
Arsen terus memperhatikan Aiden yang bergerak di dalam ruang
kerja ayahnya. Seolah mencari sesuatu namun tak ingin di ketahui siapapun.
Bahkan, Arsen dengan sengaja memasang pelindung di sekitar ruangan itu tanpa
sepengetahuan Aiden, agar malaikat itu bisa mendapatkan apa yang dia butuhkan
dan Arsen akan tahu apa yang tengah terjadi pada sahabatnya.
Sambil mengawasi Aiden, dia menggunakan kekuatannya juga
untuk mempengaruhi para pengawal agar tak mengarahkan kakinya mendekat pada
ruangan itu.
Sampai setelah cukup lama, Aiden akhirnya keluar dari
ruangan itu dengan langkah gontai dan wajah yang pucat pasi. Gulungan kertas di
tangan kanannya kini menarik perhatian Arsen yang memang sejak tadi
memperhatikannya. Aiden terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong ruangan
dari Aula Utama sembari bergumam, hingga tubuhnya yang mendadak ambruk tak
bertenaga.
Tubuh Aiden merosot dan bertopang pada dinding, dia terduduk
lemas dengan wajah yang kini penuh air mata. Aiden menutup wajahnya dengan
kedua lengannya dann tertunduk lesu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang… Ya Tuhan…” lirihnya
dengan nada pilu dan terdengar begitu putus asa.
Arsen kini tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Dia segera
mendekat tanpa bersuara dan mengambil gulungan kertas dari tangan Aiden dengan
gerakan yang begitu cepat.
“Arsen!” teriak Aiden masih dengan suara bergetar.
“Ada apa denganmu? Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kau
menangis, dan apa benda ini?” tanya Arsen beruntun.
Namun, belum sempat Aiden menjelaskan satu katapun. Arsen
sudah keburu membuka gulungan kertas yang berwarna lusuh itu dan membaca isinya
dengan seksama.
Benar saja, apa yang tertulis di dalam kertas itu sangat
mengejutkan bagi Arsen hingga kedua matanya membola membacanya. Setiap tulisan
di sana seolah menjelaskan segala kekisruhan dan masalah yang terjadi selama
ini. Menjawab semua pertanyaan dan mengungkap, siapa yang seharusnya di adili
atas segala tindak kejahatan yang terjadi.
“Apa yang harus aku lakukan Arsen…” lirih Aiden lagi,
tubuhnya kembali ambruk dan dia menangis pilu mendapati kenyataan pahit ini.
Arsen menarik nafas dalam dan melipat gulungan kertas itu
__ADS_1
sangat kecil. Lalu di masukkannya ke dalam saku bajunya dengan sangat hati –
hati agar tak hilang ataupun rusak. Dan dia segera mendekati Aiden dengan
pandangan mata nanar, menatap Aiden dan menyentuh pundak malaikat yang kini
wajahnya nampak semakin pucat dari sebelumnya.
“Semuanya akan baik – baik saja Aiden. Percayalah… aku akan
tetap bersama denganmu, apapun yang terjadi. Ayo bangun dan ikutlah, kita harus
menemui Athens sekarang!” ajak Arsen.
Aiden menggelengkan kepalanya, “aku tak bisa. Bagaimana
mungkin aku bisa menemui dia dan kalian semua setelah semua ini? Apa kau pikir,
ini akan semudah itu?!” tanya Aiden begitu putus asa.
“Aiden! Ini bukan
salahmu! Kita harus akhiri semua ini, setidaknya… jika kau ingin menebus segala
apa yang terjadi. Kau harus ikut denganku dan ikut bertanggung jawab dengan
semua kekacauan ini. Jangan pernah berpikir, untuk pergi menjauh. Apapun yang
terjadi!”
“Arsen…”
“Bangun Aiden, kita harus segera memberitahukan ini pada
semua. Agar perang ini tak terjadi,” ajak Arsen pada Aiden.
***
---Padang Dunia Atas---
banyak malaikat yang mulai berdatangan ke tempat itu guna mempersiapkan diri
mereka. Seluruh malaikat itu datang dari berbagai penjuru, dan mereka tak lain
adalah para pengikut setia dari Arrio. Para malaikat yang sudah di latih secara
khusus untuk berada di pasukan elite milik Arrio, Athens, Arsen dan Aiden. Para
malaikat utama.
Api unggun dan kuda – kuda berawarna putih terlihat di
sekitar padang tersebut. Mereka semua bersiap untuk melakukan perang yang
kemungkinan bisa terjadi kapanpun mulai dari saat ini.
Athens tengah berada dalam sebuah tenda yang cukup besar
berada di puncak padang dan melihat peta wilayah kekuasaan mereka sekaligus
melihat persebaran para sekutu dan malaikat yang sedang berada di sisi mereka
saat ini. Menakar apakah kekuatan mereka cukup untuk melakukan perang saat ini.
Di saat yang sama, Athens merasakan kehadiran Arsen yang
tiba di sana dan terlihat tak sendirian.
“Dimana Arrio?” tanya Arsen begitu dia masuk ke dalam tenda.
Mata bulatnya menelisik tiap sudut tenda untuk mencari sosok malaikat tersebut.
__ADS_1
“Dia sudah kembali ke dunia, ada urusan yang harus dia
selesaikan mengenai mantan kekasihnya. Ada apa?” tanya Athens yang masih tak
mengerti.
Terlebih, kehadiran Aiden yang nampak begitu berbeda dari
biasanya. Malaikat itu menunjukkan wajah yang begitu pucat dan aura yang begitu
dingin serta terluka. Membuat Athens mengernyitkan keningnya.
“Baca ini dan kau akan mengerti.” Tanpa menunggu lama, Arsen
mengalihkan gulungan kertas pada Athens dan membiarkan malaikat itu membacanya.
“Ini…” Athens yang membaca itu tak bisa percaya.
“Kejahatan besar dan konspirasi besar yang membuat dua dunia
bergolak hebat dan bisa menyebabkan kehancuran di dunia atas maupun dunia
bawah. Dan jika konspirasi ini di biarkan, maka kita semua akan hancur
berkeping… hanya karena ulah dua orang jahat yang tak bertanggung jawab!” ujar
Arsen dengan nada bicara yang sengit.
Sementara Aiden sudah menangis tersedu karena menerima
kenyataan pahit dan kejam itu.
“Pergilah sekarang, temui Arrio secepat mungkin dan minta
dia membawa sang penyembuh ke tempat ini. Dengan semua yang terungkap saat ini.
Bukan tidak mungkin perang akan lebih cepat terjadi. Kita tak punya waktu
banyak dan untuk Aiden…” Athens menghentikan ucapannya dan melirik pada sahabatnya
itu, “aku yang akan mengurus Aiden. Cepat!” perintah Athens kini terdengar.
Sebelum pergi, Arsen masih sempat menyalin isi dari gulungan
kertas itu dan membawa gulungan kertas yang asli bersamanya untuk di berikan
pada Arrio.
“Aku mengerti,” Arsen berucap dan menjejakkan kakinya
sedikit di atas tanah hingga tubuhnya mulai melayang dan melesat menjauh dari
sana.
***
---Di rumah Arrio\, waktu yang bersamaan---
“Makan dulu sedikit Andrew. Kau harus makan agar bisa minum
obatnya,” pinta Arra yang tengah menyuapi Andrew di taman belakang rumah Arrio
pagi itu.
Suasana rumah saat itu sangat sepi karena Arrio yang sudah
berangkat sejak tadi dan kedua adik Arrio juga yang berangkat menuju kampus
untuk kuliah seperti biasa. Hanya ada Arra dan Andrew di rumah itu.
“Arra… apa kau, mencintai Arrio?” tanya Andrew menyentak
__ADS_1
Arra kala itu.
***