Cruel Fate

Cruel Fate
Part 21.1


__ADS_3

Brakk!


Pintu rumah itu seolah di jebol paksa oleh Arrio yang muncul


dengan tampilan malaikatnya dan membuat Arsen, Aksel maupun Jason yang tengah


berada di ruang tengah terkejut dengan kehadirannya yang mendadak.


“Cepat bersiap! Para iblis itu akan mengepung rumah kita dan


siap menyerang! Darrick, dia sudah ada di sini!” peringatan yang di berikan


Arrio sekali lagi menyentak semua orang.


Tapi Jason yang pertama kali sadar segera menarik Aksel


untuk bersiap dan memakai baju zirah mereka serta mengambil semua senjata yang


ada dan terbang cepat menuju ruang rahasia mereka. Sementara itu Arsen yang


juga memiliki firasat kuat kini merasakan kehadiran para iblis itu yang mulai


beterbangan di atas kediaman Arrio.


“Mereka di atas sana! Kau pergilah ke atas dan selamatkan


Arra. Biar aku yang menangani mereka disini!” titah Arsen yang di turuti oleh


Arrio.


Sekali lagi malaikat itu menjejakkan kakinya dan melesat


cepat menuju kamar gadisnya, apa yang di katakan oleh Arsen benar.


Tak lama setelah Arrio menyingkir, dia merasakan atapnya


seperti di hantam oleh benda keras yang mampu menghancurkan apapun.


Brraggg! Brruugg!


Kaca – kaca di rumah itu juga pecah dan api mulai muncul di


beberapa sudut ruangan.


Arsen yang melihat ini semua kini menyentakkan kakinya sedikit ke


tanah sambil mengucapkan mantra dan membuat bumi yang dia pijak berguncang


hingga seluruh iblis yang bersembunyi di dalam tanah segera mati dan muncul ke


permukaan tanah dengan kondisi mengenaskan.


“Shynliviont!” gumam


Arsen sambil menggerakkan tangannya ke arah para iblis yang beterbangan di atas


rumah Arrio. Dan seketika itu pula, seluruh iblis itu merasakan tulangnya remuk


dan hancur, begitu pula dengan sayap mereka yang patah dan terlepas dari


tubuhnya.


Selesai dengan itu semua, Arsen segera menyusul Aksel dan


Jason yang sudah bersiap di balkon khusus yang terletak di belakang rumah dan


mempersiapkan jalur penyelamatan yang akan di lewati oleh Arra dan Arrio


nantinya.


***


Arrio kini masuk ke dalam kamar Arra dan mencari keberadaan


gadisnya di ruangan itu. Dia cukup terkejut melihat Arra yang meringkuk di

__ADS_1


sudut tempat tidur dan menyembunyikan wajahnya dan menangis terisak.


"Sayang... Arra, ini aku sayang..." Arrio segera


mendekati gadisnya dan memeluk erat Arra dan menyebarkan kehangatan nya di


tubuh Arra Agara gadis itu lebih tenang.


"Rio... Itu apa? Kenapa ada suara itu disini? Apa yang


terjadi?" Tanya Arra dengan suara bergetar.


"Aku akan jelaskan padamu nanti sayang. Tapi untuk saat


ini aku mohon kau untuk ikut denganku. Ini penting dan demi keselamatan mu


juga. Kau mau kan sayang?" Kata Arrio dengan suara yang di usahakan


setenang mungkin meskipun wajahnya kini nampak begitu cemas.


Beruntung bagi Arrio karena kondisi Arra yang tak bisa


melihatnya saat ini. Sehingga malaikat itu tak perlu menyembunyikan sosok


malaikatnya untuk bisa mendekati Arra dalam kondisi seperti saat ini.


"K-kemana? Memangnya ada apa?" arra terlihat masih


sangat bingung dan bimbang dengan ajakan Arrio.


"Sayang, aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku akan


menjelaskan semua situasi dan kondisinya juga alasan kenapa kita harus begini


juga soal Andrew. Semuanya akan aku jelaskan detail. Tapi untuk saat ini,


tolong jangan banyak bertanya dan ikutlah denganku. Demi keselamatanmu dan kita


semua. Aku mohon ya sayang..." Pinta Arrio pada Arra.


luar sana. Tepat di atas kepalanya dan dia juga rasanya bingung dengan semua


yang terjadi. Tapi sepertinya memang dia tak punya pilihan lain selain harus


mengikuti Arrio daripada disini dengan situasi dan kondisi yang aneh dan


membingungkan sekaligus menakutkan untuknya.


"Apa aku perlu berkemas?" Tanya Arra.


"Aku yang akan lakukan itu. Kau tunggu saja


disini."


Arrio bergerak dengan begitu cepat dan membawa beberapa


barang yang memang sangat dibutuhkan oleh gadis itu. Dia juga memantrai barang


itu yang hilang setelahnya.


"Sudah sayang, semuanya sudah siap." Kata Arrio.


Dia mencium kening Arra dan memeluknya sebentar.


"Naiklah ke punggungku sekarang. Kita akan segera


berangkat," kata Arrio.


Arra memang sangat bingung dan tak bisa memahami kenapa


justru dia di minta untuk naik ke punggung Arrio yang polos tanpa mengenakan


sehelai pun baju di tubuhnya. Sementara Arrio sendiri mengatakan kalau dia


harus meninggalkan tempat itu dan pergi jauh sekali. Kenapa tidak menggunakan

__ADS_1


kendaraan seperti biasanya.


Tapi semua pertanyaan itu kini di simpan sendiri oleh Arra.


Dia hanya menuruti apa yang di ucapkan oleh Arrio saja dan naik ke punggung


polos malaikat itu yang kini terasa berjalan menuju ke suatu tempat. Membuka


pintu dan merasakan angin yang menerpa tubuh dan wajahnya sangat kencang.


Di tengah kebingungannya, Arra mendengar suara langkah


beberapa orang di belakang. Yang ternyata adalah adik-adik Arrio. Aksel dan


Jason.


"Kak, kami sudah siap!" Ujar Jason.


"Ya... Kita berangkat sekarang..." balas Arrio.


Dia kemudian berbisik pada Arra, "Arra sayang berpegangan yang erat ya.


Dan pejamkan matamu jika kau merasa tak kuat untuk membuka kelopak


matamu..." Katanya yang hanya di angguki oleh Arra.


“Kakak berangkat saja duluan, kami akan menjaga kalian dari


belakang dan sisi lainnya… kau fokus saja pada keselamatan Arra!” kata Jason.


“Tin Aspida!” ucap Arrio


dan menggerakkan tangannya, bersamaan dengan Aksel dan Jason juga melakukan hal


yang sama. “Berpeganglah padaku sayang, yang kuat. Dan tutup mata juga


telingamu. Cukup dengarkan suara burung!”


Mereka menciptakan perisai dengan menyatukan kekuatannya masing –


masing, tangan ketiganya bergerak dengan Arrio yang mengeluarkan cahaya biru


dan merah, Jason yang mengeluarkan cahaya berwarna abu – abu dan Aksel yang


mengeluarkan cahaya ungu. Tangan mereka kini bergerak menyelimuti seluruh tubuh


Arra dan Arrio, mereka bahkan meninggalkan sebagian kekuatan mereka demi


membentuk perisai pelindung itu. Sebuah perisai yang berbentuk lingkaran dan


melingkupi dirinya juga Arra yang berada di gendongannya. Perisai berwarna


perak dan emas yang bersisi seperempat dari seluruh kekuatan Arrio diberikan,


demi melindungi Arra saat ini.


Tak hanya Arrio, Jason dan Aksel pun melakukan hal yang sama.


Mereka kembali melingkupi Arra dengan perisai milik mereka dan berlapisan


dengan milik sang kakak. Dengan ini setidaknya, Arra tak akan merasakan setiap


serangan yang di berikan oleh para iblis selama dalam perjalanan menuju tempat


persembunyian mereka.


Dan benar saja, baru beberapa meter mereka keluar dari rumah yang


Arrio tinggali, serangan itu sudah datang bertubi – tubi dari banyak iblis yang


mengincar mereka dengan berbagai senjata lengkap melemparkan banyak panah


berapi dan juga panah yang berubah menjadi ular berbisa pada Arrio, Arra, Jason


dan Aksel.

__ADS_1


***


__ADS_2