Cruel Fate

Cruel Fate
Part 35.1


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu sejak selesainya perang, Arra masih tetap berada di kediaman Arrio dan mulai di kenalkan lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal kekasihnya. Dia juga banyak belajar dan mengobrol dengan ibu Arrio tentang banyak hal, dari mulai kuliahnya dan juga kehidupannya setelah kematian kedua orangtuanya


beberapa tahun yang lalu. Ibu Arrio bahkan mengajari Arra beberapa resep khas milik keluarga mereka dan makanan yang menjadi kesukaan dari Arrio, Jason dan Aksel bahkan Ayah dan Ibunya sendiri. Hal itu di lakukan oleh sang ibu, karena Arra di anggap akan segera menjadi menantu mereka dalam waktu dekat.


Toh semua malaikat di dunia atas juga sudah mengetahui identitas Arra yang sebenarnya, mereka juga tidak mempertanyakan lagi keberadaan bangsa manusia di tempat ini karena posisi Arra yang menjadi seorang penyembuh. Dan bukan hanya itu, namun juga calon istri dari sang malaikat utama. Pemimpin mereka kelak.


Tak jarang, Arra mendengar selentingan tentang seberapa banyak bidadari yang merasa patah hati dengan keputusan Arrio yang hanya akan menikah satu kali dan itu hanya dengan Arra. Kekasihnya. Mereka banyak berharap bahwa sekalipun sudah memiliki Arra, Arrio akan tetap bisa membuka hatinya untuk bidadari lain sebagai


pendampingnya.


Para bidadari itu juga sering merasa cemburu dengan sikap yang di tunjukkan oleh Arrio setiap


kali memperlakukan Arra dengan lembut dan penuh cinta, perhatian dari Arrio dari hal yang begitu kecil dan sepele pun tak pernah luput dari pengawasan Arrio barang sekejap saja.


Seperti hari ini, saat Arra baru saja belajar memasak makanan kesukaan Arrio untuk makan siang mereka dan tak sengaja tangannya terkena sulutan api. Arrio terlihat begitu khawatir hingga tanpa basa basi dia menjauhkan Arra dari area dapur dan mengobati luka di tangan gadis itu dengan sangat hati – hati. Hingga seluruh


mata memandang mereka dengan penuh iri.


“Mereka melihat kita. Kenapa kau harus mengobati lukaku di tempat ini, sih… kan bisa di dalam saja,” ucap Arra yang mulai risih.


“Sengaja. Supaya mereka tahu seberapa besar rasa cintaku padamu dan tahu kalau kau itu hanya milikku, begitu pula sebaliknya sayang…” jawab Arrio dengan suara santai tanpa melirik ke arah gadis itu.


Dia hanya fokus membebat luka di tangan Arra setelah memberikannya obat.


“Kau merasa ada yang aneh tidak?” tanya Arrio tiba – tiba.


“Aneh? Apa yang aneh memangnya?” tanya Arra balik pada Arrio.


“Kau kan seorang penyembuh. Tapi kau justru tak bisa mengobati lukamu sendiri, dan selalu memintaku mengobati luka di tubuhmu? Seperti sekarang ini,” ungkap Arrio.


Arra yang mendengarnya, mengangkat bahu tanda tak mengerti, “mana aku tahu soal itu. Aku saja masih tak percaya kalau aku bisa menyembuhkan luka dari seorang malaikat sepertimu dan Aiden. Atau membunuh iblis sialan seperti Ellard.”

__ADS_1


“Hahahaha….” Arrio tergelak mendengar jawaban kekasihnya.


“Kau kenapa sih tertawa begitu? Ada yang lucu lagi?” tanya Arra bingung.


“Ada… kau sangat lucu!” tukas Arrio dan kembali tertawa.


“Hngg?”


“Sayang, harusnya kau cukup bilang… ‘aku tak tahu, memang apa alasannya?’ begitu…” kata Arrio lagi.


“Ahh… oke, aku ulang…” kata Arra, “aku tak tahu alasannya, apa kau tahu kenapa?” tanya gadis itu kemudian.


Arrio kini tersenyum dan tangannya meraih kedua tangan Arra lalu mengecupnya lembut, “alasannya adalah… karena memang hanya aku yang bisa mengobati setiap luka yang kau rasakan. Baik luka di fisikmu maupun di hati dan pikiranmu. Karena aku adalah satu – satunya untukmu, begitu juga kau yang jadi satu – satunya untukku…”


“Pintar sekali kau bicara. Pantas kalau kau jadi pemimpinnya, cakap sekali…” sindir Arra.


“Sayang, apa kau mulai tak percaya lagi dengan ucapanku?” selidik Arrio.


“Astaga, dimana – mana, setiap gadis akan sangat suka kalau pasangannya berbicara dengan manis


atau menggodanya. Tapi kau justru merasa risih karena itu?” tanya Arrio.


“Aku bukan tipe gadis yang begitu Rio. Aku sedang mencoba berpikir realistis saat ini. Dimana aku justru sering menemui hal yang tak masuk akal tepat di depan mataku. Ah... dan lagi, kau pernah bilang kalau aku bidadarimu yang paling cantik kan?” ujar Arra.


“Hmm… kenapa?” tanya Arrio.


Arra menangkup wajah Arrio dengan kedua tangannya dan membuat Arrio mengalihkan pandangan menuju ke sekitarnya.


“Kau lihat…” ucap Arra.


Arrio memicingkan matanya dan melihat ke sekelilingnya tak mengerti.

__ADS_1


“Sudah, ada apa memangnya?” tanya Arrio.


“Di sana… sana… dan sebelah sana…” tunjuk Arra dengan dagunya sembari menggerakkan kepala Arrio


untuk melihat ke arah yang sama dengan yang dia lihat.


“Ada apa di sana?” tanya Arrio lagi.


Arra mendengus kesal dan mengarahkan wajah Arrio untuk menghadap pada dirinya lagi, kedua mata


mereka kembali bertemu dan Arra segera berucap.


“Banyak bidadari yang punya kecantikan jauuuuuuhhhh di bandingkan aku. Kau sadar tidak? Dan lagi, mereka juga sangat menyukaimu, mendambamu, menginginkan dirimu, bahkan merelakan diri mereka andai kau ingin menjadikan mereka yang kedua disisimu. Selagi mereka bisa memiliki dirimu juga Arrio!” pekik Arra.


“Lalu? Apa yang harus aku lakukan setelah aku tahu hal ini?” tanya Arrio balik yang membuat Arra geram.


“Kau tidak lihat ya. Kalau aku sedang cemburu? Aku merasa paling buruk saat memandang mereka semua! Kau lihat mereka, kulitnya yang sangat putih seperti susu, dan wajah yang berkilau… lalu mereka juga punya sayap yang indah. Baju yang bersinar, tubuh yang seksi, terlebih lagi… astaga… kau lihat aku Arrio! Aku bahkan tak


bisa melayang di udara seperti mereka! Mana bisa aku menemanimu?” gerutu Arra.


“Ya Tuhan…” Arrio melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Arra. Dia kemudian mengecup wajah


Arra dengan gemas dan terakhir mengecup bibir mungil gadis itu seraya tersenyum, “gemes banget aku kalau kamu cemburu begini. Jadi mau cium kamu terus!”


“Arr…” Arra hampir protes sebelum Arrio memutus ucapannya.


“Sayang, jangan pernah berpikir semacam itu. Hanya satu hal yang cukup kamu tahu, kalau aku mencintai kamu, menyayangi kamu, dan kamu adalah satu – satunya wanita dalam hidupku. Apapun yang terjadi, bagaimanapun, dan kapanpun itu. Di dunia manapun, hanya kamu. Satu – satunya…” tegas Arrio lalu tersenyum dan merengkuh Arra ke dalam pelukannya.


“Aku juga cinta kamu…”


“Iya, aku tahu sayang… I love you…”

__ADS_1


****


__ADS_2