
Firasat Aksel memang tak pernah salah mengenai sesuatu hal.
Apapun itu, karena dia bisa merasakan hal buruk melingkupi rumahnya begitu dia
terbang semakin mendekati rumah megah itu.
Keningnya mengernyit dan dia memutuskan untuk memutarmenuju
ke taman belakang rumahnya karena aura yang begitu menarik perhatiannya sejak
awal. Dan benar saja, apa yang dia pikirkan selama ini. Karena ternyata, dia
melihat Arra yang tengah terduduk di kursi taman belakang sambil membawa piring
berisi makanan yang sudah tak layak di makan dan hanya diam seperti patung yang
tak bernyawa.
Aksel segera menyembunyikan sayapnya dan berlari menuju Arra
yang sepertinya tak menyadari kehadirannya sama sekali di sana.
“Arra!! Arra!!!” Aksel memegang pundak gadis itu dan
mengguncangnya cukup keras. Namun tidak ada reaksi sedikitpun di tunjukkan
gadis itu.
Malaikat itu kemudian mencoba menatap lekat kedua mata gadis
di hadapannya dan mencari tahu apa yang terjadi. Dia berusaha melihat apa yang
di lihat oleh mata itu, dan dia melihat Andrew yang perlahan menghilang.
“Arra, sadar Arra!! Bangun!” Aksel kembali meneriaki gadis
itu dan menghentakkan tubuhnya cukup keras.
Arra yang kemudian sadar seolah tersentak dan segera
menegakkan posisi duduknya.
“Kau tidak sedang makan makanan ini kan?” Aksel segera
menyingkirkan piring makanan itu dari tangan Arra dan menjauhkannya. “Apa yang
terjadi padamu, kau kenapa?” tanya Aksel lagi khawatir.
“Andrew…” lirih Arra pada akhirnya.
“Kenapa dengan Andrew? Dimana dia?” tanya Aksel lagi.
“Dia pergi Aksel… dia marah padaku, dia membenciku…” tangis
Arra meledak hingga akhirnya Aksel harus menenangkan gadis itu dengan
memberikan pelukan serta menepuk punggungnya perlahan.
“Tenanglah Arra… tenang, jangan menangis lagi… tak apa…”
bisik Aksel dan terus berusaha menenangkan gadis itu. hingga tak lama, entah
karena kelelahan atau alasan apa, tubuh Arra melemah dan dia jatuh tak sadarkan
diri di pelukan Aksel.
***
“Arra…” Arrio memanggil nama Arra perlahan, memastikan apakah
gadis itu benar sudah tidur atau belum.
“Kau sudah pulang?” Arra terbangun dan duduk di ranjangnya.
Sementara Arrio segera mendekatinya dan duduk di tepi ranjang.
“Aku dengar dari Aksel kalau kau menangis tadi. kenapa sayang? Ada
masalah apa?”
Arra menunduk, mengingat kejadian tadi dan kembali membuat kedua
__ADS_1
matanya berkaca – kaca.
“Kenapa sayang…” tanya Arrio lagi.
“Andrew pergi Rio, dia tahu semuanya. Dia melihat kita semalam dan
dia, dia marah… dia meninggalkan aku disini dan tidak ingin bicara denganku.
Aku harus apa Rio… apa yang harus aku lakukan?” tanya Arra pada Arrio.
“Dia memutuskan hubungannya denganmu?” tanya Arrio.
Arra menggeleng, “dia tidak mau melepaskan aku. Dia bilang mau
memperjuangkan aku dan hanya akan pergi kalau aku yang memintanya, tapi… dia
pergi Rio. Aku… aku jahat, aku orang jahat. Aku menyakiti dia, aku menyakiti
Andrew Rio…” tangis Arra pecah seketika setelah dia menceritakan semuanya.
Arrio dengan cepat memeluk tubuh Arra dan mendekapnya sangat erat.
Mencium puncak kepala gadis itu berulang kali sambil mengusap punggungnya
perlahan.
“Sssttt… sudah sayang, sudah… kamu bukan orang jahat Arra. Dengar,
dengarkan aku,” Arrio melepaskan pelukannya dan menatap Arra. “Dengar sayang.
Andrew tidak pernah membencimu atau marah padamu. Dia hanya butuh waktu untuk
menerima ini semua, dan butuh waktu sendiri… aku yakin, setelah ini dia akan
kembali baik padamu…” kata Arrio meyakinkan Arra.
“Tapi dia…”
“Ssstt… Arra, dengar sayang. Dengarkan aku. Andrew tidak akan
pernah bisa membencimu, dia hanya butuh waktu untuk bisa tenang dan menerima
apa yang dia lihat di antara kita. Dan juga memulihkan kondisi tubuhnya. Sama
oleh siapapun. Sekarang juga aku yakin Andrew sedang seperti itu.” Arrio berbisik
lembut dan menjelaskan semuanya sambil mengusap lembut punggung Arra lagi.
“Dia pasti akan memaafkan aku kan Rio? Aku, tidak akan meminta dia
bertahan denganku jika itu hanya akan membuatnya tambah terluka. Tapi
setidaknya, aku tidak ingin dia membenciku Arrio, aku ingin minta maaf padanya.
Aku sudah menganggap dia sebagai kakak kandungku,” ucap Arra.
“Iya sayang, aku yakin dia akan memaafkanmu. Kau hanya harus
bersabar dan terus berdoa agar dia tak terlalu lama menjauh, hmm?”
Arra mengangguk kecil dan mengeratkan pelukannya pada Arrio.
***
Arrio keluar dari kamar Arra setelah memastikan gadisnya
sudah tenang dan tidur nyenyak. Dia melihat kedua adiknya yang tengah duduk di
kursi balkon lantai dua rumah mereka sambil menyesap kopi dan memandang langit,
serta mengobrol cukup serius sepertinya. Arrio akhirnya memutuskan untuk
mendekati kedua adiknya.
“Arra sudah tidur kak?” tanya Aksel dan Jason yang memandang
wajah kakaknya dari samping.
“Hmm… baru saja, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa
bisa dia seperti itu dan dimana Andrew sekarang?” tanya Arrio.
__ADS_1
“Andrew sudah pergi dari sini dan menghilang entah kemana.
Dia juga tak berpamitan dengan Arra dan meninggalkan Arra begitu saja tadi di
taman belakang dengan kondisi yang cukup mengenaskan,” jelas Aksel.
“Dia memegang makanan basi yang seharusnya di makan oleh
Andrew sepertinya dan setelah itu dia menangis kencang sampai Aksel harus
memeluknya agar dia bisa tenang. Tapi bukannya tenang, Arra justru pingsan!”
timpal Jason membuat bola mata Arrio melotot memandang ke arah Aksel.
“Kau memeluknya?!” pekik Arrio.
“Astaga kak, jangan berlebihan. Kau tahu aku lakukan itu
karena aku harus menenangkan dia!” balas Aksel dengan wajah masam.
Tapi di balik semua itu, hal yang paling membuat Arrio
khawatir adalah, Arra. Dan kenapa Andrew tega melakukan hal seperti itu pada
Arra. Gadis yang seharusnya dia cintai dan dia jaga perasaannya. Dan tak dia
sakiti seenaknya, justru sekarang di buat merasakan sakit yang semacam itu.
“Apa yang mau kakak lakukan sekarang?” tanya Jason.
“Aku belum tahu, nanti aku akan menemui Andrew setelah
memastikan kondisi Arra benar – benar sudah baik – baik saja.”
***
Aiden terbangun dari tidurnya dan melihat Athens yang tengah
memakai baju zirahnya.
“Kenapa kau pakai itu tengah malam begini?” Aiden bangun perlahan
dan menatap tajam Athens.
“Surga kembali di serang. Darrick sudah memulai penyerangannya
secara bertahap, di mulai dari malam ini,” jawab Athens dan terus bersiap tanpa
menoleh pada Aiden.
“Darrick?” Athens mengangguk menjawab Aiden.
“Aku harus pergi dan menghadapi mereka. Kau tetaplah disini dan
tunggu sampai Arsen datang. Aku juga titip semua tempat ini padamu, kau… yang
mengambil alih kepemimpinan di tempat ini sementara aku pergi. Aku percaya
padamu, Aiden,” ujar Athens dan menatap Aiden dengan senyuman.
“jangan bodoh Athens, kau tahu aku adalah putra dari seorang
pengkhianat yang sesungguhnya. Kenapa kau masih percaya padaku?” jawab Aiden
dengan senyum tipis.
“Karena kau adalah sahabatku, saudaraku, dan kita sudah berjanji
untuk saling percaya dan membantu dalam hal apapun kan? Jika kau masih bisa
membantu dan mempercayai Arrio, aku, dan Arsen setelah semua ini. Kenapa aku
harus tidak percaya padamu Aiden?” ucapan Athens membuat hati Aiden seperti di
remat kuat.
“Aku pergi dulu, jaga dirimu baik – baik. Dan pakai baju zirah ini
di dalam bajumu. Itu salah satu yang di miliki Arrio dan di berikan padamu, kau
ingat ini kan?”
__ADS_1
Athens kini berlalu meninggalkan Aiden dalam kesunyian.
***