
Sandira dan Smith datang ke tempat kakek pemilik toko dan meminjam rekaman CCTV yang tersembunyi di belakang toko roti miliknya.
Mereka juga menjelaskan alasan kenapa bermaksud meminjam rekaman CCTV tersebut.
Mendengar penjelasan yang di lontarkan oleh Sandira, Kakek pemilik toko langsung memberikan kaset rekaman CCTV tersebut.
Smith memutuskan untuk memutar rekaman tersebut sebelum membawanya ke kota untuk di serahkan ke kantor polisi untuk membersihkan nama Sandira.
Mata Smith terbelalak melihat bagaimana kakeknya yang tak sadarkan diri di bawa ke sebuah tempat sepi dan di tikam sebuah pisau berkali – kali oleh seorang laki – laki jangkung.
Smith juga melihat bagaimana pria tersebut membuat Sandira menjadi seorang kambing hitam atas semua perbuatan yang di lakukannya.
Sandira memejamkan matanya sambil sesekali satu dua tetes air mata mengalir di pipinya ketika melihat rekaman tersebut.
Kakek pemilik toko pun tak kalah terkejut melihat CCTV yang di pasangnya menangkap sebuah tindak kriminal.
Melihat rekaman tersebut, membuat Smith semakin percaya dengan semua cerita Sandira.
Setelah melihat rekaman tersebut, Smith dan Sandira pamit untuk pergi dari rumah kakek tersebut sambil membawa bukti rekaman yang mereka dapatkan.
Tanpa mereka sadari, pelaku sebenarnya sedang mengikuti mereka. " Sial! Aku telat! Aku tak bisa membiarkan mereka menyerahkan rekaman itu ke polisi. Siapa yang akan menyangka jika di tempat itu ada CCTV tersembunyi. Sial!" ucap pria itu dalam hati sambil terus diam – diam mengikuti Smith dan Sandira yang sedang berjalan menuju ke mobil mereka yang terletak cukup jauh dari rumah kakek tersebut karena rumah kakek itu berada di dekat hutan sehingga mobil tak bisa melewati jalan yang menuju rumah kakek tersebut.
Mereka harus berjalan sekitar 15 menit melewati hutan untuk sampai ke rumah kakek itu. " Sandira, sepertinya akan hujan, kita harus bergegas, " ucap Smith yang melihat kearah awan yang tiba – tiba saja berubah menjadi gelap.
" Iya, kita harus bergegas, " balas Sandira mempercepat langkahnya.
Mengira langkah Sandira dan Smith semakin cepat karena menyadari kehadirannya.
Pria jangkung itu langsung berlari menuju kearah Smith dan Sandira dengan memegang sebuah pisau.
Smith yang menyadari seseorang seakan mendekat menengok kebelakang dan betapa terkejutnya ketika melihat seorang pria berlari kearah mereka sambil memegang pisau di tangannya.
" Sandira ayo lari! " ucap Smith kemudian menarik Sandira berlari mengikutinya.
Awalnya Sandira kebingungan tapi ketika melihat kebelakang dia menyadari situasi yang sedang mereka hadapi.
__ADS_1
Sandira mulai ketakutan tapi terus berlari. Sandira juga menyadari jika pria yang mengejar mereka adalah pria yang sama yang mengancamnya malam itu.
Aksi kejar – kejaran mereka terhenti ketika Smith dan Sandira terpojok.
Mereka tak bisa berlari karena mereka di hadapkan dengan sebuah jurang. Melihat mangsanya terhimpit membuat pria jangkung itu tertawa terbahak – bahak.
" Kalian benar – benar mempunyai nasib yang buruk! Serahkan rekaman itu sekarang atau kalian akan mati di tanganku! " ucap pria jangkung itu dengan tatapan yang mengerikan.
" Siapa sebenarnya kau? Siapa yang menyuruhmu?!" ucap Smith dengan sorot mata yang penuh amarah.
" Aku ? Anda sangat mengenal saya tuan, " ucap pria jangkung itu sambil melepas topeng yang melekat di wajahnya.
Smith terbelalak mengetahui ternyata pria yang ada di hadapannya itu adalah salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.
" Kau! " ucap Smith terbelalak penuh dengan amarah.
"Iya ini saya tuan, apa tuan terkejut? Pasti sangat terkejut, " ucap pria itu sambil tertawa kecil menertawai Smith yang menurutnya mudah di kelabui.
Sandira yang tak begitu paham dengan pria tersebut hanya melirik kearah Smith dan pria itu secara bergantian dengan bingung.
" Kau mengenalnya ?" tanya Sandira.
" Anda harus tau tuan, kami tak jahat. Kami hanya memilih jalan kami sendiri. Keluarga tuanlah yang jahat karena tak memberikan kami uang lebih sehingga kami melakukan hal – hal seperti ini. Jadi sebaiknya tuan serahkan rekaman itu atau nyawa tuan akan melayang bersama dengan nyawa gadis itu! " ucap pria itu sambil tersenyum kecil.
Smith melirik kearah Sandira yang terlihat ketakutan. " Aku akan menyerahkannya, " ucap Smith mengambil kaset rekaman yang ada di kantong celananya dan mendekati pria itu.
Melihat hal itu, pria itu tersenyum puas. Smith menyerahkan rekaman tersebut pada pria itu namun saat pria tersebut menerima rekaman itu dan lengah.
Smith menghajarnya hingga membuat rekaman dan pisau pria itu terjauh dari tangan pria itu. " Ambil rekamannya!" teriak Smith yang sedang berusaha menahan gerak pria tersebut.
Sandira bergegas mengambil rekaman tersebut. Di saat yang bersamaan pria tersebut berhasil membuat Smith oleng dan mengambil pisaunya yang terjatuh tak jauh dari tempatnya.
Pria itu mengambil pisau tersebut dan menuju kearah Sandira yang tak menyadari kehadiran pria tersebut yang semakin mendekat kearahnya.
" SANDIRA! " teriak Smith yang berlari kearah Sandira sehingga pisau yang di arahkan ke Sandira melukai lengan Smith.
__ADS_1
Melihat niatannya gagal membuat pria itu jadi semakin marah dan mengarahkan pisau itu ke arah Smith.
Meski dengan lengan yang terluka, Smith bisa menghindari serangan pisau yang di arahkan kepadanya.
Perkelahianpun tak terelakkan hingga perkelahian itu berakhir saat Smith memukul pria tersebut hingga jatuh sampai ke tepi jurang, saat hendak berdiri pria tersebut terpeleset dan jatuh ke jurang.
Melihat hal itu, membuat Sandira tak bisa menyembunyikan kelegaannya begitu juga dengan Smith.
Smith kemudian mendekati Sandira sambil menahan rasa sakit di lengannya dan mengajak Sandira untuk segera pergi dari tempat itu.
Sandira menatap lengan Smith yang terluka. Sandira juga mengingat bagaimana Smith melindunginya hingga membuat lengannya terluka.
" Apa dia benar – benar serius menyukaiku?" ucap Sandira dalam hati. Sandira kemudian merobek sebagian bajunya dan menjadikannya sebuah perban untuk membalut luka Smith.
Perbuatan yang baru saja Sandira lakukan itu membuat Smith tersenyum kecil . " Ah! Lenganku ini sangat sakit, sepertinya aku tak bisa berjalan sendirian. Lihat, banyak sekali darah yang keluar dari lenganku ini. Kau harus memapahku dan membantuku berjalan, " ucap Smith yang mau tak mau membuat Sandira memapahnya.
Smith tersenyum senang melihat Sandira yang memapahnya hingga membuatnya berada sangat dekat dengan Sandira.
" Terima kasih, " ucap Sandira tanpa menatap Smith dan terus melangkahkan kakinya bersamaan dengan Smith.
" Bukankah itu tugasku untuk melindungimu? Apa sekarang kau sudah sedikit menyukaiku? Bukankah aku tadi seperti pangeran di negeri dongeng yang menyelamatkan putri dari bahaya? Kau pasti sedikit luluh karena hal itu kan ? iya kan? Benar kan?" ucap Smith terus tersenyum menatap Sandira yang sedang memapahnya.
Muka Sandira memerah karena perkataan Smith. Lonceng di hatinya seperti mulai menimbulkan nada – nada indah yang terngiang di telinganya.
" Sepertinya kau tak terlalu sakit karena kau bisa menggodaku seperti itu, " ucap Sandira melepas kan tangan Smith yang dari tadi merangkulnya.
Sandira berjalan lebih dulu meninggalkan Smith yang sedikit mengerang kesakitan karena lengannya memang masih terasa sakit.
" Yak! Ini benar – benar sakit! " teriak Smith sebal yang membuat Sandira membalikkan badannya dan memapah Smith kembali.
Melihat Sandira yang memapahnya kembali membuat senyum kembali mengambang di bibir merah Smith.
" Aku rasa, tak ada salahnya terluka seperti ini jika bisa membuatnya sedekat ini denganku, " ucap Smith dalam hati.
"Aku rasa, lonceng dalam hatiku yang tak seharusnya berbunyi kini semakin terdengar bunyinya," ucap Sandira dalam hati.
__ADS_1
Orang tak akan tau kapan dan dengan siapa mereka akan jatuh cinta. Bahkan mereka bisa saja jatuh cinta dengan seseorang yang mereka benci selama ini.
See You Next Bab !