Cruel Fate

Cruel Fate
Part 21.2


__ADS_3

Arrio yang melihat itu tak tinggal diam, dia segera melesat


lebih cepat dan membawa Arra semakin menjauh dari jangkauan para iblis yang


datang bersamaan. Dan saat yang sama pula, Aksel dan Jason memulai tugas mereka


menghalau para iblis dengan kekuatannya.


“Ton


Anemo!”Aksel menengadahkan tangan kanannya dan menciptakan angin besar


di tangannya lalu segera menghempaskan setiap serangan itu dengan angin yang di


ciptakan olehnya, tak membiarkan satupun serangan itu menyentuh kulit Arra


maupun Arrio.


Di sisi lain, Jason terus bergerak ke sisi kanan dan kiri dari


Arrio dan Arra untuk menebas kepala setiap iblis yang berusaha membunuh sang


kakak dan adiknya, Aksel. Dengan wajah dingin dan senyum yang terus terukir


jelas, namun matanya yang begitu tajam, dia mengayunkan pedang malaikatnya dan


membunuh setiap iblis itu tanpa ampun. Hingga mereka merasa kewalahan


menghadapi Jason.


Lalu salah satu iblis yang terlihat paling besar terbang cepat dan


mendekat dengan membawa pedang yang amat sangat besar dan berlumuran darah,


entah milik siapa.


“Cepat! Lebih cepat!” teriak Jason meminta sang kakak dan Aksel


untuk terbang lebih cepat sementara dia bersiap menghadang kehadiran si iblis


besar itu.


Iblis yang muncul di hadapan Jason tak lain adalah salah satu


makhluk yang paling di kutuk yang telah di bangkitkan oleh Darrick sebelumnya.


Iblis paling bengis dengan kekuatan yang besar.


Tapi Jason sama sekali bergeming dan tetap di sana, bersiap dengan


pedang yang ada di tangan kanannya. Pedang malaikat miliknya yang juga sudah


berlumur darah para iblis.


“Hahaha… menyingkirlah kau malaikat lemah!” ejek si iblis yang


melihat ukuran tubuh Jason yang jauh lebih kecil dari dirinya.


“Kenapa? Kau takut bertarung denganku?” balas Jason dengan wajah


keras dan pandangannya yang tajam.


“Aku justru sedang berusaha memberikan pengampunan atas nyawamu!”


pekik si iblis.


Jason tergelak mendengar ucapan iblis di hadapannya, “aku tak


butuh ampunan dari mu!!!!” teriaknya dan segera menyerang tanpa peringatan


sebelumnya.


Pedang yang di bawa oleh Jason kini mengeluarkan kilatan yang


menyilaukan dan mata pedangnya kini bertambah secara ajaib menjadi begitu


banyak dengan arah yang saling berlawanan. Dia mengayunkan pedangnya dan tanpa


di sangka oleh iblis besar itu, pedang yang di bawa Jason tak hanya menebas


tangannya, namun juga sebelah sayapnya dan salah satu telinganya. Membuatnya


mengerang kesakita dengan suara menggelegar.

__ADS_1


Darah dari iblis itu muncrat dan hampir mengenai tubuh Jason, yang


langsung di hindari oleh sang malaikat dan sambil mengucapkan mantra, Jason


mengembalikan cipratan darah itu dengan pedangnya ke arah sang iblis yang


akhirnya menggeram karena tubuhnya terbakar oleh darah kotor dan penuh dosa


miliknya sendiri.


Tubuhnya hancur lebur, berubah menjadi tetesan air berwarna merah


mirip air hujan.


Nafas Jason kini terengah – engah, tapi dia tersenyum puas dengan


hasil pertarungannya kali ini, karena dia menang telak.


**


Arrio terus bergerak maju dan menjauhi para iblis dengan Aksel


yang terbang di sampingnya dan menatap terus ke arah Arra dan berusaha keras


membuat gadis itu tetap nyaman dan tenang selama pelarian ini. Seolah mengerti


dengan apa yang di khawatirkan sang adik, kini Arrio pun tak tinggal diam.


“Fotia!” Arrio kini


menggerakkan tangannya hingga dia dan Arra seperti berada dalam lingkup api


berwarna biru yang begitu  besar menyala


dan sangat ganas. Api biru yang Arrio ciptakan kini mampu menghanguskan apapun


yang berusaha menembus pertahanannya.


“Aku sudah membereskan yang tadi, tapi mereka semakin banyak!


Cepatlah lagi! Kita tak punya banyak waktu!” teriak Jason pada Arrio yang


meminta sang kakak mempercepat kepakan sayapnya dan membawa Arra pergi lebih


jauh dari sana dengan Aksel yang mendampingi mereka juga. Sementara Jason terus


Darrick untuk membunuh Arrio dan Arra. Meskipun Jason tahu kalau Arrio tak akan


bisa di kalahkan atau di bunuh hanya oleh iblis rendahan seperti mereka. Namun


Arra, gadis itu adalah alasan lain kenapa dirinya perlu bertarung saat ini.


Tidak ada yang di ijinkan, untuk menyentuh Arra.


Mereka kini mulai menembus hutan yang gelap dan berada cukup jauh


dari Oxford. Kecepatan Arrio memang tak bisa di bandingkan oleh siapapun,


bahkan Aksel sekalipun yang sejak tadi cukup sulit mengimbangi kecepatan


terbang sang kakak. Serangan yang mereka terima kini semakin kecil dan perlahan


menghilang meskipun tak membuat Arrio mapun Aksel menurunkan kewaspadaan mereka


sedikitpun. Terlebih, matahari yang mulai turun di gantikan oleh cahaya bulan.


Iblis suka waktu seperti ini.


“Rio…” lirih Arra. Pegangannya semakin lemah, dia kelelahan


sekaligus kedinginan.


“Aku akan menghangatkanmu sayang,” lirih Arrio lagi, dia


mengarahkan api biru yang menyelubungi tubuh mereka untuk mendekat pada Arra


dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan api birunya.


Api yang terasa panas menyengat dan mampu membunuh iblis terkuat


seperti Darrick dengan satu sentuhan kecil itu, justru berubah menjadi begitu


hangat dan nyaman bagai selimut musim dingin saat menyentuh kulit Arra. Seolah

__ADS_1


dia sudah tahu siapa yang dia lindungi saat ini.


Nafas Arra kini sudah mulai lebih tenang, dan gadis itu akhirnya


jatuh tertidur dalam gendongan Arrio hingga mereka sampai ke sebuah rumah di


tengah hutan lebat. Dimana Arsen sudah lebih dulu sampai di sana dengan Jason.


Dan mereka kini tengah sama – sama merapalkan mantra untuk melingkupi rumah itu


dengan perisai raksasa. Agar rumah itu tak bisa di lihat, baik oleh mata


manusia dan terutama iblis.


“Tempatnya sudah dekat kak…” kata Aksel.


“Ya, aku sudah bisa melihat Arsen dari sini…” balas Arrio yang


bisa sedikit menghela nafas lega.


“Kakak turun duluan. Aku yang akan mengawasi dari sini selagi


kakak bawa Arra masuk ke dalam rumah,” ucap Aksel yang di setujui oleh Arrio.


Malaikat itu pun kini mengambil gerakan menukik dan turun melesat


dengan cepat menuju ke rumah yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Arsen,


Athens, Aksel dan Jason. Dia masuk ke dalam sana melalui balkon, dimana Arsen


telah menunnggu terlebih dahulu.


**


“Kau sudah sampai? Mana yang lain?” ujar Arsen merujuk pada kedua


adik Arrio.


“Aksel masih di atas, mengawasi keadaan sekaligus menunggu


kedatangan Jason.”


“Ya sudah…” Arsen melihat Arra yang sudah memucat dan tubuhnya


menggigil kedinginan, “bawa saja dulu dia masuk ke dalam. Setelah itu kau harus


langsung ke ruang kerja dan menemuiku. Ada hal penting yang harus aku


beritahukan padamu…” kata Arsen lagi.


“Hmm aku mengerti.” Arrio segera mengubah posisi gendongannya yang


semula Arra di gendong di punggungnya, kini gadis itu di gendong Arrio seperti


pengantin. Dan di bawa masuk ke dalam kamar khusus yang sudah di mantrai oleh


Arsen sesaat begitu dia sampai ke tempat persembunyian ini.


Sementara Arsen kembali melesat ke atas dan melihat keadaan


bersama dengan Aksel.


“Jason?” tanya Arsen.


“Sebentar lagi dia sampai…”


“Tutupi wilayah ini dengan kubah pelindung. Kau masih ingat


mantranya kan?” kata Arsen.


“Masih, aku sangat ingat itu.”


“Pergilah, dan mulai lakukan perlindungan itu. aku akan mengurus


bagian ini dan menunggu Jason sampai ke sini…” ujar Arsen lagi dan di turuti


oleh Aksel.


Malaikat muda itu mulai bergumam, membacakan mantra pelindung


khusus yang mampu membuat perisai luas ke seluruh wilayah yang di kehendaki.


Dia menggerakkan tangannya dan meluncurkan angin – angin kecil untuk

__ADS_1


membantunya menyebar mantra itu.


***


__ADS_2