
Hari itu Andrew menepati janjinya pada Arrio. Pria itu menyediakan waktu 2 hari penuh untuk menemani Arrio mencari sebuah rumah yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Arrio dan Arra setelah mereka menikah. Menurut Arrio, dia ingin sebuah rumah yang tak terlalu besar namun terlihat cukup luas dan tidak pengap juga nyaman. Letaknya juga harus di tengah kota atau dekat keramaian untuk keselamatan Arra jika sewaktu – waktu Arrio ada urusan di dunia atas beberapa lama. Menempatkan istrinya berada di tenga hutan atau kebun yang jauh dari keramaian jelas bukan ide bagus mengingat apa yang pernah terjadi sebelumnya.
Arrio juga tidak menginginkan sebuah flat atau apartemen sebagai kediaman, karena dia ingin istri dan anaknya bisa memiliki taman sendiri sebagai tempat bermain dan berkumpul. Pun dia bisa mengundang banyak temannya untuk berpiknik bersama di taman rumahnya, yang jelas tak akan bisa di lakukan di flat atau apartemen
manapun.
Andrew bisa membayangkan rumah nyaman seperti apa yang ingin di berikan Arrio pada Arra. Dan dengan kekuatan koneksinya dengan banyak dokter juga teman – teman kuliahnya pun dia bisa menemukan beberapa lokasi rumah yang di anggap cocok dengan keinginan Arrio dan Arra nantinya. Jika ada yang bertanya, bagaimana perasaannya karena harus membantu pernikahan mantan kekasihnya sendiri? Maka jawabannya dia bahagia.
Sangat. Andrew tak memungkiri jika rasa itu masih ada begitu kuat untuk Arra. Namun semuanya coba di tepis dan di gantikan dengan perasaan sebagai seorang kakak untuk adiknya.
Dia tahu, memaksakan kehendaknya untuk tetap bersama justru akan membuat Arra semakin terluka dalam ketidaknyamanan, sekuat apapun dia mempertahankan perasaannya untuk Arra dan membuat Arra tetap disisinya juga akan lebih menyakiti dirinya sendiri.
Hingga dia memutuskan untuk berbesar hati menerima semuanya dan menyembuhkan hatinya sendiri yang tengah terluka.
**
Arrio kini sibuk melihat – lihat bagian di lantai dua untuk rumah ke – 4 yang mereka datangi hari ini. Dia melihat bagian dalam kamar tidur, balkon, dan juga balkon yang ada di luar kamar.
“Kau suka yang ini?” tanya Andrew.
“Aku rasa ini yang terbaik di antara lainnya. Lokasinya sangat dekat dengan tengah kota dan akses menuju ke tempat public seperti rumah sakit, kampus, swalayan dan lainnya. Mobil dan kendaraan lainnya juga bisa mudah untuk menuju ke tempat ini. Ada taman yang cukup luas di belakang da nada dua balkon di masing – masing kamar di tambah 1 balkon tambahan di luar kamar di lantai 2. Itu luar biasa!” pekik Arrio.
“Untuk informasi saja, harga rumah ini juga sangat luar biasa! Kau bisa membeli dua apartemen ukuran sedang untuk harga 1 rumah ini,” ucap Andrew lagi.
“Tidak masalah untukku. Aku tinggal membayarnya. Sudah ku katakan padamu, aku mengutamakan kenyamanan keluargaku dan keamanan mereka. Juga kemudahan untuk mereka nantinya. Jadi harga itu nomor sekian untukku…” kata Arrio dengan tenangnya.
__ADS_1
“Oke, baiklah kalau kau bilang begitu. Kita akan menemui pemiliknya dan mengurus surat – surat jual beli sebelum mulai pembayaran. Kau mau transfer atau?”
Arrio yang di tanya seperti itu lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah benda berbentuk kotak persegi panjang dengan ujung yang tumpul dan berwarna kuning mengkilat, di sana juga tertulis 24 karat dan jumlahnya ada sekitar 10 buah dengan ukuran yang cukup besar dan tebal.
“Aku lupa mengatakan padamu, aku tak sempat menukar ini dengan uang lembaran. Bagaimana kau pembayaran dengan ini? Apa dia bisa menerimanya?” tanya Arrio dengan wajah tanpa dosa pada Andrew.
“Kau gila? Itu melebihi dari--”
“Oh! Baguslah, aku pikir ini kurang. Kalau kurang, aku akan mengambilnya lagi di sana,” tukas Arrio lalu berbalik dan memanggil si pemilik rumah.
Sementara itu, Andrew hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Dia tahu Arrio memang
begitu fantastis karena identitasnya sebagai malaikat. Tapi dia tak pernah memprediksi bahwa Arrio juga memiliki kekayaan yang fantastis seperti ini.
**
dan memilih berdasarkan harga. Andrew paham yang di maksud oleh Arrio, karena dia tahu Arra adalah gadis yang akan berpikir ribuan kali untuk membeli sebuah barang meskipun dia membutuhkannya dan memilih harga yang murah.
Arra juga bukan tipe gadis yang akan dengan mudah mengucapkan permintaan pada kekasihnya untuk
membelikan gadis itu sesuatu yang dia sukai karena Arra menganggap dirinya masih mampu membeli dengan kemampuannya sendiri.
**
Hari yang di tunggu tiba, dimana Arrio akan melamar Arra malam itu. Di pagi harinya pun, Andrew sudah bersiap di depan rumah gadis itu untuk mengajaknya ‘berkencan’. Iya, itulah yang diminta Andrew pada Arra sebagai ganti dirinya sudah melepaskan Arra untuk Arrio. Dia ingin mengajak gadis itu kencan dengan layak karena dulu saat mereka bersama, Andrew selalu saja di sibukkan oleh banyak pekerjaan yang membuat kencan mereka terganggu.
__ADS_1
Setelah mengantongi ijin dari Arrio juga tentunya hingga gadis itu mau di ajak pergi malam ini. Arra tidak menyiapkan banyak hal karena dia juga harus menghormati dan meghargai perasaan Arrio. Dia hanya berpakaian casual dengan rambut di kuncir satu ke atas dan make up seadanya. Dengan bedak bayi dan parfum bayi
yang selalu di bawanya.
“Kau sangat cantik!” kata Andrew dengan mata berbinar menatap Arra. Gadis itu memang selalu nampak cantik di mata Andrew, apapun yang terjadi.
“Terima kasih… kita naik mobil?” tanya Arra saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir tepat di depan gedung flatnya dan Andrew berdiri di sisi mobil tersebut.
“Hmm… aku tak ingin kau kelelahan. Hari ini ada banyak hal yang akan kau lalui,” tukas Andrew.
“Oke, baiklah. Jadi kemana kita malam ini?” tanya Arra begitu mereka berangkat.
**
---Festival Kampus Oxford---
Festival ini di adakan di kampus Arra, dalam rangka merayakan kelulusan para wisudawan beberapa waktu yang lalu. Di dalam festival itu ada acara musik dan penjual makanan yang beraneka ragam. Bahkan, banyak penjual pernak pernik khas Oxford dan kampusnya.
Andrew sudah mewanti – wanti jika malam ini, dia yang akan membuka dompetnya untuk Arra sebanyak mungkin. Jadi Arra tak boleh menolak apapun pemberiannya dan tak boleh sungkan meminta apapun yang di inginkannya. Dan beginilah hasilnya, saat Arra sudah menenteng banyak sekali tas dengan banyak mainan juga boneka. Dan juga banyak makanan ringan kesukaannya di kedua tangan.
Gadis itu terus mengulas senyumnya sambil menggerakkan badannya lincah mengikuti irama musik yang
mengalun di festival itu. Dia juga banyak menyapa temannya dan tak jarang ikut berteriak membantu temannya menjual barang dagangan mereka. Andrew terlihat puas karena bisa mengukir senyum manis dan bahagia untuk gadis itu.
Walaupun hanya sekejap.
__ADS_1