Cruel Fate

Cruel Fate
Part 25.1


__ADS_3

Arra sudah berdiri di tengah taman besar yang


letaknya di belakang rumah persembunyian mereka. Dia sudah tak sabar menunggu


apalagi yang akan di pelajarinya kali ini setelah kemarin bertemu dengan Jason.


Jason ternyata sangat baik dan sabar, juga telaten mengajarinya banyak hal. Dia


juga tak sungkan menjelaskan dengan detail setiap pertanyaan yang di ajukan


oleh gadis itu. Bahkan beberapa kali Jason terus mengajak Arra bergurau saat


dirinya sudah mulai kelelahan dan hampir putus asa. Pelajaran yang di berikan


Jason memang bukan pelajaran yang mudah untuk manusia yang masih amatir seperti


dirinya.


Namun, karakter Aksel yang sepertinya bertolak


belakang dengan Jason. Membuat gadis itu sangat penasaran bagaimana Aksel yang


merupakan malaikat paling muda itu mengajarinya. Apa dia akan banyak bermain,


atau justru jauh lebih serius dan mengerikan daripada Jason?


Pertanyaan yang ada dalam benak Arra kini


menguap seketika. Saat gadis itu mendengar kepakan sayap besar yang mendekat ke


arahnya, sayap dengan warna putih yang memiliki gradient warna biru itu sangat


indah, dan hampir tak terlihat. Seolah menyatu dengan langit dan awan di


atasnya. Arra sangat takjub, dia memandangi Aksel yang terbang sambil membuka


sedikit mulutnya tanpa sadar. Bola matanya juga mengikuti alur terbang malaikat


itu yang sepertinya memang sengaja melakukan sedikit akrobat di atas sana.


“Aku tahu kalau aku tampan, kak…” celetuk


Aksel yang kini sudah berdiri di hadapan Arra sambil tersenyum tipis.


“Kau memang sangat tampan.”Jawaban Arra yang


tegas membuat Aksel kembali tersenyum. “Tapi tetap Arrio yang terbaik untukku,”


lanjut gadis itu, kini dengan senyum yang puas.


“Cih! Jelas saja, kak Arra kan memang jodohnya


kak Arrio. Kalian sudah di takdirkan bersama. Jadi wajar kalau kakak merasa


seperti itu,” balas Aksel.


“Kau tak marah ya?” tanya Arra.


“Hanya kesal. Sedikit…” kata Aksel.


Arra tak lagi menanggapi ucapan Aksel, gadis


itu hanya membulatkan bibirnya hingga membentuk huruf ‘o’ dan mengangguk


singkat.


“Oke, kita tunda dulu untuk memuji


ketampananku kak. Karena hari ini aku akan mulai mengajari kakak untuk menjadi


penyembuh yang sesungguhnya.” Aksel kini mulai merubah raut wajahnya, jadi


sangat serius. “Kemarin Jason sudah mengajari kakak apa saja?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Uhm… mengajariku untuk berkomunikasi tanpa


menggunakan ponsel dan suara…” jawab Arra.


“Kalau begitu, sekarang kakak angkat kedua


tangan kakak.” Perintah Aksel.


“Seperti ini?” Arra mengikuti dengan mengangkat


tangannya mirip seperti pelaku kejahatan yang menyerahkan diri pada polisi.


“Tidak perlu sampai setinggi itu…” Aksel


mendekat dan menurunkan tangan gadis itu, dia memposisikan tangan Arra untuk


terangkat lurus ke depan dengan telapak tangan menghadap ke atas. “Kalau kakak


mengangkat tangan begitu, nanti kak Arrio akan memotong tanganku dengan kilatan


matanya karena sudah berani membuat calon istrinya seperti seorang penjahat,”


lanjut Aksel.


Arra terkekeh mendengar ucapan Aksel.


“Memangnya, Arrio segalak dan sekejam itu? Dia kan lembut dan sangat baik


hati,” ujar gadis itu dengan tatapan menyelidik pada Aksel.


“Hahaha… kakak tahu apa soal kak Arrio? Dia


memang akan menjadi malaikat yang paling lembut dan paling baik hati, hanya


jika dia berada di sisi orang – orang yang dia cintai. Seperti orangtuanya,


saudaranya, juga sahabatnya. Termasuk, untuk kakak, calon istrinya. Tapi kalau


di hadapan orang lain, bahkan musuhnya… dia bisa menjadi sosok yang paling


yang membuat Arra sangat terkejut.


“D-dia… begitu?” tanya Arra yang mendadak


merasa gugup.


“Dia akan berubah seperti itu, kalau dia tahu


orang yang dia cintai di sakiti. Jadi kakak tak perlu takut. Pun kak Arrio


tidak akan bisa menyakiti kakak semudah itu meskipun kalian bertengkar hebat


suatu saat nanti, mungkin…” kata Aksel lagi.


“Alasannya?” tanya Arra.


“Karena tangan kecil ini. Mampu menghancurkan


apapun yang di sentuh, jika kakak tak menghendakinya…” tukas Aksel, “dan itu


pula, yang akan kita pelajari hari ini….”


**


Arrio terus saja memandangi buku besar yang


sebelumnya di bawa oleh Arsen. Buku yang berisi gambar dan juga keterangan tentang


senjata mematikan yang kini di anggap menghilang bersamaan dengan hilangnya


sang pemilik sekaligus pengendali dari senjata tersebut.


“Kenapa?” tanya Athens.

__ADS_1


“Aku hanya merasa, kalau aku pernah melihat


busur yang ada di buku ini… tapi aku tak ingat dimana dan kapan aku


melihatnya…” jawab Arrio.


“Di tempat kita belajar berperang mungkin?


Dulu kita pernah di ajari soal banyak senjata malaikat yang biasa di gunakan


untuk berperang kan?” kata Athens.


Arrio hanya mengangguk dan melihat sekali lagi


senjata dalam gambar itu. Apa yang di katakan oleh Athens memang masuk akal,


mereka memang di kenalkan dengan banyak senjata malaikat sejak kecil dan masih


dalam tahap pembelajaran. Tapi rasanya, tak mungkin senjata ini di tunjukkan di


waktu tersebut. Karena Arsen saja baru tahu senjata ini saat membaca buku besar


ini, sementara Arsen adalah salah satu malaikat yang di kenal punya ingatan


yang begitu baik dan bahkan detail.


Arrio lalu berinisiatif, jika urusan senjata,


dia tahu bahwa Aksel adalah ahlinya dalam hal tersebut. Adik bungsunya itu


memang sosok yang sangat tertarik dengan penggunaan senjata ketimbang sekedar


mantra kuat yang khas di lakukan oleh seorang malaikat.


Malaikat itu kini mengambil sebuah perkamen


dan alat untuk menulis, dia kemudian duduk dan memperhatikan gambar senjata


itu, untuk kemudian di gambar ulang olehnya di atas perkamen putih tersebut.


Arrio menggambar dengan cukup detail, hingga lekuk ukiran dalam senjata itu


pula di gambar dengan baik oleh malaikat itu. Dia juga tak lupa membubuhnya keterangan


mendasar mengenai benda tersebut sebelum membubuhkan tanda tangannya di akhir


surat itu.


Arrio kemudian memanggil satu sosok yang tak


lain adalah seekor burung Phoenix dengan bulu berwarna merah, kuning dan biru


tua. Burung itu nampak begitu gagah dengan pandangan mata yang sangat tajam.


Phoenix itu memang sosok binatang yang menjadi pendamping bagi Arrio. Dimana


setiap malaikat akan memiliki satu binatang yang akan menjadi alat mereka


menyampaikan pesan atau melakukan tugas apapun yang berkaitan dengan kewajiban


mereka sebagai seorang malaikat.


“Sudah lama aku tak memanggilmu…” kata Arrio


saat Phoenix nya sudah bertengger di lengan sebelah kanannya. “Kau tahu rumah


kita yang dulu kan? Pergilah kesana dan temui Aksel, bawakan surat ini padanya.


Dan jangan kembali, sebelum dia memberikan jawabannya padamu…” pinta Arrio.


Phoenix itu langsung pergi, terbang menjauhi


Arrio menuju ke tempat Aksel. Sementara itu, Arrio harus menemui seseorang.

__ADS_1


Seseorang, yang memulai peperangan ini.


****


__ADS_2