Cruel Fate

Cruel Fate
Part 22.1


__ADS_3

Arrio baru saja membaringkan tubuh Arra ke atas ranjang dan


menyelimutinya setelah mengganti baju Arra yang sebelumnya di pakai oleh gadis


itu lalu membakarnya dengan api biru miliknya. Hal itu dia lakukan bukan tanpa


alasan, Arrio membakarnya untuk menghilangkan aroma manusia yang mungkin


melekat dan akan mencemari rumah perlindungan ini. Aroma yang kuat yang di


pancarkan gadisnya akan mengundang makhluk jenis apapun menuju tempat yang


memiliki kekuatan yang besar seperti tempat ini.


Karena banyaknya malaikat utama yang berkumpul dan menyalurkan


kekuatan sekaligus keahliannya di sini. Maka kehadiran dirinya juga merupakan


undangan tak langsung, baik itu untuk iblis sekalipun.


Setelah sudah yakin bahwa semua nya aman. Arrio menutup jendela


dan menyalakan lentera kecil pengganti lampu untuk kamar Arra. Dia juga melihat


bagaimana Arsen dan Aksel membuat perisai pelindung di sekitar tempat itu dan


kedatangan Jason yang tampak cukup kelelahan meskipun masih terlihat begitu


kuat di saat yang sama.


Arrio segera keluar dan menghampiri sang adik.


“Jason, kau baik – baik saja?” tanya Arrio yang begitu cemas.


“Jangan khawatir. Aku hanya lelah karena terbang jauh dan membawa


pedang besar ini…” jawab Jason yang masih bisa tersenyum.


“Istirahatlah…”


Jason mengangguk dan menatap Arrio, “kamarku dan Aksel harus dekat


dengan kamarmu dan Arra. Kau tahu kan?” kata Jason lagi.


“Hmm… kamarmu berada tepat di sebelah kamar Arra.”


“Ya sudah, aku masuk dulu kalau begitu…” pamit Jason lagi.


Arrio mengangguk kecil dan setelahnya dia segera menuju ruang


kerja yang ada di sana, dia akan menenangkan diri dan memulihkan kekuatannya


selagi menunggu kedatangan Arsen.


**


Arsen yang masuk ke dalam ruangan itu mengernyit mendapati seisi


ruang kerja yang begitu besar ini di penuhi banyak elemen api sekaligus dalam


satu waktu yang sama. Ada api yang berwarna biru dan merah di beberapa sudut


ruangan, dan bahkan ada api berwarna hitam pekat yang mengerikan kini hampir


menutupi seluruh tubuh Arrio. Aura ruangan itu pun begitu gelap, seolah banyak


kemarahan dan juga banyak rasa sakit yang tengah di tumpahkan disana.

__ADS_1


“Dia seperti sedang akan menghancurkan 3 dunia dengan seluruh


kekuatannya…” gumam Arsen yang hanya diam dan menatap Arrio sampai malaikat itu


selesai dengan meditasinya.


“Apa yang mau kau beritahukan padaku…” kata Arrio tiba – tiba


namun tak membuat Arsen terkejut sama sekali. Malaikat itu justru mendekat dan


menatap Arrio sambil memegang pundaknya.


“Turunkan dulu tensi kemarahanmu itu. apa yang mau aku beritahukan


padamu juga akan membuat amarahmu meledak, kau tidak mau meledak disini dan


membuat Arra bangun kan?” kata Arsen lagi.


Selesai bicara itu, semua api yang ada di sana membesar dan seolah


tak lagi terkendali, namun sekali lagi Arsen hanya diam yanpa bicara apapun


atau terkejut dengan semuanya. Dia sudah sering melihat Arrio melakukan ini


selama di medan perang, penenangan yang Arrio lakukan akan terlihat seperti


amarah besar untuk malaikat lain.


Tapi untuknya dan Athens, itu hanya sekedar latihan pengendalian


diri agar tak terbawa emosi.


Dan benar saja, karena tak lama kemudian Arsen melihat api itu


mulai menghilang dan aura ruangan itu perlahan kembali pulih seperti semula.


“Ada apa?” pandangan Arrio kini sudah mulai tenang.


dapatkannya dari Aiden beberapa waktu yang lalu pada Arrio yang dengan cekatan


menerimanya dan membuka perkamen itu.



 


Mata Arrio membelalak membaca isi perkamen itu. tangannya gemetar dan tubuhnya terasa


begitu kaku juga nafasnya yang sesak. Dadanya begitu nyeri seperti ada yang menusuknya.


Penderitaan yang selama ini dia dan


keluarganya alami, hingga sang ayah dan ibu harus menjalani kurungan di rumah


mereka selama bertahun – tahun. Terpisah dari dirinya dan adik – adiknya. Semua


itu tak lain karena kejahatan yang di lakukan oleh orang yang paling dia


hormati setelah kedua orang tuanya. Orang yang dia percayai dan selalu tahu


gerakannya selama ini, karena mendapat laporan langsung dari sahabatnya yang


sekaligus anak dari musuhnya sendiri.


“Kau dapat ini dari mana?” tanya Arrio pada


Arsen.

__ADS_1


“Bukan aku, tapi Aiden yang menemukan ini di


ruang kerja ayahnya saat ingin bertemu untuk memberitahukan persiapan perang


kita…” jawab Arsen.


“Jadi Aiden juga tak tahu soal ini?” tanya


Arrio lagi.


“Tidak, dia sendiri cukup syok membaca dan


mengetahui kenyataan ini. Dia hampir ingin mengakhiri semuanya dengan


mengorbankan dirinya karena rasa bersalahnya padamu…” jelas Arsen lagi.


Arrio yang mendengar itu memejamkan matanya.


Dia teringat bagaimana Aiden yang bersemangat saat pertama kali perang di


umumkan di surga dan saat dirinya yang terpilih menjadi panglima perang nya.


Dia juga ingat bagaimana reaksi malaikat itu saat memberitahunya semua rahasia,


yang ternyata adalah karangan dari ayahnya sendiri.


“Dia sudah menipu kita bahkan anak kandungnya


sendiri… kalau ada yang harus bertanggung jawab atas segala yang terjadi, maka


itu bukanlah Aiden. Melainkan August…” tegas Arrio.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita


jelas tak bisa memberitahukan August tentang rencana perang kita. Sementara


waktu semakin sempit dan kita harus segera turun ke medan perang,” tanya Arsen.


“Tidak ada pilihan lain, selain kita harus


maju sendiri dengan pasukan yang ada dan berusaha mencari bantuan dari luar


sementara masih ada waktu yang tersisa. Selebihnya, hanya Tuhan dan kekuatan


kita sendirilah yang bisa menentukan menang atau kalahnya kita menghadapi para


iblis…”


Arsen merasakan ada rasa cemas dan kecewa dari


suara Arrio. Tapi dia memahami apa yang di rasakan oleh malaikat itu saat ini.


Semuanya memang tak sesuai rencana dan tak seperti apa yang mereka bayangkan


selama ini tentang siapa pelaku sesungguhnya dari semua kejadian gila yang


selama ini menimpa mereka semua, termasuk Arra.


“Tenangkan dulu dirimu. Aku akan segera


menyiapkan pasukan dan kembali ke dunia atas bertemu dengan Athens. Kau tetap


disini dan ambil alih perlindungan Arra disini bersama Jason dan Aksel.”


“Ya, aku mengerti…” tukas Arrio.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2