
Angin sepoi-sepoi menyapa Arra. Dia membuka mata perlahan dan melihat Arrio ada di sampingnya
seraya tersenyum.
“Sudah bangun, Sayang?” Arrio mengecup buku-buku jari gadis itu, menitikkan air mata. Dia kemudian mendekatkan wajah dan mencium kening, hidung, hingga bibir Arra singkat sebelum tersenyum menatap gadisnya.
“Kau menangis?” tanya Arra.
“Aku takut, Sayang. Takut kehilangan dirimu,” bisik Arrio, menarik Arra dalam pelukannya. Arrio membenamkan wajah ke ceruk leher Arra dan mengeratkan pelukan.
“Aku sudah di sini, di sisimu. Aku tidak akan pernah pergi ke mana pun lagi. Kau tahu kan, Sayang?” ujar Arra.
“Aku tahu. Aku tahu.” Arrio kehabisan kata-kata.
Semua yang terjadi, kemarin dan hari ini terasa seperti mimpi baginya. Saat Arra tahu dan menerima semua kenyataan yang ada, bagaimana mereka melewati semua bersama untuk bisa sampai ke tempat ini, hingga harus merasakan siksaan dari para iblis dan mendapat pengalaman buruk yang seharusnya tak pernah dia alami.
Arra melepaskan pelukan dan menatap wajah Arrio. Jari-jari gadis itu dilarikan ke pipi Arrio dan mengusap lembut air mata yang mengalir.
“Jangan menangis lagi. Aku mohon. Hatiku sakit melihatnya,” pinta Arra.
Arrio semakin menggila dengan air mata setelah mendengar ucapan Arra. Dia menciumi wajah sang kekasih dan membiarkan air matanya menyatu dengan wajah Arra, tersenyum dan menghambur dalam pelukan gadis itu.
“Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu. Maafkan aku tak mampu menjagamu dengan baik, dan
membiarkanmu merasakan semua penderitaan ini bersamaku. Aku… harusnya aku mampu membuatmu bahagia, bukannya menangis atau sakit,” lirih Arrio.
“Kau tahu apa yang membuatku bahagia?” tanya Arra, tersenyum pada Arrio dan lelaki itu menggeleng. “Karena kau mencintaiku sebesar ini. Aku sangat bahagia!”
__ADS_1
“Dan kau tahu apa kebahagiaan terbesarku, Sayang?” tanya Arrio, ganti Arra yang menggeleng. “Mendapatkan cintamu dan memilikimu seutuhnya seperti ini.”
Arrio menempelkan bibirnya pada bibir Arra, memagutnya ketat, seolah tak ingin lagi kehilangan
sosok gadis itu sama sekali. Semua rasa cinta, rindu, sakit, bahagia, dan kecewa, ditumpahkannya. Tangannya menggamit pinggang Arra untuk mempersempit jarak di antara mereka.
Hanya angin malam dan suara kecupan penuh cinta yang terdengar malam itu dari keduanya.
**
Setelah selesainya perang, para malaikat kembali ke tempat mereka masing – masing dan mulai menata kembali kehidupan mereka yang sempat kacau akibat persiapan perang beserta perang yang terjadi. Tawanan di bebaskan dan perjanjian perdamaian di lakukan oleh masing – masing kubu, demi keselamatan bersama untuk ketiga dunia.
August sendiri memilih untuk mengundurkan diri dari posisinya dan melepaskan ayah serta ibu
Arrio dari tahanan dan mengembalikan mereka kembali ke keluarganya. Selain itu, dia juga menyerahkan seluruh pasukan dan klan yang di pimpin olehnya kini untuk berada di bawah naungan dan kepemimpinan Arrio. Dia memilih untuk merenungkan seluruh kesalahannya sembari menunggu pengadilan yang akan di berikan padanya.
“Ayah! Ibu!” Aksel segera menghambur dalam pelukan kedua orangtuanya segera setelah mereka keluar dari kediaman August.
melainkan di kediaman August demi menghalang komunikasi antara keduanya dan sang putra mengenai informasi perang yang sesungguhnya. Ayah Arrio yang telah mengetahui tabir itu pula, menjadi salah satu alasan dirinya di kurung di tempat tersebut.
“Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau jadi penyelamat calon menantu kami, apa benar?” tanya ibu mereka yang langsung di balas senyuman lebar oleh Aksel.
“Cih! Dasar sombong! Kau juga kesana bersama denganku, tahu!” protes Jason yang langsung maju dan memberikan pelukannya pada sang ibu.
“Hahaha… iya, iya… putra – putra ibu dan ayah memang sangat hebat. Jadi, dimana dia?” tanya ayah Aksel dan Jason.
“Mereka di luar, kak Arrio tak mengijinkan kak Arra ikut masuk ke dalam. Karena banyak.. uhm… ayah tahu kan?” ujar Aksel.
__ADS_1
“Ayah paham. Ya sudah, ayo cepat keluar dari sini dan pulang ke rumah. Ayah dan ibu ingin berkenalan
dengan menantu kami dan melepas rindu dengan kalian semua…” ajak sang ayah yang membuat semuanya setuju hingga langsung melesat terbang keluar dari tempat tersebut.
**
“Salam.. ayah, ibu… perkenalkan, namaku Chiarra. T-tapi biasa di panggil Arra, aku--” ucapan Arra terhenti dan gadis itu menatap Arrio bingung.
Dia rupanya begitu canggung dan bingung untuk memperkenalkan dirinya sebagai apa. Sebagai penyembuh, atau kekasih dari Arrio, atau… teman dekat? Astaga, Arra merasa kacau saat ini di hadapan kedua orangtua Arrio.
“Menantu kami…” bukan, itu bukanlah ibu Arrio. Melainkan ayah Arrio sendiri yang mengatakannya dengan senyum terukir, “benar kan?” tanya ayah Arrio pada sang ibu.
“Benar. Kemarilah, nak… mendekatlah sini…” pinta ibu Arrio yang langsung di patuhi oleh Arra.
Begitu Arra mendekati ibu Arrio, ayah Arrio pun memberikan tanda untuk Arrio agar ikut mendekat padanya. Dan duduk di hadapan mereka berdua.
“Terima kasih ya… terima kasih untuk kalian berdua. Ayah dan Ibu sudah mendengar semuanya. Kami
mengetahui, bahwa kalian bekerjasama dengan sangat baik untuk memenangkan perang kali ini dan membebaskan kami…” ucap Ayah Arrio.
“Aku tak melakukan apapun. Arrio dan semua malaikat hebat lainnya yang sudah sangat berjasa…” tukas Arra.
“Dia suka merendah seperti itu Ayah, Ibu. Dia tidak sadar, tentang kekuatannya sendiri…” timpal Arrio.
“Hahaha… itu wajar nak. Kami paham kalau kau masih merasakan janggal dengan semua yang terjadi. Tapi, anggap saja begini. Tempat ini, anggaplah ini adalah rumahmu. Rumah keluargamu dan kami semua adalah keluargamu juga. Lihatlah kami seperti manusia lainnya, yang memiliki anugerah. Bisa kan?” tanya ibu Arrio.
Arra segera mengangguk dan tersenyum, lalu ibu Arrio merengkuh gadis itu dalam pelukannya
__ADS_1
yang hangat. Beliau bahkan mengusap lembut kepala dan lengan Arra dengan sayang. Membuat hati Arra menghangat, karena dia bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ibu. Setelah kematian kedua orangtuanya.
***