Cruel Fate

Cruel Fate
Part 26.2


__ADS_3

Sepulangnya Arrio dari menemui August, dia


langsung di sambut dengan kedatangan Phoenix yang tengah terbang rendah


menghampiri dirinya dan langsung bertengger di pundak Arrio yang tak tertutup


kain. Burung itu kemudian mengeluarkan suaranya seolah sangat bahagia dapat


bertemu kembali dengan pemiliknya.


“Bagaimana jawabannya?” tanya Arrio yang


langsung mengambil perkamen putih di kaki Phoenix.


Arrio terlihat sangat terkejut membaca jawaban


dari Aksel. Arrio sepertinya harus pulang lebih cepat untuk menjemput Arra dan


juga Aksel, lalu membawa keduanya ke sini secepat mungkin. Beserta dengan


senjata yang ternyata selama ini tersimpan dengan baik di rumah mereka sendiri.


Dia harus segera menemui Jason sementara menunggu kedatangan Aksel untuk bersiap


membawa senjata tersebut ke dalam medan perang.


Perkamen itu kemudian segera terbakar dan


berubah menjadi abu yang tertiup angin, hal ini memungkinkan supaya tidak ada


informasi yang bocor ke pihak lain, selain dari penerima perkamen itu sendiri.


Arrio sudah hampir berjalan menuju tendanya, saat dia mendengar phoenix kembali


mengeluarkan suara nyaringnya. Ternyata, di kaki kirinya kini juga terselip


sebuah kertas kecil yang hampir luput dari pandangan matanya. Kertas yang jelas


bukan berasal dari malaikat. Itu hanya lah kertas note kecil yang mirip dengan


buku diary, dengan motif bunga di ujungnya.


“Arra…” lirih Arrio yang segera mengenali


wangi yang tertinggal di kertas tersebut. “Apa dia bisa menyentuh dan memintamu


mengirimkan ini padaku?” tanya Arrio dengan senyum yang begitu bahagia.


Arrio segera membuka surat tersebut dan


kembali merekahkan senyum manisnya karena isi suratnya yang begitu singkat,


namun sangat manis.


Kapan kau


akan pulang, Rio? Aku merindukanmu… jangan melirik bidadari lain, selagi kau


disana ya. Aku takut, karena Aksel bilang bidadari di dunia atas itu sangat


cantik!


“Aku juga sangat merindukanmu sayang… aku tak


akan pernah melirik mereka atau tertarik pada bidadari manapun. Karena aku


sudah memiliki bidadari yang tercantik di seluruh dunia,” lirih Arrio dengan


setengah bergumam.


Dia mencium kertas itu dan menghirup aroma


parfum Arra yang tertinggal di kertas itu lalu menoleh pada Phoenix dan


tertawa. “Kau membuat hari – hari berat dan suramku sekarang menjadi sangat


cerah Phoenix. Pesan ini, adalah pesan terbaik yang pernah kau kirimkan padaku

__ADS_1


selama ini. Pesan yang berasal dari wanita yang paling aku cintai….”


“Kau tahu harus kemana kan, Phoenix?” Arrio


kini mulai mengembangkan sayapnya dan terbang bersama Phoenix dengan arah yang berbeda.


Phoenix menuju ke arah barat untuk menemui Jason dan meminta malaikat itu


pulang dan menemani Arrio juga Arra dan Aksel untuk kembali ke dunia atas.


Sementara Arrio dengan sangat cepat langsung pulang menuju rumahnya di bumi.


**


Arra baru saja akan memejamkan matanya saat


dia mendengar suara seseorang berbincang di luar kamarnya. Suaranya memang tak


begitu jelas, namun masih sayup terdengar di telinganya. Gadis itu bertanya –


tanya, apakah itu Aksel dan Jason yang baru saja kembali dari dunia atas? Atau Aksel


yang sedang bicara dengan orang lain? Apa mungkin itu Arrio?


Gadis itu ingin sekali keluar dan melihat


langsung, tapi suasana di dalam rumah besar itu cukup menyeramkan untuk Arra


terutama saat malam seperti ini. Dia khawatir justru tak menemukan siapapun


atau malah tidak melihat apapun dan membuatnya semakin ketakutan hingga sulit


tidur seperti beberapa malam lalu. Terlebih Arra sadar dengan penuh bahwa dia


sedang berada di dalam rumah para malaikat, makhluk tak kasat mata yang


memiliki banyak kekuatan ajaib juga wujud yang di luar akal manusia pada


umumnya. Maka hal yang aneh pun akan sering lagi terjadi di sekitarnya mulai


sekarang.


memejamkan matanya dan berusaha untuk memasuki alam mimpinya yang tadi sempat


tertunda. Namun, belum sempat gadis itu menutup penuh kedua kelopak matanya. Dia


sudah kembali membuka lebar kedua matanya saat mendengar pintu kamarnya terbuka


dengan aroma tubuh yang begitu familiar, langsung menguar masuk ke dalam indera


penciumannya.


“Hai sayang…” sapa Arrio dengan senyum


merekahnya di hadapan Arra.


Malaikat tampan itu segera masuk dan menutup


pintu, berjalan mendekatinya dan merentangkan kedua tangannya lebar. Sementara Arra


dengan cepat segera bangkit dan berlari menuju Arrio dan memeluk pria itu


begitu erat.


“Hiks… aku… merindukanmu… hiks…” tangisan Arra


mengalir begitu saja, seketika dirinya bisa menjangkau Arrio dalam pelukannya.


Gadis itu melesakkan wajahnya ke pundak Arrio


dan membuat tubuhnya setengah terangkat ke atas karena pelukan Arrio yang juga


tak kalah erat. Dengan suara bergetar, Arrio mengusap belakang kepala gadis itu


juga punggungnya, dan berisik, “maaf sayang… maafkan aku karena baru bisa pulang


lagi sekarang…” kata Arrio lagi.

__ADS_1


Isakan dari Arra masih terdengar, hingga saat


Arrio melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis itu dengan lekat, dia juga


tak lupa menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis itu dan mencoba tersenyum


hangat.


“Kau baik – baik saja kan, selama aku pergi?”


tanya Arrio.


“Kau bohong padaku. Kau bilang, kau tak akan


pergi terlalu lama. Tapi, kau malah tidak pulang sampai beberapa hari. Tidak mengabari


aku atau menanyakan keadaanku. Kau itu--”


Cupp!


Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Arra


dan tak lama, kecupan itu berubah menjadi ******* yang cukup dalam hingga Arrio


harus menahan kepala Arra dengan kedua tangannya dan tak membiarkan gadis itu


menarik nafas barang sebentar saja.


“Apa itu?” tanya Arra setelah Arrio melepaskan


ciumannya.


“Ciuman…” jawab Arrio sambil tersenyum.


“Aku tahu! Tapi maksudku, kenapa kau mendadak


mencium ku?” tanya Arra.


“Ciuman itu adalah simbol dari semua kata yang


ingin aku nyatakan padamu selama ini sayang,” jawab Arrio lagi.


“Memangnya, apa yang mau kau katakan padaku. Sampai


kau harus menciumku begitu lama?” tanya Arra dan berkedip beberapa kali


memandang wajah Arrio.


“Aku mencintaimu dan menyayangimu, aku pun


begitu merindukanmu dengan segenap hati dan perasaanku. Langkahku terasa berat


setiap harinya karena tak ada kau di sisiku. Karena aku tak bisa melihat


wajahmu, menyentuhmu dan juga memelukmu seperti ini… tapi, aku juga tak bisa


pulang semauku karena semua di sana sedang sangat membutuhkan kehadiranku. Jadi…”


Arrio menggantung ucapannya.


Lalu, malaikat itu kembali mendekatkan


wajahnya dan mencium bibir Arra sekali lagi dengan banyak ******* kecil dan


dalam pada gadis itu.


“Aku minta maaf karena membuatmu lama menunggu


disini. Dan sekarang, aku akan membawamu ke tempat dimana seharusnya aku bisa


membawamu sejak awal. Tempat yang akan menjadi rumah paling aman untuk mu dan


kita semua selama peperangan ini berlangsung…” lanjut Arrio lalu menarik Arra


ke dalam pelukannya. “Kau… mau ikut denganku kan sayang?” tanya Arrio lirih dan


Arra hanya menjawabnya dengan anggukan. Gadis itu bahkan membalas pelukan Arrio

__ADS_1


dengan sangat erat dan membenamkan wajahnya ke dada Arrio.


__ADS_2