
Brakk!
Pintu rumah itu seolah di jebol paksa oleh Arrio yang muncul
dengan tampilan malaikatnya dan membuat Arsen, Aksel maupun Jason yang tengah
berada di ruang tengah terkejut dengan kehadirannya yang mendadak.
“Cepat bersiap! Para iblis itu akan mengepung rumah kita dan
siap menyerang! Darrick, dia sudah ada di sini!” peringatan yang di berikan
Arrio sekali lagi menyentak semua orang.
Tapi Jason yang pertama kali sadar segera menarik Aksel
untuk bersiap dan memakai baju zirah mereka serta mengambil semua senjata yang
ada dan terbang cepat menuju ruang rahasia mereka. Sementara itu Arsen yang
juga memiliki firasat kuat kini merasakan kehadiran para iblis itu yang mulai
beterbangan di atas kediaman Arrio.
“Mereka di atas sana! Kau pergilah ke atas dan selamatkan
Arra. Biar aku yang menangani mereka disini!” titah Arsen yang di turuti oleh
Arrio.
Sekali lagi malaikat itu menjejakkan kakinya dan melesat
cepat menuju kamar gadisnya, apa yang di katakan oleh Arsen benar.
Tak lama setelah Arrio menyingkir, dia merasakan atapnya
seperti di hantam oleh benda keras yang mampu menghancurkan apapun.
Brraggg! Brruugg!
Kaca – kaca di rumah itu juga pecah dan api mulai muncul di
beberapa sudut ruangan.
Arsen yang melihat ini semua kini menyentakkan kakinya sedikit ke
tanah sambil mengucapkan mantra dan membuat bumi yang dia pijak berguncang
hingga seluruh iblis yang bersembunyi di dalam tanah segera mati dan muncul ke
permukaan tanah dengan kondisi mengenaskan.
“Shynliviont!” gumam
Arsen sambil menggerakkan tangannya ke arah para iblis yang beterbangan di atas
rumah Arrio. Dan seketika itu pula, seluruh iblis itu merasakan tulangnya remuk
dan hancur, begitu pula dengan sayap mereka yang patah dan terlepas dari
tubuhnya.
Selesai dengan itu semua, Arsen segera menyusul Aksel dan
Jason yang sudah bersiap di balkon khusus yang terletak di belakang rumah dan
mempersiapkan jalur penyelamatan yang akan di lewati oleh Arra dan Arrio
nantinya.
***
Arrio kini masuk ke dalam kamar Arra dan mencari keberadaan
gadisnya di ruangan itu. Dia cukup terkejut melihat Arra yang meringkuk di
__ADS_1
sudut tempat tidur dan menyembunyikan wajahnya dan menangis terisak.
"Sayang... Arra, ini aku sayang..." Arrio segera
mendekati gadisnya dan memeluk erat Arra dan menyebarkan kehangatan nya di
tubuh Arra Agara gadis itu lebih tenang.
"Rio... Itu apa? Kenapa ada suara itu disini? Apa yang
terjadi?" Tanya Arra dengan suara bergetar.
"Aku akan jelaskan padamu nanti sayang. Tapi untuk saat
ini aku mohon kau untuk ikut denganku. Ini penting dan demi keselamatan mu
juga. Kau mau kan sayang?" Kata Arrio dengan suara yang di usahakan
setenang mungkin meskipun wajahnya kini nampak begitu cemas.
Beruntung bagi Arrio karena kondisi Arra yang tak bisa
melihatnya saat ini. Sehingga malaikat itu tak perlu menyembunyikan sosok
malaikatnya untuk bisa mendekati Arra dalam kondisi seperti saat ini.
"K-kemana? Memangnya ada apa?" arra terlihat masih
sangat bingung dan bimbang dengan ajakan Arrio.
"Sayang, aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku akan
menjelaskan semua situasi dan kondisinya juga alasan kenapa kita harus begini
juga soal Andrew. Semuanya akan aku jelaskan detail. Tapi untuk saat ini,
tolong jangan banyak bertanya dan ikutlah denganku. Demi keselamatanmu dan kita
semua. Aku mohon ya sayang..." Pinta Arrio pada Arra.
luar sana. Tepat di atas kepalanya dan dia juga rasanya bingung dengan semua
yang terjadi. Tapi sepertinya memang dia tak punya pilihan lain selain harus
mengikuti Arrio daripada disini dengan situasi dan kondisi yang aneh dan
membingungkan sekaligus menakutkan untuknya.
"Apa aku perlu berkemas?" Tanya Arra.
"Aku yang akan lakukan itu. Kau tunggu saja
disini."
Arrio bergerak dengan begitu cepat dan membawa beberapa
barang yang memang sangat dibutuhkan oleh gadis itu. Dia juga memantrai barang
itu yang hilang setelahnya.
"Sudah sayang, semuanya sudah siap." Kata Arrio.
Dia mencium kening Arra dan memeluknya sebentar.
"Naiklah ke punggungku sekarang. Kita akan segera
berangkat," kata Arrio.
Arra memang sangat bingung dan tak bisa memahami kenapa
justru dia di minta untuk naik ke punggung Arrio yang polos tanpa mengenakan
sehelai pun baju di tubuhnya. Sementara Arrio sendiri mengatakan kalau dia
harus meninggalkan tempat itu dan pergi jauh sekali. Kenapa tidak menggunakan
__ADS_1
kendaraan seperti biasanya.
Tapi semua pertanyaan itu kini di simpan sendiri oleh Arra.
Dia hanya menuruti apa yang di ucapkan oleh Arrio saja dan naik ke punggung
polos malaikat itu yang kini terasa berjalan menuju ke suatu tempat. Membuka
pintu dan merasakan angin yang menerpa tubuh dan wajahnya sangat kencang.
Di tengah kebingungannya, Arra mendengar suara langkah
beberapa orang di belakang. Yang ternyata adalah adik-adik Arrio. Aksel dan
Jason.
"Kak, kami sudah siap!" Ujar Jason.
"Ya... Kita berangkat sekarang..." balas Arrio.
Dia kemudian berbisik pada Arra, "Arra sayang berpegangan yang erat ya.
Dan pejamkan matamu jika kau merasa tak kuat untuk membuka kelopak
matamu..." Katanya yang hanya di angguki oleh Arra.
“Kakak berangkat saja duluan, kami akan menjaga kalian dari
belakang dan sisi lainnya… kau fokus saja pada keselamatan Arra!” kata Jason.
“Tin Aspida!” ucap Arrio
dan menggerakkan tangannya, bersamaan dengan Aksel dan Jason juga melakukan hal
yang sama. “Berpeganglah padaku sayang, yang kuat. Dan tutup mata juga
telingamu. Cukup dengarkan suara burung!”
Mereka menciptakan perisai dengan menyatukan kekuatannya masing –
masing, tangan ketiganya bergerak dengan Arrio yang mengeluarkan cahaya biru
dan merah, Jason yang mengeluarkan cahaya berwarna abu – abu dan Aksel yang
mengeluarkan cahaya ungu. Tangan mereka kini bergerak menyelimuti seluruh tubuh
Arra dan Arrio, mereka bahkan meninggalkan sebagian kekuatan mereka demi
membentuk perisai pelindung itu. Sebuah perisai yang berbentuk lingkaran dan
melingkupi dirinya juga Arra yang berada di gendongannya. Perisai berwarna
perak dan emas yang bersisi seperempat dari seluruh kekuatan Arrio diberikan,
demi melindungi Arra saat ini.
Tak hanya Arrio, Jason dan Aksel pun melakukan hal yang sama.
Mereka kembali melingkupi Arra dengan perisai milik mereka dan berlapisan
dengan milik sang kakak. Dengan ini setidaknya, Arra tak akan merasakan setiap
serangan yang di berikan oleh para iblis selama dalam perjalanan menuju tempat
persembunyian mereka.
Dan benar saja, baru beberapa meter mereka keluar dari rumah yang
Arrio tinggali, serangan itu sudah datang bertubi – tubi dari banyak iblis yang
mengincar mereka dengan berbagai senjata lengkap melemparkan banyak panah
berapi dan juga panah yang berubah menjadi ular berbisa pada Arrio, Arra, Jason
dan Aksel.
__ADS_1
***