
Ini sangat di luar dugaan dan kendali dari Arra. Gadis itu begitu
menyukai waktunya bersama Arrio malam ini. Rasanya, semua yang terjadi beberapa
hari lalu saat Arrio mengacuhkannya itu tak berarti lagi di mata Arra yang
lebih memilih mengingat malam ini sebagai bukti bahwa Arrio masih sangat
mendamba dirinya.
Kondisi seperti ini justru sering membuat tubuh Arra bereaksi
dengan cepat. Seperti jantung yang berdebar dan nafas yang terasa seperti
tercekat, bahkan rasanya seperti ada ribuan kupu – kupu yang terbang dari dalam
perutnya dan ingin sekali membuat Arra berteriak senang. Perasaan yang kini
gadis itu sadari, tak pernah sekalipun ia temukan dari hubungannya bersama
Andrew selama ini.
Rasa hangat, nyaman, aman, dan bahagia ini. Baru kali ini Arra
benar – benar rasakan.
“Arrio. Tolong menyingkir sebentar. Aku mau menaruh makanan ini ke
meja makan,” kata Arra dengan sedikit menggerakkan pundaknya agar Arrio bangun.
“Hmm… biar aku saja yang membawa itu.” Arrio mengambil alih
mangkok berisi sup dan menggandeng tangan Arra yang satu tangannya membawa
piring berisi nasi untuk di bawa ke meja makan.
Arrio membawa Arra duduk di sampingnya dan tak melepas genggaman
tangan gadis itu sama sekali sambil terus melahap makanan yang ada di
hadapannya. Dia begitu lahap dan menikmati setiap suap masakan Arra yang masuk
ke dalam mulutnya.
“Rio…” cicit Arra memanggil nama Arrio.
“Hmm… kenapa sayang?” jawab Arrio dan segera mengalihkan
perhatiannya pada Arra, menatapnya dengan lembut dan menunggu Arra melanjutkan
ucapannya.
“Kau belum menjelaskan apapun padaku selama ini,” kata gadis itu
lagi.
“Menjelaskan tentang apa sayang?” tanya Arrio balik.
“Tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi selama ini. Dan siapa
sebenarnya mereka semua, orang yang sudah melukai Andrew dan membuatmu
kesulitan seperti ini. Juga membuatku tak bisa berangkat kuliah seperti
biasanya,” ujar gadis itu.
Arrio menghela nafas sejenak dan meletakkan sendok di tangannya ke
atas piring. Dia mengeratkan genggaman tangannya di tangan Arra dan mengecup
lembut punggung tangan gadis itu.
“Aku belum bisa menjawab dan menjelaskan semuanya karena memang
aku belum menemukan jawaban keseluruhan atas apa yang terjadi Arra. Dan juga,
soal siapa mereka yang menyerang Andrew juga apa yang mereka inginkan dari
Andrew sebenarnya…” kata Arrio mencoba memberi pemahaman pada Arra.
“Begitu…” lirih gadisnya lagi, membuat Arrio mengulas senyum
tipis.
“Kau tak perlu khawatir tentang apapun Arra. Baik itu soal Andrew
sekalipun, aku akan menjaganya dan merawatnya dengan baik selama dia ada di
__ADS_1
sini…” kata Arrio lagi.
“Aku sedang tak mengkhawatirkan Andrew!” pekik Arra.
“Lalu? Apa kau khawatir soal kuliahmu?” tanya Arrio sekali lagi.
“Aku juga tak khawatir soal itu! aku khawatir padamu Arrio!” ucap
Arra dengan nada tinggi dan sedikit menahan tangis.
“Aku? Kau mengkhawatirkan aku?” Arrio tertegun.
Gadis itu kini mengangguk lemah dan menundukkan kepalanya, “Hmm…
aku sangat menghawatirkann dirimu. Aku cemas dan takut kalau kau di serang oleh
orang – orang itu juga yang kemarin menyerang Andrew, aku takut kau terluka,
aku juga sangat takut kalau kau lelah karena harus mencari tahu soal ini
sendirian. Aku ingin membantumu tapi aku bahkan tak tahu harus melakukan apa.
Beberapa hari ini juga, selama aku tinggal disini. Kau sama sekali tak
memberiku kabar. Kau tak menyapaku, aku tak bisa mendengar suaramu sama sekali.
Kau selalu pulang larut saat aku sudah tidur dan berangkat pagi – pagi sekali saat
aku bahkan belum bangun. Seolah.. kau sedang menghindar dariku! Aku takut
Arrio. Aku sangat takut!” Arra tak bisa lagi menahan emosinya yang ia pendam
selama ini. Tangisnya juga meledak dan gadis itu terisak sembari mengatakan
segala isi hatinya.
Arrio bukannya tak bereaksi melihat apa yang terjadi. Dia
tersentak dan kaget hingga dia sendiri bingung harus berbuat apa saat melihat
gadis yang begitu di cintainya menangis seperti itu. Arrio sadar ini salahnya.
Dia yang seharusnya memberikan Arra penjelasan atau setidaknya mendampingi Arra
langsung di saat seperti ini. Bukannya malah menjauh dengan berbagai alasan
Karena satu – satunya cara melindungi gadis nya adalah dengan
terus berada di sisi Arra dan menjaganya dari dekat.
“Maafkan aku Arra…” Arrio memajukan tubuhnya sedikit dan merengkuh
tubuh gadis itu dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Arra dan berusaha
menenangkan Arra.
Arra tak menolak sentuhan Arrio. Sekali lagi, gadis itu hanya
terdiam dan merasakan kehangatan tubuh arrio yang menjalar ke seluruh tubuhnya
dan membuat isakan nya mereda sedikit demi sedikit.
“Kau tak tahu betapa aku rindu mendengar suaramu…” cicit Arra di
pelukan Arrio dan sekali lagi membuat malaikat itu tersentak.
“Kau… apa?” Arrio mengerjapkan matanya.
“Apa?”
“Kau… merindukan aku?” tanya Arrio meyakinkan dirinya.
Arra hanya mengangguk kecil dan kini senyum Arrio terkembang.
“Ya Tuhan… katakan sekali lagi sayang,” ujar Arrio yang terdengar
begitu bahagia.
“Mengatakan apa?” Arra jelas menggoda Arrio sekarang.
“Katakan sekali lagi kalau kau merindukanku…” pinta Arrio.
“Aku merindukanmu…” lirih Arrio.
“Apa? Aku tak bisa mendengarmu sayang…” Arrio mulai balik menggoda
Arra dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Arra.
__ADS_1
Arra merasakan itu, bagaimana wajah Arrio yang begitu dekat.
Bahkan nafasnya yang hangat terasa jelas menerpa wajah gadis itu dan membuat
jantung Arra berdegup begitu kencang.
“Aku… rindu padamu…” jawab Arra sambil menahan malu dan menunduk,
sementara Arrio sudah tersenyum sangat lebar.
“Aku juga sangat merindukanmu…” bisik Arrio tepat di depan wajah
Arra dan semakin membuat wajah gadis itu memerah karena malu.
“Rio!” bentak Arra.
“Hahaha… wajahmu merah sayang, kau lucu sekali… hahahaha…” gelak
Arrio.
“Menyebalkan! Kau selalu saja meledekku!” ucap Arra dengan wajah
memerah.
“Hahahah… ehm… maafkan aku. Maaf ya, aku hanya tidak tahan melihat
wajah malumu itu sayang. Sangat cantik!” kata Arrio dan menahan tawa.
“Hentikan tertawamu atau aku akan marah!” ancam Arra.
“Kau bisa marah padaku?” ledek lelaki itu lagi.
“Tentu saja bisa!”
“Hmm… kau tidak akan bisa sayang,”
“Kenapa?” tanya Arra lagi.
“Karena aku akan membuat rasa marahmu berubah menjadi rindu, dan
bencimu itu akan menjadi cinta yang besaaaarrr untukku.”
“Cih! Yakin sekali!”
“Hahaha, darimana gadisku ini belajar bicara dengan nada seperti
ini, hmm?” Arrio mencubit bibir Arra dengan tangannya sambil tersenyum.
“Arrio! Tanganmu kotor, bekas sup!”
“Oh! Maafkan aku sayang, biar aku bersihkan bibirmu ya,”
Dan… cupp!
Sebuah ciuman mendarat di bibir Arra. Bukan hanya sebatas
menempel, tapi Arrio juga sedikit ******* bibir gadis itu dengan sangat halus.
Tidak ada nafsu di dalamnya, hanya kasih sayang yang ingin di berikan oleh
Arrio agar Arra bisa merasakannya secara langsung. Tangannya tetap menggenggam
tangan Arra, sementara yang satu lagi menahan kepala gadis itu.
Arra menutup matanya dan dia tak menampik kalau dirinya menerima,
sekaligus menikmati kehangatan yang menyebar ke sekujur tubuhnya lewat ciuman
lembut Arrio. Gadis itu seolah lupa, bahwa dia masih berstatus kekasih orang
lain saat ini.
“Masih kotor?” tanya Arrio sejenak setelah melepas ciumannya. Dia
mengusap lembut ujung bibir Arra dengan ibu jarinya dan menatap lekat wajah
gadis itu.
Arra menggeleng kecil dan kembali menunduk, sementara Arrio kini
menarik Arra ke dalam pelukannya lagi dan mengusap perlahan punggung gadis itu.
“Aku mencintaimu Arra.. sangat mencintai kamu…” bisik Arrio dan
hebatnya Arra mengangguk dalam pelukan lelaki itu.
***
__ADS_1