblis itu lalu mendekati Arra dan mencengkeram wajah gadis itu dengan tangannya dan menatap wajah Arra dengan begitu dekat hingga nafasnya yang panas bisa di rasakan oleh gadis itu. Matanya sangat tajam seolah mencari sorot ketakutan yang seharusnya dimiliki oleh gadis manusia saat melihat sosok iblis di hadapannya.
Derrick pun bahkan mengubah wujudnya menjadi wujud yang paling mengerikan dan menatap langsung ke wajah Arra. Dan yang mengejutkannya adalah, gadis itu sama sekali tak mengubah ekspresinya. Sedikitpun.
Suara Ellard yang tengah kesakitan dan membuat Darrick melepaskan cengkeramannya dari wajah Arra, lalu menjauhi gadis itu.
“Tunggu dan jaga dia disini. Aku akan melihat kondisinya!” perintah Darrick pada iblis itu.
**
Betapa terkejutnya Darrick, saat dia akhirnya menemukan Ellard yang sudah tergeletak di atas tanah dengan tubuh yang hangus hampir seluruhnya. Dia mengerang dan berteriak kesakitan seolah tengah di kuliti hidup – hidup dan di panggang di atas api neraka.
“Ellard! Apa yang terjadi padamu!” pekik derrick.
“Jangan sentuh dia Yang Mulia!” teriak salah satu panglima perangnya yang juga salah satu sosok yang di tuakan di sana.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa kalian diam saja! Cepat tolong dia! Lakukan sesuatu!” perintah derrick.
“Maafkan kami Yang Mulia. Tapi kami tak bisa melakukan apapun…” ujar panglima itu.
“Kenapa?!” Darrick merasa dia sangat tidak tega melihat panglimanya kesakitan.
“Ini sihir Yang Mulia. Lihatlah abu yang ada di sana. Setiap iblis yang menyentuh Panglima Ellard untukn menolongnya pasti akan mati dan berubah menjadi abu saat itu juga. Sudah banyak dari pasukan kita yang menjadi korbannya Yang Mulia. Kami tak bisa melakukan itu…” jelasnya pada Darrick.
“Apa? T-tapi bagaimana mungkin?” Darrick begitu terkejut karena sebagian besar pasukannya yang di tugaskan menolong Ellard justru lebur dan berubah menjadi abu.
Dia pun segera keluar dari tenda dan meninggalkan semuanya untuk menemui Arra.
Dia tahu, hanya gadis itu yang mampu menolong Ellard.
**
“Sebenarnya siapa kau sebenarnya? Kenapa bisa kau melakukan ini pada kami!” teriak derrick begitu dia masuk kembali ke dalam tenda.
“Sudah ku katakan padamu. Aku tak suka, dia menyentuhku sembarangan. Sepertimu, sekarang ini…” lirih Arra saat dia merasakan cengkeraman tangan Darrick yang begitu kuat di wajahnya sekali lagi.
“Kau…”
“Kau mau hancur juga seperti dia?” tanya Arra yang membuat Darrick otomatis mundur dan melepaskan tangannya dari wajah Arra.
“Kau bukan manusia!” kata Darrick.
****
__ADS_1