Cruel Fate

Cruel Fate
Part 28.1


__ADS_3

Perjalanan menuju dunia atas nyatanya tak


semudah bayangan Arra. Dirinya pikiri semuanya akan sama saja seperti saat


pertama kali dia di bawa terbang oleh malaikat itu dari rumah Arrio di tengah


kota menuju ke tempat persembunyian mereka yang berada di tengah hutan. Aksel


dan Jason tak terbang bersama mereka, yang artinya keselamatan Arra dalam


perjalanan kali ini akan menjadi tanggung jawab Arrio sepenuhnya.


“Kau lelah tidak?” tanya Arra pada kekasihnya,


“apa aku terlalu berat untukmu?” tanya gadis itu lagi yang membuat Arrio


tergelak sekaligus menggeleng.


“Ini baru seperempat jalan sayang, aku tidak


boleh merasa lelah di tempat ini…” kata Arrio yang membuat Arra terhenyak.


“S-seperempat jalan? T-tapi ini sudah jauh


sekali dan sangat lama. Kau lihat saja di atas sana. Matahari sudah terbit,


Rio. Sementara kau sudah terbang sejak matahari baru saja terbenam…” kata Arra


yang melihat ke atas langit.


“Matahari akan selalu muncul di tempat ini


sayang, ini memang masih menjadi wilayah dimana cahaya mampu masuk dan menerangi


ke seluruh tempat. Tapi ini belum mencapai ke dunia atas sama sekali… lagipula,


kita mengambil jalan yang memutar,” jelas Arrio.


“Ahh… begitu ya?” Arra akhirnya terdiam dan


menelusupkan wajahnya ke pundak Arrio lalu mencoba memejamkan mata.


Dia tak sanggup lagi untuk terjaga karena


lelah yang mendera. Tapi di satu sisi, hatinya meminta dirinya untuk terus


bangun agar bisa menemani Arrio sepanjang perjalanan itu. Seolah mengerti


dengan kondisi gadisnya, Arrio menoleh sedikit dan berbisik pada gadis itu.


“Tidur saja sayang, akan aku bangunkan kau


saat kita sudah hampir sampai. Lagipula, pemandangan di depan sana memang tak


baik untuk dirimu. Jadi sebaiknya kau tak perlu melihatnya sama sekali…” kata


Arrio.


“Memangnya ada apa di depan sana?” tanya Arra


lagi.


“Aku tak bisa bilang. Yang pasti, kau harus


menutup matamu. Lebih baik lagi jika kau bisa tidur dari sekarang, saat kita


baru sampai ke tempat ini…” jawab Arrio.


“Hmm… kalau kau bilang begitu. Aku akan


menurutimu…” tukas Arra dan akhirnya mencoba memejamkan matanya sekali lagi,


mengosongkan pikirannya dan mencoba terlelap.


Pemandangan di hadapan Arrio kini memang


begitu mengerikan, karena mereka memasuki wilayah tepi dunia bawah. Dimana


banyak sekali jasad dari para iblis dan beberapa malaikat yang sudah berubah

__ADS_1


menjadi bangkai juga tengkorak tergeletak di sana. Wilayah ini memang di kenal


mematikan, karena banyaknya perangkap jika sedikit saja mereka terbang ke arah


yang salah. Namun jalur ini juga yang menjadi paling aman untuk bisa kabur dan


menjadi tempat pilihan para iblis dan malaikat yang melarikan diri dari hukuman


yang di jatuhkan padanya, lalu menuju ke bumi. Berubah menjadi manusia, dan


berbaur dengan banyak orang di sana.


Arrio terus saja waspada. Kedua manik matanya


yang tajam tak henti menatap ke sekeliling untuk melihat apakah ada musuh yang


mengintai mereka atau tidak. Juga menjaga Arra untuk tetap aman dan nyaman


berada di gendongannya selama perjalanan kali ini.


Sejenak, malaikat itu nampak cukup tenang saat


dia meliat pohon rindang yang berada di ujung pandangannya. Yang mengartikan


bahwa mereka sudah hampir setengah perjalanan untuk sampai ke dunia atas.


Namun, mendadak Arra terbangun dengan mata yang masih terpejam. Gadis itu


mengeratkan pelukannya pada Arrio dan berkata.


“Di belakang kita… ada sesuatu di sana…” bisik


gadis itu. Sepertinya itu bukan sepenuhnya Arra yang sadar, namun Arra sebagai


penyembuhlah yang berbisik padanya.


Dengan sigap, Arrio mengambil kain panjang dan


menariknya dari kantung bagian samping kanannya, lalu melebarkannya dan


melilitkannya pada tubuhnya dan juga Arra. Dia kemudian mengikatnya dengan kuat


menopangnya untuk sementara waktu.


Setelah itu, Arrio segera berbalik dan


menelusuri setiap sudut di belakangnya. Dia tahu, ada yang tengah mengawasi


mereka saat ini. Gerakannya yang sangat cepat ternyata membuat Arra terbangun


dari tidurnya dann sangat terkejut karena tubuhnya yang di ikat kuat pada tubuh


Arrio dan juga api merah yang sedikit menyala di sekitar tubuh Arrio, dimana


hanya dirinya yang mampu melihat kemunculan api merah tersebut.


“Rio… apa yang terjadi?” tanya Arra begitu


lirih.


“Sstt… jangan bicara apapun. Dan berpeganglah


yang kuat padaku…” kata Arrio yang di turuti langsung oleh Arra. “Keluar!”


teriak Arrio yang membuat tempat itu bergemuruh dan berguncang cukup keras.


“Hahahaha….! Lihat siapa yang datang kesini?


Sang Malaikat Utama bersama kekasihnya!” sesosok iblis kini muncul tepat di


hadapan Arrio dan juga Arra sambil menyeringai mengerikan.


Arra bahkan rasanya tak sanggup melihat wajah


dari iblis itu yang hancur dengan bekas luka di seluruh tubuh dan wajahnya


hingga tak tertilat jelas bentuk wajah dari si iblis itu sendiri. Seluruh gigi


runcingnya terlihat saat dia menyeringai di hadapan Arrio. Kotor dan sangat

__ADS_1


menjijikkan karena banyaknya kotoran yang ada di sana. Bekas darah dan kotoran


lainnya yang membuat Arrio balas terkekeh melihatnya.


“Kau baru saja memakan bangkai di tempat ini?”


tanya Arrio.


Pertanyaan Arrio jelas membuat Arra terhenyak


dan segera menatap ke bawah, mengikuti arah pandang kekasihnya. Dan betapa


terkejutnya gadis itu, kala dia melihat banyak bangkai yang tergeletak tepat di


bawahnya. Dia hampir berteriak kencang saking kaget dan takutnya. Namun, Arrio


segera menenangkan dirinya dan membuat Arra terdiam kala itu juga.


“Jangan banyak bicara. Aku akan membunuhmu dan


memakan bangkaimu, juga kekasihmu itu di tempat ini juga!” pekik si iblis


sebelum menerjang menyerang Arrio dengan pedangnya.


“Kau yang akan mati!” Arrio kemudian


memejamkan matanya sambil mengucapkan sebuah mantra hingga secara tiba – tiba,


muncul sebuah pedang besar dengan api merah menyala yang menyelubunginya kini


ada di tangan Arrio.


Malaikat itu tak menghindar dan hanya bertahan


pada posisinya sambil memegang kuat pedang itu di tangannya, “tutup matamu


sayang, aku tak ingin kau melihat ini…” bisik Arrio dan membuat Arra segera


membenamkan wajahnya ke pundak lebar Arrio.


Gadis itu mendengar suara pekikan iblis itu


dan denting pedang yang saling bertemu dengan sengit, dia mencoba mengintip


sebentar dan sangat terkejut saat melihat tubuh si iblis yang sudah di penuhi


oleh darah. Bahkan dari mulutnya, sudah mengalir darah yang mengalir tanpa


henti. Tak ada lagi kalimat congkak yang terdengar dari bibirnya.


Arra yang menyentuh lengan Arrio kini secara


tak sadar merapalkan sebuah mantra dari bibirnya, mantra yang membuat api merah


di pedang yang di pegang oleh Arrio kini bergejolak dan seolah mengamuk. Arrio


sedikit terhenyak, namun dia kemudian tersenyum dan menatap lawannya dengan


sangat tenang.


Benar saja, saat Arrio menebaskan pedangnya ke


arah si iblis tersebut. Meskipun mata pedangnya belum sampai ke tubuh iblis


itu, namun jilatan api merah yang bergejolak di pedang milik Arrio sudah mampu


membuat kepala iblis itu terlepas dari tubuhnya dan jatuh menggelinding ke


tanah. Sementara tubuhnya langsung terbakar habis dan menjadi abu.


“Sayang…” panggil Arrio pada Arra.


“Lanjutkan saja, aku sedang berdoa. Agar kau


bisa menang…” kata Arra dengan mata yang masih terpejam.


Arrio lalu tersenyum dan tertawa, “kita sudah


menang sayang…” ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2