Cruel Fate

Cruel Fate
Part 25.2


__ADS_3

Arra terengah – engah. Gadis itu terduduk di


sisi kurs taman dengan keringat yang menetes deras. Tenaganya seolah di kuras


habis hari ini, karena latihan yang di lakukannya bersama Aksel. Ini memang


jauh lebih sulit di bandingkan dengan Jason kemarin.


“Istirahat dulu ya kak, aku akan siapkan makan


siang untuk kita…” kata Aksel dan segera menyingkir dari sana.


Dia tahu, kalau dirinya cukup kelewatan karena


mengajarkan banyak hal sekaligus dalam satu waktu yang bersamaan pada seorang


gadis. Apalagi, semua yang di ajarkannya kali ini memiliki spektrum kekuatan


yang besar dan cukup luas. Hingga siapapun, pasti akan sangat kesulitan


menjamah kekuatan tersebut.


Namun, ada hal lain pula yang membuat Aksel


sangat takjub sekaligus terkejut. Karena dia melihat bagaimana Arra yang dia


anggap masih sangat lemah, justru mampu menahan semua kekuatan itu sendiri dan


mengulangi latihan yang sama hingga beberapa kali. Meskipun dia tahu, tenaganya


sudah banyak terkuras, namun gadis itu tak pernah berhenti sampai Aksel yang


harus menghentikannya sendiri.


“Pantas saja kau jadi penyembuh…” lirih Aksel


saat melihat kekuatan yang di miliki oleh Arra.


“Aksel!” panggil Arra dengan setengah


berteriak.


“Kenapa kak?” tanya Aksel dengan mengernyit.


“Aku boleh mengulang latihan lagi, selagi aku


menunggumu kan?” tanya Arra.


Aksel sekali lagi terkejut, “tidak! Percuma


kalau kakak memaksakan diri saat ini. Itu hanya akan membuat kekuatan kakak


hilang seluruhnya nanti.”


Arra yang mendengar itu nampak terkejut dan


menutup mulutnya yang membuka sedikit.


“Ya sudah…” lirihnya, yang masih terdengar


jelas oleh Aksel.


**


Aksel baru saja sampai ke dalam rumah dan


berjalan menuju dapur saat sebuah bayangan menghalangi cahaya yang masuk ke


dalam jendela rumahnya dan terasa oleh malaikat muda tersebut. Dia segera


menghentikan langkahnya dan menoleh, lalu mengernyit saat melihat siluet seekor


burung yang ukuran tubuhnya cukup besar sudah bertengger dengan tenang di


jendela rumahnya. Aksel pun meletakkan kembali bahan makanan yang sebelumnya


telah ia ambil dan langsung menghampiri siluet itu.


“Phoenix?” Aksel terkejut melihat keberadaan


burung itu.


Sudah sangat lama sejak terakhir kali sang


kakak, Arrio, mengirim Phoenix sebagai pengantar pesan untuknya.


“Apa yang terjadi? Dia baik – baik saja


bukan?” tanya Aksel dengan nada suara rendah, menghindari agar ucapannya tak


terdengar oleh Arra. Dia melihat pada mata Phoenix yang seolah menjawab

__ADS_1


pertanyaannya.


Burung itu pun menundukkan kepalanya sedikit


dan mengarahkan pandangan matanya pada perkamen putih yang terikat kuat di kaki


kanannya.


“Masuklah, kau baru saja melakukan perjalanan


jauh…” Aksel menjentikkan jarinya dan seketika muncul sebuah sangkar yang tampa


begitu indah dan cukup besar, di dalamnya pula sudah tersedia makanan dan


minuman untuk burung kesayangan kakaknya itu.


Phoenix pun langsung terbang dan masuk ke


dalam sangkar tersebut, sebelum ahirnya sangkar itu terlihat lenyap. Tak


terlihat lagi oleh kasat mata.


Aksel yang menerima perkamen itu pun kini


dengan cepat membukanya lalu membaca isi perkamen itu. Di situ tertulis jelas,


bahwa sang kakak menginginkan sebuah informasi yang akurat mengenai sebuah


senjata malaikat yang begitu terkenal dan memiliki kekuatan begitu besar. Aksel


kemudian membalik perkamennya lagi dan matanya seketika terbelalak saat melihat


gambar yang di kirim padanya. Gambar senjata yang tengah di cari oleh kakaknya


kini.


“Aku rasa… sudah waktunya Arra untuk masuk ke


medan perang. Meskipun dia tidak akan turun langsung ke dalamnya…” lirih Aksel


dan segera membakar perkamen itu setelah menyimpan dengan baik detail dari isi


perkamen tersebut.


**


Di tempat berbeda, Darrick tengah sibuk


dari seluruh kerak neraka di dunia. Dia mempersenjatai para iblis dan setan


yang menjadi pengikut setia dari ayahnya itu, juga mengajari mereka strategi


berperang. Tak lupa, Darrick sedikit membumbui ucapannya, yang mengajak para


iblis untuk bisa bergabung dengannya. Putra dari raja Iblis tersebut membuat


sebuah surat yang di stempel menggunakan stempel resmi milik sang ayah.


Dimana dalam surat tersebut, berisi perintah


bagi seluruh Pemimpin para iblis dimanapun, agar mereka bersedia mendukung


apapun langkah yang di lakukan  oleh


Darrick, menyerahkan pasukannya, dan juga seluruh senjata terbaik yang di


miliki oleh para klan iblis tersebut, tanpa bertanya. Dan meskipun dirinya


sudah tak ada lagi di sisi putranya itu.


Hal ini, jelas melanggar. Karena Darrick yang


telah memalsukan surat tersebut. Namun, bagi para iblis, tidak ada yang salah


dalam melanggar peraturan. Karena itu yang memang biasa di lakukan dalam dunia


bawah, itulah cara kerja mereka selama ini. Bertentangan dengan hukum Tuhan.


“Kau sudah mendapat jawaban dari mereka?”


tanya Darrick pada Ellard.


“Belum Yang Mulia. Mereka masih butuh waktu


untuk berpikir, sebentar lagi…” lapor Ellard.


“Berpikir? Memangnya apa yang mau mereka


pikirkan lagi setelah surat yang mereka baca dan terima itu?! Mereka piker


waktu kita sangat banyak untuk bisa menunggu jawaban dari klan mereka saja?”

__ADS_1


teriak Darrick dengan emosi.


Pewaris Raja Iblis itu nampak sudah tak sabar


untuk menerjang dan mencengkeramkan kuku kekuasaannya di dunia atas. Dengan


cara apapun. Demi membalaskan dendam yang telah mendarah daging dalam dirinya.


“Mereka adalah klan iblis terbesar Yang Mulia,


persenjataan yang mereka miliki juga sangat banyak dengan kualitas yang paling


baik. Jika mereka tidak bisa memihak pada kita. Atau memutuskan netral, hal ini


jelas akan mempersulit kemenangan kita di medan perang. Lagipula, klan dari


para malaikat juga nampaknya masih banyak yang belum berafiliasi dengan pasukan


yang di miliki oleh Arrio, Yang Mulia…” jelas Ellard.


“Kau mau mengatakan kalau kita masih bisa


menunggu mereka, hanya karena klan para malaikat masiih banyak yang belum


bergabung dengan Arrio. Begitu?” tanya Darrick lagi.


“Benar Yang Mulia…” jawab Ellard.


“Ellard, apa kau lupa siapa Arrio?” tanya


Darrick dengan suara yang di pelankan.


“Sang Malaikat Utama,” jawab Ellard dengan


yakin.


“Benar. Jadi apa kau mengerti arti dari


sebutan malaikat utama? Malaikat utama, adalah malaikat yang memiliki kedudukan


tertinggi, bahkan jauh lebih tinggi di banding para pemimpin malaikat lainnya.


Dia juga memiliki kekuatan yang begitu besar hingga tak bisa di bandingkan oleh


berapa juta pun kekuatan malaikat lain yang di satukan. Hanya dengan satu


hentakan kakinya, maka separuh dunia bisa jadi abu dalam seketika. Apa kau


mengerti apa artinya itu?”


Ellard terdiam, dia merinding mendengarkan definisi


yang di jelaskan oleh Darrick pada dirinya. Apa yang di katakan oleh rajanya


memang sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Karena bahkan, setelah beberapa


lama Arrio menerima hukuman dan di permalukan atas pengkhianatan yang


dituduhkan terhadap dirinya sekalipun, para pengikut setianya tetap berada di


sisinya. Tanpa pernah beranjak sedikitpun untuk menjauh dari sisi sang malaikat


utama. Dan bahkan, pengikutnya di sebut justru semakin banyak. Terlebih, saat


mereka mendengar kabar tentang sang penyembuh yang telah di temukan.


“Peperangan ini sia – sia, Yang Mulia?” tanya


Ellard dengan perasaan sedikit ciut.


“Kau bisa menganggapnya seperti itu. Karena


sejak awal, kita berdua tahu… kekuatan dari satu malaikat bernama Arrio saja,


sudah sangat mampu meluluh lantakkan seluruh dunia bawah tanpa tersisa.


Termasuk kau dan diriku sendiripun, tak sebanding dengan kekuatannya sama


sekali. Namun, kau pun mengerti. Peperangan ini tak mengejar kemenangan,


Ellard…” kata Darrick.


“Saya mengerti, Yang Mulia. Ini demi nama baik


dunia bawah dan nama baik dari mendiang Raja Iblis juga keluarganya. Serta


seluruh makhluk dunia bawah yang telah menerima hinaan besar dari para malaikat


kala itu…” kata Ellard lagi.


****

__ADS_1


__ADS_2