
Arra kini duduk di kursi sebuah kafe yang tengah tutup. Tepatnya di teras kafe tersebut yang memang biasanya di gunakan duduk siapapun. Matanya sudah bengkak, riasannya sudah hancur, hanya rambutnya saja yang masih cukup rapih setelah insiden kembalinya Arrio.
Arra bukan tak merindukan Arrio. Saat malaikat itu memeluknya tadi, dia merasa begitu hangat dan seolah sudah menemukan yang hilang dari dirinya selama beberapa waktu belakangan ini. Namun kemarahan dan rasa kecewa yang selama ini dirinya pendam seolah meledak, begitu Arra melihat wajah Arrio di hadapannya yang tanpa dosa
langsung menyerahkan buket bunga itu padanya.
“Maafkan aku karena baru bisa menemuimu setelah dua tahun ini. Aku tahu, waktu bergerak tak sama di sini dan di sana. Aku berusaha semaksimal mungkin agar bisa pulang kembali padamu lebih cepat, meskipun akhirnya tidak bisa. Ada banyak hal yang terjadi setelah kau pergi, bahkan… kami hampir berperang lagi. Itu sebabnya aku
sedikit lebih lama di sana dan memastikan bahwa tidak akan ada masalah lagi setelah ini. Dan aku bisa tenang tinggal di sini bersamamu,” jelas Arrio.
“Bohong! Kau pasti sudah punya perempuan lain. Bidadari yang lebih cantik dari aku dan dia menemanimu selama di sana. Makanya kau lupa padaku dan tak pernah ke sini sedikit pun untuk memberi kabar! Iya, kan?” gerutu Arra sambil terus menangis.
“Ya Tuhan, sayangku…. Bagaimana mungkin aku meninggalkan dan melupakan kamu? Apalagi sampai mengkhianati kamu dengan bidadari lainnya saat aku sudah punya kau… bidadari paling cantik di seluruh surga dan bahkan di dunia.” Arrio membelai wajah Arra dengan lembut.
“Perayu! Aku benci padamu!”
“Aku juga mencintaimu, Sayang,” kata Arrio lagi.
“Aku kan tidak bilang aku mencintaimu!” protes Arra.
“Itu, kau baru saja mengatakannya, hm?” sergah Arrio.
“Dasar curang! Pokoknya aku tidak mau memaafkanmu! Aku tidak mau bicara padamu! Minggir!” pinta Arra, berlalu dari hadapan Arrio lagi. Langkah gadis itu semakin cepat hingga Arrio hampir saja menggunakan kedua sayapnya untuk mengejar Arra kalau saja tak ingat di mana dia berada saat ini.
__ADS_1
**
“Aku tahu aku melakukan kesalahan besar dengan membiarkanmu sendirian dan tidak memberi kabar sedikitpun selama ini. Tapi percayalah padaku. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu sedikitpun, bahkan tidak berniat untuk melakukan itu. Aku hanya sedang mengurus banyak hal yang ternyata jauh lebih rumit dari perkiraan dan perlu waktu lebih banyak untuk diselesaikan. Maaf,” jelas Arrio lagi.
Mereka seolah tak memedulikan pandangan orang-orang sekitar yang aneh melihat sepasang kekasih
menangis sambil berpelukan seperti orang gila di pinggir jalanan Oxford. Bagi Arrio, menenangkan Arra dan mendapatkan maaf dari gadis itu jauh lebih penting ketimbang memikirkan ocehan orang lain.
Mungkin karena tak tahu bagaimana orang lain tengah menatapnya, Arra itu tak peduli. “Di sana banyak bidadari yang cantik, bahkan lebih cantik dariku.” Arra menaikkan wajahnya, menatap Arrio dengan penuh air mata yang tampak menggemaskan.
“Kata siapa mereka lebih cantik?” tanya Arrio.
“Kata aku, Rio! Aku pernah melihat mereka selama aku tinggal di sana dulu,” jawab Arra.
“Kau tadi bilang aku cantik sekali, artinya… aku juga bisa jadi membosankan?” tanya Arra. Arrio terkesiap, “Astaga! Bukan itu maksudku, Sayang. Mereka itu hanya cantik, tapi kau… Chiarra, adalah gadis yang cantik, manis, cerewet, menyebalkan, pemarah, tapi juga selalu membuatku rindu. Kau jauh lebih dari mereka, Sayang. Tidak ada yang bisa melebihi dirimu.”
“Boh—”
Arrio mengecup singkat bibir Arra dan tersenyum. “Kita bicarakan ini di rumah saja, ya. Aku tidak mau kita jadi tontonan di sini.”
“Terserah! Aku sudah tak peduli lagi, aku mau pulang. Dan kau! Jangan pernah berani mengikutiku. Pergi saja lagi sana!” usir Arra dan berbalik meninggalkan Arrio sekali lagi yang sudah bertambah frustasi.
**
__ADS_1
Tapi bukan Arrio namanya, kalau langsung menyerah menggapai maaf dari gadisnya. Layaknya dulu, saat dia harus bergelut dengan Andrew dan segala keadaan yang ada untuk bisa memiliki Arra di sisinya. Dia tak akan melepaskan gadisnya begitu saja karena kemarahan dan kesalah pahaman ini. Bagaimanapun caranya, tak peduli jika Arrio harus melakukan segala yang dia benci pun. Dia pastikan untuk di lakukan, demi Arra. Demi mendapat maaf dan ampunan dari gadis yang begitu di cintainya.
Dengan langkah perlahan, Arrio menjejakkan kakinya di balkon kamar Arra. Mengintip si gadis yang tengah menangis dari balik jendela yang tak tertutup tirai. Hati Arrio hancur mendengar isakan tangis Arra. Entah berapa luka yang sudah di goreskan oleh malaikat itu pada pasangannya. Janjinya untuk melindungi Arra dan janjinya
untuk tak pernah lagi meninggalkan Arra dalam keadaan apapun sudah teringkar.
Arrio kemudian masuk perlahan dan mendekati gadisnya. Arra sepertinya tahu, karena dia langsung berbalik dan melangkah mundur, menjauhi jangkauan Arrio.
“Arra… aku mohon sayang, aku minta maaf padamu…”
“Aku tak mau memaafkanmu. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Sesak dan sangat sakit disini!” gertak gadis itu lagi sembari menunjuk pada dadanya.
“Aku tahu sayang… aku tahu… maka itu tolong… tolong maaf kan aku sayang, aku jan--” Arrio menghentikan ucapannya sendiri dan kembali menatap Arra, “Aku tak akan meninggalkanmu. Aku bersumpah! Demi apapun dan demi nyawaku sendiri… aku tak akan pernah meninggalkanmu… selamanya…” tegas Arrio.
Mendengar ucapan Arrio, hati Arra mencelos dan tubuhnya mendadak lemas hingga dia jatuh dan terduduk di lantai. Tangisnya kembali pecah hingga Arrio dengan cepat kembali merengkuh tubuh Arra ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggungnya dan menangkup wajah Arra lalu menghujaninya dengan banyak kecupan dan ciuman lembut.
“Maafkan aku sayang, aku minta maaf… maafkan aku… maafkan aku…” lirih malaikat itu di telinga gadisnya yang kini mulai menerima pelukannya dan membalas pelukan Arrio sambil menangis kencang.
“Aku sangat merindukanmu, Rio…”
“Aku juga, aku juga amat sangat merindukanmu… maafkan aku, aku salah besar meninggalkanmu seperti ini sayang… maafkan aku…” bisik Arrio kembali.
Dalam hatinya dia bersumpah tak akan melepaskan Arra lagi untuk kedua kalinya. Untuk alasan apapun.
__ADS_1
***