
Arrio yang kini tengah berada dalam tenda Athens dan bersiap untuk melakukan penyerangan bersama pasukannya. Kini menyiapkan strategi yang matang demi menggapai kemenangan mutlak di pihaknya. Tidak ada lagi kata ampunan dan belas kasih di benak Arrio untuk para iblis keparat yang berani menyentuh kekasihnya dan membuatnya sebagai umpan sekaligus ancaman demi memenangkan perang kali ini. Tindakan pengecut yang di lakukan Darrick dan panglima besarnya akan mendapatkan balasan yang setimpal di tangan Arrio secara langsung. Itulah tekad Arrio kali ini.
“Kita harus menyerang mereka secara bersamaan dan menghancurkan benteng mereka dan menyelamatkan Arra sekaligus membunuh Ellard dan menangkap Darrick di waktu yang bersamaan.” Ucapan Arrio membuat semua yang ada di dalam tenda itu menatap ke arahnya.
Kilatan mata tajam milik sang malaikat utama, menyiratkan bahwa dia siap untuk menumpahkan banyak darah demi perang ini.
“Jangan menyerang berdasarkan emosimu Arrio. Untuk bisa menembus benteng pertahanan mereka juga kita pasti butuh banyak pasukan besar, jika kita tidak menyiapkan strategi yang seimbang. Maka pasukan kita akan habis, bahkan sebelum kita sempat membunuh panglima sialan itu dan menangkap Penguasanya,” kata Athens yang tak setuju dengan strategi Arrio.
“Itu benar. Lagipula, kalau kita mengambil jalan itu. Bisa saja justru mereka akan membawa Arra ke tempat lain saat kita tengah fokus menyerang pertahanan mereka di garis depan,” timpal Arsen yang setuju dengan ucapan Athens.
Kedua malaikat yang memang sudah terkenal dengan taktik berperang yang luar biasa itu tahu persis, bahwa Arrio yang sedang dalam kondisi tidak tenang bisa menghancurkan seluruh yang dia lihat. Baik itu iblis maupun malaikat demi Arra, gadis yang di cintainya.
“Kau harus tenang Arrio. Jangan gegabah,” kata Aiden lagi.
“Tenang? Kau minta aku tenang disini dan berpikir sementara aku tahu dia ada disana dan bisa saja terluka bahkan--” Arrio tak mampu melanjutkan ucapannya.
“Aku paham apa yang kau rasakan Rio…” ujar Aiden kembali.
“Tidak! Kalian tidak mengerti! Aku sudah berusaha tenang sejak tadi, saat Aksel mengatakan bahwa dia menghilang dan kalian meyakinkan aku untuk disini dan mencari jalan keluar. Kalau memang sulit, lebih baik aku yang akan kesana sendiri dan menyelamatkan Arra. Aku yakin aku mampu menghadapi seluruh iblis keparat itu dengan tanganku saja!” pekik Arrio dengan begitu emosional.
“Jangan berpikir seperti itu Arrio! Itulah yang di inginkan oleh mereka! Kau pikir, untuk apa mereka susah payah menculik sang penyembuh jika bukan untuk menjadikannya sebagai umpan agar kau datang sendiri dan membuat kesepakatan jahat?!” suara besar Arsen kini menginterupsi seluruh ruangan tenda.
__ADS_1
“Kau pikir kami tidak khawatir pada Arra? Kami sangat khawatir Arrio. Kami juga akan melakukan apapun demi menyelamatkan dia. Tapi kita tak bisa bertindak dengan sembarangan karena nyawa Arra juga di pertaruhkan disini. Jika kita salah langkah sedikit saja, aku yakin… ini akan berakibat fatal untuk kau dan kita semua. Terutama untuk Arra…” ucap Athens berusaha menengahi situasi yang sudah panas dan tegang itu.
“Kau tahu, bagaimana gilanya aku sekarang? Aku mencoba untuk tetap waras, sementara aku tahu Arra ada di tangan musuh! Di saat seperti ini, apa kau tetap mau pada pendirianmu untuk menunggu di sini?”pekik Arrio dengan wajah memerah.
“Aku mengerti! Kau pikir aku mau membiarkan saja Arra di sana? Setelah anugerah yang aku berikan untuknya agar dia bahagia, apa kau pikir aku akan diam saja?” Aiden mengomeli Arrio. “Kendalikan dirimu. Percaya padaku. Arra masih hidup! Mereka tidak akan melukainya kecuali untuk membuatmu tersiksa. Kita harus pikirkan cara yang matang untuk menyelamatkan Arra sekaligus memenangkan peperangan ini. Atau jika mungkin… kita harus menghapus peperangan ini selamanya!” kata Aiden.
**
Gerakan tangan Ellard yang terus berusaha menyentuh tubuh Arra membuat gadis itu sangat rishi dan hampir menangis. Dia tak menyangka kalau akan mengalami hal mengerikan seperti ini sepanjang hidupnya. Bahkan, kecelakaan kedua orangtuanya pun tak sebanding dengan ketakutan yang dia miliki saat ini. Dimana ada sekawanan iblis dengan jumlah besar dan membawa banyak senjata mengerikan berada di sekelilingnya, menyekapnya, berusaha melukainya, menyentuhnya dan melecehkan dirinya.
“Kenapa kau diam saja, gadis cantik? Aku tak tahu kalau seorang penyembuh bisa memiliki rupa yang seindah ini… pantas saja, satu malaikat utama dan satu manusia tampan berebut demi memiliki dirimu…” ujar Ellard dengan nada mengejeknya dan mengusap wajah Arra.
“Hmmmpphh!!” Arra ingin berteriak dan menampar iblis brengsek ini.
“IBLIS SIALAN!” rutuk Arra dalam hatinya.
“Kalau aku tahu kau lebih indah dari yang ada di gambar itu. Aku pasti sudah menghampirimu duluan sebelum Tuanku menjemputmu, dan menjadikanmu permaisuriku. Jadi kau bisa selamat dari perang besar ini. Kau mau kan?” tanya Ellard.
Arra tak menjawab, matanya begitu tajam dan menusuk menatap Ellard dengan penuh kebencian dan kemarahan yang luar biasa.
“Kenapa dia?” tanya Darrick yang tiba – tiba saja muncul dann mengejutkan Ellard.
__ADS_1
Iblis itu segera berdiri dan menundukkan kepalanya untuk memberi hormat pada Darrick sebelum akhirnya menyingkir dari sisi Arra.
“Dia mencoba melepaskan diri, Tuanku…” lapor Ellard.
“Kau menyukainya?” tanya Darrick yang menatap Ellard.
“Tid--”
“Aku melihat apa yang coba kau perbuat padanya. Kau harusnya tak melakukan itu, karena dia sudah pernah di sentuh oleh sang malaikat utama. Kau harus lebih waspada…” kata Darrick dengan nada datarnya dan membuat Ellard semakin menundukkan kepala.
“Maafkan hamba, Tuanku…” ujar Elllard.
“Keluarlah dulu, aku perlu bicara empat mata dengan gadis ini. Kita… harus menemukan kesepakatan yang jelas dan sesuai untuk pengorbanan yang selama ini kita alami…” perintah Darrick pada Ellard yang segera di patuhi oleh sang Panglima Besar.
Langkah Ellard terhenti begitu mendengar Darrick memanggil kembali namanya,
“Persiapkan seluruh pasukan dan senjata kita. Dan siapkan strategi perang terbaikmu. Perang.. akan dimulai jauh lebih cepat dari perkiraan kita sebelumnya…” kata Darrick.
“Baik Tuanku, saya akan menyiapkan segalanya sebaik mungkin.” Ellard pun berpamitan kembali sebelum akhirnya benar – benar keluar dari tenda tersebut dan meninggalkan Arra hanya berdua dengan Darrick di sana.
Iblis yang adalah penguasa itu langsung mengambil tempat duduk dan duduk tepat di hadapan Arra dengan wajah congkaknya. Auranya berbeda dengan yang di liat Arra pada sosok Ellard. Iblis ini memiliki kharisma yang kuat, meskipun tetap saja brengsek di pandangannya.
__ADS_1
****