
“Rio…” panggil Arra saat melihat Arrio tengah
menyiapkan semua barang milik Arra dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu
besar untuk di bawa Phoenix.
“Kenapa sayang?” tanya Arrio.
“Apa aku boleh menemui Andrew sebelum ikut
denganmu? Aku tak tahu kapan akan bisa menemuinya lagi saat sudah sampai di
sana. Aku… ingin minta maaf dan juga berterima kasih pada Andrew yang selama
ini sudah menjagaku dengan sangat baik. Apa… kau keberatan?” tanya Arra lagi.
Arrio tersenyum, “boleh sayang. Tentu aku tak
keberatan. Aku juga berencana mengajakmu kesana sebelum aku ke sana sebelum
kita berangkat ke dunia atas…” ujar Arrio yang membuat hati Arra lega.
Gadis itu mendekat pada Arrio dan menunduk sambil
menatap Arrio lekat, “kau tidak akan berpikir kalau aku gadis yang buruk kan?
Karena aku meminta hal semacam ini padamu?” tanya Arra lagi meyakinkan dirinya.
“Buruk? Kau gadis yang terbaik sayang. Jangan
pernah berpikir kalau aku menilaimu seperti itu. Aku memahami benar apa yang
kau rasakan dan pikirkan, lagipula Andrew memang perlu di pamiti juga di
berikan ucapan terima kasih yang lebih layak karena selama ini sudah menjagamu
dan mencintaimu sepenuh hatinya. Apa yang terjadi antara aku dan Andrew, itu
hal wajar yang bisa terjadi pada pria manapun demi mendapatkan gadis yang di
cintainya. Dan disini aku yang mendapatkan gadis itu,” jelas Arrio lagi.
Arra kemudian tersenyum kecil mendengarnya.
Ada rasa aneh saat mendengar bagaimana dua pria luar biasa itu merebutkan
dirinya. Dia yang hanya seorang gadis buta dan tak memiliki kelebihan apapun
selain memasak tanpa gosong dalam keadaan buta. Terkadang, Arra selalu
berpikir, apa yang di pikirkan Arrio dan Andrew sampai melakukan perjanjian
gila itu demi mendapatkan dirinya.
**
Arrio sudah selesai bersiap. Sementara Aksel
dan Jason juga sudah mengambil senjata yang dimaksud oleh kakaknya di tempat
penyimpanan, lalu membawanya untuk di perlihatkan pada Arrio sebelum
membungkusnya dengan kain khusus untuk mengamankan senjata.
Mereka berempat, Arra, Arrio, Jason dan Aksel
kini bertemu di ruang tengah rumah mereka dan berunding menentukan jalan yang
akan mereka tempuh untuk memasuki dunia atas. Hal ini di lakukan, karena akses
menuju dunia atas yang semakin sempit akibat kepungan para iblis yang kini
sudah banyak berkeliaran di wilayah dunia atas saat ini. Jason segera membuka
sebuah kertas yang cukup besar dan membentangkannya di atas meja tamu.
__ADS_1
“Ini peta terbaru dari dunia atas dan seluruh
wilayah yang mencangkupinya. Ada beberapa pintu masuk dan keluar yang di
tunjukkan disini,” ujar Jason.
“Kenapa ini berbeda dari milikku?” tanya
Aksel.
“Karena aku yang menggambarnya,” jawab Jason.
“Ahh… kau menelusuri seluruh wilayah untuk
bisa menggambar ini?” tanya Aksel lagi.
“Ya, gambar ini berdasarkan pengamatanku
selama berpuluh – puluh tahun menyusuri seluruuh kawasan dunia atas. Dan juga
hasil dari pencarianku pada para tetua di sana. Mereka ternyata punya banyak
pintu masuk rahaia yang selama ini tak pernah terjamah oleh malaikat manapun…”
jelas Jason lagi.
“Oke, jadi… kau mau memberi jalan yang mana
untuk kami?” tanya Arrio pada Jason.
“Aku memilihkan jalan ini.” Jason menunjuk ke
salah satu kawasan yang berwarna merah di sana.
Kawasan tersebut bertuliskan wilyah neraka dan
wilayah surga. Dengan jalan tengah yang membelah di antara keduanya. Di kedua
ujungnya, terdapat pintu gerbang Surga dan pintu gerbang Neraka yang masing –
masing terlihat sangat berbeda jauh.
“Lalu, terbang dengan melewati kawasan ini dan menuju ke pintu Surga yang ada
di ujungnya. Namun, saat kalian menedekati pintunya, kalian akan menemukan
sebuah pohon besar yang berwarna hijau. Di tempat itu adalah tempat paling aman
dan bisa di gunakan untuk beristirahat, karena energi dari dalam pohon tersebut
mampu menetralisir kekuatan iblis maupun malaikat dan jika malaikat yang
berlindung di bawahnya, maka pohon itu akan memberikan kekuatan malaikat yang
besar hingga mampu mengalahkan iblis yang akan menyerangnya. Begitu juga
sebaliknya,” lanjut Jason lagi.
“Tidak ada jalan lain yang lebih normal?”
tanya Arrio.
“Tidak, karena kakak akan membawa Arra bersama
dengan kakak. Kita tak mungkin membawanya masuk ke dunia atas melalui rute yang
biasanya. Itu akan mencolok dan aroma manusia dari Arra pasti mampu tercium
oleh para Iblis. Kita tak boleh mengadakan perang di luar padang,” kata Jason
lagi.
“Oke, lalu kita berdua dengan benda ini
bagaimana?” tanya Aksel.
__ADS_1
“Kita akan melalui jalur barat, tempat busur
ini di buat dan di tempa. Karena kabut dari wilayah barat yang akan melindungi
keberadaan busur ini,” ujar Jason lagi.
“Kalian jangan lupa pakai jubah kalian untuk
melindungi diri.” Perintah Arrio pada kedua adiknya yang langsung mengangguk
mengerti dan menyetujui keinginan sang kakak.
Setelah itu, Arrio segera membuka satu jubah
yang ada di dalam tasnya untuk di tudungkan pada tubuh Arra. Menutupi seluruuh
bagian tubuh dari gadis itu, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya.
“Ayo sayang, kita harus berangkat duluan
karena harus menemui Andrew sebelum pergi…” ajak Arrio pada Arra.
Arra mengangguk singkat dan menerima uluran
tangan dari kekasihnya lalu mengikuti langkah Arrio menuju balkon. Dia kemudian
melihat Aksel dan Jason yang mengikutinya, kedua malaikat muda itu juga tak
tinggal diam dan segera merapalkan banyak mantra pelindung lalu melingkupi
tubuh Arra dengan banyak pelindung tersebut hingga beberapa lapis tebalnya. Pun
dengan Arrio yang tak segan melepaskan setengah dari seluruh kekuatannya demi
melindungi gadis yang dia cintai itu.
Arra kini naik ke punggung Arrio setelah semua
perlindungan di berikan oleh tiga malaikat tersebut pada dirinya, dan dengan
lembut Arrio menyentakkan kakinya untuk melayang sebentar di udara sebelum
akhirnya terbang dengan sayap besar miliknya menuju ke kediaman Andrew sore
itu.
**
Di tempat lain, Andrew kini tengah menangis
tersedu di sambil menundukkan wajahnya. Kejadian beberapa waktu lalu, saat para
iblis mendatangi tempatnya dan hampir menyerang dirinya juga melukai Arra dan
Arrio membuatnya begitu syok dan hampir saja mengakhiri hidupnya sendiri karena
rasa bersalah yang begitu dalam atas pengkhianatan yang di lakukannya pada
Arrio, sosok yang justru telah menyelamatkan nyawanya selama ini juga
melindungi gadis yang di cintainya. Namun, rasa bersalah paling besar tentu
saja di rasakan oleh Andrew pada sosok Arra. Gadis yang selama ini mati –
matian dia lindungi dengan segenap tenaga. Namun justru terancam nyawanya
karena tindakan gegabah yang Andrew lakukan sendiri.
Di tengah tangisannya malam itu, jendela dari
balkon apartemennya mendadak terbuka dan angin masuk dengan kencangnya. Hingga
membuat tirai di apartemennya lepas dari ikatan.
Betapa terkejutnya Andrew, saat dia melihat
__ADS_1
sosok gadis yang di cintainya kini telah datang menemuinya, dan berjalan
mendekat ke arahnya.