
Arra sudah berdiri di tengah taman besar yang
letaknya di belakang rumah persembunyian mereka. Dia sudah tak sabar menunggu
apalagi yang akan di pelajarinya kali ini setelah kemarin bertemu dengan Jason.
Jason ternyata sangat baik dan sabar, juga telaten mengajarinya banyak hal. Dia
juga tak sungkan menjelaskan dengan detail setiap pertanyaan yang di ajukan
oleh gadis itu. Bahkan beberapa kali Jason terus mengajak Arra bergurau saat
dirinya sudah mulai kelelahan dan hampir putus asa. Pelajaran yang di berikan
Jason memang bukan pelajaran yang mudah untuk manusia yang masih amatir seperti
dirinya.
Namun, karakter Aksel yang sepertinya bertolak
belakang dengan Jason. Membuat gadis itu sangat penasaran bagaimana Aksel yang
merupakan malaikat paling muda itu mengajarinya. Apa dia akan banyak bermain,
atau justru jauh lebih serius dan mengerikan daripada Jason?
Pertanyaan yang ada dalam benak Arra kini
menguap seketika. Saat gadis itu mendengar kepakan sayap besar yang mendekat ke
arahnya, sayap dengan warna putih yang memiliki gradient warna biru itu sangat
indah, dan hampir tak terlihat. Seolah menyatu dengan langit dan awan di
atasnya. Arra sangat takjub, dia memandangi Aksel yang terbang sambil membuka
sedikit mulutnya tanpa sadar. Bola matanya juga mengikuti alur terbang malaikat
itu yang sepertinya memang sengaja melakukan sedikit akrobat di atas sana.
“Aku tahu kalau aku tampan, kak…” celetuk
Aksel yang kini sudah berdiri di hadapan Arra sambil tersenyum tipis.
“Kau memang sangat tampan.”Jawaban Arra yang
tegas membuat Aksel kembali tersenyum. “Tapi tetap Arrio yang terbaik untukku,”
lanjut gadis itu, kini dengan senyum yang puas.
“Cih! Jelas saja, kak Arra kan memang jodohnya
kak Arrio. Kalian sudah di takdirkan bersama. Jadi wajar kalau kakak merasa
seperti itu,” balas Aksel.
“Kau tak marah ya?” tanya Arra.
“Hanya kesal. Sedikit…” kata Aksel.
Arra tak lagi menanggapi ucapan Aksel, gadis
itu hanya membulatkan bibirnya hingga membentuk huruf ‘o’ dan mengangguk
singkat.
“Oke, kita tunda dulu untuk memuji
ketampananku kak. Karena hari ini aku akan mulai mengajari kakak untuk menjadi
penyembuh yang sesungguhnya.” Aksel kini mulai merubah raut wajahnya, jadi
sangat serius. “Kemarin Jason sudah mengajari kakak apa saja?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Uhm… mengajariku untuk berkomunikasi tanpa
menggunakan ponsel dan suara…” jawab Arra.
“Kalau begitu, sekarang kakak angkat kedua
tangan kakak.” Perintah Aksel.
“Seperti ini?” Arra mengikuti dengan mengangkat
tangannya mirip seperti pelaku kejahatan yang menyerahkan diri pada polisi.
“Tidak perlu sampai setinggi itu…” Aksel
mendekat dan menurunkan tangan gadis itu, dia memposisikan tangan Arra untuk
terangkat lurus ke depan dengan telapak tangan menghadap ke atas. “Kalau kakak
mengangkat tangan begitu, nanti kak Arrio akan memotong tanganku dengan kilatan
matanya karena sudah berani membuat calon istrinya seperti seorang penjahat,”
lanjut Aksel.
Arra terkekeh mendengar ucapan Aksel.
“Memangnya, Arrio segalak dan sekejam itu? Dia kan lembut dan sangat baik
hati,” ujar gadis itu dengan tatapan menyelidik pada Aksel.
“Hahaha… kakak tahu apa soal kak Arrio? Dia
memang akan menjadi malaikat yang paling lembut dan paling baik hati, hanya
jika dia berada di sisi orang – orang yang dia cintai. Seperti orangtuanya,
saudaranya, juga sahabatnya. Termasuk, untuk kakak, calon istrinya. Tapi kalau
di hadapan orang lain, bahkan musuhnya… dia bisa menjadi sosok yang paling
yang membuat Arra sangat terkejut.
“D-dia… begitu?” tanya Arra yang mendadak
merasa gugup.
“Dia akan berubah seperti itu, kalau dia tahu
orang yang dia cintai di sakiti. Jadi kakak tak perlu takut. Pun kak Arrio
tidak akan bisa menyakiti kakak semudah itu meskipun kalian bertengkar hebat
suatu saat nanti, mungkin…” kata Aksel lagi.
“Alasannya?” tanya Arra.
“Karena tangan kecil ini. Mampu menghancurkan
apapun yang di sentuh, jika kakak tak menghendakinya…” tukas Aksel, “dan itu
pula, yang akan kita pelajari hari ini….”
**
Arrio terus saja memandangi buku besar yang
sebelumnya di bawa oleh Arsen. Buku yang berisi gambar dan juga keterangan tentang
senjata mematikan yang kini di anggap menghilang bersamaan dengan hilangnya
sang pemilik sekaligus pengendali dari senjata tersebut.
“Kenapa?” tanya Athens.
__ADS_1
“Aku hanya merasa, kalau aku pernah melihat
busur yang ada di buku ini… tapi aku tak ingat dimana dan kapan aku
melihatnya…” jawab Arrio.
“Di tempat kita belajar berperang mungkin?
Dulu kita pernah di ajari soal banyak senjata malaikat yang biasa di gunakan
untuk berperang kan?” kata Athens.
Arrio hanya mengangguk dan melihat sekali lagi
senjata dalam gambar itu. Apa yang di katakan oleh Athens memang masuk akal,
mereka memang di kenalkan dengan banyak senjata malaikat sejak kecil dan masih
dalam tahap pembelajaran. Tapi rasanya, tak mungkin senjata ini di tunjukkan di
waktu tersebut. Karena Arsen saja baru tahu senjata ini saat membaca buku besar
ini, sementara Arsen adalah salah satu malaikat yang di kenal punya ingatan
yang begitu baik dan bahkan detail.
Arrio lalu berinisiatif, jika urusan senjata,
dia tahu bahwa Aksel adalah ahlinya dalam hal tersebut. Adik bungsunya itu
memang sosok yang sangat tertarik dengan penggunaan senjata ketimbang sekedar
mantra kuat yang khas di lakukan oleh seorang malaikat.
Malaikat itu kini mengambil sebuah perkamen
dan alat untuk menulis, dia kemudian duduk dan memperhatikan gambar senjata
itu, untuk kemudian di gambar ulang olehnya di atas perkamen putih tersebut.
Arrio menggambar dengan cukup detail, hingga lekuk ukiran dalam senjata itu
pula di gambar dengan baik oleh malaikat itu. Dia juga tak lupa membubuhnya keterangan
mendasar mengenai benda tersebut sebelum membubuhkan tanda tangannya di akhir
surat itu.
Arrio kemudian memanggil satu sosok yang tak
lain adalah seekor burung Phoenix dengan bulu berwarna merah, kuning dan biru
tua. Burung itu nampak begitu gagah dengan pandangan mata yang sangat tajam.
Phoenix itu memang sosok binatang yang menjadi pendamping bagi Arrio. Dimana
setiap malaikat akan memiliki satu binatang yang akan menjadi alat mereka
menyampaikan pesan atau melakukan tugas apapun yang berkaitan dengan kewajiban
mereka sebagai seorang malaikat.
“Sudah lama aku tak memanggilmu…” kata Arrio
saat Phoenix nya sudah bertengger di lengan sebelah kanannya. “Kau tahu rumah
kita yang dulu kan? Pergilah kesana dan temui Aksel, bawakan surat ini padanya.
Dan jangan kembali, sebelum dia memberikan jawabannya padamu…” pinta Arrio.
Phoenix itu langsung pergi, terbang menjauhi
Arrio menuju ke tempat Aksel. Sementara itu, Arrio harus menemui seseorang.
__ADS_1
Seseorang, yang memulai peperangan ini.
****