
Arra di buat takjub dan tak percaya dengan apa
yang tengah dia lihat saat ini. Sebuah padang yang terlihat asri kini terhampar
di hadapannya, begitu luas namun terbagi menjadi dua bagian. Di bagian satunya
terlihat begitu kelam, dengan banyaknya nuansa hitam dan merah yang ada di
sana. Juga dengan panji – panji yang berisi ajakan kejahatan, khas milik para
iblis yang terbentang di sana. Sementara di sisi yang berlawanan, terlihat
begitu cerah dengan warna putih dan biru yang menyelimuti. Panji – panji yang
terbentang juga merupakan kalimat khas yang di miliki oleh para malaikat.
Dia bisa melihat dengan begitu jelas bahwa kedua
sisi, sama – sama memiliki kekuatan yang luar biasa dan tak bisa di jelaskan
dengan sekedar kata – kata. Bahkan sepertinya melebihi kekuatan militer dari
Negara manapun di dunia.
“Aku merasa sangat bersemangat melihat semua
ini…” lirih Arra.
“Kau ingin kita menang ya?” tanya Arrio.
Arra mengangguk, “tapi lebih dari itu. Aku
justru ingin melihat dua pasukan ini bersama dan menunjukkan kekuatan mereka
dengan cara berpawai atau semacamnya. Ketimbang berperang,” ucap gadis itu.
“Hahahaha… aku paham maksudmu sayang.
Bersiaplah, kita sudah sampai.” Arrio kini mulai turun dan kakinya kembali
menjejak di atas tanah.
Malaikat itu dengan cepat menurunkan Arra dan
menuntun gadis itu masuk.
“Sayang… kenapa mereka melihatku seperti itu?”
tanya Arra yang melihat para malaikat memandangi dirinya tanpa berkedip.
Membuatnya sangat tak nyaman.
“Mereka tidak percaya bisa melihat dirimu di
tempat ini sayang. Tenang saja, mereka yang akan melindungimu disini, tidak
akan ada yang menyakitimu selama di sini.” Arrio mengulas senyum dan mengusap
punggung tangan gadisnya.
“Arrio!” teriakan terdengar, Arrio dan Arra
sontak menoleh dan melihat Athens yang berlari dengan semangat sembari
tersenyum lebar.
“Bagaimana perjalanan kalian? Apa sulit?”
tanya Athens begitu dia menghampiri keduanya.
“Lancar, hanya tadi ada setan kecil yang
mengganggu. Tapi beruntungnya, sang penyembuh ada bersamaku.” Ucapan Arrio
membuat Athens mengalihkan atensinya pada Arra.
__ADS_1
“Kau kelihatan lelah. Masuklah, kami akan
menyiapkan tenda khusus untukmu. Tapi sebelum itu, kau bisa beristirahat di
tendaku. Atau tenda milik Arrio…” ajak Athens.
**
Arra kini memasuki sebuah tenda yang cukup
besar, yang terletak di paling ujung dari tenda para panglima perang. Arrio
yang mengantarkannya ke tempat ini untuk beristirahat. Sebelum nanti bertemu
dengan seluruh malaikat utama dan panglima perang yang juga adalah sahabatnya
saat makan malam. Gadis itu butuh tidur yang cukup dan membersihkan diri
setelah perjalanan jauh ini.
Seperti sebuah keajaiban dalam negeri dongeng.
Dari luar tenda itu memang terlihat cukup besar, namun menurut perhitungan
Arra, tenda tersebut hanya akan muat di isi oleh satu ranjang ukuran single dan
itupun berada di bawah. Layaknya kemah pada umumnya.
Namun, begitu memasuki tenda bagian dalam.
Arra di buat takjub untuk ke sekian kalinya oleh keajaiban yang di perlihatkan
padanya setiap waktu. Bagian dalam tenda itu begitu luas dan mewah. Ada kursi
besar yang mirip sofa di sisi kiri dengan perapian di sebelahnya. Juga ada
ranjang besar dengan kelambu berwarna putih transparan yang menyelimuti
ranjangnya. Juga sebuah ruangan tertutup yang ternyata berisi kamar mandi
“Woahh… seperti masuk ke tenda Harry Potter…”
gumam gadis itu merasa sangat takjub.
Arra kemudian berkeliling ke seluruh bagian
tenda dan menyentuh hampir semua benda di dalamnya untuk mengetahui apa fungsi
dari setiap benda itu dan melihat apa yang akan terjadi jika dia menyentuh
benda tersebut. Sangat norak untuk ukuran gadis seperti Arra. Namun bisa di
anggap wajar karena ini pertama kalinya dia kembali melihat dengan kedua
matanya setelah sekian lama. Senyum di wajahnya pun terasa begitu merekah dan
bahagia. Gadis itu masih belum menyadari, kalau di tempat yang di penuhi para
malaikatpun, nyawanya bisa terancam kapanpun.
**
Ellard memegang kepala yang masih mengucurkan
darah segar itu dengan tangan kanannya. Matanya menyipit dan tatapannya begitu
tajam menusuk melihat wajah iblis yang tercetak disana. Dia heran, bagaimana
mungkin darah dari iblis itu sama sekali tak berhenti mengalir sementara
sepertinya iblis ini sudah terbunuh cukup lama.
“Dia di bunuh dengan pedang milik malaikat,”
ucap seseorang yang membuat kepala Ellard tertunduk seketika.
__ADS_1
“Tuanku…” ujar Panglima perang itu yang segera
melepaskan genggamannya dari benda menjijikkan tersebut.
“Pasti ada malaikat yang melintas di tempat
ini. Dan mereka bertarung…” ujar Darrick lagi dan memperhatikan dengan cermat
luka yang ada di sana.
“Tapi, para iblis di tempatkan di banyak sudut
tempat ini Tuanku. Dan tidak ada laporan dari mereka yang melihat sosok
malaikat manapun melewati lembah ini…” lapor Ellard.
Darrick menarik nafas panjang dan tertawa
kecil sambil melemparkan kepala itu dan menghancurkannya tanpa bekas. “Kau
piker ‘dia’ sebodoh itu sampai mau melewati tempat ini tanpa persiapan sama
sekali?” tanya Darrick.
“Maksud anda dengan dia adalah…”
“Siapa lagi menurutmu? Lihat saja bekas
lukanya, sekali tebas dan begitu tajam tanpa sempat memberikan kesempatan untuk
lawannya memberikan perlawanan apapun,” jawab Darrick yang membuat semuanya
terdiam. “Ellard, kau ikut denganku sekarang. Kita akan menemui seseorang yang
mampu membuat sang malaikat utama bertekuk lutut! Dan yang lainnya, siapkan
peperangannya. Perasaanku mengatakan, perang ini akan di mulai lebih cepat dari
prediksi kita sebelumnya…” ucap Darrick yang segera terbang menjauh dari itu,
di ikuti oleh Ellard yang juga terbang cepat di belakangnya.
**
Angin dingin tiba – tiba menyusup masuk ke
dalam tenda milik Arra yang membuat gadis itu menggeliat dalam tidurnya. Dia
menaikan selimutnya dan kembali berusaha memejamkan mata. Namun gadis itu
merasakan tirai di sana yang mulai tertiup angina dan terbuka hampir
seluruhnya. Membuat dirinya semakin tak nyaman dan membuat udara yang semula
sangat dingin berubah menjadi begitu panas.
Sementara itu, di luar tenda milik Arra.
Darrick dan Ellard sudah mulai terbang rendah dan mendekati area tenda dengan
sangat berhati – hati agar keberadaan mereka tak terlihat dan terasa oleh para
malaikat. Memiliki kemampuan semacam ini juga merupakan berkah bagi penguasa
neraka yang bisa membuatnya menyelinap kemanapun. Darrick yang kini sudah
terlebh dahulu turun dan menunggu sembari berjaga di luar tenda. Membiarkan
Ellard memasuki tenda dan dalam sekejap, buruan mereka sudah berada di tangan
Ellard yang langsung di bawa menjauh dari wilayah para malaikat untuk menuju ke
markas mereka.
****
__ADS_1