
Jarak yang begitu jauh nyatanya tak menjadi kendala untuk Arrio. Panahnya menembus tepat di leher iblis itu dan membuatnya terhuyung ke depan sebelum tewas seketika. Teriakan para iblis pun menggema, hingga seluruh surga dan neraka dapat mendengarnya. Serangan yang di berikan Arrio juga merupakan tanda, bahwa perang telah di mulai.
“SERANG MEREKA!**”** pekik Darrick dengan penuh kemarahan dan ambisi. Dia melecutkan kuda hitam yang
menjadi tunggangan untuk maju ke depan sambil menghunus pedang. Seluruh pasukan maju, berlari menyerang para malaikat yang memulai.
“Tahan!” teriak Arrio, sedikit mengejutkan di saat melihat pasukan yang tengah bersiap menyerang dirinya. Dia maju ke barisan paling depan dan menghunus pedang diikuti panglima perang yang lain.
“Siapkan senjata kalian!” Arsen, Athens, dan Aiden berteriak bersamaan.
Arrio memicingkan mata dan melihat, berbisik dengan bahasa malaikat, “Arahkan ke leher dan bawah
lengan mereka,” yang segera dipahami oleh semuanya.
“Bidik mereka!” pekik Arrio. Jarak mereka sudah semakin dekat, dan....
“TEMBAK! SERANG MEREKA!” Teriakannya begitu menggelegar hingga langit merah dan hitam ikut
bergemuruh. Hujan anak panah terlihat di atas langit dan para iblis mulai berjatuhan.
Satu anak panah yang ditembakkan malaikat akan berubah menjadi 100 anak panah sekaligus dan mampu membunuh 100 iblis dalam sekali serangan. Tentu saja, itu di luar perkiraan Darrick.
Darrick membelalak melihat pasukannya tumbang di hadapan. Dia kembali berteriak untuk membuat pertahanan dengan pasukan yang membawa tameng dan tombak di depan dan pasukan dengan panah di belakangnya.
Darrick mengambil busur miliknya dan mengarahkan pada pasukan Arrio lalu menembakkan panah yang
mampu menumbangkan beberapa malaikat di dalam pasukan tersebut.
Hingga akhirnya kedua pasukan bertemu di titik tengah dan saling menyerang serta bertempur. Saat itu pula, Arrio dan yang lain menghunus pedang mereka, menebas habis semua iblis tanpa ampun. Tidak ada kata berhenti di sana hingga langit semakin merah pekat karena darah yang tertumpah dari kedua belah pihak. Suara teriakan dan
__ADS_1
pekik kesakitan terdengar ke seluruh penjuru.
“Lawan mereka! Demi sang raja!” pekik Darrick.
Busur Phoenix yang sebelumnya di sembunyikan pun kini mulai di perlihatkan ke hadapan musuh oleh Arrio. Malaikat itu dengan begitu berwibawanya langsung mengangkat busur besar dengan kepala Phoenix di bagian tengahnya dan membidik setiap kepala iblis yang menyerbu ke arah dirinya dan juga pasukannya.
Psiiuttt!
Tembakan panah Arrio tak meleset sedikitpun, satu anak panah yang melesat kini berhasil membunuh ratusan iblis dalam satu kali serangan dan membuat banyak pasukan iblis yang tumbang sebelum sempat mengangkat senjata mereka.
Sementara di tempat yang lain, Aiden, Athens dan Arsen masing – masing mengangangkat pedang mereka dan menebas kepala semua iblis yang ada sambil merangsek dengan kudanya masing – masing. Mereka menghadapi Panglima Perang para Iblis yang lain dengan begitu luar biasa. Suara denting pedang yang bertemu terdengar.
“Freza!” Athens mengarahkan ujung pedangnya dan meneriakkan sebuah mantra yang membuat Panglima Besar Iblis yang kedua setelah Ellard pun membeku di hadapannya. “Hiyyyyaaahh!!!” dengan satu tebasan pedang Kristal miliknya, Athens menghancurkan tubuh sang Panglima Iblis hingga hancur berkeping tak lagi berbentuk.
“Virtutem petam terras ignis est malum illud omnino!!!”
Kini giliran Arsen yang menunjukkan kekuatannya, dengan mantra yang di baca oleh malaikat itu, seluruh iblis yang ada di berbagai sudut dengan rentang jarak 200 meter dari tempatnya berdiri kini tak bisa bergerak, kaki mereka terikat di atas tanah dan tanah yang mereka pijak kini berubah menjadi lumpur hisap yang begitu
Dan tersisa satu iblis yang terbang di atas Arsen dan bersiap membunuhnya, harus menerima kekalahan saat Arsen menatap tajam ke arahnya dan membuat lumpur tersebut meletup hingga mengenai sayapnya dan membuatnya tumbang seketika.
Tak jauh dari tempat Arsen menghancurkan musuhnya, Aiden juga bersiap dengan mantra yang dia miliki.
“Mala et lux in oculo!!!”
Mantra mengerikan itu akhirnya terucap dari bibir tipis Aiden. Seketika itu pula seluruh cahaya meredup dan membuat para iblis gelisah. Begitu pula tunggangan yang mereka gunakan. Mereka kehilangan seluruh cahaya yang menerangi jalan mereka dan petunjuk menuju musuh mereka pun lenyap. Para iblis kini benar – benar
kehilangan arah.
Kedua mata mereka buta dalam waktu yang bersamaan. Dan saat itu pula, Aiden dengan mudahnya melesatkan anak panah saktinya dan membunuh mereka semua hanya dalam sekali serangan.
__ADS_1
Arrio sendiri terus menebas kepala para iblis dengan pedangnya hingga pedang itu berlumur dengan darah dan terus mengucurkan darah segar hingga ke ujung mata pedangnya. Malaikat itu juga turun dari tunggangannya untuk membantai sendiri para iblis dan merangsek menuju ke satu sosok yang begitu ingin dia bunuh dengan tangannya
sendiri. Darrick.
Begitu dia sampai tepat di hadapan Darrick yang juga tengah bertarung mati – matian melawan pasukannya. Arrio segera menghunuskan pedangnya ke arah Darrick.
“Akhirnya kita bertemu kembali disini Arrio… penantian panjangku telah terpenuhi,” kata Darrick.
Arrio yang mendengar itu segera tersulut emosinya dan mengeluarkan api merah di seluruh tubuhnya sekaligus pedangnya. Api besar yang menjilat dan siap menghancurkan siapapun.
“Aku pastikan, kau akan membusuk di kerak neraka! Selamanya! Hiyaaaaa!” Arrio kembali menyerang, tubuhnya menyala merah menandakan amarahan yang memuncak. Matanya mengeluarkan sinar seperti api bersama seluruh tubuh. Hal yang belum pernah dilihat Darrick dari sosok Arrio sepanjang hidup.
Pedang Arrio pun menjadi lebih besar bersama kilatan api biru dan ungu yang merupakan api abadi.
Malaikat itu menerjang Darrick tanpa memberi ruang sedikitpun pada iblis tersebut sambil membayangkan ketakutan yang dihadapi Arra saat iblis sialan itu menyentuh gadisnya.
Suara pedang yang saling bertemu terdengar di mana pun termasuk antara Darrick dan Arrio. “Tak
akan aku biarkan kau hidup! Pengkhianat!” pekik Darrick.
Pedang keduanya bertemu dan mereka bertarung dengan sengit. Keduanya yang memang begitu mahir
kini saling menghindari serangan masing – masing dan menyerang satu sama lain.
“Aku bukan Pengkhianat!!!” pekik Arrio dan kembali menahan serangan dari Darrick.
“Kau pikir, aku akan mempercayai mu lagi? Kau pikir, kau bisa membodohi aku lagi. Hah?!” teriak Darrick dengan wajah memerah penuh amarah.
“Kau yang akan mati di tanganku hari ini, IBLIS SIALAN!!!”
__ADS_1
Arrio tak lagi menahan diri dan menyerang sepenuh tenaga ke arah Darrick.
****