
Perjalanan menuju dunia atas nyatanya tak
semudah bayangan Arra. Dirinya pikiri semuanya akan sama saja seperti saat
pertama kali dia di bawa terbang oleh malaikat itu dari rumah Arrio di tengah
kota menuju ke tempat persembunyian mereka yang berada di tengah hutan. Aksel
dan Jason tak terbang bersama mereka, yang artinya keselamatan Arra dalam
perjalanan kali ini akan menjadi tanggung jawab Arrio sepenuhnya.
“Kau lelah tidak?” tanya Arra pada kekasihnya,
“apa aku terlalu berat untukmu?” tanya gadis itu lagi yang membuat Arrio
tergelak sekaligus menggeleng.
“Ini baru seperempat jalan sayang, aku tidak
boleh merasa lelah di tempat ini…” kata Arrio yang membuat Arra terhenyak.
“S-seperempat jalan? T-tapi ini sudah jauh
sekali dan sangat lama. Kau lihat saja di atas sana. Matahari sudah terbit,
Rio. Sementara kau sudah terbang sejak matahari baru saja terbenam…” kata Arra
yang melihat ke atas langit.
“Matahari akan selalu muncul di tempat ini
sayang, ini memang masih menjadi wilayah dimana cahaya mampu masuk dan menerangi
ke seluruh tempat. Tapi ini belum mencapai ke dunia atas sama sekali… lagipula,
kita mengambil jalan yang memutar,” jelas Arrio.
“Ahh… begitu ya?” Arra akhirnya terdiam dan
menelusupkan wajahnya ke pundak Arrio lalu mencoba memejamkan mata.
Dia tak sanggup lagi untuk terjaga karena
lelah yang mendera. Tapi di satu sisi, hatinya meminta dirinya untuk terus
bangun agar bisa menemani Arrio sepanjang perjalanan itu. Seolah mengerti
dengan kondisi gadisnya, Arrio menoleh sedikit dan berbisik pada gadis itu.
“Tidur saja sayang, akan aku bangunkan kau
saat kita sudah hampir sampai. Lagipula, pemandangan di depan sana memang tak
baik untuk dirimu. Jadi sebaiknya kau tak perlu melihatnya sama sekali…” kata
Arrio.
“Memangnya ada apa di depan sana?” tanya Arra
lagi.
“Aku tak bisa bilang. Yang pasti, kau harus
menutup matamu. Lebih baik lagi jika kau bisa tidur dari sekarang, saat kita
baru sampai ke tempat ini…” jawab Arrio.
“Hmm… kalau kau bilang begitu. Aku akan
menurutimu…” tukas Arra dan akhirnya mencoba memejamkan matanya sekali lagi,
mengosongkan pikirannya dan mencoba terlelap.
Pemandangan di hadapan Arrio kini memang
begitu mengerikan, karena mereka memasuki wilayah tepi dunia bawah. Dimana
banyak sekali jasad dari para iblis dan beberapa malaikat yang sudah berubah
__ADS_1
menjadi bangkai juga tengkorak tergeletak di sana. Wilayah ini memang di kenal
mematikan, karena banyaknya perangkap jika sedikit saja mereka terbang ke arah
yang salah. Namun jalur ini juga yang menjadi paling aman untuk bisa kabur dan
menjadi tempat pilihan para iblis dan malaikat yang melarikan diri dari hukuman
yang di jatuhkan padanya, lalu menuju ke bumi. Berubah menjadi manusia, dan
berbaur dengan banyak orang di sana.
Arrio terus saja waspada. Kedua manik matanya
yang tajam tak henti menatap ke sekeliling untuk melihat apakah ada musuh yang
mengintai mereka atau tidak. Juga menjaga Arra untuk tetap aman dan nyaman
berada di gendongannya selama perjalanan kali ini.
Sejenak, malaikat itu nampak cukup tenang saat
dia meliat pohon rindang yang berada di ujung pandangannya. Yang mengartikan
bahwa mereka sudah hampir setengah perjalanan untuk sampai ke dunia atas.
Namun, mendadak Arra terbangun dengan mata yang masih terpejam. Gadis itu
mengeratkan pelukannya pada Arrio dan berkata.
“Di belakang kita… ada sesuatu di sana…” bisik
gadis itu. Sepertinya itu bukan sepenuhnya Arra yang sadar, namun Arra sebagai
penyembuhlah yang berbisik padanya.
Dengan sigap, Arrio mengambil kain panjang dan
menariknya dari kantung bagian samping kanannya, lalu melebarkannya dan
melilitkannya pada tubuhnya dan juga Arra. Dia kemudian mengikatnya dengan kuat
menopangnya untuk sementara waktu.
Setelah itu, Arrio segera berbalik dan
menelusuri setiap sudut di belakangnya. Dia tahu, ada yang tengah mengawasi
mereka saat ini. Gerakannya yang sangat cepat ternyata membuat Arra terbangun
dari tidurnya dann sangat terkejut karena tubuhnya yang di ikat kuat pada tubuh
Arrio dan juga api merah yang sedikit menyala di sekitar tubuh Arrio, dimana
hanya dirinya yang mampu melihat kemunculan api merah tersebut.
“Rio… apa yang terjadi?” tanya Arra begitu
lirih.
“Sstt… jangan bicara apapun. Dan berpeganglah
yang kuat padaku…” kata Arrio yang di turuti langsung oleh Arra. “Keluar!”
teriak Arrio yang membuat tempat itu bergemuruh dan berguncang cukup keras.
“Hahahaha….! Lihat siapa yang datang kesini?
Sang Malaikat Utama bersama kekasihnya!” sesosok iblis kini muncul tepat di
hadapan Arrio dan juga Arra sambil menyeringai mengerikan.
Arra bahkan rasanya tak sanggup melihat wajah
dari iblis itu yang hancur dengan bekas luka di seluruh tubuh dan wajahnya
hingga tak tertilat jelas bentuk wajah dari si iblis itu sendiri. Seluruh gigi
runcingnya terlihat saat dia menyeringai di hadapan Arrio. Kotor dan sangat
__ADS_1
menjijikkan karena banyaknya kotoran yang ada di sana. Bekas darah dan kotoran
lainnya yang membuat Arrio balas terkekeh melihatnya.
“Kau baru saja memakan bangkai di tempat ini?”
tanya Arrio.
Pertanyaan Arrio jelas membuat Arra terhenyak
dan segera menatap ke bawah, mengikuti arah pandang kekasihnya. Dan betapa
terkejutnya gadis itu, kala dia melihat banyak bangkai yang tergeletak tepat di
bawahnya. Dia hampir berteriak kencang saking kaget dan takutnya. Namun, Arrio
segera menenangkan dirinya dan membuat Arra terdiam kala itu juga.
“Jangan banyak bicara. Aku akan membunuhmu dan
memakan bangkaimu, juga kekasihmu itu di tempat ini juga!” pekik si iblis
sebelum menerjang menyerang Arrio dengan pedangnya.
“Kau yang akan mati!” Arrio kemudian
memejamkan matanya sambil mengucapkan sebuah mantra hingga secara tiba – tiba,
muncul sebuah pedang besar dengan api merah menyala yang menyelubunginya kini
ada di tangan Arrio.
Malaikat itu tak menghindar dan hanya bertahan
pada posisinya sambil memegang kuat pedang itu di tangannya, “tutup matamu
sayang, aku tak ingin kau melihat ini…” bisik Arrio dan membuat Arra segera
membenamkan wajahnya ke pundak lebar Arrio.
Gadis itu mendengar suara pekikan iblis itu
dan denting pedang yang saling bertemu dengan sengit, dia mencoba mengintip
sebentar dan sangat terkejut saat melihat tubuh si iblis yang sudah di penuhi
oleh darah. Bahkan dari mulutnya, sudah mengalir darah yang mengalir tanpa
henti. Tak ada lagi kalimat congkak yang terdengar dari bibirnya.
Arra yang menyentuh lengan Arrio kini secara
tak sadar merapalkan sebuah mantra dari bibirnya, mantra yang membuat api merah
di pedang yang di pegang oleh Arrio kini bergejolak dan seolah mengamuk. Arrio
sedikit terhenyak, namun dia kemudian tersenyum dan menatap lawannya dengan
sangat tenang.
Benar saja, saat Arrio menebaskan pedangnya ke
arah si iblis tersebut. Meskipun mata pedangnya belum sampai ke tubuh iblis
itu, namun jilatan api merah yang bergejolak di pedang milik Arrio sudah mampu
membuat kepala iblis itu terlepas dari tubuhnya dan jatuh menggelinding ke
tanah. Sementara tubuhnya langsung terbakar habis dan menjadi abu.
“Sayang…” panggil Arrio pada Arra.
“Lanjutkan saja, aku sedang berdoa. Agar kau
bisa menang…” kata Arra dengan mata yang masih terpejam.
Arrio lalu tersenyum dan tertawa, “kita sudah
menang sayang…” ucapnya.
__ADS_1