
“Dia kekasihku. Menyingkirlah. Dia akan menyelamatkan Aiden!” Arrio memberi isyarat pada Aksel dan Jason untuk ikut memberikan ruang pada Arra agar bisa lebih leluasa.
“Aiden….” Arra menggenggam tangan Aiden dan menangis.
“Hai, Cantik. Kau bisa melihatku lagi sekarang.” Aiden tersenyum. “Seharusnya kau tak boleh melihatku dengan keadaan seperti ini.”
“Aku akan memberikanmu keajaiban yang aku miliki.” Gadis itu segera mendekatkan keningnya pada tangan Aiden seraya merapalkan mantra yang pernah diajarkan Jason, menyebutkan nama Aiden berulangkali, berurai air mata, mengharapkan keajaiban untuk benar-benar datang.
“omnia vulnera levare corpus curaret. Aiden est recuperatio solito ...”
Kalimat itu terus di dengungkan oleh Arra dari bibir tipisnya. Konsentrasinya penuh, hanya untuk Aiden yang tengah terluka. Layaknya Aiden yang memberikan kembali penglihatan untuknya dengan keajaibannya. Dia pun mengharap hal serupa dari kedua tangannya.
Air mata Aiden dan Arrio ikut mengalir saat melihat bagaimana Arra mengobati luka parah yang di derita oleh malaikat itu. Kalimat mantra yang di bacakan oleh Arra, seolah menjadi sajak menyedihkan yang menggambarkan luka yang begitu dalam di sana.
Hingga, akhirnya sebuah cahaya muncul di setiap luka yang ada di tubuh Aiden dan luka tersebut menutup perlahan dengan sempurna, tanpa meninggalkan bekas dan jejak apapun, seolah tak ada apa pun di sana. Wajah Aiden yang awalnya pucat, mulai kembali normal. Tenaganya pun kini sudah kembali pulih. Dengan helaan nafas berat dan panjang, Aiden mengakhiri kesakitannya dan meraih kembali kekuatannya seperti sedia kala.
Semua yang ada di sana termasuk August bersorak begitu melihat Aiden pulih, meskipun setelahnya
Arra ambruk dan tak sadarkan diri. Gadis itu... kelelahan.
***
Arrio langsung menggencong Arra menuju kembali ke dalam tendanya, dia meminta beberapa pelayan
wanita yang ada di sana untuk membersihkan tubuh Arra dan Athens yang langsung menyembuhkan luka gadis itu. Tangan Arrio tak pernah lepas sedikitpun dari genggaman tangannya. Menciumi punggung tangan gadisnya dan terus membisikkan kalimat cinta dan meminta gadisnya untuk terus bertahan dan cepat sembuh. Dia begitu
khawatir pada gadisnya.
“Jasad Darrick sudah di bawa oleh pasukannya kembali ke dunia bawah, mereka sangat terpuruk saat ini. Perwakilan dari pasukannya ingin menemui mu Arrio…” kata Arsen yang memasuki tenda Arra.
__ADS_1
“Tak bisa kah kalau kau saja yang menemui mereka?” Arrio menatap Arra, “aku tak ingin menjauh
lagi darinya…” kata Arrio lagi.
“Mereka hanya ingin bertemu denganmu, sepertinya ada hal yang ingin mereka sampaikan padamu…” ucap Arsen.
“Soal apa?” tanya Arrio.
“Mengenai Arra…” jawab Arsen.
Mendengar itu, jelas membuat Arrio mengernyitkan keningnya dan terheran – heran. Dia juga penasaran, apa yang ingin di katakan para iblis setelah semua yang terjadi.
“Baiklah, aku titip Arra sebentar padamu. Panggil aku begitu dia siuman atau terjadi sesuatu padanya…” kata Arrio yang di angguki oleh Arsen.
**
Arrio pun menemui perwakilan para iblis yang ternyata adalah sisa panglima perang dan para tetua dari dunia bawah yang ingin bertemu muka dengannya. Begitu Arrio memasuki tenda, mereka segera bangkit, berdiri dan menundukkan kepalanya memberikan penghormatan.
“Benar, Malaikat Utama. Kami ingin menemuimu…” jawab salah satu di antara mereka.
“Untuk apa kalian ingin menemuiku?” tanya Arrio dengan nada sinis.
Seluruh iblis yang ada di sana beserta panglima mereka kini berdiri berjajar di hadapan Arrio dan melepaskan baju zirah mereka lalu berlutut tepat di hadapan sang Malaikat Utama. Mereka bahkan melucuti seluruh senjata yang mereka bawa dan menyerahkan senjata tersebut untuk Arrio dan para malaikat.
“Apa maksudnya ini?” tanya Arrio kembali karena tak mengerti.
“Pimpinlah kami, Tuanku…” tukas salah satu iblis tersebut.
“Benar Tuanku, kami sudah kehilangan pemimpin kami. Dan kehilangan Panglima Besar kami dalam
__ADS_1
waktu yang berdekatan. Serta, kami juga sudah mengalami kekalahan mutlak atas pasukan para Malaikat yang berada dalam komando Tuanku secara langsung. Maka, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Maka kami akann menjadi tawanan, serta mengabdi pada Tuanku dan seluruh malaikat disini, sebagai hukuman kami. Seumur
hidup…” ucap Panglima Iblis menambahkan.
Arrio cukup terkejut mendengarnya, dia juga akhirnya ingat tentang perjanjian mereka. Namun, dia sepertinya tidak ingin melaksanakan perjanjian tersebut.
“Aku tidak bisa…” jawab Arrio dengan cepat.
“Tuanku…” Panglima Iblis itu menatap Arrio dengan penuh tanya.
“Jangan memaksaku untuk memimpin kalian. Aku tidak bisa menjadikan kalian sebagai tawanan ataupun
pasukanku. Kalian memiliki dunia kalian sendiri dan aturan kalian sendiri, begitu pula dengan duniaku disini. Aku tak akan bisa mencampur adukkan aturanku dengan aturan para iblis, yang jelas bertentangan dengan kami. Lagipula, Tuhan menciptakan kita berdua untuk saling melengkapi bukannya saling menyatu.” Penjelasan Arrio membuat semuanya tercengang.
“Tapi aturannya…” sergah salah satu dari iblis itu lagi.
“Aturan biarlah tetap menjadi peraturan, aku tak akan mengubah aturan yang telah ada sejak lama. Tapi kalian juga tahu, perang ini hanya di akibatkan oleh pengkhianatan sekaligus kesalahpahaman. Lalu, siapa yang menurut kalian menang? Malaikat? Atau Iblis?” tanya Arrio, “tidak ada yang menang maupun kalah disini. Tujuanku
melakukan perang ini, adalah untuk menunjukkan bahwa tuduhan yang kalian tujukan padaku dan kaumku itu tidak tepat. Juga demi melindungi kedua dunia agar tidak hancur. Lagi, aku ingin menyelamatkan kekasihku yang diculik oleh Penguasa kalian… dan semua tujuanku sudah tercapai…” jelas Arrio.
“Jadi, apa yang harus kami lakukan tanpa adanya sosok yang memimpin kami ke depannya? Jika
bukan kau yang memimpin kami?” tanya sang Panglima.
“Aku yakin, di kaum kalian banyak iblis yang memiliki kekuatan besar dan layak untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan menggantikan klan sang penguasa yang telah musnah seluruhnya tanpa tersisa. Dan itu, hanya kalian yang tahu, siapa dan bagaimana cara mengangkatnya. Maka kalian harus berunding dan memutuskan
sendiri jalan kalian untuk kelanjutan hidup kalian. Kami, akan membantu semampu kami dan sesuai dengan batasan yang kami miliki. Tapi semuanya, harus kalian sendiri yang memutuskan…” tegas Arrio di akhir.
Sang Panglima kini menunduk dan mengerti, dia sekarang tahu, alasan Arrio di pilih sebagai pemimpin dari seluruh malaikat utama seperti saat ini.
__ADS_1
****