Cruel Fate

Cruel Fate
Part 33.1


__ADS_3

“Dasar kau iblis yang tidak tahu terima kasih!” Arrio mengayunkan pedangnya lagi. “Kalau aku mau, aku bisa saja membunuh ibu dan adikmu!”


“Kau sudah melakukannya!” pekik Darrick.


“Kau pikir, kenapa aku harus menempatkan ibu dan adikmu di jalur tempat para iblis dan tersembunyi? Dasar bodoh!” teriak Arrio sambil menahan pedang Darrick dengan pedangnya.


Darrick terdiam, menatap tajam pada mata Arrio, mencari kebohongan di sana yang sayangnya tak ditemukan.


“Aku yang menyelamatkan mereka. Aku difitnah! Mereka terbunuh entah oleh siapa malam itu,


saat aku hampir membawa mereka pergi jauh!” ucap Arrio lagi.


“Pembohong!” Darrick berteriak lagi. Suara pedang bertemu dan saling serang terdengar lagi.


Hingga akhirnya karena lengah, Arrio mampu membuat Darrick terjatuh dan menghunuskan pedangnya


tepat di leher Darrick, hampir membunuh iblis itu namun tertahan oleh sesuatu yang ada dalam hatinya.


Dengan napas terengah, Arrio kembali berkata, “Aku menahan semua tuduhan ini hanya untuk melindungimu, tapi ini balasanmu padaku!” pekiknya. “Kau sudah berani menyentuh orang yang aku cintai, bahkan tak memercayai aku sebagai sahabatmu. Asal kau tahu, Darrick. Beberapa waktu sebelum penyerangan itu, Aku datang ke istanamu untuk memberikanmu peringatan! Aku meninggalkan sehelai bulu sayapku di gerbang


istanamu! Dan ini yang aku dapatkan darimu?” Arrio sudah kehilangan kesabaran.


Baru saja Arrio akan mengayunkan lagi pedangnya untuk membunuh Darrick, tiba-tiba suara terompet terdengar. Itu bukan terompet perang ataupun dari para iblis, melainkan terompet para malaikat.


Satu pasukan besar malaikat dengan senjata lengkap datang untuk memberikan bantuan dan menghentikan perang sesaat. Kehadiran mereka jelas membuat para iblis cukup terkejut dan khawatir. Mereka akan tamat. Semua buyar saat satu sosok malaikat muncul di hadapan mereka.


August.


**

__ADS_1


Sementara itu, Aksel dan Jason membawa beberapa pasukan miliknya menerobos masuk ke dalam tenda perang milik para iblis untuk menyelamatkan Arra selagi mereka fokus dan sibuk berperang. Ini juga merupakan salah satu strategi yang diberikan Athens beberapa menit sebelum maju ke medan perang.


Aksel terus melakukan telepati dengan Arra. Mereka akhirnya menemukan satu tenda yang terletak cukup tersembunyi di area tersebut dengan penjaga di sekelilingnya. Aksel dan Jason tentu saja tidak boleh gegabah. Satu saja kesalahan, bisa jadi bumerang dan mengancam nyawa Arra.


“Aksel… jangan langsung masuk, kita harus mengalihkan perhatian mereka dulu ke tempat lain. Jadi kau bisa lebih leluasa mendekat pada Arra,” kata Jason sambil melihat ke sekelilingnya.


Mereka berdua hanya datang dengan diri mereka sendiri, senjata, dan juga dua pengawal yang bertugas membantu keduanya mengecoh lawan. Aksel terus memperhatikan gerak gerik iblis yang menjaga tenda tempat Arra di sekap sementara Jason mencari tempat yang cocok untuk mengalihkan perhatian mereka.


Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tempat, tenda yang berada cukup jauh tapi berukuran cukup besar yang di yakini menjadi tenda dari salah satu panglima perang para iblis selain Ellard. Jason yang melihat itu, meminta salah satu pengawalnya untuk mendekati tempat tersebut dan menyulut api di sana.


Hingga malaikat yang mengawal itu akhirnya mulai bergerak mendekati tenda besar tersebut dengan


diam – diam, lalu menyalakan api sesuai perintah dari Jason.


“Cepat masuk ke dalam Aksel!” Jason memberikan perintah.


Seketika itu juga salah satu pengawal malaikat yang lain terbang ke atas langit setelah menembakkan panah ke salah satu tenda yang letaknya cukup jauh dari sana. Benar saja. Begitu tenda ambruk, iblis penjaga berlari ke arah tenda itu. Giliran Aksel yang masuk untuk membebaskan Arra dan berharap Jason mampu mengulur waktu


“Arra!” Aksel menghambur ke arah Arra yang masih terikat.


Wajah gadis itu begitu pucat, rambutnya sudah acak – acakan dan kondisinya cukup mengenaskan untuk


seorang penyembuuh yang baru saja membunuh seorang panglima perang besar. Begitu banyak luka di tubuhnya yang membuat keadaannya semakin mengenaskan. Kakinya pun melepuh, akibat di sentuh oleh bara api dari para iblis.


Aksel yang melihat kondisi kakak iparnya itu merasa begitu marah dan tidak terima. Bajunya yang koyak dan bekas luka cakaran di sekitar leher juga pipinya mengartikan bahwa gadis itu sedang coba di lecehkan.


“Kau baik-baik saja? Apa kau masih mampu berdiri?” tanya Aksel.


“Aku rasa bisa. Cepat lepaskan ikatanku sebelum mereka sampai!” pinta Arra

__ADS_1


Aksel mengangguk dan melepaskan ikatan di tangan dan kaki gadis itu, lalu membantunya bangkit.


Dia menopang tubuh Arra dan berusaha secepat mungkin keluar dari tempat itu. Namun, belum sempat kakinya sampai ke pintu tenda. Sesosok iblis ternyata kembali ke tenda dengan membawa senjata dan berusaha menghentikan mereka.


“Cih! Malaikat muda sudah berani memasuki wilayah kami… Hahahaha…” tawa iblis itu meledak.


“Jadi sang malaikat utama tidak datang menjemput gadisnya, dan justru mengirim malaikat amatiran sepertimu ke tempat ini?” ucapnya lagi.


Aksel kemudian menggenggam erat lengan Arra dan membawa tubuh gadis itu untuk berada tepat di


belakang punggungnya. Dia menyembunyikan gadis itu di balik tubuhnya sebelum mengeluarkan sebuah pedang besar dari tangan kanannya.


“Iblis lemah sepertimu tahu apa?” kata Aksel.


Melihat Aksel mengeluarkan pedangnya, iblis itu juga bersiap dengan senjatanya.


“Malaikat Utama tidak mengirimkanku seorang untuk melepaskan bidadarinya dari cengkeraman kalian. Tapi juga mengirimkan ini--” Aksel mengayunkan pedangnya dan berteriak, “Fotia!!!”


Seketika itu pula, api hitam yang di berikan Arrio padanya muncul dan menyelubungi tubuh Aksel juga Arra dan menyelimuti mata pedang Aksel yang menebas kepala iblis itu dalam sekali gerakan. Api hitam yang menjilat itu juga seolah mengamuk dan membakar habis seluruh tenda yang sebelumnya di gunakan untuk menyekap Arra.


Juga tenda lain yang berada di sekitarnya.


Jason yang melihat dari kejauhan segera memberi tanda pada pengawalnya untuk menghentikan


serangan, karena api hitam itu sudah melakukan tugasnya. Untuk membakar habis dan melalap apapun yang ada di sana tanpa tersisa, kecuali Arra, Aksel, Jason dan kedua pengawal yang ada di sana.


Seluruh iblis di tempat itu ikut terbakar habis dan mereka memekik kesakitan yang amat sangat


dengan suara yang begitu keras hingga terdengar sampai di medan pertempuran.

__ADS_1


****


__ADS_2