Cruel Fate

Cruel Fate
Part 14.1


__ADS_3

“Aku benci saat ini. Aku benci saat aku tak bisa bersama denganmu meskipun kita berada di tempat yang sama. Meskipun kita berdekatan dan meskipun kita berpapasan… rasanya aku tak bisa menggapaimu…”


Kata – kata itu kini terbersit di benak dua orang pria yang merasakan cintanya tengah terombang ambing oleh satu orang gadis yang sudah menundukkan hati mereka dan membuat mereka tak mampu lagi menjauh.


Arra…


Arra membuat Andrew, kekasihnya, menjadi begitu bimbang dengan hubungan yang mereka jalani saat ini. Apakah dia harus meneruskan hubungan keduanya dan bertahan meskipun dia tahu Arra semakin menjauh dari pelukannya. Dan perasaan mereka yang semakin merenggang. Atau harus rela hati melepaskan Arra dari sisinya dan membiarkan gadis itu bahagia bersama rivalnya Arrio. Yang sejak awal sudah menyatakan bahwa dirinya begitu mencintai Arra di hadapan Andrew.


Andrew bingung dan tidak mengerti apa yang harus dia putuskan. Secara raga, mereka memang begitu dekat. Perhatian yang Arra berikan padanya selama merawat dirinya juga tidak main – main. Gadis itu tidak ragu untuk memasak sendiri setiap menu makanan untuk Andrew dan membantunya meminum obat setiap waktu tanpa pernah terlewat. Mengukur suhu tubuh Andrew dan menemani lelaki itu saat Athens datang untuk memeriksa keadaannya.


Namun, semua itu tetap membuatnya merasa begitu hampa dan semakin menyadarkan Andrew, jika semakin lama dia dan Arra semakin menciptakan jarak masing – masing tanpa mereka sadari. Kecanggungan Arra saat Andrew menyentuh tangannya atau memanggilnya dengan panggilan sayang. Dan gugupnya gadis itu jika ada orang lain yang mendengarnya dan itu bisa di artikan sebagai Arrio. Semakin menegaskan bahwa mereka tak lagi berada di jalan yang sama.


Dan tanpa di sadari Arra, dia juga membuat Arrio menjadi bimbang dengan keputusannya dan sikap yang dia ambil selama ini pada gadis itu. Arrio begitu mencintai Arra dan ingin memiliki gadis itu dalam pelukannya. Namun, di satu sisi pula, dia harus melindungi Arra dari para iblis yang mengincarnya dan menargetkan Arra karena kedekatannya dengan Arrio.


Berada di sekitar Arra dan banyak berinteraksi dengan gadis itu berarti semakin membuatnya dekat dengan bahaya. Karena keberadaan Arrio di dunia sudah di ketahui oleh pihak iblis. Bahkan mereka sudah menyebarkan banyak pasukannya uintuk mencari celah saat kewaspadaan Arrio, Jason dan Aksel melemah demi menyerang semuanya. Terutama Arra.


Tapi berada jauh dari gadis itu juga memberikan penderitaan yang besar untuk Arrio. Menahan rindu dan cinta yang menggebu dalam hatinya. Rasanya Arrio bisa jadi gila jika di tambah dengan segala permasalahan yang ada dan persiapan perang yang dia lakukan. Tahu bahwa gadis yang di cintainya lah yang menjadi alasan perang besar ini juga menjadi beban besar untuk dirinya. Arrio sangat bimbang.


***


“Arra? Apa yang kau lakukan?” tanya Jason yang mendengar suara penyedot debu menyala dari ruang tengah rumah mereka.


“Oh, Jason ya? M-maaf Jason, aku sedang membersihkan ruangan ini. T-tadi… aku menyentuh mejanya dan terasa ada debu yang menempel di sini…” jelas Arra dengan gugup.

__ADS_1


“Ya Tuhan! Aku bisa di omeli kak Arrio kalau dia tahu kau melakukan ini.” Jason mengusak rambutnya dan mengambil alih penyedot debu itu dari tangan Arra, “jangan membersihkan ruangan apapun Arra. Ada orang yang akan melakukannya. Kau bisa lakukan yang lain yang kau mau…” ujar Jason.


“Apapun yang aku mau? Contohnya?” tanya Arra bingung.


“uhmm… mengerjakan tugas kuliah? Mengerjakan skripsi? Tidur? makan cemilan atau… apapun, yang pasti jangan mengerjakan pekerjaan rumah.”


“Apa yang salah kalau aku mengerjakan itu? kau takut rumahnya kurang bersih?” tanya Arra lagi.


“Tidak, tidak! Bukan begitu!” Jason menatap Arra dan meminta Arra duduk dulu sebelum menjawab lagi, “kak Arrio tidak ingin gadis yang di cintainya melakukan pekerjaan seperti itu dan kelelahan karena pekerjaan rumah. Kau datang ke rumah ini, sebagai seorang wanita yang di cintai oleh kakakku. Bukan untuk jadi asisten rumah tangga. Jadi jangan kotori tanganmu untuk melakukan pekerjaan seperti ini.”


Arra tercenung mendengar jawaban Jason dan penjelasannya. Benarkah Arrio begitu? Memikirkannya dan memperlakukannya se-istimewa itu sebagai perempuan?


Apa itu artinya cinta Arrio padanya masih sama dan belum menghilang? Kalau memang iya, kenapa Arrio justru semakin menjauhinya sekarang?


“oh! Maaf Jason, aku melamun. Tapi.. apa benar Arrio yang mengatakan semua itu dan memintamu melakukan ini? Padaku?” tanya Arra memastikan.


“Iya, dia mengingatkan aku dan Aksel tiap hari dan setiap pagi sebelum berangkat untuk menjagamu dengan baik, menyediakan segala keperluanmu dan tidak mengijinkanmu melakukan pekerjaan berat apapun itu termasuk hal semacam ini. Kenapa Arra? Ada yang salah?” tanya Jason lagi.


“Bukan, tapi… aku merasa dia menjauhi ku sekarang Jason. Dia bahkan tak pernah menyapaku lagi atau menanyakan kabarku. Dia sering pergi bahkan sebelum aku bangun dan pulang larut saat aku sudah tidur. tak ada waktu untuk bicara seperti biasa… dan bahkan, koreksi skripsi ku pun sering di titipkan pada Aksel.” Jelas Arra pada Jason.


Jason kini menatap Arra dan terdiam sejenak, “apa itu membebanimu?” tanya Jason.


“Kalau aku katakan iya. Apa ada yang salah? Rasanya sangat tidak nyaman karena aku tahu dia ada di sini tapi tak menyapaku. Rasanya, aku punya kesalahan besar padanya. Apa aku… memang punya salah dan membuatnya tak ingin menyapaku lagi?” tanya Arra lagi.

__ADS_1


“Kau tidak salah apapun Arra…”


“Benarkah? Lalu kenapa dia begitu padaku?” tanya Arra.


“Ada beberapa hal yang kau belum tahu dan dia belum bisa menjelaskannya padamu. Bukan berarti dia tak mencintaimu atau mengabaikanmu bahkan membencimu Arra. Dia masih begitu mencintaimu dan mendambakanmu. Percaya padaku…” yakin Jason.


“Apa karena Andrew?” gadis itu menelisik.


“Kau akan mengerti suatu saat nanti. Tapi percayalah… dia sama sekali tak membencimu…”


“Baiklah kalau kau bicara begitu.” Arra bangkit dan tangannya meraba sekitar, mencari sesuatu dan meraihnya lalu menggenggamnya dengan erat. “Kau bilang aku harus melakukan apapun yang aku inginkan bukan? Biarkan aku melakukan ini semua, aku tak tahan ada di sini jika Arrio terus bersikap seperti ini Jason! Aku tidak suka dia membenciku atau menjauh dariku. Biarkan aku melakukan ini agar aku tak lagi merasa sakit dan memikirkan ini terus menerus… aku mohon…”


“Arra…”


Suara penyedot debu itu kembali terdengar, dengan perlahan dan sangat berhati – hati Arra menggerakkan nya dan mulai membersihkan ruangan demi ruangan di rumah itu tanpa terlewatkan. Dia membawa kain lap di pundaknya untuk membersihkan perabot juga. Membuat Jason yang melihatnya semakin frustasi.


Ya Tuhan… gadis itu adalah seorang penyembuh. Tangannya memiliki keajaiban yang indah tapi yang di lihat Jason saat ini justru jauh berbeda. Membuat dia berkali – kali menghela nafas berat.


“Oh ya, ada bahan makanan apa di kulkas?” tanya Arra tiba – tiba.


“Memangnya kau mau apa?” tanya Jason balik.


“Aku akan memasak untuk kalian. Dan Arrio. Sebagai permintaan maafku untuknya.” Ujar Arra.

__ADS_1


***


__ADS_2