
Kata – kata yang Andrew lontarkan tadi terus saja berputar
di kepala Arra hingga membuat Arra menjadi lebih bingung. Kenapa Andrew begitu
lunak dengan perasaan yang di tunjukkan Arrio padanya. Dan apa yang mereka
bicarakan sampai membuat kesepakatan soal persaingan itu?
Blam! Suara pintu di tutup terdengar dan terdengar pula
suara langkah dua orang yang mendekat.
“Aksel? Jason?” tanya Arra.
“Oh! Bagaimana kau bisa tahu?” celetuk Aksel yang langsung
mendapat tatapan tajam dari Jason. Seolah bicara “kenapa kau mengatakan hal semacam itu padanya? Dasar bodoh!”
“Aku sudah terbiasa dengan aura kalian saat berada di
dekatku,” jawab Arra dan tersenyum.
“Arra belum tidur?” tanya Aksel.
“Belum, aku baru saja memasak sup dan beberapa makanan
lainnya.” Jawaban Arra membuat keduanya terkejut.
“Jam segini, kau memasak? Untuk apa?” tanya Jason.
“Untuk Arrio. Dia pasti lelah karena banyak bekerja di luar
belakangan ini. Aku tidak bisa membantu apapun untuknya, jadi ku pikir… akan
lebih baik kalau aku bisa memasak makanan yang bisa membuat tenaganya pulih… ”
jelas Arra.
“Dia akan pulih kalau mendapat peluk dan cium darimu…” lirik
Aksel.
“Hah? Kau bilang apa?” Arra tak mendengarnya jelas.
“Hahaha… tidak, tidak. Aksel sedang sinting! Hahaha!” Jason
langsung memukul lengan Aksel dan memelototi malaikat muda itu. “Ehm.. tapi
sepertinya kakak akan pulang larut lagi malam ini. Dia masih bersama Arsen
sekarang,” jawab Jason lagi.
“Oh.. begitu, kalau begitu aku taruh saja di situ. Nanti
kalau dia pulang, bisakah kalian sampaikan padanya untuk memanaskan makanan
yang ku buat terlebih dahulu?” tanya Arra lagi.
“Tentu Arra. Aku akan melakukannya untukmu.” Aksel
menyanggupi.
“Terima kasih ya… kalau begitu, aku akan tidur dulu ya,”
pamit Arra.
“Ya, tidurlah. Lagipula ini memang sudah larut. Kau bisa
sakit kalau tidur terlalu larut.”
***
Malam semakin larut dan bulan pun semakin tenggelam di makan
oleh gelapnya malam. kelamnya malam itu membuat suasana jadi mencekam di luar
sana, suara binatang malam yang riuh terdengar bersahutan seolah memberikan
tanda bahwa mereka tak sendiri di sana. Ada sekelompok besar makhluk mengerikan
yang juga berputar di sekitar mereka dan
membuat semuanya lebih mengerikan.
Ya… ada sekelompok besar yang tak lain adalah kawanan iblis
__ADS_1
mengerikan yang mulai memasuki dunia dan mengitari sekitar wilayah Oxford.
Terutama di wilayah dekat tempat tinggal Arrio. Meskipun mereka tak mampu
melihat keberadaan rumah malaikat itu karena adanya penjagaan yang begitu ketat
yang di berikan oleh seluruh malaikat besar yang ada di sana.
Terutama Arrio yang rela menyerahkan hampir separuh
kekuatannya dan meninggalkannya untuk bisa membuat tempat dimana Arra berpijak
tetap aman. Meskipun itu artinya, dia akan membahayakan nyawanya sendiri.
Dan malam itu pula, seperti biasanya Arrio pulang dengan
wajah kusut dan tampak begitu lelah. Persiapan peranglah yang membuat tenaganya
jauh lebih terkuras dari biasanya. Memang belum ada genderang perang atau tanda
apapun yang terlihat. Hanya firasat yang di rasakan kuat oleh Athens yang
membuat semuanya sampai seperti ini. Namun Arrio yang memang begitu percaya
dengan setiap firasat yang di rasakan oleh sahabatnya itu sama sekali tak mendebat
dan melakukan apapun. Tujuannya hanya satu, demi Arra.
“Aku pulang…” Arrio mulai masuk ke dalam rumah yang tampak
sepi.
Aksel yang terlihat baru saja keluar dari dapur kini
mengulurkan satu cangkir the hangat pada kakaknya yang baru sampai dan tersenyum
tipis.
“Apa kau baru saja pulang?” tanya Aksel.
“Hmm… aku baru selesai. Semuanya sudah tidur ya?” tanya
Arrio balik.
Dia menyiapkannya khusus untukmu,” ujar Aksel.
“Arra? Memangnya apa saja yang dia lakukan selama di rumah
hari ini?” tanya Arrio.
“Membersihkan rumah dan memasak untuk kita semua. Seperti
biasanya,” jawab Aksel santai.
“Membersihkan rumah lagi? Kenapa kau tak menghentikannya
sih!”
“Jangan katakan itu padaku. Katakan itu pada dirimu sendiri
kak,” jawaban Aksel sukses memberikan tamparan keras untuk Arrio kali ini.
“Kata Arra, kau harus memanaskan masakannya terlebih dahulu
sebelum memakannya.”
“Ya, nanti akan aku panaskan… terima kasih ya, kau tidurlah.
Besok kau harus berangkat kuliah lagi kan?” Aksel mengangguk singkat dan
langsung berbalik menuju kamarnya.
“Aku tidur dulu ya,” pamit Aksel pada Arrio.
***
Arrio yang sudah sangat tidak sabar untuk mencicipi masakan
Arra pun mempercepat ritual mandinya malam itu. dia memakai kaos dan training
hitam panjang dengan handuk kecil yang masih mengalung di lehernya dan rambut
yang setengah basah saat turun dari kamar dan menuju ke dapur. Dia begitu tak
sabar, apalagi memang dia belum sempat makan sejak tadi pagi.
__ADS_1
Baru saja dia akan masuk ke area dapur, Arrio sudah
mendengar suara piring dan sendok yang saling bertemu. Ada seseorang di sana.
Dan itu adalah Arra.
Grepp!
Arrio memeluk tubuh Arra dari belakang dan membuat gadis itu
terlonjak kaget sesaat sebelum akhirnya berusaha tetap tenang.
“Arrio…” lirih Arra yang langsung mengenali sosok Arrio di
belakang nya.
“Lihatlah, kau selalu bisa mengenaliku dengan cepat.
Bagaimana mungkin?” ucap Arrio dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Arra.
Menghirup aroma tububh gadis itu.
“Parfum mu… dan wanginya saat bercampur dengan tubuhmu…”
ujar Arra.
“Aku merindukanmu… sangat merindukanmu…” Arrio kembali
mencium pundak gadis itu. gadis yang selama ini begitu dia rindukan.
Arra tersenyum tipis. Tak seperti biasanya, dia membiarkan
Arrio melakukan apapun yang dia mau pada dirinya, lebih tepatnya pada tubuhnya.
Arra merasa bahagia saat dia merasakan sentuhan Arrio setelah sekian lama. Dan
menikmatinya sampai rasanya ingin waktu berhenti saat itu juga.
“Kau belum makan kan? Aku akan siapkan makanan nya untukmu
ya…” kata Arra.
Arrio mengangguk kecil dengan masih memeluk Arra dan
membenamkan wajahnya. Pelukannya semakin erat terasa di pinggang kecil gadis
itu, “Hmm… biarkan dulu seperti ini. Aku begitu lelah dan merindukanmu beberapa
hari ini. Rasanya… hanya kau yang bisa membuat tenagaku terisi lagi,” ucapnya.
Hembusan nafas hangat Arrio begitu terasa dan membuat bulu
kuduk Arra meremang. Dia kembali membiarkan Arrio melakukan itu dan mengangguk
kecil menjawab keinginan malaikat itu.
“Tapi singkirkan sedikit tanganmu Rio, aku sedang memanaskan
ini. Nanti tanganmu bisa kena kompor…” kata Arra.
“Iya sayang. Aku tahu…” lirih Arrio.
Sejujurnya, jika boleh… Arra sangat suka dengan perlakuan lembut
Arrio seperti ini. Dia selalu bisa membuat Arra merasa nyaman, sekalipun dia
melakukan skinship yang mendadak seperti ini, suara Arrio yang dalam juga
terasa begitu hangat di telinga Arra. Hingga tanpa sadar, rasanya dia selalu
terpikat oleh Arrio.
Sepertinya kedekatan mereka akhir – akhir ini juga membuat hati
Arra berubah dan sudah mulai terbuka dengan segala kenyamanan, kebaikan juga
perhatian yang di berikan oleh Arrio. Terlebih melihat bagaimana Arrio yang
dengan maksimal juga tulus merawat Andrew, pria yang menjadi kekasih Arra.
Sekaligus pesaing Arrio tanpa sekalipun menunjukkan kemarahannya. Mampu membuat
Arra kagum dengan kebesaran hati yang Arrio miliki.
***
__ADS_1