
“Jadi, akhirnya kita bertemu juga secara langsung… Chiarra…” sapa Darrick dengan senyumnya. “Ah… sebelum aku mulai penawarannya, aku akan memperkenalkan diriku padamu. Aku adalah Penguasa Dunia Bawah, Penguasa Iblis dan Setan di seluruh jagat. Namaku, Darrick.” Darrick mengulurkan tangannya seolah mengajak Arra bersalaman dengannya, namun kemudian dia menarik lagi tangannya dan terkekeh.
“Aku lupa… tanganmu sedang di ikat ya?” ujarnya dengan tawa meledek pada Arra.
“Heppash!” pekik Arra dengan suara yang tak jelas.
Tubuh gadis itu kembali terus bergerak tak karuan dan berusaha melepaskan diri dari ikatan dan juga bekapan mulutnya. Dadanya terasa begitu sesak karena jalan nafasnya yang begitu sulit akibat kain hitam sialan yang menyumpal mulutnya.
“Kau bilang apa? Katakan yang jelas, aku tak mengerti…” kata Darrick lagi.
“Heppash!!!” pekik gadis itu sekali lagi.
“Ah… kau ingin berterima kasih karena sudah menyelamatkanmu dari sentuhan Ellard? Hahaha… asal kau tahu, aku masih menghargaimu karena kau adalah kekasih dari mantan sahabatku. Dan jika kau harus menjadi permaisuri sebagai tawanan, maka aku yang pantas untuk itu kan?” ucap Darrick.
“Hmmmhh!!!” Arra rasanya benar – benar sudah tidak tahan.
“Oh, kau kesulitan bicara? Kau ingin aku melepaskan ini?” tanya Darrick dan menunjuk pada kain yang menyumpal mulut gadis itu.
“Heppash!!!” teriakan Arra semakin kencang, urat – urat leher gadis itu bahkan sampai terlihat karena dia begitu ngotot untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman iblis gila yang berdiri di hadapannya ini.
“Sssttt… diam saja, jangan banyak bergerak nanti kau lelah. Diam… dan tenanglah, sampai pangeranmu itu datang kesini untuk menjemputmu pulang…” kata Darrick lagi.
Ucapan iblis itu kini membuat Arra sadar, alasan kenapa dirinya di bawa ke tempat ini secara paksa sebelum peperangan. Gadis itu paham, kesepakatan yang di inginkan oleh Darrick dengan menggunakan dirinya sebagai umpan, tak lain karena iblis ini tahu bahwa dia akan kalah dalam peperangan yang terjadi. Itu sebabnya dia harus bertindak sejauh itu, mempertaruhkan nyawanya memasuki wilayah para malaikat dan menjadikannya seorang tawanan. Karena jika Arrio masuk ke tempat ini, maka bisa di pastikan dia tak akan bisa keluar dengan mudah dan tepat waktu untuk memimpin peperangan dan pasukannya. Yang artinya, kemungkinannya untuk bisa menang juga akan semakin besar.
__ADS_1
Menyadari hal ini, Arra kemudian mengingat lagi ucapan Jason dan Aksel saat mengajari dirinya mengenai ilmu dari para malaikat dan penyembuh.
“Malaikat itu di kenal dengan ketenangannya. Layaknya air yang ada dalam danau. Mereka terlihat begitu tenang dan indah, namun juga bisa sangat mematikan jika orang yang berada di dekatnya tak berhati – hati. Mereka bisa saja jatuh dan tenggelam dalam danau yang bahkan tak memiliki riak…”
Kata – kata Jason itu kembali terngiang di kepalanya.
Dan akhirnya, Arra berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia bukanlah gadis lemah yang tak memiliki kemampuan apapun. Dia Sang Penyembuh. Dia memiliki kekuatan yang begitu besar dann Aksel juga sudah menyinggungnya beberapa kali. Bahkan, burung besar milik Arrio yang bernama Phoenix pun bisa luluh padanya. Maka untuk iblis ini…
“Kakak tahu, tanganmu itu adalah penyembuh yang akan menyelamatkan banyak malaikat dan juga manusia yang di inginkan olehmu. Tapi juga bisa menjadi penghancur yang mengerikan jika kau tidak menghendakinya… semua itu, kau yang bisa memutuskannya secara langsung dengan hati dan pikiranmu. Kau harus tetap tenang dan fokus. Dimanapun kau berada… dan apapun yang terjadi…”
Kini ucapan Aksel muncul di benaknya. Dan membuat Arra akhirnya sadar sepenuhnya, juga tahu apa yang harus dia lakukan.
Gadis itu kini berhenti bergerak dan menegakkan tubuhnya. Dia membenarkan posisi duduknya dan menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan dengan hidungnya. Tatapan mata tajam yang menusuk itu tetap ada di sana, meskipun kini terlihat lebih tenang dan seolah siap dengan segala yang terjadi. Wajah ketakutannya pun berangsur memudar, berganti dengan wajah penuh ketenangan.
“Kenapa kau tiba – tiba diam seperti itu?” tanya Darrick yang mulai sadar dengan perubahan Arra.
Arra yang masih bungkam kini hanya menatapnya dengan pandangan tenang dan bahkan mengedipkan matanya seperti biasa.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Darrick lagi.
Iblis itu melihat ke sekeliling sudut dalam tenda dan memastikan tidak ada malaikat yang sudah berhasil menyusup ke dalam sana hingga membuat gadis itu tenang. Suhu ruangan di tempat itu mendadak menjadi sangat dingin. Angin pun bertiup cukup kencang hingga tenda besar itu setengah goyah dari pondasinya.
Darrick cepat – cepat melepaskan sumpalan di mulut Arra agar dia bisa mendengar jawaban gadis itu tentang apa yang tengah terjadi sebenarnya.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau seperti ini?” tanya Darrick.
Suaranya terdengar cukup bergetar, menandakan dia sedikit goyah dan takut dengan apa yang tengah terjadi saat ini, tepat di hadapannya. Arra sendiri justru melemparkan senyuman tipis dan memandang wajah Darrick tanpa berkedip, dia memiringkan kepalanya dan menahan tawa melihat ekspresi iblis itu.
Darrick sepertinya menyadari, dia telah salah langkah.
“Kau tetap akan kalah, Darrick. Sekalipun kau menawanku di sini, justru itu akan memudahkanku untuk menghancurkanmu dari dekat,” ujar Arra begitu Darrick melepaskan penutup mulut gadis itu.
“Apa maksudmu? Katakan yang jelas!” perintah Darrick.
Arra memiringkan kepalanya dan tersenyum remeh. Entah dari mana dia mempelajari ekspresi semacam itu.
“Tanganku penyembuh bagi para malaikat. Tapi untukmu, ini adalah kutukan yang begitu kuat!” ujar Arra. “Tempat di mana tanganku menyentuh, akan terasa begitu panas dan membuat seluruh otot dan sarafmu mati rasa. Kau… tak akan bisa menggerakkan tanganmu lagi, begitu juga dengan panglima perangmu yang dengan kurang ajarnya menyentuhku. Sekujur tubuhnya akan terbakar!” lanjut gadis itu.
“Sungguh lelucon yang menyenangkan, gadis manis. Gertakan yang bagus! Aku tahu itu tak akan terjadi. Kau tahu kenapa? Karena—” Belum sempat Darrick melanjutkan ucapan, seorang iblis masuk berlari ke arahnya.
“Tuanku! Tuanku!” teriaknya.
“Apa? Kenapa kau masuk begitu saja!” jawab Darrick kesal.
“P-panglima… Panglima Ellard!”
****
__ADS_1