Cruel Fate

Cruel Fate
Part 15.2


__ADS_3

Kata – kata yang Andrew lontarkan tadi terus saja berputar


di kepala Arra hingga membuat Arra menjadi lebih bingung. Kenapa Andrew begitu


lunak dengan perasaan yang di tunjukkan Arrio padanya. Dan apa yang mereka


bicarakan sampai membuat kesepakatan soal persaingan itu?


Blam! Suara pintu di tutup terdengar dan terdengar pula


suara langkah dua orang yang mendekat.


“Aksel? Jason?” tanya Arra.


“Oh! Bagaimana kau bisa tahu?” celetuk Aksel yang langsung


mendapat tatapan tajam dari Jason. Seolah bicara “kenapa kau mengatakan hal semacam itu padanya? Dasar bodoh!”


“Aku sudah terbiasa dengan aura kalian saat berada di


dekatku,” jawab Arra dan tersenyum.


“Arra belum tidur?” tanya Aksel.


“Belum, aku baru saja memasak sup dan beberapa makanan


lainnya.” Jawaban Arra membuat keduanya terkejut.


“Jam segini, kau memasak? Untuk apa?” tanya Jason.


“Untuk Arrio. Dia pasti lelah karena banyak bekerja di luar


belakangan ini. Aku tidak bisa membantu apapun untuknya, jadi ku pikir… akan


lebih baik kalau aku bisa memasak makanan yang bisa membuat tenaganya pulih… ”


jelas Arra.


“Dia akan pulih kalau mendapat peluk dan cium darimu…” lirik


Aksel.


“Hah? Kau bilang apa?” Arra tak mendengarnya jelas.


“Hahaha… tidak, tidak. Aksel sedang sinting! Hahaha!” Jason


langsung memukul lengan Aksel dan memelototi malaikat muda itu. “Ehm.. tapi


sepertinya kakak akan pulang larut lagi malam ini. Dia masih bersama Arsen


sekarang,” jawab Jason lagi.


“Oh.. begitu, kalau begitu aku taruh saja di situ. Nanti


kalau dia pulang, bisakah kalian sampaikan padanya untuk memanaskan makanan


yang ku buat terlebih dahulu?” tanya Arra lagi.


“Tentu Arra. Aku akan melakukannya untukmu.” Aksel


menyanggupi.


“Terima kasih ya… kalau begitu, aku akan tidur dulu ya,”


pamit Arra.


“Ya, tidurlah. Lagipula ini memang sudah larut. Kau bisa


sakit kalau tidur terlalu larut.”


***


Malam semakin larut dan bulan pun semakin tenggelam di makan


oleh gelapnya malam. kelamnya malam itu membuat suasana jadi mencekam di luar


sana, suara binatang malam yang riuh terdengar bersahutan seolah memberikan


tanda bahwa mereka tak sendiri di sana. Ada sekelompok besar makhluk mengerikan


yang juga berputar di sekitar  mereka dan


membuat semuanya lebih mengerikan.


Ya… ada sekelompok besar yang tak lain adalah kawanan iblis

__ADS_1


mengerikan yang mulai memasuki dunia dan mengitari sekitar wilayah Oxford.


Terutama di wilayah dekat tempat tinggal Arrio. Meskipun mereka tak mampu


melihat keberadaan rumah malaikat itu karena adanya penjagaan yang begitu ketat


yang di berikan oleh seluruh malaikat besar yang ada di sana.


Terutama Arrio yang rela menyerahkan hampir separuh


kekuatannya dan meninggalkannya untuk bisa membuat tempat dimana Arra berpijak


tetap aman. Meskipun itu artinya, dia akan membahayakan nyawanya sendiri.


Dan malam itu pula, seperti biasanya Arrio pulang dengan


wajah kusut dan tampak begitu lelah. Persiapan peranglah yang membuat tenaganya


jauh lebih terkuras dari biasanya. Memang belum ada genderang perang atau tanda


apapun yang terlihat. Hanya firasat yang di rasakan kuat oleh Athens yang


membuat semuanya sampai seperti ini. Namun Arrio yang memang begitu percaya


dengan setiap firasat yang di rasakan oleh sahabatnya itu sama sekali tak mendebat


dan melakukan apapun. Tujuannya hanya satu, demi Arra.


“Aku pulang…” Arrio mulai masuk ke dalam rumah yang tampak


sepi.


Aksel yang terlihat baru saja keluar dari dapur kini


mengulurkan satu cangkir the hangat pada kakaknya yang baru sampai dan tersenyum


tipis.


“Apa kau baru saja pulang?” tanya Aksel.


“Hmm… aku baru selesai. Semuanya sudah tidur ya?” tanya


Arrio balik.


Dia menyiapkannya khusus untukmu,” ujar Aksel.


“Arra? Memangnya apa saja yang dia lakukan selama di rumah


hari ini?” tanya Arrio.


“Membersihkan rumah dan memasak untuk kita semua. Seperti


biasanya,” jawab Aksel santai.


“Membersihkan rumah lagi? Kenapa kau tak menghentikannya


sih!”


“Jangan katakan itu padaku. Katakan itu pada dirimu sendiri


kak,” jawaban Aksel sukses memberikan tamparan keras untuk Arrio kali ini.


“Kata Arra, kau harus memanaskan masakannya terlebih dahulu


sebelum memakannya.”


“Ya, nanti akan aku panaskan… terima kasih ya, kau tidurlah.


Besok kau harus berangkat kuliah lagi kan?” Aksel mengangguk singkat dan


langsung berbalik menuju kamarnya.


“Aku tidur dulu ya,” pamit Aksel pada Arrio.


***


Arrio yang sudah sangat tidak sabar untuk mencicipi masakan


Arra pun mempercepat ritual mandinya malam itu. dia memakai kaos dan training


hitam panjang dengan handuk kecil yang masih mengalung di lehernya dan rambut


yang setengah basah saat turun dari kamar dan menuju ke dapur. Dia begitu tak


sabar, apalagi memang dia belum sempat makan sejak tadi pagi.

__ADS_1


Baru saja dia akan masuk ke area dapur, Arrio sudah


mendengar suara piring dan sendok yang saling bertemu. Ada seseorang di sana.


Dan itu adalah Arra.


Grepp!


Arrio memeluk tubuh Arra dari belakang dan membuat gadis itu


terlonjak kaget sesaat sebelum akhirnya berusaha tetap tenang.


“Arrio…” lirih Arra yang langsung mengenali sosok Arrio di


belakang nya.


“Lihatlah, kau selalu bisa mengenaliku dengan cepat.


Bagaimana mungkin?” ucap Arrio dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Arra.


Menghirup aroma tububh gadis itu.


“Parfum mu… dan wanginya saat bercampur dengan tubuhmu…”


ujar Arra.


“Aku merindukanmu… sangat merindukanmu…” Arrio kembali


mencium pundak gadis itu. gadis yang selama ini begitu dia rindukan.


Arra tersenyum tipis. Tak seperti biasanya, dia membiarkan


Arrio melakukan apapun yang dia mau pada dirinya, lebih tepatnya pada tubuhnya.


Arra merasa bahagia saat dia merasakan sentuhan Arrio setelah sekian lama. Dan


menikmatinya sampai rasanya ingin waktu berhenti saat itu juga.


“Kau belum makan kan? Aku akan siapkan makanan nya untukmu


ya…” kata Arra.


Arrio mengangguk kecil dengan masih memeluk Arra dan


membenamkan wajahnya. Pelukannya semakin erat terasa di pinggang kecil gadis


itu, “Hmm… biarkan dulu seperti ini. Aku begitu lelah dan merindukanmu beberapa


hari ini. Rasanya… hanya kau yang bisa membuat tenagaku terisi lagi,” ucapnya.


Hembusan nafas hangat Arrio begitu terasa dan membuat bulu


kuduk Arra meremang. Dia kembali membiarkan Arrio melakukan itu dan mengangguk


kecil menjawab keinginan malaikat itu.


“Tapi singkirkan sedikit tanganmu Rio, aku sedang memanaskan


ini. Nanti tanganmu bisa kena kompor…” kata Arra.


“Iya sayang. Aku tahu…” lirih Arrio.


Sejujurnya, jika boleh… Arra sangat suka dengan perlakuan lembut


Arrio seperti ini. Dia selalu bisa membuat Arra merasa nyaman, sekalipun dia


melakukan skinship yang mendadak seperti ini, suara Arrio yang dalam juga


terasa begitu hangat di telinga Arra. Hingga tanpa sadar, rasanya dia selalu


terpikat oleh Arrio.


Sepertinya kedekatan mereka akhir – akhir ini juga membuat hati


Arra berubah dan sudah mulai terbuka dengan segala kenyamanan, kebaikan juga


perhatian yang di berikan oleh Arrio. Terlebih melihat bagaimana Arrio yang


dengan maksimal juga tulus merawat Andrew, pria yang menjadi kekasih Arra.


Sekaligus pesaing Arrio tanpa sekalipun menunjukkan kemarahannya. Mampu membuat


Arra kagum dengan kebesaran hati yang Arrio miliki.


***

__ADS_1


__ADS_2