
"ada apa?" tanya Tama pada Sella, Sella adalah salah satu kekasihnya.
Tadi Sella sempat menghubunginya, dan setelah urusan pekerjaannya selesai dia segera menghampiri Sella diapartemennya.
"duduk dulu sayang"
Tama segera duduk disofa, Sella dengan cepat mengambilkan minuman dingin untuk Tama.
Tama menerimanya dan segera meminum minuman soda yang disodorkan oleh Sella.
Sella duduk dipangkuan Tama dan bergelayut dileher pria itu, mengecup sekilas bibir sexi itu "aku hanya kangen padamu, sudah satu bulan kamu tidak kemari" keluh gadis itu sembari mengerucutkan bibirnya.
Tama menghela nafas lelah "aku sibuk akhir akhir ini"
"sibuk dengan kekasihmu yang lain kan?" terka Sella, dia paham betul bagaimana brengseknya seorang Tama dan tahu kalau bukan cuma dirinya yang menjadi sugar baby pria mapan itu.
"aku benar benar sibuk dengan pekerjaanku" dia tidak sedang berdalih karena Tama mengatakan yang sejujurnya.
Sella mengangguk, meski sebenarnya dia tidak terlalu percaya akan mulut kekasihnya itu, sebanarnya dia merasa lelah dengan hubungan macam ini, hubungan yang tidak dilandasi cinta, dan mereka bisa diibaratkan hanya patner bercinta saja, tapi kembali pada kehidupan yang sebenarnya, sangat sulit mendapatkan uang dengan cara cepat seperti ini, meski Tama jarang mengunjunginya tapi setiap bulan pria itu selalu memberinya uang.
Meski dia lelah, tapi bohong kalau dia tidak menikmati dan dia juga pada akhirnya mempunyai perasaan pada pria itu, pria yang sudah beberapa bulan ini menghangatkannya.
"apa kamu lapar?"
Tama menggeleng, dia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"apa kamu tidak mau melakukan sesuatu?" tanya Sella dengan suara sexinya, dia mulai menggoda Tama dengan menyusuri tubuh atletis pria itu dengan jemari lentiknya.
Tama yang memang memiliki iman yang lemah, langsung meresponnya dan membalik tubuh sexi Sella dan merebahkan tubuh itu kesofa. "menggodaku?"
Sella terkekeh "tentu saja" dia menarik tengkuk Tama sehingga bibir mereka saling beradu.
Merasa ruang geraknya susah, Tama menggendong Sella kekamar, merebahkan dengan sedikit kasar lalu mengungkungnya.
Tama mulai mencumbu kekasihnya dan mencium leher putih nan jenjang gadis itu.
Tangan profesional Tama sudah berhasil melepas dress yang gadis itu kenakan.
Setelah bermain main sebentar, Tama hendak membuka bajunya tapi setelah melihat wajah sayu dan penuh gairah Sella tiba tiba saja dia merasa jijik, Tama tertegun sebentar entah kenapa wajah cantik Elza terlintas diotaknya.
Wajah cantik yang saat ini dihadapannya sungguh seperti gadis yang belakangan ini mengganggu pikirannya, dengan cepat Tama beranjak dan berdiri.
"ada apa?" tanya Sella bingung, pasalnya ini pertama kalinya Tama seperti itu.
"maaf aku harus pergi" Tama langsung lari dan keluar kamar.
"saayang mau kemanaa?" pekik Sella, dia menatap kesal pintu yang sudah ditutup oleh pria itu.
"sialaan kau brengsek!!" pekik sela karena merasa kesal sudah dipermainkan.
Tama dengan cepat meraih kunci mobil yang tadi dia letakan diatas meja dan segera meninggalkan apartemen Sella.
Didalam mobil Tama menghela nafas dengan kasar, meraup wajahnya sendiri dan menyandarkan tubuhnya "gue sebenarnya kenapa? kenapa wajah gadis kecil itu muncul tiba tiba?" keluhnya, dan setelah merasa tenang Tama melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
Dengan langkah gontai Tama berjalan kearah lift, dia butuh mandi air dingin untuk memadamkan gejolak yang terjadi pada tubuhnya.
__ADS_1
Matanya melirik kearah keamanan, dimana terlihat seorang gadis tengah memberikan sesuatu kesatpan penjaga, matanya sedikit terbelalak karena orang itu adalah gadis yang baru saja merusak rencananya dengan sang kekasih bercinta.
"i itu kan" dengan cepat Tama mengejar gadis itu tapi terlambat, karena gadis itu sudah memakai motornya dan pergi.
"pak"
"iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang satpam yang tadi sempat ditegur oleh Tama.
"gadis tadi ada urusan apa kemari?"
"oh itu pengantar makanan dari restauran xx tuan, karena diapartemen ini tidak diperbolehkan masuk sembarang orang, makanya saya yang menerima dan akan saya antarkan keunit yang tertera disini" menunjuk alamat yang tertulis di atas bok makanan tersebut.
Tama mengangguk mengerti "bukannya dia seorang pramusaji direstoran itu? kenapa sekarang malah mengantar makanan?" gumam Tama.
"apa yang anda katakan tuan?"
"oh tidak, saya permisi pak"
Satpam itu mengangguk "selamat malam"
Tama juga mengangguk lalu berjalan menuju lift untuk naik keatas.
Dengan langkah gontai tama membuka pintu unit apartemennya, menyalakan lampu yang masih padam.
"surpriseeee" pekik seorang pria yang berdiri dihadapan Tama, Tama terlonjak kaget dan sampai mundur selangkah kebelakang.
"apa yang elo lakukan?!" pekik Tama kesal pada seorang pria yang sedang memperlihatkan wajah tengilnya, Bastian.
Lalu matanya melirik kearah sofa, disana juga ada Arsen ternyata, Tama mengabaikan Bastian dan berjalan melewatinya begitu saja.
Tama menoleh kebelakang sedikit lalu memutar bola matanya malas sembari mendengus, lalu duduk disebelah Arsen.
"ada apa kalian kemari?" tanya Tama, dia melihat mejanya sudah penuh dengan sampah camilan dan minuman kaleng yang kosong. "sudah sejak kapan kalian disini?" tanya Tama sembari menyernyit.
"sejak pulang kantor" jawab Arsen sedikit malas, kalau saja Bastian tadi tidak menyeretnya dia malas sekali berada disana, lebih baik dia berkumpul bersama keluarga kecilnya sekarang.
"iya sedari tadi, dan dari mana lo? jam segini baru pulang?" tanya Bastian menyelidik, karena sekarang sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Tama mendesah "abis meeting tadi" dia tidak sepenuhnya berbohong karena tadi dia memang meeting diluar.
"Raka bilang meeting selesai jam lima tadi, setelah itu elo pergi kemana?" tanya Bastain menyelidik,
"kepo sekali" menepuk wajah Bastian dengan tangannya sampai membuat wajah Bastian tertutup.
Bastian menampik tangan Tama dan mendengus kesal "lo dari rumah salah satu kambing elo kan?" terka Bastian, Tama sedikit terkesiap dan itu berhasil membuat Bastian mengerti.
"sudah gue duga" Bastian menggeser tubuhnya menjauhi Tama.
"lo kenapa?"
"gue jijik, lo bau jal*ng!"
"isshh.. gue nggak ngapa ngapain tadi" ucap Tama, tapi nada bicaranya sedikit terdengar seperti mengeluh.
"kenapa?"
__ADS_1
Tama terdiam "entahlah.. tadi gue sedikit jijik"
"buahahaha" Bastian tertawa "gue rasa hati elo sudah terisi seseorang"
Tama terkesiap "ti tidak ada" bohongnya.
"kalau tidak, kenapa elo tiba tiba jijik? bukannya elo paling suka melakukan Making Love dengan para jala*ng jelek itu?"
"entahlah gue juga bingung tadi, sudahlah jangan bahas gue! elo berdua ngapain kemari?"
"gue tahu elo pasti sudah mendapatkan apa yang hati elo butuhkan" ucap Bastian dengan serius. "seseorang yang tanpa.melakukan apapun dapat membuat duniamu berantakan dan membuatmu berdebar tanpa alasan"
Tama terdiam sejenak, apa yang dibicarakan oleh Bastian memang benar " sudah gue bilang, jangan membahas gue!"
Bastian terkekeh " ya sudahlah, mungkin saat ini elo belum menyadari atau elo menampiknya, tapi kalau elo butuh bantuan tentang percintaan tanya gue atau Arsen"
"malas sekali meminta bantuan ke kalian berdua!"
"kenapa?!" Bastian tampak tidak terima.
"tidak papa, hanya saja gue malas meminta bantuan karena kalian sendiri kalau masalah cinta lemah, lemah terhadap cinta itu sendiri sehingga kalian kalah dari wanita" jawabnya malas.
"gue juga nggak mau membantu elo!" Arsen yang sedari tadi diam menyahut.
"hahaha" Bastian malah tertawa melihat wajah kecut Tama, saat kata kata Araen berhasil membungkam mulut Tama.
Setelah ngobrol sebentar, mereka bertiga pada akhirnya membahas masalah kerja sama yang perusahaan mereka jalani saat ini.
Dua jam kemudian, Arsen dan Bastian pergi dari apartemen Tama.
"selidiki gadis itu!"
Bastian menoleh kesamping diamana Arsen yang sedang menatap tajam dirinya.
"gadis yang mana? apa elo menyukai seorang gadis?" tanya Bastian penuh selidik, padahal dia sudah tahu arah pembicaraan sahabatnya itu, tetapi dia ingin menggoda Arsen yang dingin itu ,tidak ada salahnya kan? batin licik Bastian.
"ck! bodoh sekali ! "
Bastian menatap Arsen dengan sebal "kalau sampai kakak ipar tahu elo menyelidiki seorang gadis, bagaimana reaksinya ya?" sekarang dia tersenyum licik dan menaik turun kan alisnya, bagaimanapun dingin dan arogant nya Arsen kelemahannya adalah Valey istrinya.
"kalau sampai dia tahu dan salah paham, kepala elo akan terlepas dari tempatnya!" Arsen menyeringai,sembari mengelus leher Bastian seperti akan menyekiknya. "bukankah itu menyenangkan?"
gluk
Bastian tertekan, dia merasa terintimidasi "kyaaa dasar psycopat!" menampik tangan Arsen dan sedikit menjauhi tubuh Arsen. "gue akan melakukan apa yang elo suruh!"
"good" Arsen menjawab sembari menyeringai kembali, padahal dia hanya bercanda tadi melihat Bastian yang ketakutan menghibur juga.
"Tama tidak akan menyelidiki gadis itu" gumam Arsen tapi masih dapat didengar oleh Bastian.
"tentu saja, karena dia bodoh!"
"seperti elo!"
Bastian terbelalak mendengar ucapan savage Arsen, meski dia sering mendengarnya tapi rasanya tetap sama, menyebalkan! dengan mendengus kesal Bastian tetap berjalan kearah parkiran bersama.
__ADS_1