
Arrio yang melihat itu tak tinggal diam, dia segera melesat
lebih cepat dan membawa Arra semakin menjauh dari jangkauan para iblis yang
datang bersamaan. Dan saat yang sama pula, Aksel dan Jason memulai tugas mereka
menghalau para iblis dengan kekuatannya.
“Ton
Anemo!”Aksel menengadahkan tangan kanannya dan menciptakan angin besar
di tangannya lalu segera menghempaskan setiap serangan itu dengan angin yang di
ciptakan olehnya, tak membiarkan satupun serangan itu menyentuh kulit Arra
maupun Arrio.
Di sisi lain, Jason terus bergerak ke sisi kanan dan kiri dari
Arrio dan Arra untuk menebas kepala setiap iblis yang berusaha membunuh sang
kakak dan adiknya, Aksel. Dengan wajah dingin dan senyum yang terus terukir
jelas, namun matanya yang begitu tajam, dia mengayunkan pedang malaikatnya dan
membunuh setiap iblis itu tanpa ampun. Hingga mereka merasa kewalahan
menghadapi Jason.
Lalu salah satu iblis yang terlihat paling besar terbang cepat dan
mendekat dengan membawa pedang yang amat sangat besar dan berlumuran darah,
entah milik siapa.
“Cepat! Lebih cepat!” teriak Jason meminta sang kakak dan Aksel
untuk terbang lebih cepat sementara dia bersiap menghadang kehadiran si iblis
besar itu.
Iblis yang muncul di hadapan Jason tak lain adalah salah satu
makhluk yang paling di kutuk yang telah di bangkitkan oleh Darrick sebelumnya.
Iblis paling bengis dengan kekuatan yang besar.
Tapi Jason sama sekali bergeming dan tetap di sana, bersiap dengan
pedang yang ada di tangan kanannya. Pedang malaikat miliknya yang juga sudah
berlumur darah para iblis.
“Hahaha… menyingkirlah kau malaikat lemah!” ejek si iblis yang
melihat ukuran tubuh Jason yang jauh lebih kecil dari dirinya.
“Kenapa? Kau takut bertarung denganku?” balas Jason dengan wajah
keras dan pandangannya yang tajam.
“Aku justru sedang berusaha memberikan pengampunan atas nyawamu!”
pekik si iblis.
Jason tergelak mendengar ucapan iblis di hadapannya, “aku tak
butuh ampunan dari mu!!!!” teriaknya dan segera menyerang tanpa peringatan
sebelumnya.
Pedang yang di bawa oleh Jason kini mengeluarkan kilatan yang
menyilaukan dan mata pedangnya kini bertambah secara ajaib menjadi begitu
banyak dengan arah yang saling berlawanan. Dia mengayunkan pedangnya dan tanpa
di sangka oleh iblis besar itu, pedang yang di bawa Jason tak hanya menebas
tangannya, namun juga sebelah sayapnya dan salah satu telinganya. Membuatnya
mengerang kesakita dengan suara menggelegar.
__ADS_1
Darah dari iblis itu muncrat dan hampir mengenai tubuh Jason, yang
langsung di hindari oleh sang malaikat dan sambil mengucapkan mantra, Jason
mengembalikan cipratan darah itu dengan pedangnya ke arah sang iblis yang
akhirnya menggeram karena tubuhnya terbakar oleh darah kotor dan penuh dosa
miliknya sendiri.
Tubuhnya hancur lebur, berubah menjadi tetesan air berwarna merah
mirip air hujan.
Nafas Jason kini terengah – engah, tapi dia tersenyum puas dengan
hasil pertarungannya kali ini, karena dia menang telak.
**
Arrio terus bergerak maju dan menjauhi para iblis dengan Aksel
yang terbang di sampingnya dan menatap terus ke arah Arra dan berusaha keras
membuat gadis itu tetap nyaman dan tenang selama pelarian ini. Seolah mengerti
dengan apa yang di khawatirkan sang adik, kini Arrio pun tak tinggal diam.
“Fotia!” Arrio kini
menggerakkan tangannya hingga dia dan Arra seperti berada dalam lingkup api
berwarna biru yang begitu besar menyala
dan sangat ganas. Api biru yang Arrio ciptakan kini mampu menghanguskan apapun
yang berusaha menembus pertahanannya.
“Aku sudah membereskan yang tadi, tapi mereka semakin banyak!
Cepatlah lagi! Kita tak punya banyak waktu!” teriak Jason pada Arrio yang
meminta sang kakak mempercepat kepakan sayapnya dan membawa Arra pergi lebih
jauh dari sana dengan Aksel yang mendampingi mereka juga. Sementara Jason terus
Darrick untuk membunuh Arrio dan Arra. Meskipun Jason tahu kalau Arrio tak akan
bisa di kalahkan atau di bunuh hanya oleh iblis rendahan seperti mereka. Namun
Arra, gadis itu adalah alasan lain kenapa dirinya perlu bertarung saat ini.
Tidak ada yang di ijinkan, untuk menyentuh Arra.
Mereka kini mulai menembus hutan yang gelap dan berada cukup jauh
dari Oxford. Kecepatan Arrio memang tak bisa di bandingkan oleh siapapun,
bahkan Aksel sekalipun yang sejak tadi cukup sulit mengimbangi kecepatan
terbang sang kakak. Serangan yang mereka terima kini semakin kecil dan perlahan
menghilang meskipun tak membuat Arrio mapun Aksel menurunkan kewaspadaan mereka
sedikitpun. Terlebih, matahari yang mulai turun di gantikan oleh cahaya bulan.
Iblis suka waktu seperti ini.
“Rio…” lirih Arra. Pegangannya semakin lemah, dia kelelahan
sekaligus kedinginan.
“Aku akan menghangatkanmu sayang,” lirih Arrio lagi, dia
mengarahkan api biru yang menyelubungi tubuh mereka untuk mendekat pada Arra
dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan api birunya.
Api yang terasa panas menyengat dan mampu membunuh iblis terkuat
seperti Darrick dengan satu sentuhan kecil itu, justru berubah menjadi begitu
hangat dan nyaman bagai selimut musim dingin saat menyentuh kulit Arra. Seolah
__ADS_1
dia sudah tahu siapa yang dia lindungi saat ini.
Nafas Arra kini sudah mulai lebih tenang, dan gadis itu akhirnya
jatuh tertidur dalam gendongan Arrio hingga mereka sampai ke sebuah rumah di
tengah hutan lebat. Dimana Arsen sudah lebih dulu sampai di sana dengan Jason.
Dan mereka kini tengah sama – sama merapalkan mantra untuk melingkupi rumah itu
dengan perisai raksasa. Agar rumah itu tak bisa di lihat, baik oleh mata
manusia dan terutama iblis.
“Tempatnya sudah dekat kak…” kata Aksel.
“Ya, aku sudah bisa melihat Arsen dari sini…” balas Arrio yang
bisa sedikit menghela nafas lega.
“Kakak turun duluan. Aku yang akan mengawasi dari sini selagi
kakak bawa Arra masuk ke dalam rumah,” ucap Aksel yang di setujui oleh Arrio.
Malaikat itu pun kini mengambil gerakan menukik dan turun melesat
dengan cepat menuju ke rumah yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Arsen,
Athens, Aksel dan Jason. Dia masuk ke dalam sana melalui balkon, dimana Arsen
telah menunnggu terlebih dahulu.
**
“Kau sudah sampai? Mana yang lain?” ujar Arsen merujuk pada kedua
adik Arrio.
“Aksel masih di atas, mengawasi keadaan sekaligus menunggu
kedatangan Jason.”
“Ya sudah…” Arsen melihat Arra yang sudah memucat dan tubuhnya
menggigil kedinginan, “bawa saja dulu dia masuk ke dalam. Setelah itu kau harus
langsung ke ruang kerja dan menemuiku. Ada hal penting yang harus aku
beritahukan padamu…” kata Arsen lagi.
“Hmm aku mengerti.” Arrio segera mengubah posisi gendongannya yang
semula Arra di gendong di punggungnya, kini gadis itu di gendong Arrio seperti
pengantin. Dan di bawa masuk ke dalam kamar khusus yang sudah di mantrai oleh
Arsen sesaat begitu dia sampai ke tempat persembunyian ini.
Sementara Arsen kembali melesat ke atas dan melihat keadaan
bersama dengan Aksel.
“Jason?” tanya Arsen.
“Sebentar lagi dia sampai…”
“Tutupi wilayah ini dengan kubah pelindung. Kau masih ingat
mantranya kan?” kata Arsen.
“Masih, aku sangat ingat itu.”
“Pergilah, dan mulai lakukan perlindungan itu. aku akan mengurus
bagian ini dan menunggu Jason sampai ke sini…” ujar Arsen lagi dan di turuti
oleh Aksel.
Malaikat muda itu mulai bergumam, membacakan mantra pelindung
khusus yang mampu membuat perisai luas ke seluruh wilayah yang di kehendaki.
Dia menggerakkan tangannya dan meluncurkan angin – angin kecil untuk
__ADS_1
membantunya menyebar mantra itu.
***