Cruel Fate

Cruel Fate
Part 18.1


__ADS_3

Arsen terus memperhatikan Aiden yang bergerak di dalam ruang


kerja ayahnya. Seolah mencari sesuatu namun tak ingin di ketahui siapapun.


Bahkan, Arsen dengan sengaja memasang pelindung di sekitar ruangan itu tanpa


sepengetahuan Aiden, agar malaikat itu bisa mendapatkan apa yang dia butuhkan


dan Arsen akan tahu apa yang tengah terjadi pada sahabatnya.


Sambil mengawasi Aiden, dia menggunakan kekuatannya juga


untuk mempengaruhi para pengawal agar tak mengarahkan kakinya mendekat pada


ruangan itu.


Sampai setelah cukup lama, Aiden akhirnya keluar dari


ruangan itu dengan langkah gontai dan wajah yang pucat pasi. Gulungan kertas di


tangan kanannya kini menarik perhatian Arsen yang memang sejak tadi


memperhatikannya. Aiden terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong ruangan


dari Aula Utama sembari bergumam, hingga tubuhnya yang mendadak ambruk tak


bertenaga.


Tubuh Aiden merosot dan bertopang pada dinding, dia terduduk


lemas dengan wajah yang kini penuh air mata. Aiden menutup wajahnya dengan


kedua lengannya dann tertunduk lesu.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang… Ya Tuhan…” lirihnya


dengan nada pilu dan terdengar begitu putus asa.


Arsen kini tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Dia segera


mendekat tanpa bersuara dan mengambil gulungan kertas dari tangan Aiden dengan


gerakan yang begitu cepat.


“Arsen!” teriak Aiden masih dengan suara bergetar.


“Ada apa denganmu? Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kau


menangis, dan apa benda ini?” tanya Arsen beruntun.


Namun, belum sempat Aiden menjelaskan satu katapun. Arsen


sudah keburu membuka gulungan kertas yang berwarna lusuh itu dan membaca isinya


dengan seksama.


Benar saja, apa yang tertulis di dalam kertas itu sangat


mengejutkan bagi Arsen hingga kedua matanya membola membacanya. Setiap tulisan


di sana seolah menjelaskan segala kekisruhan dan masalah yang terjadi selama


ini. Menjawab semua pertanyaan dan mengungkap, siapa yang seharusnya di adili


atas segala tindak kejahatan yang terjadi.


“Apa yang harus aku lakukan Arsen…” lirih Aiden lagi,


tubuhnya kembali ambruk dan dia menangis pilu mendapati kenyataan pahit ini.


Arsen menarik nafas dalam dan melipat gulungan kertas itu

__ADS_1


sangat kecil. Lalu di masukkannya ke dalam saku bajunya dengan sangat hati –


hati agar tak hilang ataupun rusak. Dan dia segera mendekati Aiden dengan


pandangan mata nanar, menatap Aiden dan menyentuh pundak malaikat yang kini


wajahnya nampak semakin pucat dari sebelumnya.


“Semuanya akan baik – baik saja Aiden. Percayalah… aku akan


tetap bersama denganmu, apapun yang terjadi. Ayo bangun dan ikutlah, kita harus


menemui Athens sekarang!” ajak Arsen.


Aiden menggelengkan kepalanya, “aku tak bisa. Bagaimana


mungkin aku bisa menemui dia dan kalian semua setelah semua ini? Apa kau pikir,


ini akan semudah itu?!” tanya Aiden begitu putus asa.


 “Aiden! Ini bukan


salahmu! Kita harus akhiri semua ini, setidaknya… jika kau ingin menebus segala


apa yang terjadi. Kau harus ikut denganku dan ikut bertanggung jawab dengan


semua kekacauan ini. Jangan pernah berpikir, untuk pergi menjauh. Apapun yang


terjadi!”


“Arsen…”


“Bangun Aiden, kita harus segera memberitahukan ini pada


semua. Agar perang ini tak terjadi,” ajak Arsen pada Aiden.


***


---Padang Dunia Atas---


banyak malaikat yang mulai berdatangan ke tempat itu guna mempersiapkan diri


mereka. Seluruh malaikat itu datang dari berbagai penjuru, dan mereka tak lain


adalah para pengikut setia dari Arrio. Para malaikat yang sudah di latih secara


khusus untuk berada di pasukan elite milik Arrio, Athens, Arsen dan Aiden. Para


malaikat utama.


Api unggun dan kuda – kuda berawarna putih terlihat di


sekitar padang tersebut. Mereka semua bersiap untuk melakukan perang yang


kemungkinan bisa terjadi kapanpun mulai dari saat ini.


Athens tengah berada dalam sebuah tenda yang cukup besar


berada di puncak padang dan melihat peta wilayah kekuasaan mereka sekaligus


melihat persebaran para sekutu dan malaikat yang sedang berada di sisi mereka


saat ini. Menakar apakah kekuatan mereka cukup untuk melakukan perang saat ini.


Di saat yang sama, Athens merasakan kehadiran Arsen yang


tiba di sana dan terlihat tak sendirian.


“Dimana Arrio?” tanya Arsen begitu dia masuk ke dalam tenda.


Mata bulatnya menelisik tiap sudut tenda untuk mencari sosok malaikat tersebut.

__ADS_1


“Dia sudah kembali ke dunia, ada urusan yang harus dia


selesaikan mengenai mantan kekasihnya. Ada apa?” tanya Athens yang masih tak


mengerti.


Terlebih, kehadiran Aiden yang nampak begitu berbeda dari


biasanya. Malaikat itu menunjukkan wajah yang begitu pucat dan aura yang begitu


dingin serta terluka. Membuat Athens mengernyitkan keningnya.


“Baca ini dan kau akan mengerti.” Tanpa menunggu lama, Arsen


mengalihkan gulungan kertas pada Athens dan membiarkan malaikat itu membacanya.


“Ini…” Athens yang membaca itu tak bisa percaya.


“Kejahatan besar dan konspirasi besar yang membuat dua dunia


bergolak hebat dan bisa menyebabkan kehancuran di dunia atas maupun dunia


bawah. Dan jika konspirasi ini di biarkan, maka kita semua akan hancur


berkeping… hanya karena ulah dua orang jahat yang tak bertanggung jawab!” ujar


Arsen dengan nada bicara yang sengit.


Sementara Aiden sudah menangis tersedu karena menerima


kenyataan pahit dan kejam itu.


“Pergilah sekarang, temui Arrio secepat mungkin dan minta


dia membawa sang penyembuh ke tempat ini. Dengan semua yang terungkap saat ini.


Bukan tidak mungkin perang akan lebih cepat terjadi. Kita tak punya waktu


banyak dan untuk Aiden…” Athens menghentikan ucapannya dan melirik pada sahabatnya


itu, “aku yang akan mengurus Aiden. Cepat!” perintah Athens kini terdengar.


Sebelum pergi, Arsen masih sempat menyalin isi dari gulungan


kertas itu dan membawa gulungan kertas yang asli bersamanya untuk di berikan


pada Arrio.


“Aku mengerti,” Arsen berucap dan menjejakkan kakinya


sedikit di atas tanah hingga tubuhnya mulai melayang dan melesat menjauh dari


sana.


***


---Di rumah Arrio\, waktu yang bersamaan---


“Makan dulu sedikit Andrew. Kau harus makan agar bisa minum


obatnya,” pinta Arra yang tengah menyuapi Andrew di taman belakang rumah Arrio


pagi itu.


Suasana rumah saat itu sangat sepi karena Arrio yang sudah


berangkat sejak tadi dan kedua adik Arrio juga yang berangkat menuju kampus


untuk kuliah seperti biasa. Hanya ada Arra dan Andrew di rumah itu.


“Arra… apa kau, mencintai Arrio?” tanya Andrew menyentak

__ADS_1


Arra kala itu.


***


__ADS_2