
Pagi itu suasana kampus cukup ramai, terutama di gedung sekretariat kampus, dimana banyak mahasiswa yang sedang mengurus kuliah mereka untuk semester baru dan ada juga yang seperti Arra yang tengah mendaftarkan wisudanya untuk bulan depan. Sidang akhir yang dia lalu beberapa waktu lalu juga terasa begitu cepat dan
hampir tak bisa di percaya selesai dalam tenggat waktu yang cukup cepat, mengingat dirinya yang sering tidak hadir untuk melakukan sesi konsultasi dengan dosen pembimbingnya kala itu.
Entah apa yang sudah di lakukan oleh Andrew dan Arrio sebelum dia kembali lagi masuk ke kampus. Alih – alih menerima ceramah panjang atas ketidakhadirannya atau minimal skorsing dari pihak kampus, Arra justru mendapat support untuk gadis itu melanjutkan tugas akhirnya yang tertunda. Bahkan seolah di permudah, tak banyak
revisi yang di minta oleh sang dosen demi menuju sidang akhir hingga ke tahap wisuda kali ini.
Mereka juga memberikan selamat atas kesembuhan Arra yang kini bisa mendapatkan kembali penglihatannya.
“Mahasiswi atas nama Chiarra!” panggil salah satu petugas sekretariat.
Arra segera mendekat ke loket sekretariat dan menyerahkan berkas pendaftaran wisudanya yang langsung di terima dan di input ke dalam sistem kampus mereka. Setelahnya, berkas itu di biarkan terkumpul di sana, sampai nomor urut wisuda di terima oleh mahasiswa dan menunggu pengumuman lebih lnjut untuk tahap pengukuran baju
toga sekaligus foto untuk ijazah dan berkas lainnya dari pihak kampus.
“Apa semua berkasnya sudah lengkap, Sir? Ada yang masih kurang atau--”
“Tidak, semuanya sudah lengkap. Kau tinggal menunggu pemberitahuan melalui email. Cetak kartunya
dan tunjukkan ke kantur fakultas untuk mengambil foto juga mengukur pakaian toga,” jelas pegawai administrasinya.
“Baiklah, terima kasih banyak, Sir…” balas Arra sembari tersenyum.
“Sama – sama.. semoga wisudamu berjalan lancar…”
**
Arra menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tengah dan memeriksa ponselnya. Ini sudah ke sekian kalinya dia melihat apakah ada notif yang muncul dari kekasihnya, Arrio. Nyatanya, dia seperti mengharapkan sesuatu yang kosong, karena sudah dua tahun berlalu namun Arrio masih saja menghilang tanpa jejak dan kabar. Arra tak tahu harus menghubungi kemana, kecuali nomor ponsel milik Arrio sebelumnya, yang jelas sudah tak aktif lagi.
Gadis itu berulang kali berpikir bahwa mungkin saja takdirnya berubah. Bahwa bisa saja perasaan Arrio sudah berubah pada dirinya dan tak lagi menginginkan dirinya sebagai pendamping lagi seperti sebelumnya. Sudah tak terhitung berapa kali pula untuk Arra mengunjungi kediaman Arrio dan keluarganya di sini, yang hanya
__ADS_1
di sambut dengan bangunan tua yang terlihat begitu menyeramkan. Dengan beberapa pohon tinggi yang berada di dalamnya.
Arra menghela nafas dan memejamkan matanya, dia begitu bahagia menyambut hari kelulusannya, namun juga merasakan sesak di dadanya karena Arrio yang tak ada di sisinya.
Ting nong!
Bel pintu rumahnya berbunyi. Membuat Arra sontak membuka mata.
“Ya… tunggu sebentar…” pekik Arra dan mengintip di balik lubang pintu. Tidak ada siapapun di sana, hingga gadis itu memutuskan untuk membuka pintunya karena penasaran.
Dan…
“Hai Arra… apa kabar?” bukan, itu bukanlah Arrio. Melainkan Arsen.
Malaikat yang memiliki mata bulat dan bibir berbentuk hati itu menatapnya sembari tersenyum manis dan melambaikan tangannya untuk menyapa gadis itu yang kini hanya bisa mengerjapkan mata tanpa merespon apapun.
“Arra…? Kau, kenapa?” tanya Arsen dan sedikit mengguncang tubuh gadis itu.
“Kau melupakanku ya? Atau memang tak pernah mengingat diriku?” tanya malaikat itu lagi.
“B-bukan! Bukan begitu maksudku. Aku hanya, hanya--”
“Boleh aku masuk?” tanya Arsen lagi menginterupsi ucapan Arra.
“Tentu, tentu saja boleh. Silahkan masuk, Arsen…” balas Arra dan mempersilakannya masuk.
**
“Terima kasih…” ucap Arsen masih dengan senyuman manisnya begitu Arra menyuguhinya dengan teh hangat dan beberapa toples biskuit.
“Arrio… mana?” pertanyaan itu langsung meluncur dari bibir Arra tanpa bisa di tahan lagi.
__ADS_1
“Hahaha… kau ini sangat to the point ya. Dan sedikit tidak berperasaan. Kau bahkan tak menanyakan kabarku, atau urusanku kenapa sampai di tempat ini. Atau mungkin bertanya apakah aku lelah selama melakukan perjalanan ke tempat ini…” ujar Arsen yang semakin menunjukkan bibir berbentuk hati di senyumannya.
“Maaf… aku hanya penasaran,” jawab Arra.
“Arrio ada di atas, bergelut dengan banyak pekerjaan dan hampir tidak pernah tidur tiap malamnya. Tubuhnya juga semakin kurus dan wajahnya jadi tirus sekarang, dia berubah jadi sangat jelek kalau kau mau tahu…” kata Arsen dengan nada santai tapi menusuk.
“Apa urusannya belum selesai?” tanya Arra lagi.
“Belum. Hanya tinggal sedikit lagi, pengadilan untuk ayah Aiden dan semuanya selesai…” jelas Arsen yang membuat Arra tercengang.
“Aiden? Kenapa ayah Aiden harus di adili? Bukankah dia yang menghentikan peperangan itu?”
“Dan menjadi penyebab perang besar itu juga. Menjadi penyebab rusaknya persahabatan dari dua sosok dan meghancurkan dua keluarga, sekaligus membunuh banyak keluarga lain di dunia bawah maupun di dunia atas…” timpal Arsen yang sekali lagi mengejutkan Arra.
“Maksudmu, dia yang bertanggung jawab atas segala kekacauan itu?” tanya Arra.
“Benar. Dan aku tebak, Arrio tak menceritakan itu padamu…”
“Dia… sudah menceritakannya, tapi hanya di bagian tertentu. Aku tak membayangkan kalau ternyata seperti ini,” lirih gadis itu dengan mata sendu.
“Dia tak ingin kau terlalu terbebani. Karena kau dan Aiden juga cukup dekat,” jelas Arsen.
“Ku kira…. Arrio sudah melupakan aku dan memutuskan menikah dengan bidadari lain di sana,” ujar Arra yang membuat Arsen tertawa.
“Kalau dia melakukan itu. Aku jamin, dia sudah di cincang habis oleh kami semua, terutama kedua orangtuanya Arra. Lagipula, dia sangat mencintaimu… tiap hari dia memastikan bahwa aka nada awan yang menyelimuti langit agar kau tak merasa kepanasan, dan menunda turunnya hujan sampai kau benar – benar sudah masuk ke
dalam rumahmu dalam keadaan kering dan baik – baik saja. Ahh… dia juga mengirimkan satu malaikat penjaga untuk mengawasi mu setiap waktu, melaporkan apapun yang terjadi padamu dan melindungimu dari semua hal jahat yang mungkin terjadi,” kata Arsen yang kini kembali membuat Arra tercengang.
“D-dia melakukannya?” Arra segera berlari menuju balkon dan memperhatikan langit.
Mencari sosok malaikat yang di sebutkan oleh Arsen tadi, namun tak di temukan.
__ADS_1