Cruel Fate

Cruel Fate
Part 19.1


__ADS_3

Firasat Aksel memang tak pernah salah mengenai sesuatu hal.


Apapun itu, karena dia bisa merasakan hal buruk melingkupi rumahnya begitu dia


terbang semakin mendekati rumah megah itu.


Keningnya mengernyit dan dia memutuskan untuk memutarmenuju


ke taman belakang rumahnya karena aura yang begitu menarik perhatiannya sejak


awal. Dan benar saja, apa yang dia pikirkan selama ini. Karena ternyata, dia


melihat Arra yang tengah terduduk di kursi taman belakang sambil membawa piring


berisi makanan yang sudah tak layak di makan dan hanya diam seperti patung yang


tak bernyawa.


Aksel segera menyembunyikan sayapnya dan berlari menuju Arra


yang sepertinya tak menyadari kehadirannya sama sekali di sana.


“Arra!! Arra!!!” Aksel memegang pundak gadis itu dan


mengguncangnya cukup keras. Namun tidak ada reaksi sedikitpun di tunjukkan


gadis itu.


Malaikat itu kemudian mencoba menatap lekat kedua mata gadis


di hadapannya dan mencari tahu apa yang terjadi. Dia berusaha melihat apa yang


di lihat oleh mata itu, dan dia melihat Andrew yang perlahan menghilang.


“Arra, sadar Arra!! Bangun!” Aksel kembali meneriaki gadis


itu dan menghentakkan tubuhnya cukup keras.


Arra yang kemudian sadar seolah tersentak dan segera


menegakkan posisi duduknya.


“Kau tidak sedang makan makanan ini kan?” Aksel segera


menyingkirkan piring makanan itu dari tangan Arra dan menjauhkannya. “Apa yang


terjadi padamu, kau kenapa?” tanya Aksel lagi khawatir.


“Andrew…” lirih Arra pada akhirnya.


“Kenapa dengan Andrew? Dimana dia?” tanya Aksel lagi.


“Dia pergi Aksel… dia marah padaku, dia membenciku…” tangis


Arra meledak hingga akhirnya Aksel harus menenangkan gadis itu dengan


memberikan pelukan serta menepuk punggungnya perlahan.


“Tenanglah Arra… tenang, jangan menangis lagi… tak apa…”


bisik Aksel dan terus berusaha menenangkan gadis itu. hingga tak lama, entah


karena kelelahan atau alasan apa, tubuh Arra melemah dan dia jatuh tak sadarkan


diri di pelukan Aksel.


***


“Arra…” Arrio memanggil nama Arra perlahan, memastikan apakah


gadis itu benar sudah tidur atau belum.


“Kau sudah pulang?” Arra terbangun dan duduk di ranjangnya.


Sementara Arrio segera mendekatinya dan duduk di tepi ranjang.


“Aku dengar dari Aksel kalau kau menangis tadi. kenapa sayang? Ada


masalah apa?”


Arra menunduk, mengingat kejadian tadi dan kembali membuat kedua

__ADS_1


matanya berkaca – kaca.


“Kenapa sayang…” tanya Arrio lagi.


“Andrew pergi Rio, dia tahu semuanya. Dia melihat kita semalam dan


dia, dia marah… dia meninggalkan aku disini dan tidak ingin bicara denganku.


Aku harus apa Rio… apa yang harus aku lakukan?” tanya Arra pada Arrio.


“Dia memutuskan hubungannya denganmu?” tanya Arrio.


Arra menggeleng, “dia tidak mau melepaskan aku. Dia bilang mau


memperjuangkan aku dan hanya akan pergi kalau aku yang memintanya, tapi… dia


pergi Rio. Aku… aku jahat, aku orang jahat. Aku menyakiti dia, aku menyakiti


Andrew Rio…” tangis Arra pecah seketika setelah dia menceritakan semuanya.


Arrio dengan cepat memeluk tubuh Arra dan mendekapnya sangat erat.


Mencium puncak kepala gadis itu berulang kali sambil mengusap punggungnya


perlahan.


“Sssttt… sudah sayang, sudah… kamu bukan orang jahat Arra. Dengar,


dengarkan aku,” Arrio melepaskan pelukannya dan menatap Arra. “Dengar sayang.


Andrew tidak pernah membencimu atau marah padamu. Dia hanya butuh waktu untuk


menerima ini semua, dan butuh waktu sendiri… aku yakin, setelah ini dia akan


kembali baik padamu…” kata Arrio meyakinkan Arra.


“Tapi dia…”


“Ssstt… Arra, dengar sayang. Dengarkan aku. Andrew tidak akan


pernah bisa membencimu, dia hanya butuh waktu untuk bisa tenang dan menerima


apa yang dia lihat di antara kita. Dan juga memulihkan kondisi tubuhnya. Sama


oleh siapapun. Sekarang juga aku yakin Andrew sedang seperti itu.” Arrio berbisik


lembut dan menjelaskan semuanya sambil mengusap lembut punggung Arra lagi.


“Dia pasti akan memaafkan aku kan Rio? Aku, tidak akan meminta dia


bertahan denganku jika itu hanya akan membuatnya tambah terluka. Tapi


setidaknya, aku tidak ingin dia membenciku Arrio, aku ingin minta maaf padanya.


Aku sudah menganggap dia sebagai kakak kandungku,” ucap Arra.


“Iya sayang, aku yakin dia akan memaafkanmu. Kau hanya harus


bersabar dan terus berdoa agar dia tak terlalu lama menjauh, hmm?”


Arra mengangguk kecil dan mengeratkan pelukannya pada Arrio.


***


Arrio keluar dari kamar Arra setelah memastikan gadisnya


sudah tenang dan tidur nyenyak. Dia melihat kedua adiknya yang tengah duduk di


kursi balkon lantai dua rumah mereka sambil menyesap kopi dan memandang langit,


serta mengobrol cukup serius sepertinya. Arrio akhirnya memutuskan untuk


mendekati kedua adiknya.


“Arra sudah tidur kak?” tanya Aksel dan Jason yang memandang


wajah kakaknya dari samping.


“Hmm… baru saja, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa


bisa dia seperti itu dan dimana Andrew sekarang?” tanya Arrio.

__ADS_1


“Andrew sudah pergi dari sini dan menghilang entah kemana.


Dia juga tak berpamitan dengan Arra dan meninggalkan Arra begitu saja tadi di


taman belakang dengan kondisi yang cukup mengenaskan,” jelas Aksel.


“Dia memegang makanan basi yang seharusnya di makan oleh


Andrew sepertinya dan setelah itu dia menangis kencang sampai Aksel harus


memeluknya agar dia bisa tenang. Tapi bukannya tenang, Arra justru pingsan!”


timpal Jason membuat bola mata Arrio melotot memandang ke arah Aksel.


“Kau memeluknya?!” pekik Arrio.


“Astaga kak, jangan berlebihan. Kau tahu aku lakukan itu


karena aku harus menenangkan dia!” balas Aksel dengan wajah masam.


Tapi di balik semua itu, hal yang paling membuat Arrio


khawatir adalah, Arra. Dan kenapa Andrew tega melakukan hal seperti itu pada


Arra. Gadis yang seharusnya dia cintai dan dia jaga perasaannya. Dan tak dia


sakiti seenaknya, justru sekarang di buat merasakan sakit yang semacam itu.


“Apa yang mau kakak lakukan sekarang?” tanya Jason.


“Aku belum tahu, nanti aku akan menemui Andrew setelah


memastikan kondisi Arra benar – benar sudah baik – baik saja.”


***


Aiden terbangun dari tidurnya dan melihat Athens yang tengah


memakai baju zirahnya.


“Kenapa kau pakai itu tengah malam begini?” Aiden bangun perlahan


dan menatap tajam Athens.


“Surga kembali di serang. Darrick sudah memulai penyerangannya


secara bertahap, di mulai dari malam ini,” jawab Athens dan terus bersiap tanpa


menoleh pada Aiden.


“Darrick?” Athens mengangguk menjawab Aiden.


“Aku harus pergi dan menghadapi mereka. Kau tetaplah disini dan


tunggu sampai Arsen datang. Aku juga titip semua tempat ini padamu, kau… yang


mengambil alih kepemimpinan di tempat ini sementara aku pergi. Aku percaya


padamu, Aiden,” ujar Athens dan menatap Aiden dengan senyuman.


“jangan bodoh Athens, kau tahu aku adalah putra dari seorang


pengkhianat yang sesungguhnya. Kenapa kau masih percaya padaku?” jawab Aiden


dengan senyum tipis.


“Karena kau adalah sahabatku, saudaraku, dan kita sudah berjanji


untuk saling percaya dan membantu dalam hal apapun kan? Jika kau masih bisa


membantu dan mempercayai Arrio, aku, dan Arsen setelah semua ini. Kenapa aku


harus tidak percaya padamu Aiden?” ucapan Athens membuat hati Aiden seperti di


remat kuat.


“Aku pergi dulu, jaga dirimu baik – baik. Dan pakai baju zirah ini


di dalam bajumu. Itu salah satu yang di miliki Arrio dan di berikan padamu, kau


ingat ini kan?”

__ADS_1


Athens kini berlalu meninggalkan Aiden dalam kesunyian.


***


__ADS_2