
Sepulangnya Arrio dari menemui August, dia
langsung di sambut dengan kedatangan Phoenix yang tengah terbang rendah
menghampiri dirinya dan langsung bertengger di pundak Arrio yang tak tertutup
kain. Burung itu kemudian mengeluarkan suaranya seolah sangat bahagia dapat
bertemu kembali dengan pemiliknya.
“Bagaimana jawabannya?” tanya Arrio yang
langsung mengambil perkamen putih di kaki Phoenix.
Arrio terlihat sangat terkejut membaca jawaban
dari Aksel. Arrio sepertinya harus pulang lebih cepat untuk menjemput Arra dan
juga Aksel, lalu membawa keduanya ke sini secepat mungkin. Beserta dengan
senjata yang ternyata selama ini tersimpan dengan baik di rumah mereka sendiri.
Dia harus segera menemui Jason sementara menunggu kedatangan Aksel untuk bersiap
membawa senjata tersebut ke dalam medan perang.
Perkamen itu kemudian segera terbakar dan
berubah menjadi abu yang tertiup angin, hal ini memungkinkan supaya tidak ada
informasi yang bocor ke pihak lain, selain dari penerima perkamen itu sendiri.
Arrio sudah hampir berjalan menuju tendanya, saat dia mendengar phoenix kembali
mengeluarkan suara nyaringnya. Ternyata, di kaki kirinya kini juga terselip
sebuah kertas kecil yang hampir luput dari pandangan matanya. Kertas yang jelas
bukan berasal dari malaikat. Itu hanya lah kertas note kecil yang mirip dengan
buku diary, dengan motif bunga di ujungnya.
“Arra…” lirih Arrio yang segera mengenali
wangi yang tertinggal di kertas tersebut. “Apa dia bisa menyentuh dan memintamu
mengirimkan ini padaku?” tanya Arrio dengan senyum yang begitu bahagia.
Arrio segera membuka surat tersebut dan
kembali merekahkan senyum manisnya karena isi suratnya yang begitu singkat,
namun sangat manis.
Kapan kau
akan pulang, Rio? Aku merindukanmu… jangan melirik bidadari lain, selagi kau
disana ya. Aku takut, karena Aksel bilang bidadari di dunia atas itu sangat
cantik!
“Aku juga sangat merindukanmu sayang… aku tak
akan pernah melirik mereka atau tertarik pada bidadari manapun. Karena aku
sudah memiliki bidadari yang tercantik di seluruh dunia,” lirih Arrio dengan
setengah bergumam.
Dia mencium kertas itu dan menghirup aroma
parfum Arra yang tertinggal di kertas itu lalu menoleh pada Phoenix dan
tertawa. “Kau membuat hari – hari berat dan suramku sekarang menjadi sangat
cerah Phoenix. Pesan ini, adalah pesan terbaik yang pernah kau kirimkan padaku
__ADS_1
selama ini. Pesan yang berasal dari wanita yang paling aku cintai….”
“Kau tahu harus kemana kan, Phoenix?” Arrio
kini mulai mengembangkan sayapnya dan terbang bersama Phoenix dengan arah yang berbeda.
Phoenix menuju ke arah barat untuk menemui Jason dan meminta malaikat itu
pulang dan menemani Arrio juga Arra dan Aksel untuk kembali ke dunia atas.
Sementara Arrio dengan sangat cepat langsung pulang menuju rumahnya di bumi.
**
Arra baru saja akan memejamkan matanya saat
dia mendengar suara seseorang berbincang di luar kamarnya. Suaranya memang tak
begitu jelas, namun masih sayup terdengar di telinganya. Gadis itu bertanya –
tanya, apakah itu Aksel dan Jason yang baru saja kembali dari dunia atas? Atau Aksel
yang sedang bicara dengan orang lain? Apa mungkin itu Arrio?
Gadis itu ingin sekali keluar dan melihat
langsung, tapi suasana di dalam rumah besar itu cukup menyeramkan untuk Arra
terutama saat malam seperti ini. Dia khawatir justru tak menemukan siapapun
atau malah tidak melihat apapun dan membuatnya semakin ketakutan hingga sulit
tidur seperti beberapa malam lalu. Terlebih Arra sadar dengan penuh bahwa dia
sedang berada di dalam rumah para malaikat, makhluk tak kasat mata yang
memiliki banyak kekuatan ajaib juga wujud yang di luar akal manusia pada
umumnya. Maka hal yang aneh pun akan sering lagi terjadi di sekitarnya mulai
sekarang.
memejamkan matanya dan berusaha untuk memasuki alam mimpinya yang tadi sempat
tertunda. Namun, belum sempat gadis itu menutup penuh kedua kelopak matanya. Dia
sudah kembali membuka lebar kedua matanya saat mendengar pintu kamarnya terbuka
dengan aroma tubuh yang begitu familiar, langsung menguar masuk ke dalam indera
penciumannya.
“Hai sayang…” sapa Arrio dengan senyum
merekahnya di hadapan Arra.
Malaikat tampan itu segera masuk dan menutup
pintu, berjalan mendekatinya dan merentangkan kedua tangannya lebar. Sementara Arra
dengan cepat segera bangkit dan berlari menuju Arrio dan memeluk pria itu
begitu erat.
“Hiks… aku… merindukanmu… hiks…” tangisan Arra
mengalir begitu saja, seketika dirinya bisa menjangkau Arrio dalam pelukannya.
Gadis itu melesakkan wajahnya ke pundak Arrio
dan membuat tubuhnya setengah terangkat ke atas karena pelukan Arrio yang juga
tak kalah erat. Dengan suara bergetar, Arrio mengusap belakang kepala gadis itu
juga punggungnya, dan berisik, “maaf sayang… maafkan aku karena baru bisa pulang
lagi sekarang…” kata Arrio lagi.
__ADS_1
Isakan dari Arra masih terdengar, hingga saat
Arrio melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis itu dengan lekat, dia juga
tak lupa menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis itu dan mencoba tersenyum
hangat.
“Kau baik – baik saja kan, selama aku pergi?”
tanya Arrio.
“Kau bohong padaku. Kau bilang, kau tak akan
pergi terlalu lama. Tapi, kau malah tidak pulang sampai beberapa hari. Tidak mengabari
aku atau menanyakan keadaanku. Kau itu--”
Cupp!
Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Arra
dan tak lama, kecupan itu berubah menjadi ******* yang cukup dalam hingga Arrio
harus menahan kepala Arra dengan kedua tangannya dan tak membiarkan gadis itu
menarik nafas barang sebentar saja.
“Apa itu?” tanya Arra setelah Arrio melepaskan
ciumannya.
“Ciuman…” jawab Arrio sambil tersenyum.
“Aku tahu! Tapi maksudku, kenapa kau mendadak
mencium ku?” tanya Arra.
“Ciuman itu adalah simbol dari semua kata yang
ingin aku nyatakan padamu selama ini sayang,” jawab Arrio lagi.
“Memangnya, apa yang mau kau katakan padaku. Sampai
kau harus menciumku begitu lama?” tanya Arra dan berkedip beberapa kali
memandang wajah Arrio.
“Aku mencintaimu dan menyayangimu, aku pun
begitu merindukanmu dengan segenap hati dan perasaanku. Langkahku terasa berat
setiap harinya karena tak ada kau di sisiku. Karena aku tak bisa melihat
wajahmu, menyentuhmu dan juga memelukmu seperti ini… tapi, aku juga tak bisa
pulang semauku karena semua di sana sedang sangat membutuhkan kehadiranku. Jadi…”
Arrio menggantung ucapannya.
Lalu, malaikat itu kembali mendekatkan
wajahnya dan mencium bibir Arra sekali lagi dengan banyak ******* kecil dan
dalam pada gadis itu.
“Aku minta maaf karena membuatmu lama menunggu
disini. Dan sekarang, aku akan membawamu ke tempat dimana seharusnya aku bisa
membawamu sejak awal. Tempat yang akan menjadi rumah paling aman untuk mu dan
kita semua selama peperangan ini berlangsung…” lanjut Arrio lalu menarik Arra
ke dalam pelukannya. “Kau… mau ikut denganku kan sayang?” tanya Arrio lirih dan
Arra hanya menjawabnya dengan anggukan. Gadis itu bahkan membalas pelukan Arrio
__ADS_1
dengan sangat erat dan membenamkan wajahnya ke dada Arrio.