Cruel Fate

Cruel Fate
Part 39.2


__ADS_3

Langit sudah berubah gelap saat Arrio bangun dari tidurnya setelah sejak pagi hingga menjelang petang dirinya dan Arra saling bergelut menggapai kepuasan mereka bersama. Saling mendamba dan memanaskan saling memanaskan tubuh mereka di cuaca yang cukup dingin karena hampir masuk waktu musim dingin sekarang.


Beruntung bagi mereka karena hari ini jadwal toko buku untuk di bersihkan, sehingga memang sengaja di tutup meskipun mereka berdua ada di dalamnya. Walaupun sepertinya banyak yang harus di bersihkan dan di bereskan ulang akibat tindakan mereka yang begitu brutal selama beberapa jam. Arrio sendiri tak menyangka bahwa


pergumulan mereka tidak hanya akan di lakukan di satu tempat dalam toko buku tersebut. Melainkan di banyak titik, seperti di antara rak buku, di ruang istirahat Arra, di belakang meja kasir, di sofa tempat pengunjung biasanya


duduk untuk membaca buku sebelum membeli, dan bahkan mereka lakukan di dalam gudang tempat buku – buku yang belum di jual itu di simpan.


Dengan satu jentikan tangannya Arrio langsung merapihkan semua kekacauan yang dia buat dengan Arra. Dia juga menyelimuti tubuh gadis itu yang masih polos seperti bayi dan tertidur lelap tanpa merasakan apapun. Senyum tipis tersungging di wajah Arrio yang menatap wajah damai gadisnya.


“Capek ya? Apa aku terlalu lama tadi?” gumam Arrio pada dirinya sendiri.


Mereka sudah berada di dalam ruang istirahat milik Arra yang memang mirip kamar tidur biasa dengan kasur yang berada di bawah tanpa ranjang.


“Hhhmmmhh…” tiba – tiba Arra menggeliat dan bergerak sambil membuka matanya sedikit.


“Sudah bangun?” tanya Arrio lembut, tangannya kini terulur mengusap wajah gadisnya yang terlihat lelah.


“Badanku remuk…” keluh Arra yang di balas kekehan oleh Arrio.


“Maaf… aku terlalu merindukanmu. Dan lagi kau terlalu sempurna untuk aku abaikan begitu saja,” celetuk Arrio dengan tanpa rasa bersalah.


“Cih! Mesum!” balas Arra dengan suara parau dan lemahnya.


“Jangan bicara lagi sayang, lebih baik kau tidur. Suaramu yang sedang parau seperti itu membuatku tak bisa berpikir jernih. Berbahaya!” kata Arrio.


Arra terbelalak dan Dugg!


Gadis itu menendang kaki Arrio hingga malaikat itu terjatuh dari kasur dan mengaduh kesakitan.

__ADS_1


“Minggir! Menjauh dariku, dasar mesum!” ucap gadis itu lagi sebelum menggulung tubuhnya ke dalam selimut dan melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Dia sangat lelah, amat sangat lelah. Beruntung rasanya karena Arra masih bisa bertahan hingga akhir selama berjam – jam seperti tadi.


**


Andrew kini sibuk menatap dua makhluk di mabuk asmara yang tengah duduk di hadapannya ini secara


bergantian. Sambil menyesap kopi hitam tanpa gula yang terasa begitu pahit di tenggorokannya. Meskipun tak sepahit kisah cintanya yang harus kandas, dia memperhatikan bagaimana Arrio yang terus saja memandang Arra tanpa berkedip meskipun gadis itu tetap fkus pada laptopnya untuk menulis novel thriller yang sebentar lagi


akan di terbitkan oleh salah satu penerbit besar di London.


Di kedua telinga gadis itu bahkan terpasang headphone berwarna pink mencolok yang memutar lagu –


lagu favoritnya. Tapi itu tak menghentikan Arrio untuk terus memandangi Arra dan menghiraukan eksistensi Andrew di sana.


“Mau kemana?” tanya Arra yang merasakan pergerakan Andrew.


“Tanyakan padanya. Dia yang memintaku bertemu disini, tapi juga jadi orang yang tak mengindahkan aku disini…” sindir Andrew hingga Arrio hanya bisa tersenyum tipis.


“Aku sedang mengagumi bidadariku…” lirihnya.


Andrew yang mendengar itu memicingkan matanya, “malaikat juga bisa berbicara seperti itu ya? Hahahah…” kata Andrew yang membuat Arra langsung menarik lengannya.


Gadis itu memberikan peringatan untuk tak bicara terlalu keras karena mereka sedang di tempat umum sekarang. Rahasia identitas Arrio tak boleh sampai bocor sembarangan.


“Maaf…” kata Andrew cepat dan kembali duduk.


“Sayang, aku boleh bicara berdua saja dengan Andrew kan? Sebentar saja,” pamit Arrio yang membuat Arra dan Andrew sama – sama terdiam.

__ADS_1


**


“Kalau kau memang mau bicara 4 mata denganku saja. Kenapa harus datang bersama Arra?” protes Andrew begitu mereka pindah tempat duduk yang cukup jauh Arra.


Gadis itu sepertinya memang butuh konsentrasi untuk novelnya sampai tak peduli dengan apa yang akan di bicarakan Arrio dan Andrew.


“Dia mau datang kesini sendirian untuk menulis novelnya. Apa aku harus membiarkannya pergi sendirian? Itu berbahaya untuknya, aku tak mau terjadi sesuatu padanya nanti,” jelas Arrio.


Andrew pun tersenyum, mendengar jawaban Arrio yang menggambarkan bahwa malaikat itu jauh lebih cemburuan dan protektif di banding dirinya saat bersama dengan Arra dulu. Membuatnya lega tapi juga khawatir kalau Arra merasa tak nyaman dengan sikap berlebihan Arrio.


“Oke, jadi apa yang mau bicarakan denganku,” tukas Andrew mempersingkat waktu.


“Aku ingin meminta bantuanmu, Andrew. Ini sangat penting dan menyangkut hidupku juga hidup Arra. Tentang kami…” kata Arrio.


“Kau mau pergi lagi ya? Seperti dulu? Berapa lama, berapa tahun?” tanya Andrew beruntun.


Arrio dengan cepat menggelengkan kepalanya, dan mencondongkan tubuhnya untuk mendekat pada Andrew


dengan gerakan akan berbisik pada pria tersebut. “Aku tidak ingin meninggalkan dia lagi Andrew. Aku sudah bersumpah untuk itu, tapi aku ingin menikahinya. Secepatnya…” jelas Arrio.


“Ahh… kau akan menik—hah?! Kau benar akan menikahinya? Sekarang?” Andrew terkejut.


“Ssstt… kecilkan suaramu. Nanti dia dengar,” kata Arrio dan melirik Arra yang masih fokus.


“Oke, jadi kau akan melamarnya? Lalu, apa yang perlu aku bantu untuk itu?” tanya Andrew lagi.


“Sebelum melamarnya dan mempersiapkan pernikahan. Aku ingin mencari rumah baru untuknya yang akan jadi tempat tinggal kami disini setelah menikah, juga aku ingin kau membantuku untuk mengajaknya jalan – jalan lusa pagi hingga petang selama aku mempersiapkan semua lamaranku. Bisakah kau membantuku mencarikan rumahnya dan melakukan itu?” tanya Arrio dengan penuh harap.


“Tentu. Dengan senang hati, aku akan membantumu membahagiakan dia…” tegas Andrew.

__ADS_1


__ADS_2