Cruel Fate

Cruel Fate
Part 16.1


__ADS_3

Ini sangat di luar dugaan dan kendali dari Arra. Gadis itu begitu


menyukai waktunya bersama Arrio malam ini. Rasanya, semua yang terjadi beberapa


hari lalu saat Arrio mengacuhkannya itu tak berarti lagi di mata Arra yang


lebih memilih mengingat malam ini sebagai bukti bahwa Arrio masih sangat


mendamba dirinya.


Kondisi seperti ini justru sering membuat tubuh Arra bereaksi


dengan cepat. Seperti jantung yang berdebar dan nafas yang terasa seperti


tercekat, bahkan rasanya seperti ada ribuan kupu – kupu yang terbang dari dalam


perutnya dan ingin sekali membuat Arra berteriak senang. Perasaan yang kini


gadis itu sadari, tak pernah sekalipun ia temukan dari hubungannya bersama


Andrew selama ini.


Rasa hangat, nyaman, aman, dan bahagia ini. Baru kali ini Arra


benar – benar rasakan.


“Arrio. Tolong menyingkir sebentar. Aku mau menaruh makanan ini ke


meja makan,” kata Arra dengan sedikit menggerakkan pundaknya agar Arrio bangun.


“Hmm… biar aku saja yang membawa itu.” Arrio mengambil alih


mangkok berisi sup dan menggandeng tangan Arra yang satu tangannya membawa


piring berisi nasi untuk di bawa ke meja makan.


Arrio membawa Arra duduk di sampingnya dan tak melepas genggaman


tangan gadis itu sama sekali sambil terus melahap makanan yang ada di


hadapannya. Dia begitu lahap dan menikmati setiap suap masakan Arra yang masuk


ke dalam mulutnya.


“Rio…” cicit Arra memanggil nama Arrio.


“Hmm… kenapa sayang?” jawab Arrio dan segera mengalihkan


perhatiannya pada Arra, menatapnya dengan lembut dan menunggu Arra melanjutkan


ucapannya.


“Kau belum menjelaskan apapun padaku selama ini,” kata gadis itu


lagi.


“Menjelaskan tentang apa sayang?” tanya Arrio balik.


“Tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi selama ini. Dan siapa


sebenarnya mereka semua, orang yang sudah melukai Andrew dan membuatmu


kesulitan seperti ini. Juga membuatku tak bisa berangkat kuliah seperti


biasanya,” ujar gadis itu.


Arrio menghela nafas sejenak dan meletakkan sendok di tangannya ke


atas piring. Dia mengeratkan genggaman tangannya di tangan Arra dan mengecup


lembut punggung tangan gadis itu.


“Aku belum bisa menjawab dan menjelaskan semuanya karena memang


aku belum menemukan jawaban keseluruhan atas apa yang terjadi Arra. Dan juga,


soal siapa mereka yang menyerang Andrew juga apa yang mereka inginkan dari


Andrew sebenarnya…” kata Arrio mencoba memberi pemahaman pada Arra.


“Begitu…” lirih gadisnya lagi, membuat Arrio mengulas senyum


tipis.


“Kau tak perlu khawatir tentang apapun Arra. Baik itu soal Andrew


sekalipun, aku akan menjaganya dan merawatnya dengan baik selama dia ada di

__ADS_1


sini…” kata Arrio lagi.


“Aku sedang tak mengkhawatirkan Andrew!” pekik Arra.


“Lalu? Apa kau khawatir soal kuliahmu?” tanya Arrio sekali lagi.


“Aku juga tak khawatir soal itu! aku khawatir padamu Arrio!” ucap


Arra dengan nada tinggi dan sedikit menahan tangis.


“Aku? Kau mengkhawatirkan aku?” Arrio tertegun.


Gadis itu kini mengangguk lemah dan menundukkan kepalanya, “Hmm…


aku sangat menghawatirkann dirimu. Aku cemas dan takut kalau kau di serang oleh


orang – orang itu juga yang kemarin menyerang Andrew, aku takut kau terluka,


aku juga sangat takut kalau kau lelah karena harus mencari tahu soal ini


sendirian. Aku ingin membantumu tapi aku bahkan tak tahu harus melakukan apa.


Beberapa hari ini juga, selama aku tinggal disini. Kau sama sekali tak


memberiku kabar. Kau tak menyapaku, aku tak bisa mendengar suaramu sama sekali.


Kau selalu pulang larut saat aku sudah tidur dan berangkat pagi – pagi sekali saat


aku bahkan belum bangun. Seolah.. kau sedang menghindar dariku! Aku takut


Arrio. Aku sangat takut!” Arra tak bisa lagi menahan emosinya yang ia pendam


selama ini. Tangisnya juga meledak dan gadis itu terisak sembari mengatakan


segala isi hatinya.


Arrio bukannya tak bereaksi melihat apa yang terjadi. Dia


tersentak dan kaget hingga dia sendiri bingung harus berbuat apa saat melihat


gadis yang begitu di cintainya menangis seperti itu. Arrio sadar ini salahnya.


Dia yang seharusnya memberikan Arra penjelasan atau setidaknya mendampingi Arra


langsung di saat seperti ini. Bukannya malah menjauh dengan berbagai alasan


Karena satu – satunya cara melindungi gadis nya adalah dengan


terus berada di sisi Arra dan menjaganya dari dekat.


“Maafkan aku Arra…” Arrio memajukan tubuhnya sedikit dan merengkuh


tubuh gadis itu dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Arra dan berusaha


menenangkan Arra.


Arra tak menolak sentuhan Arrio. Sekali lagi, gadis itu hanya


terdiam dan merasakan kehangatan tubuh arrio yang menjalar ke seluruh tubuhnya


dan membuat isakan nya mereda sedikit demi sedikit.


“Kau tak tahu betapa aku rindu mendengar suaramu…” cicit Arra di


pelukan Arrio dan sekali lagi membuat malaikat itu tersentak.


“Kau… apa?” Arrio mengerjapkan matanya.


“Apa?”


“Kau… merindukan aku?” tanya Arrio meyakinkan dirinya.


Arra hanya mengangguk kecil dan kini senyum Arrio terkembang.


“Ya Tuhan… katakan sekali lagi sayang,” ujar Arrio yang terdengar


begitu bahagia.


“Mengatakan apa?” Arra jelas menggoda Arrio sekarang.


“Katakan sekali lagi kalau kau merindukanku…” pinta Arrio.


“Aku merindukanmu…” lirih Arrio.


“Apa? Aku tak bisa mendengarmu sayang…” Arrio mulai balik menggoda


Arra dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Arra.

__ADS_1


Arra merasakan itu, bagaimana wajah Arrio yang begitu dekat.


Bahkan nafasnya yang hangat terasa jelas menerpa wajah gadis itu dan membuat


jantung Arra berdegup begitu kencang.


“Aku… rindu padamu…” jawab Arra sambil menahan malu dan menunduk,


sementara Arrio sudah tersenyum sangat lebar.


“Aku juga sangat merindukanmu…” bisik Arrio tepat di depan wajah


Arra dan semakin membuat wajah gadis itu memerah karena malu.


“Rio!” bentak Arra.


“Hahaha… wajahmu merah sayang, kau lucu sekali… hahahaha…” gelak


Arrio.


“Menyebalkan! Kau selalu saja meledekku!” ucap Arra dengan wajah


memerah.


“Hahahah… ehm… maafkan aku. Maaf ya, aku hanya tidak tahan melihat


wajah malumu itu sayang. Sangat cantik!” kata Arrio dan menahan tawa.


“Hentikan tertawamu atau aku akan marah!” ancam Arra.


“Kau bisa marah padaku?” ledek lelaki itu lagi.


“Tentu saja bisa!”


“Hmm… kau tidak akan bisa sayang,”


“Kenapa?” tanya Arra lagi.


“Karena aku akan membuat rasa marahmu berubah menjadi rindu, dan


bencimu itu akan menjadi cinta yang besaaaarrr untukku.”


 “Cih! Yakin sekali!”


“Hahaha, darimana gadisku ini belajar bicara dengan nada seperti


ini, hmm?” Arrio mencubit bibir Arra dengan tangannya sambil tersenyum.


“Arrio! Tanganmu kotor, bekas sup!”


“Oh! Maafkan aku sayang, biar aku bersihkan bibirmu ya,”


Dan… cupp!


Sebuah ciuman mendarat di bibir Arra. Bukan hanya sebatas


menempel, tapi Arrio juga sedikit ******* bibir gadis itu dengan sangat halus.


Tidak ada nafsu di dalamnya, hanya kasih sayang yang ingin di berikan oleh


Arrio agar Arra bisa merasakannya secara langsung. Tangannya tetap menggenggam


tangan Arra, sementara yang satu lagi menahan kepala gadis itu.


Arra menutup matanya dan dia tak menampik kalau dirinya menerima,


sekaligus menikmati kehangatan yang menyebar ke sekujur tubuhnya lewat ciuman


lembut Arrio. Gadis itu seolah lupa, bahwa dia masih berstatus kekasih orang


lain saat ini.


“Masih kotor?” tanya Arrio sejenak setelah melepas ciumannya. Dia


mengusap lembut ujung bibir Arra dengan ibu jarinya dan menatap lekat wajah


gadis itu.


Arra menggeleng kecil dan kembali menunduk, sementara Arrio kini


menarik Arra ke dalam pelukannya lagi dan mengusap perlahan punggung gadis itu.


“Aku mencintaimu Arra.. sangat mencintai kamu…” bisik Arrio dan


hebatnya Arra mengangguk dalam pelukan lelaki itu.


***

__ADS_1


__ADS_2