Cruel Fate

Cruel Fate
Part 22.2


__ADS_3

 Arra yang sebelumnya


tertidur kini mulai bangun dan sedikit mendapatkan kesadaran saat merasakan


sentuhan lembut di kepalanya dan merasakan ada cahaya yang begitu terang yang


hampir membuatnya merasakan cahaya kembali di kedua matanya. Dan nyatanya, apa


yang di rasakan oleh Arra memang benar.


Sebuah cahaya putih yang begitu terang dan juga cerah masuk


melalui jendela besar di kamar itu. cahaya yang jika di perhatikan lebih dalam


lagi, akan membentuk siluet sesosok makhluk bersayap dengan aura kuat di


sekitarnya.


Sentuhan lembut yang menenangkan dan terasa hangat itu kini


menyentuh tangan gadis itu.


“S-siapa itu!” pekik Arra yang cukup terkejut dengan apa


yang di rasakannya saat ini.


“Tenanglah Arra, ini aku… Aiden…” jawab sosok yang kini


berusaha kembali menyentuh tangan Arra.


“Aiden? Aiden temannya Arrio?” tanya Arra dengan ragu –


ragu.


“Hmm… kau benar, ini aku… Aiden. Sahabat baik Arrio…” suara


lembut Aiden kini menyapa telinga Arra dan entah bagaimana membuat gadis itu


lebih tenang dan juga percaya dengan apa yang Aiden katakan padanya.


Arra kini membiarkan Aiden mendekatinya dan menyentuh


tangannya.


Sementara itu Aiden mulai berlutut dan memandang wajah Arra


yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan tatapan mata kosong juga polos khas


dirinya. Tatapan mata yang beberapa tahun lalu juga di lihat oleh Aiden dan di


ambil cahayanya oleh malaikat itu tanpa di sadari olehnya.


---Flashback---


Satu sosok malaikat


yang cukup berusia kini berdiri di tengah ruangan yang serba putih dengan


dekorasi khas jaman dulu dan memandang langit berwarna putih juga biru yang


nampak di jendela ruangannya. Dia tahu pintu ruangannya terbuka, namun dia


bergeming dan tetap berada di posisinya sambil terus memandang langit itu.


“Ayah memanggilku?”


tanya satu malaikat lagi yang  baru saja


masuk.


August… malaikat yang


memandang langit dan juga adalah ayah kandung Aiden itu kini berbalik dan


memasang wajah serius di hadapan sang ayah.


“Ada tugas khusus yang


harus kau lakukan sendiri nak…” ujar August pada Aiden.


“Tugas apa ayah? Apa


sepenting itu? kenapa tidak meminta Arrio jika tugas ini sangat penting sampai


ayah seperti ini…” ucap Aiden lagi.


Raut wajah August


mendadak berubah saat Aiden menyebutkan nama Arrio di hadapannya.

__ADS_1


“Kau putra ayah. Bukan


Arrio. Itu sebabnya ayah memintamu, dan lagi… tugas ini juga untuk keselamatan


semua orang…” kata August sekali lagi.


“Tugas apa itu ayah?”


tanya Aiden lagi.


“Ada seorang gadis


yang sangat berbahaya karena memiliki mata iblis dan sekarang hidup di bumi


sebagai manusia biasa…” kata August yang jelas saja membuat Aiden terkejut.


“B-bagaimana mungkin


manusia bisa memiliki mata iblis ayah?”


“Ada iblis yang masuk


ke dalam tubuhnya dan meninggalkan hal itu sebagai sebuah kutukan untuk dirinya


dan keluarganya,” kata August lagi.


“Lalu, apa yang harus


aku lakukan dengan hal itu? aku jelas tak bisa--”


“Kau bisa mengambil


penglihatannya dan membuat mata iblis itu hilang dari dirinya,” August kini


melihat ke arah jam dinding yang berdetak, “dia akan merenggut nyawa seluuh


keluarganya dalam waktu yang tak lama lagi. Kalau kau berhasil, kau bisa


menyelamatkan mereka dan mengambil mata iblis itu dari tubuhnya. Namun… jika


saat sampai disana ternyata mereka sudah menjadi korban, maka jangan ragu untuk


mengambil mata iblis itu dari gadis yang menjadi satu – satunya orang yang


selamat dari peristiwa itu…” perintah August pada Aiden, putranya.


“Maksud ayah… aku


“Ya… ambil semua


cahaya dari matanya dan jangan biarkan kedua mata itu memancarkan bahaya yang


akan membuat dirinya sendiri bahkan orang lain terancam oleh keberadaannya…”


tegas August di akhir permintaannya pada Aiden.


**


Aiden bergerak cepat


setelah mendapat tugas dari sang ayah, dia sama sekali tak membicarakan hal ini


pada siapapun dan bergerak sesenyap mungkin sampai tak ada satupun yang


menyadari dirinya turun ke bumi saat ini dan melihat tragedy mengenaskan dimana


sebuah mobil mengalami kecelakaan hebat dan membuat seorang remaja perempuan


terlempar jauh ke dalam jurang dengan kondisi luka yang mengenaskan sementara


kedua orang tuanya masih berada di dalam mobil dan terjebak.


Mirisnya, remaja


perempuan itu melihat bagaimana mobil yang masih memuat kedua orang tuanya itu


meledak dan terbakar dengan api yang menjilat ke langit dengan ganasnya. Dia


menangis terisak dan bodohnya Aiden saat itu adalah, tangannya dengan begitu


ringan mengarahkan jilatan api itu menuju ke arah si gadis hingga dia kehilangan


penglihatannya karena kornea matanya yang rusak.


Itu adalah kali


terakhir Arra, gadis itu… melihat kedua orang tuanya. Karena bahkan saat


pemakaman kedua orang tuanya pun, Arra sama sekali tak bisa hadir apalagi

__ADS_1


memberikan bunga terakhir untuk orang tuanya itu.


---End---


Aiden kini menunduk dan berlinang air mat, dia tak mampu


melihat wajah Arra yang begitu polos dan nampak sangat bekilau di matanya.


“Maafkan aku Arra… maafkan aku…” gumam Aiden lagi.


“Kenapa kau harus minta maaf? Apa kau mau melukaiku?” tanya


Arra dengan nada menyelidik.


“Tidak… (karena aku


sudah melakukannya…),” jawab Aiden.


“Lalu karena apa?” tanya Arra lagi, dia jujur begitu bingung


sekarang. “Aiden… apa kau kesini untuk menemuiku atau sebenarnya ingin bertemu


dengan Arrio? Kenapa kau mendadak minta maaf padaku?”


“Karena aku pernah mengambil sebuah cahaya suci darimu… tapi


sekarang, aku akan berusaha untuk mengembalikan apa yang telah aku renggut


darimu Arra…” ujar Aiden lagi.


“M-maksudmu?” Arra semakin takut sekarang dan berusaha melepaskan


genggaman tangan Aiden.


“Percayalah padaku Arra. Untuk saat ini saja, aku tak akan


melukaimu. Aku hanya akan… memberikanmu hadiah kecil sebagai penebus


kesalahanku yang lalu…” ucap Aiden lagi.


“Apa yang mau kau lakukan padaku?” tanya Arra.


“Tutup saja matamu, dan jangan bergerak. Apapun yang kau


rasakan, sampai aku mengijinkanmu membuka mata…” pinta Aiden dengan nada bicara


yang begitu halus dan tulus.


Arra akhirnya menuruti permintaan Aiden karena dirinya juga


sangat penasaran dengan apa yang akan Aiden lakukan untuknya kali ini. Dia


berpikir bahwa Arrio lah yang mungkin mengirim Aiden kesini untuk memberikan


hadiah. Meskipun dia juga masih janggal dengan kemungkinan yang di ciptakannnya


sendiri.


Gadis itu menutup matanya rapat dan membiarkan apapun yang


kini mungkin terjadi pada dirinya.


Dia merasakan sebuah tangan kini menutup kedua matanya dan


menyebarkan rasa dingin juga hangat yang berulang – ulang hingga beberapa waktu


berselang. Dan dia merasakan ada sesuatu yang melesak masuk ke dalam bola


matanya.


Hingga…


“Kau boleh membuka kedua matamu sekarang Arra…” kata Aiden


lagi.


Arra kini menuruti lagi ucapan Aiden dan mulai membuka


matanya perlahan, dan dia merasa sangat janggal dengan cahaya yang begitu


terang kini mulai di rasakan masuk ke dalam matanya. Arra yang terkejut kembali


menutup matanya, namun dengan genggaman erat tangan Aiden yang seolah


meyakinkan dirinya. Kini Arra kembali membuka perlahan kedua kelopak matanya.


Dan apa yang Arra rasakan membuatnya begitu terkejut hingga


tak bisa mengucapkan apapun.

__ADS_1


***


__ADS_2