Cruel Fate

Cruel Fate
Part 12.2


__ADS_3

Arrio benar – benar melakukan apa yang dia katakan pada Arra. Lelaki itu mengurus semuanya dengan sangat baik sejak hari itu. dari mulai memenuhi segala kebutuhan Andrew, dari perawatan hingga obat – obatan dan juga keperluan Arra serta memberikannya tugas – tugas kuliah agar gadis itu tak tertinggal jauh sementara dia juga bisa menyelesaikan tugas akhirnya dengan kondisi lebih tenang. Selagi melakukan itu, Arrio juga terus sibuk mencari informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya dan juga Andrew malam itu. mencari informasi tentang para iblis, dan bersiap untuk peperangan besar yang sebentar lagi akan terjadi.


Tidak ada keluhan atau sifat ketus yang di tunjukkan Arrio pada Andrew sekalipun dia melihat secara langsung perhatian yang di berikan Arra pada pesaingnya itu. Konsentrasinya untuk melindungi Arra mengalahkan rasa cemburu yang melesak di dalam hatinya.


"Uhm... Aksel..." Arra yang tahu Aksel baru saja pulang dari kampus kini berjalan mendekat.


"Ya, Arra. ada apa?" tanya Aksel.


"Apa kau pulang bersama Arrio?" tanya gadis itu lagi.


"Arrio? kak Arrio?" tanya Aksel balik dan mengernyitkan kening.


"Iya."


"Tidak, aku tak pulang bersama kakak. bukannya hari ini dia ada rapat dosen dari kemarin dan katanya dia akan langsung mencari informasi lagi soal Andrew. memangnya dia tak memberitahumu?" tanya Aksel lagi.


"Dia.. tak membicarakan apapun padaku..." gumam Arra dengan nada lemas.


"Benarkah? tapi bagaimana bisa?" lirih Aksel yang masih terdengar jelas di telinga Arra.


"Apa dia marah padaku?" tanya Arra.


"Marah untuk apa memangnya? kau berbuat salah?"


"Mungkin, karena aku selalu mengurus Andrew dan tak mengindahkan Arrio sama sekali...."


Aksel nampak menghela nafasnya dan mencoba menatap wajah Arra dengan seksama. Dia juga nampak mengingat kembali apa yang terjadi beberapa hari lalu. serta bagaimana sikap sang kakak akhir-akhir ini selama Arra dan Andrew tinggal bersama mereka.


"Sepertinya tidak Arra. kakak baik-baik saja kok. dia sama sekali tidak marah atau mengeluh apapun soal itu," jawab Aksel kemudian.


Kini giliran Arra yang menghela nafasnya berat.


"Kau takut kalau kakak akan marah dan mengabaikan dirimu ya?" tanya Aksel menyelidik.


"Iya..." jawab Arra dan mengangguk kecil.


"Hahahaha... lucu sekali Arra."


"Lucu? apa yang Lucu?" tanya Arra tak mengerti.

__ADS_1


"kekasihmu kan di sini. sedang terluka dan butuh dirimu untuk merawatnya supaya cepat sembuh. Kalaupun ada yang harus kau khawatirkan dan kau takutkan. bukankah itu seharusnya soal kesehatan kekasihmu. atau mungkin soal siapa yang menyerang kekasihmu sebenarnya sampai dia mengalami hal mengerikan ini," ujar Aksel, "benar kan?"


"I-itu..."


"Kau justru lebih khawatir dan takut kalau kakakku marah atau menjauh darimu. Kenapa?" tanya Aksel lagi.


pandangan malaikat muda itu terlihat begitu berbeda. ada pandangan nakal dan jahil yang di arahkan pada Arra saat ini.


"Arra..." Aksel menyentuh tangan Arra.


"Maafkan aku."


"Dengarkan aku dulu," ujar Aksel.


"Arra...!" suara Andrew menginterupsi percakapan mereka berdua.


"Aku harus kesana. Andrew memanggilku. dia pasti butuh sesuatu..." ujar Arra dan melepaskan tangannya dari genggaman Aksel.


Arra langsung bangkit dan menuju ke lantai dua. tempat kamar Andrew berada, suara tongkat berjalannya kini bergema di seluruh sudut rumah itu dan terasa familiar bagi Aksel beberapa hari ini.


"Kau merasakan itu, karena kau mulai jatuh cinta pada kakakku Arra." senyum Aksel mengembang dan jarinya mendial satu nomor di ponselnya.


***


Arrio sendiri kini bersama dengan Arsen dan menyusuri jalanan tempat Andrew pertama kali di temukan. ini sudah hari ke dua sejak dokter muda itu berada di rumahnya dan berada di bawah perlindungan nya dari segala musuh termasuk iblis yang memasangkan kain hitamnya di dada Andrew.


"Kenapa tidak ada jejak apapun?" gumam Arrio.


"Aromanya masih kuat..." kata Arsen.


"Aroma iblis?" tanya Arrio balik.


"Iya. kau pikir aroma apa?"


"Ini bukan jebakan kan?" tanya Arrio dan belum sempat Arsen menjawab. sebuah bayangan hitam kini terlihat melintas di atas kepala mereka.


makin lama bayangan itu semakin besar dan membuat jalanan di bawah kaki mereka begitu gelap. udara pun terasa semakin panas di sekitar situ dan membuat Arrio maupun Arsen tidak nyaman sedikitpun.


"Mendekatlah Arsen. mereka ada disini..." kata Arrio.

__ADS_1


Suara kepakan sayap kini terdengar kuat dan mendekat. dan satu sosok kini muncul di hadapan keduanya.


"Ellard..." lirih Arrio.


"Kau rupanya..." kata Arsen dan tersenyum simpul melihat panglima besar iblis itu di hadapannya.


"Senang bertemu dengan kalian berdua di sini. ada urusan apa, hingga dua malaikat utama dan begitu agung seperti kalian berada di tempat ini?" ujar Ellard dan balas senyum tipis menatap keduanya.


"Kau yang memasangkan kain hitam itu?" tanya Arrio tanpa basa basi.


"Kain?" Ellard nampak berpikir sejenak dan menatap ke atas lalu melirik mereka kemudian. "Ahh!! pemuda ceroboh itu?" tanya Ellard.


"Kau tak akan bisa menyentuhnya lagi." ucap Arrio.


"Tenang saja, kami memang tidak berniat dan berminat untuk menyentuhnya. Kami lebih menyukai aroma gadis cantik dan polos yang ada di dekatnya.... Hahahahahaha...!!!" gelak tawa Ellard kini menggema. membuat langit menjadi berwarna abu abu gelap.


kini Arsen yang maju dan mendekati Ellard, hingga tatapan mata mereka saling bertumbuk.


"Tanganmu akan hilang saat kau menyentuhnya meski itu hanya dalam bayangan di kepalamu... Kau, mau mencobanya sekarang?" ancam Arsen dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang datar.


"Hahahaha...."


"Kau jangan pernah lupa Ellard. gadis itu, adalah kekasih dari sang malaikat utama. dan kau! kekuatan mu bahkan masih jauh di bawah sang malaikat utama, sekalipun kau memakai jubah kebesaran mu itu. jadi jangan main-main Ellard. kalau kau tak ingin kehilangan segalanya..." lanjut Arsen lagi.


"kau mengancamku?"


"tidak. aku hanya memberimu peringatan. karena jika kau berani menyentuh gadis itu, kau tidak hanya akan menghadapi satu malaikat. tapi jutaan malaikat yang akan menghancurkanmu sampai..." Arsen menatap ke samping dan menggenggam debu jalan yang ada di dekatnya. dia lalu kembali menatap Ellard dengan pandangan mata tajam, "sampai kau hancur seperti ini!" Arsen melepaskan genggamannya dan debu itu kini menghilang tertiup angin.


Ellard tahu persis, jika Arsen tidak akan main-main dengan apa yang dia ucapkan. jutaan malaikat itu mungkin terdengar seperti bualan. tapi itu memang nyata adanya.


karena meskipun Arrio sudah terusir dari Surga, kekuatannya sama sekali tak berkurang, bahkan pengikut setianya masih tetap solid dan dengan setia mengabdikan diri mereka untuk Arrio dan keluarganya.


ini bukan hal mudah untuk menyentuh Arra. si gadis penyembuh....


Arrio terlihat memiringkan kepalanya dan menatap tajam pada Ellard.


"Katakan pada dia, aku tidak akan mundur!"


***

__ADS_1


__ADS_2