
Arra yang sebelumnya
tertidur kini mulai bangun dan sedikit mendapatkan kesadaran saat merasakan
sentuhan lembut di kepalanya dan merasakan ada cahaya yang begitu terang yang
hampir membuatnya merasakan cahaya kembali di kedua matanya. Dan nyatanya, apa
yang di rasakan oleh Arra memang benar.
Sebuah cahaya putih yang begitu terang dan juga cerah masuk
melalui jendela besar di kamar itu. cahaya yang jika di perhatikan lebih dalam
lagi, akan membentuk siluet sesosok makhluk bersayap dengan aura kuat di
sekitarnya.
Sentuhan lembut yang menenangkan dan terasa hangat itu kini
menyentuh tangan gadis itu.
“S-siapa itu!” pekik Arra yang cukup terkejut dengan apa
yang di rasakannya saat ini.
“Tenanglah Arra, ini aku… Aiden…” jawab sosok yang kini
berusaha kembali menyentuh tangan Arra.
“Aiden? Aiden temannya Arrio?” tanya Arra dengan ragu –
ragu.
“Hmm… kau benar, ini aku… Aiden. Sahabat baik Arrio…” suara
lembut Aiden kini menyapa telinga Arra dan entah bagaimana membuat gadis itu
lebih tenang dan juga percaya dengan apa yang Aiden katakan padanya.
Arra kini membiarkan Aiden mendekatinya dan menyentuh
tangannya.
Sementara itu Aiden mulai berlutut dan memandang wajah Arra
yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan tatapan mata kosong juga polos khas
dirinya. Tatapan mata yang beberapa tahun lalu juga di lihat oleh Aiden dan di
ambil cahayanya oleh malaikat itu tanpa di sadari olehnya.
---Flashback---
Satu sosok malaikat
yang cukup berusia kini berdiri di tengah ruangan yang serba putih dengan
dekorasi khas jaman dulu dan memandang langit berwarna putih juga biru yang
nampak di jendela ruangannya. Dia tahu pintu ruangannya terbuka, namun dia
bergeming dan tetap berada di posisinya sambil terus memandang langit itu.
“Ayah memanggilku?”
tanya satu malaikat lagi yang baru saja
masuk.
August… malaikat yang
memandang langit dan juga adalah ayah kandung Aiden itu kini berbalik dan
memasang wajah serius di hadapan sang ayah.
“Ada tugas khusus yang
harus kau lakukan sendiri nak…” ujar August pada Aiden.
“Tugas apa ayah? Apa
sepenting itu? kenapa tidak meminta Arrio jika tugas ini sangat penting sampai
ayah seperti ini…” ucap Aiden lagi.
Raut wajah August
mendadak berubah saat Aiden menyebutkan nama Arrio di hadapannya.
__ADS_1
“Kau putra ayah. Bukan
Arrio. Itu sebabnya ayah memintamu, dan lagi… tugas ini juga untuk keselamatan
semua orang…” kata August sekali lagi.
“Tugas apa itu ayah?”
tanya Aiden lagi.
“Ada seorang gadis
yang sangat berbahaya karena memiliki mata iblis dan sekarang hidup di bumi
sebagai manusia biasa…” kata August yang jelas saja membuat Aiden terkejut.
“B-bagaimana mungkin
manusia bisa memiliki mata iblis ayah?”
“Ada iblis yang masuk
ke dalam tubuhnya dan meninggalkan hal itu sebagai sebuah kutukan untuk dirinya
dan keluarganya,” kata August lagi.
“Lalu, apa yang harus
aku lakukan dengan hal itu? aku jelas tak bisa--”
“Kau bisa mengambil
penglihatannya dan membuat mata iblis itu hilang dari dirinya,” August kini
melihat ke arah jam dinding yang berdetak, “dia akan merenggut nyawa seluuh
keluarganya dalam waktu yang tak lama lagi. Kalau kau berhasil, kau bisa
menyelamatkan mereka dan mengambil mata iblis itu dari tubuhnya. Namun… jika
saat sampai disana ternyata mereka sudah menjadi korban, maka jangan ragu untuk
mengambil mata iblis itu dari gadis yang menjadi satu – satunya orang yang
selamat dari peristiwa itu…” perintah August pada Aiden, putranya.
“Maksud ayah… aku
“Ya… ambil semua
cahaya dari matanya dan jangan biarkan kedua mata itu memancarkan bahaya yang
akan membuat dirinya sendiri bahkan orang lain terancam oleh keberadaannya…”
tegas August di akhir permintaannya pada Aiden.
**
Aiden bergerak cepat
setelah mendapat tugas dari sang ayah, dia sama sekali tak membicarakan hal ini
pada siapapun dan bergerak sesenyap mungkin sampai tak ada satupun yang
menyadari dirinya turun ke bumi saat ini dan melihat tragedy mengenaskan dimana
sebuah mobil mengalami kecelakaan hebat dan membuat seorang remaja perempuan
terlempar jauh ke dalam jurang dengan kondisi luka yang mengenaskan sementara
kedua orang tuanya masih berada di dalam mobil dan terjebak.
Mirisnya, remaja
perempuan itu melihat bagaimana mobil yang masih memuat kedua orang tuanya itu
meledak dan terbakar dengan api yang menjilat ke langit dengan ganasnya. Dia
menangis terisak dan bodohnya Aiden saat itu adalah, tangannya dengan begitu
ringan mengarahkan jilatan api itu menuju ke arah si gadis hingga dia kehilangan
penglihatannya karena kornea matanya yang rusak.
Itu adalah kali
terakhir Arra, gadis itu… melihat kedua orang tuanya. Karena bahkan saat
pemakaman kedua orang tuanya pun, Arra sama sekali tak bisa hadir apalagi
__ADS_1
memberikan bunga terakhir untuk orang tuanya itu.
---End---
Aiden kini menunduk dan berlinang air mat, dia tak mampu
melihat wajah Arra yang begitu polos dan nampak sangat bekilau di matanya.
“Maafkan aku Arra… maafkan aku…” gumam Aiden lagi.
“Kenapa kau harus minta maaf? Apa kau mau melukaiku?” tanya
Arra dengan nada menyelidik.
“Tidak… (karena aku
sudah melakukannya…),” jawab Aiden.
“Lalu karena apa?” tanya Arra lagi, dia jujur begitu bingung
sekarang. “Aiden… apa kau kesini untuk menemuiku atau sebenarnya ingin bertemu
dengan Arrio? Kenapa kau mendadak minta maaf padaku?”
“Karena aku pernah mengambil sebuah cahaya suci darimu… tapi
sekarang, aku akan berusaha untuk mengembalikan apa yang telah aku renggut
darimu Arra…” ujar Aiden lagi.
“M-maksudmu?” Arra semakin takut sekarang dan berusaha melepaskan
genggaman tangan Aiden.
“Percayalah padaku Arra. Untuk saat ini saja, aku tak akan
melukaimu. Aku hanya akan… memberikanmu hadiah kecil sebagai penebus
kesalahanku yang lalu…” ucap Aiden lagi.
“Apa yang mau kau lakukan padaku?” tanya Arra.
“Tutup saja matamu, dan jangan bergerak. Apapun yang kau
rasakan, sampai aku mengijinkanmu membuka mata…” pinta Aiden dengan nada bicara
yang begitu halus dan tulus.
Arra akhirnya menuruti permintaan Aiden karena dirinya juga
sangat penasaran dengan apa yang akan Aiden lakukan untuknya kali ini. Dia
berpikir bahwa Arrio lah yang mungkin mengirim Aiden kesini untuk memberikan
hadiah. Meskipun dia juga masih janggal dengan kemungkinan yang di ciptakannnya
sendiri.
Gadis itu menutup matanya rapat dan membiarkan apapun yang
kini mungkin terjadi pada dirinya.
Dia merasakan sebuah tangan kini menutup kedua matanya dan
menyebarkan rasa dingin juga hangat yang berulang – ulang hingga beberapa waktu
berselang. Dan dia merasakan ada sesuatu yang melesak masuk ke dalam bola
matanya.
Hingga…
“Kau boleh membuka kedua matamu sekarang Arra…” kata Aiden
lagi.
Arra kini menuruti lagi ucapan Aiden dan mulai membuka
matanya perlahan, dan dia merasa sangat janggal dengan cahaya yang begitu
terang kini mulai di rasakan masuk ke dalam matanya. Arra yang terkejut kembali
menutup matanya, namun dengan genggaman erat tangan Aiden yang seolah
meyakinkan dirinya. Kini Arra kembali membuka perlahan kedua kelopak matanya.
Dan apa yang Arra rasakan membuatnya begitu terkejut hingga
tak bisa mengucapkan apapun.
__ADS_1
***