
Arrio baru saja membaringkan tubuh Arra ke atas ranjang dan
menyelimutinya setelah mengganti baju Arra yang sebelumnya di pakai oleh gadis
itu lalu membakarnya dengan api biru miliknya. Hal itu dia lakukan bukan tanpa
alasan, Arrio membakarnya untuk menghilangkan aroma manusia yang mungkin
melekat dan akan mencemari rumah perlindungan ini. Aroma yang kuat yang di
pancarkan gadisnya akan mengundang makhluk jenis apapun menuju tempat yang
memiliki kekuatan yang besar seperti tempat ini.
Karena banyaknya malaikat utama yang berkumpul dan menyalurkan
kekuatan sekaligus keahliannya di sini. Maka kehadiran dirinya juga merupakan
undangan tak langsung, baik itu untuk iblis sekalipun.
Setelah sudah yakin bahwa semua nya aman. Arrio menutup jendela
dan menyalakan lentera kecil pengganti lampu untuk kamar Arra. Dia juga melihat
bagaimana Arsen dan Aksel membuat perisai pelindung di sekitar tempat itu dan
kedatangan Jason yang tampak cukup kelelahan meskipun masih terlihat begitu
kuat di saat yang sama.
Arrio segera keluar dan menghampiri sang adik.
“Jason, kau baik – baik saja?” tanya Arrio yang begitu cemas.
“Jangan khawatir. Aku hanya lelah karena terbang jauh dan membawa
pedang besar ini…” jawab Jason yang masih bisa tersenyum.
“Istirahatlah…”
Jason mengangguk dan menatap Arrio, “kamarku dan Aksel harus dekat
dengan kamarmu dan Arra. Kau tahu kan?” kata Jason lagi.
“Hmm… kamarmu berada tepat di sebelah kamar Arra.”
“Ya sudah, aku masuk dulu kalau begitu…” pamit Jason lagi.
Arrio mengangguk kecil dan setelahnya dia segera menuju ruang
kerja yang ada di sana, dia akan menenangkan diri dan memulihkan kekuatannya
selagi menunggu kedatangan Arsen.
**
Arsen yang masuk ke dalam ruangan itu mengernyit mendapati seisi
ruang kerja yang begitu besar ini di penuhi banyak elemen api sekaligus dalam
satu waktu yang sama. Ada api yang berwarna biru dan merah di beberapa sudut
ruangan, dan bahkan ada api berwarna hitam pekat yang mengerikan kini hampir
menutupi seluruh tubuh Arrio. Aura ruangan itu pun begitu gelap, seolah banyak
kemarahan dan juga banyak rasa sakit yang tengah di tumpahkan disana.
__ADS_1
“Dia seperti sedang akan menghancurkan 3 dunia dengan seluruh
kekuatannya…” gumam Arsen yang hanya diam dan menatap Arrio sampai malaikat itu
selesai dengan meditasinya.
“Apa yang mau kau beritahukan padaku…” kata Arrio tiba – tiba
namun tak membuat Arsen terkejut sama sekali. Malaikat itu justru mendekat dan
menatap Arrio sambil memegang pundaknya.
“Turunkan dulu tensi kemarahanmu itu. apa yang mau aku beritahukan
padamu juga akan membuat amarahmu meledak, kau tidak mau meledak disini dan
membuat Arra bangun kan?” kata Arsen lagi.
Selesai bicara itu, semua api yang ada di sana membesar dan seolah
tak lagi terkendali, namun sekali lagi Arsen hanya diam yanpa bicara apapun
atau terkejut dengan semuanya. Dia sudah sering melihat Arrio melakukan ini
selama di medan perang, penenangan yang Arrio lakukan akan terlihat seperti
amarah besar untuk malaikat lain.
Tapi untuknya dan Athens, itu hanya sekedar latihan pengendalian
diri agar tak terbawa emosi.
Dan benar saja, karena tak lama kemudian Arsen melihat api itu
mulai menghilang dan aura ruangan itu perlahan kembali pulih seperti semula.
“Ada apa?” pandangan Arrio kini sudah mulai tenang.
dapatkannya dari Aiden beberapa waktu yang lalu pada Arrio yang dengan cekatan
menerimanya dan membuka perkamen itu.
Mata Arrio membelalak membaca isi perkamen itu. tangannya gemetar dan tubuhnya terasa
begitu kaku juga nafasnya yang sesak. Dadanya begitu nyeri seperti ada yang menusuknya.
Penderitaan yang selama ini dia dan
keluarganya alami, hingga sang ayah dan ibu harus menjalani kurungan di rumah
mereka selama bertahun – tahun. Terpisah dari dirinya dan adik – adiknya. Semua
itu tak lain karena kejahatan yang di lakukan oleh orang yang paling dia
hormati setelah kedua orang tuanya. Orang yang dia percayai dan selalu tahu
gerakannya selama ini, karena mendapat laporan langsung dari sahabatnya yang
sekaligus anak dari musuhnya sendiri.
“Kau dapat ini dari mana?” tanya Arrio pada
Arsen.
__ADS_1
“Bukan aku, tapi Aiden yang menemukan ini di
ruang kerja ayahnya saat ingin bertemu untuk memberitahukan persiapan perang
kita…” jawab Arsen.
“Jadi Aiden juga tak tahu soal ini?” tanya
Arrio lagi.
“Tidak, dia sendiri cukup syok membaca dan
mengetahui kenyataan ini. Dia hampir ingin mengakhiri semuanya dengan
mengorbankan dirinya karena rasa bersalahnya padamu…” jelas Arsen lagi.
Arrio yang mendengar itu memejamkan matanya.
Dia teringat bagaimana Aiden yang bersemangat saat pertama kali perang di
umumkan di surga dan saat dirinya yang terpilih menjadi panglima perang nya.
Dia juga ingat bagaimana reaksi malaikat itu saat memberitahunya semua rahasia,
yang ternyata adalah karangan dari ayahnya sendiri.
“Dia sudah menipu kita bahkan anak kandungnya
sendiri… kalau ada yang harus bertanggung jawab atas segala yang terjadi, maka
itu bukanlah Aiden. Melainkan August…” tegas Arrio.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita
jelas tak bisa memberitahukan August tentang rencana perang kita. Sementara
waktu semakin sempit dan kita harus segera turun ke medan perang,” tanya Arsen.
“Tidak ada pilihan lain, selain kita harus
maju sendiri dengan pasukan yang ada dan berusaha mencari bantuan dari luar
sementara masih ada waktu yang tersisa. Selebihnya, hanya Tuhan dan kekuatan
kita sendirilah yang bisa menentukan menang atau kalahnya kita menghadapi para
iblis…”
Arsen merasakan ada rasa cemas dan kecewa dari
suara Arrio. Tapi dia memahami apa yang di rasakan oleh malaikat itu saat ini.
Semuanya memang tak sesuai rencana dan tak seperti apa yang mereka bayangkan
selama ini tentang siapa pelaku sesungguhnya dari semua kejadian gila yang
selama ini menimpa mereka semua, termasuk Arra.
“Tenangkan dulu dirimu. Aku akan segera
menyiapkan pasukan dan kembali ke dunia atas bertemu dengan Athens. Kau tetap
disini dan ambil alih perlindungan Arra disini bersama Jason dan Aksel.”
“Ya, aku mengerti…” tukas Arrio.
***
__ADS_1