
“Kak, aku baru
saja mendapat pesan dari Arra,” kata Aksel.
“Pesan? Mana pesannya?” tanya Arrio.
“Tidak. Bukan dengan benda. Aku tak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu, tapi Arra melakukan
kontak batin denganku, Kak.”
“Kalian berkomunikasi dengan cara seperti itu? Bagaimana bisa dia melakukannya?” tanya
Arrio yang tak percaya gadisnya berhasil melakukan itu.
“Aku rasa Arra melakukan apa yang aku ajarkan padanya malam itu, Kak,” timpal Jason.
Arrio pun mengangguk paham. “Jadi, apa yang dia katakan padamu?” tanyanya. “Dia hampir dibunuh Darrick karena berhasil membunuh Ellard,” jawab Aksel.
“Apa kau bilang?” Tak hanya Arrio, Arsen dan Athens juga Aiden terkejut mendengarnya.
“Dia membunuh Ellard? Panglima perang para iblis?” Arsen memastikan.
Seketika itu pula Aksel mengangguk, mengarahkan pandangannya jauh ke arah padang musuh. “Lihat
langitnya semakin merah pekat. Ada kematian besar di sana.”
Bagaimana cara Arra melakukannya? Jason memicingkan
mata dan berpikir keras.
“Dia sudah menyadari kemampuannya!” pekik Jason tiba-tiba.
“Kemampuan apa, Jason? Jelaskan padaku!” pinta Arrio.
“Mengobati para malaikat dengan tangan ajaibnya namun menghancurkan para iblis dengan tangan
yang sama!” jawab Jason sambil tersenyum.
“Dia punya kekuatan seperti itu? Kau yakin?” tanya Athens.
“Iya, aku sendiri tak pernah melihatnya secara langsung. Tapi saat kami sedang melatih kemampuannya, aku melihat hal itu di tangannya. Ada dua elemen yang saling bertentangan dan juga memiliki fungsi yang berbeda. Namun keduanya memiliki kekuatan yang sama besar. Dan itu adalah elemen penyembuh sekaligus penghancur. Aku pikir, penghancur itu memang di tujukan untuk para iblis. Hanya lewat tebakan saja aku mengatakan itu. Aku tak menyangka kalau tebakanku nyatanya memang benar…” ucap Jason yang terdengar begitu antusias.
__ADS_1
“Ini keuntungan besar untuk kita karena sang Panglima sudah gugur terlebih dahulu sebelum
perang terjadi. Segera minta semua pasukan bersiap! Dan bersiap turun ke medan perang! Tiup terompet perangnya!” teriak Athens dengan suara yang begitu keras.
Sementara di saat bersamaan, baik Arsen maupun Aiden segera terbang menuju pasukannya masing –
masing dan menyiapkan segelanya. Mereka sudah memakai baju zirah terbaik mereka dan membawa senjata terbaik juga demi perang hari ini. Dan di saat yang sama, Arrio menuntun Aksel juga Jason menuju satu tempat yang sunyi dan cukup tersembunyi, sebelum keduanya berangkat menyelamatkan Arra.
“Fotia!” api hitam yang pekat dan menjilat kini berada di genggaman tangan Arrio.
“Kak--” Jason begitu terkejut.
“Phoenix!” panggil Arrio lagi pada hewan peliharaannya tersebut.
“Apa yang kau lakukan kak?” tanya Aksel.
“Bawa ini Aksel. Kau yang akan merangsek masuk ke dalam tenda dimana Arra berada. Lingdungi dia
dengan api milikku, kalian pasti akan aman dan selamat… dan untukmu, Jason… bawalah Phoenix bersamamu. Bunuh mereka semua yang menghalangi jalan kalian menyelamatkan Arra. Dia akan berubah menjadi pedang yang kuat untuk membunuh siapapun yang berusaha melukai kalian, terutama Arra…” kata Arrio dengan wajah
seriusnya.
sebesar ini oleh sang kakak.
“Katakan padanya, meskipun aku tak bisa datang langsung untuk menyelamatkannya, tapi jiwaku
bersama kalian untuk melindunginya sampai akhir. Kalian juga harus berhati – hati, jangan sampai terluka sedikitpun…” pinta Arrio yang di angguki oleh kedua adik kembarnya.
“Kami mengerti kak, kami akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi kak Arra dan membawanya
kembali padamu…” kata Aksel dan Jason.
“Terima kasih…” suara pekikan dan teriakan yang begitu kencang menginterupsi percakapan mereka.
Rupanya, Athens telah menyelesaikan semua persiapan yang ada dan meniup terompet perang ke arah
pasukan para iblis yang sepertinya juga cukup terkejut melihat kedatangan pasukan para malaikat secara mendadak.
“Pergilah… aku mengandalkan kalian…”
Aksel dan Jason segera menjejakkan kakinya ke tanah dan terbang melesat secepat mungkin setelah
__ADS_1
memakai jubah malaikat mereka yang akan membuat dirinya terlindung dari pandangan musuh. Keduanya pun melewati pasukan besar yang siap menerjang dan menghancurkan apapun di sana. Di bawah pimpinan sang kakak, Arrio.
**
Perang benar-benar sudah di depan mata. Mendengar kondisi Arra dari Aksel secara berkala, juga
Jason yang menuntun Arra untuk terus bertahan, membuat Arrio bertekad untuk menuntaskan segalanya dalam perang kali ini.
Di bawah komando Arrio sebagai panglima perang utama, ratusan ribu malaikat dengan senjata
lengkap dan baju zirah serta jubah kebesaran membentuk formasi. Pasukan yang begitu gagah dan berwibawa, hampir tak terkalahkan, berdiri di garda terdepan untuk mempertahankan wilayah.
Di tempat sebaliknya, Darrick sudah menyiapkan pasukan besar iblis dengan senjata lengkap untuk menghadang serangan mendadak yang dilakukan Arrio. Darrick tahu, tanpa Ellard di sisinya, kemenangan tampak begitu semu. Namun, dia tak mungkin mundur dan menyatakan kekalahan setelah segala yang sudah dilakukan. Terlebih, masih
ada Arra yang menjadi titik kelemahan Arrio di tangannya. Secercah harapan masih ada untuk Darrick. Semoga….
Arrio terbang ke arah depan dan mengitari pasukan.
“Jangan tunjukkan belas kasihan pada mereka! Mereka pun tak akan memberikan belas kasihan pada
kalian!” teriak Arsen pada pasukannya. Pasukan iblis yang bersiap menghadapi para malaikat sudah menghunus pedang dan tombak runcing mereka.
“Bersiap!” Arrio berteriak pada pasukannya.
“Siapkan senjata kalian!” Teriakan Darrick menggema untuk pasukan iblisnya.
Para malaikat pun sama-sama bersiap, menghunus pedang, dan menarik busur mereka serta mengarahkannya
pada pasukan iblis.
“Tahan!” teriak Athens dan Aiden pada pasukannya masing-masing.
“Mereka menunggu…,” bisik Aiden pada Arrio.
Arrio bersiap, menarik busur dan anak panahnya, mengarahkan dan membidik tepat di leher salah
satu iblis, dan….
Jleb!
****
__ADS_1