
Arra terengah – engah. Gadis itu terduduk di
sisi kurs taman dengan keringat yang menetes deras. Tenaganya seolah di kuras
habis hari ini, karena latihan yang di lakukannya bersama Aksel. Ini memang
jauh lebih sulit di bandingkan dengan Jason kemarin.
“Istirahat dulu ya kak, aku akan siapkan makan
siang untuk kita…” kata Aksel dan segera menyingkir dari sana.
Dia tahu, kalau dirinya cukup kelewatan karena
mengajarkan banyak hal sekaligus dalam satu waktu yang bersamaan pada seorang
gadis. Apalagi, semua yang di ajarkannya kali ini memiliki spektrum kekuatan
yang besar dan cukup luas. Hingga siapapun, pasti akan sangat kesulitan
menjamah kekuatan tersebut.
Namun, ada hal lain pula yang membuat Aksel
sangat takjub sekaligus terkejut. Karena dia melihat bagaimana Arra yang dia
anggap masih sangat lemah, justru mampu menahan semua kekuatan itu sendiri dan
mengulangi latihan yang sama hingga beberapa kali. Meskipun dia tahu, tenaganya
sudah banyak terkuras, namun gadis itu tak pernah berhenti sampai Aksel yang
harus menghentikannya sendiri.
“Pantas saja kau jadi penyembuh…” lirih Aksel
saat melihat kekuatan yang di miliki oleh Arra.
“Aksel!” panggil Arra dengan setengah
berteriak.
“Kenapa kak?” tanya Aksel dengan mengernyit.
“Aku boleh mengulang latihan lagi, selagi aku
menunggumu kan?” tanya Arra.
Aksel sekali lagi terkejut, “tidak! Percuma
kalau kakak memaksakan diri saat ini. Itu hanya akan membuat kekuatan kakak
hilang seluruhnya nanti.”
Arra yang mendengar itu nampak terkejut dan
menutup mulutnya yang membuka sedikit.
“Ya sudah…” lirihnya, yang masih terdengar
jelas oleh Aksel.
**
Aksel baru saja sampai ke dalam rumah dan
berjalan menuju dapur saat sebuah bayangan menghalangi cahaya yang masuk ke
dalam jendela rumahnya dan terasa oleh malaikat muda tersebut. Dia segera
menghentikan langkahnya dan menoleh, lalu mengernyit saat melihat siluet seekor
burung yang ukuran tubuhnya cukup besar sudah bertengger dengan tenang di
jendela rumahnya. Aksel pun meletakkan kembali bahan makanan yang sebelumnya
telah ia ambil dan langsung menghampiri siluet itu.
“Phoenix?” Aksel terkejut melihat keberadaan
burung itu.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali sang
kakak, Arrio, mengirim Phoenix sebagai pengantar pesan untuknya.
“Apa yang terjadi? Dia baik – baik saja
bukan?” tanya Aksel dengan nada suara rendah, menghindari agar ucapannya tak
terdengar oleh Arra. Dia melihat pada mata Phoenix yang seolah menjawab
__ADS_1
pertanyaannya.
Burung itu pun menundukkan kepalanya sedikit
dan mengarahkan pandangan matanya pada perkamen putih yang terikat kuat di kaki
kanannya.
“Masuklah, kau baru saja melakukan perjalanan
jauh…” Aksel menjentikkan jarinya dan seketika muncul sebuah sangkar yang tampa
begitu indah dan cukup besar, di dalamnya pula sudah tersedia makanan dan
minuman untuk burung kesayangan kakaknya itu.
Phoenix pun langsung terbang dan masuk ke
dalam sangkar tersebut, sebelum ahirnya sangkar itu terlihat lenyap. Tak
terlihat lagi oleh kasat mata.
Aksel yang menerima perkamen itu pun kini
dengan cepat membukanya lalu membaca isi perkamen itu. Di situ tertulis jelas,
bahwa sang kakak menginginkan sebuah informasi yang akurat mengenai sebuah
senjata malaikat yang begitu terkenal dan memiliki kekuatan begitu besar. Aksel
kemudian membalik perkamennya lagi dan matanya seketika terbelalak saat melihat
gambar yang di kirim padanya. Gambar senjata yang tengah di cari oleh kakaknya
kini.
“Aku rasa… sudah waktunya Arra untuk masuk ke
medan perang. Meskipun dia tidak akan turun langsung ke dalamnya…” lirih Aksel
dan segera membakar perkamen itu setelah menyimpan dengan baik detail dari isi
perkamen tersebut.
**
Di tempat berbeda, Darrick tengah sibuk
dari seluruh kerak neraka di dunia. Dia mempersenjatai para iblis dan setan
yang menjadi pengikut setia dari ayahnya itu, juga mengajari mereka strategi
berperang. Tak lupa, Darrick sedikit membumbui ucapannya, yang mengajak para
iblis untuk bisa bergabung dengannya. Putra dari raja Iblis tersebut membuat
sebuah surat yang di stempel menggunakan stempel resmi milik sang ayah.
Dimana dalam surat tersebut, berisi perintah
bagi seluruh Pemimpin para iblis dimanapun, agar mereka bersedia mendukung
apapun langkah yang di lakukan oleh
Darrick, menyerahkan pasukannya, dan juga seluruh senjata terbaik yang di
miliki oleh para klan iblis tersebut, tanpa bertanya. Dan meskipun dirinya
sudah tak ada lagi di sisi putranya itu.
Hal ini, jelas melanggar. Karena Darrick yang
telah memalsukan surat tersebut. Namun, bagi para iblis, tidak ada yang salah
dalam melanggar peraturan. Karena itu yang memang biasa di lakukan dalam dunia
bawah, itulah cara kerja mereka selama ini. Bertentangan dengan hukum Tuhan.
“Kau sudah mendapat jawaban dari mereka?”
tanya Darrick pada Ellard.
“Belum Yang Mulia. Mereka masih butuh waktu
untuk berpikir, sebentar lagi…” lapor Ellard.
“Berpikir? Memangnya apa yang mau mereka
pikirkan lagi setelah surat yang mereka baca dan terima itu?! Mereka piker
waktu kita sangat banyak untuk bisa menunggu jawaban dari klan mereka saja?”
__ADS_1
teriak Darrick dengan emosi.
Pewaris Raja Iblis itu nampak sudah tak sabar
untuk menerjang dan mencengkeramkan kuku kekuasaannya di dunia atas. Dengan
cara apapun. Demi membalaskan dendam yang telah mendarah daging dalam dirinya.
“Mereka adalah klan iblis terbesar Yang Mulia,
persenjataan yang mereka miliki juga sangat banyak dengan kualitas yang paling
baik. Jika mereka tidak bisa memihak pada kita. Atau memutuskan netral, hal ini
jelas akan mempersulit kemenangan kita di medan perang. Lagipula, klan dari
para malaikat juga nampaknya masih banyak yang belum berafiliasi dengan pasukan
yang di miliki oleh Arrio, Yang Mulia…” jelas Ellard.
“Kau mau mengatakan kalau kita masih bisa
menunggu mereka, hanya karena klan para malaikat masiih banyak yang belum
bergabung dengan Arrio. Begitu?” tanya Darrick lagi.
“Benar Yang Mulia…” jawab Ellard.
“Ellard, apa kau lupa siapa Arrio?” tanya
Darrick dengan suara yang di pelankan.
“Sang Malaikat Utama,” jawab Ellard dengan
yakin.
“Benar. Jadi apa kau mengerti arti dari
sebutan malaikat utama? Malaikat utama, adalah malaikat yang memiliki kedudukan
tertinggi, bahkan jauh lebih tinggi di banding para pemimpin malaikat lainnya.
Dia juga memiliki kekuatan yang begitu besar hingga tak bisa di bandingkan oleh
berapa juta pun kekuatan malaikat lain yang di satukan. Hanya dengan satu
hentakan kakinya, maka separuh dunia bisa jadi abu dalam seketika. Apa kau
mengerti apa artinya itu?”
Ellard terdiam, dia merinding mendengarkan definisi
yang di jelaskan oleh Darrick pada dirinya. Apa yang di katakan oleh rajanya
memang sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Karena bahkan, setelah beberapa
lama Arrio menerima hukuman dan di permalukan atas pengkhianatan yang
dituduhkan terhadap dirinya sekalipun, para pengikut setianya tetap berada di
sisinya. Tanpa pernah beranjak sedikitpun untuk menjauh dari sisi sang malaikat
utama. Dan bahkan, pengikutnya di sebut justru semakin banyak. Terlebih, saat
mereka mendengar kabar tentang sang penyembuh yang telah di temukan.
“Peperangan ini sia – sia, Yang Mulia?” tanya
Ellard dengan perasaan sedikit ciut.
“Kau bisa menganggapnya seperti itu. Karena
sejak awal, kita berdua tahu… kekuatan dari satu malaikat bernama Arrio saja,
sudah sangat mampu meluluh lantakkan seluruh dunia bawah tanpa tersisa.
Termasuk kau dan diriku sendiripun, tak sebanding dengan kekuatannya sama
sekali. Namun, kau pun mengerti. Peperangan ini tak mengejar kemenangan,
Ellard…” kata Darrick.
“Saya mengerti, Yang Mulia. Ini demi nama baik
dunia bawah dan nama baik dari mendiang Raja Iblis juga keluarganya. Serta
seluruh makhluk dunia bawah yang telah menerima hinaan besar dari para malaikat
kala itu…” kata Ellard lagi.
****
__ADS_1