Cruel Fate

Cruel Fate
Part 33.2


__ADS_3

Suara teriakan kesakitan para iblis yang musnah di lalap habis oleh api hitam milik Arrio juga suara dari Phoenix yang mengabarkan kemenangan mereka di benteng musuh membuat langkah August yang sebelumnya ingin mendekat kini terhenti sejenak. Seluruh atensi dari semua yang berada di medan pertempuran kini beralih pada benteng milik para Iblis yang sudah mengobarkan api begitu besar di sana.


August tahu, dia sudah membuat sang malaikat utama marah. Dan kejadian ini, membuka lebar kedua


matanya. Bahwa bahkan, saat Arrio sendiri berada di hadapannya. Dia mampu menghancurkan markas besar musuhnya hanya dengan sebuah api kecil yang berubah menjadi mengerikan seperti ini.


Derrick sendiri sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Pandangan matanya langsung menatap begitu tajam pada Arrio yang berbalik memandangnya dengan perasaan lega.


Arra telah berhasil di selamatkan.


“Kau Brengsek!!!” teriak Darrick yang segera mengayunkan pedangnya, namun terhenti karena teriakan August yang memekakkan telinga semua yang ada di sana.


"HENTIKAN!" teriak August dengan sekuat tenaga.


Kini, hanya hembusan angin yang terdengar menyeruak di tengah keheningan dari dua pasukan besar tersebut.


August maju ke hadapan semua pasukan dan menatap Darrick dan Arrio dengan mata teduhnya bergantian. “Hentikan pertempuran ini, Darrick! Arrio!”


“Tidak bisa! Aku tak akan menghentikan ini semua sampai dendamku padanya terpenuhi! Aku tak akan


berhenti!” pekik Darrick.


“Kau tidak seharusnya memiliki dendam pada Arrio. Bukan dia yang membunuh ibu dan adik perempuanmu, Darrick!” tegas August. Suasana jadi sunyi saat suara August yang menggelegar terdengar. Darrick terlihat paling bingung di saat yang lainnya termasuk Arrio paham ke mana ujung arah pembicaraan.


“Akulah orang yang sudah membunuh mereka. Aku yang memberikan perintah mengeluarkan ayahmu


dari neraka atas dasar perjanjian di antara kami, dan aku juga yang sudah memberikan perintah untuk menyerang neraka malam itu. Aku pula orang yang sama,yang sudah membunuh ibu dan adik perempuanmu saat tahu Arrio menyelamatkan mereka.” Nada suara August berubah gemetar, namun penuh keyakinan dan tegas.


Matanya yang tajam terus memandang Darrick tanpa berkedip, menandakan bahwa dia sangat serius.


Di saat itu, baik Arrio maupun yang lain segera memejamkan mata. Kebenaran terungkap, meskipun

__ADS_1


sangat terlambat karena perang yang sudah terjadi.


“Jangan menipuku! Kalian merencanakan ini supaya aku mengehentikan perang ini, kan? Pengecut!”


Darrick masih penuh emosi.


August melemparkan perkamen putih pada Darrick, “Bacalah! Kau akan mengerti semuanya.”


Darrick segera membuka perkamen, membacanya dengan seksama. Sementara Arrio, Aiden, Arsen, dan


Athens mulai memberikan perintah untuk menurunkan senjata sementara waktu.


“Ini… apa maksud semua ini?” Darrick menatap ke arah August dan Arrio, meminta penjelasan dari


semuanya.


“Aku dan ayahmu, kami… punya satu musuh yang sama, dan itu adalah…,” August menatap Arrio, “ayah


August menunduk, “Kami merasa keberadaan Arrio dan keluarganya merupakan penghalang besar untuk


kami mencapai tujuan masing-masing. Karena itu, kami sepakat untuk bekerja sama menyingkirkan keluarga Arrio. Terutama, Arrio yang menjadi calon pemimpin dari Malaikat Utama dan Ayahnya yang sangat di segani.”


“Lalu, kau mengirim ayahku keluar dari rumah bersamaku?” tanya Darrick.


“Hm, kau benar. Penyerangan itu memang harusnya ada, tapi dari pihak iblis ke pihak malaikat, dengan ayaHmu yang menjadi pemimpinnya. Setelah itu, aku yang akan menjadi penyelamat dari perang itu dan merangkul ayahmu


masuk ke dalam lingkaran kami. Nyatanya… rencana itu sudah terlebih dahulu diketahui oleh malaikat utama yang lain. Pimpinan tertinggi kami pun meminta agar para malaikat menyerang terlebih dahulu dan menghancurkan para iblis malam itu,” jelas August.


“Bedebah!” lirih Darrick dengan nada sinis.


“Kami melakukan ini juga untukmu, dan putraku… Aiden,” ujar August lagi.

__ADS_1


“Kau juga yang membunuh ibu dan adikku. Kenapa?” tanya Darrick.


“Mereka adalah saksi tentang kerjasama ini. Dan saksi itu, tak bisa aku biarkan hidup.” Jawaban August sontak membuat darah Darrick mendidih. Jiwa iblisnya seolah terbakar penuh emosi kemarahan dan menarik busur panah, mengarahkan tembakan pada Aiden.


Jleb!


Satu tembakan lolos, tepat mengenai dada kanan Aiden yang langsung ambruk karena tidak siap menerima serangan mendadak.


“AIDEN!” Semua yang ada di sana berteriak dan berlari mendekat, sementara Arrio yang sejak awal telah menghunuskan pedangnya ke arah sang penguasa neraka pun sontak melayangkan pedang miliknya, dan menusuk perut Darrick hingga iblis itu mengeluarkan darah dari bibirnya dan ambruk selagi pedang Arrio masih menancap.


“Maafkan… aku,” ucap Darrick dengan suara bergetar di hadapan Arrio. Tampaknya Arrio sendiri cukup terkejut dengan apa yang dilakukan karena kemarahannya yang sudah memuncak.


Seluruh Iblis lari tunggang langgang dan bubar setelah melihat pemimpin tertinggi mereka tewas dengan tragis. Mayatnya yang tergeletak di tanah dengan darah seolah menampar keras Arrio yang telah membunuh sahabatnya sendiri.


“Arrio! Cepat!” teriak Arsen menghancurkan kesedihan Arrio tadi, melihat Aiden yang juga terkapar, tapi masih hidup. Dengan cepat, mereka membawanya kembali ke tenda.


***


Arra, Aksel, dan Jason baru saja memasuki wilayah tenda para malaikat bersama tubuh Aiden yang penuh luka.


“Aiden?” Arra terkejut melihat darah di tubuh Aiden.


“Arra! Ya Tuhan!” Arrio mengejar Arra dan memeluk erat gadis itu dengan erat. “Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” tanya Arrio sambil mengecek semua sisi tubuh gadis itu. Dia sangat lega bisa melihat Arra dalam keadaan baik-baik saja meskipun baru melihatnya sekilas.


Arra mengangguk, “Aku baik-baik saja, Sayang. Kau bagaimana?”


Arrio tersenyum sambil mengangguk. “Aiden….”


Arra sadar, langsung berbalik dan menatap Arrio sesaat sebelum akhirnya Arrio mengangguk lagi dan mengajaknya masuk ke tenda tempat Aiden berada. Arra segera merangsek masuk di antara kerumunan.


“Siapa kau?” tanya salah satu panglima malaikat yang dibawa August.

__ADS_1


****


__ADS_2