DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
diperiksa


__ADS_3

Ting nong ting nong..


Tama terus menekan bel rumah Elza, sudah beberapa menit ia berada disana tapi pintu tak kunjung Elza buka. "kemana gadis itu?" gerutu Tama.


Dia menyandarkan kepalanya dipintu, kakinya terayun hendak menendang pintu tersebut. Tapi saat hampir menyentuh pintu Tama menghentikannya "jangan, kalau dia marah bisa gawat" gumamnya mengurungkan niatnya.


Tama membalik tubuhnya saat merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari jauh. Matanya menajam menatap pohon yang bersebrangan dengan pintu gerbang. "cih.. dasar penguntit!!"


Tama kembali menekan bel rumah Elza lagi, tapi tak kunjung dibuka "jangan salahkan aku jika pintu ini rusak Elz.." ucap Tama dengan kesal, dia mundur beberapa langkah.


Berancang-ancang hendak mendobrak pintu tersebut karena kesabarannya telah habis.


klek klek


Tama terkesiap saat mendengar suara kunci yang terbuka, dengan cepat pria tampan itu mendekati pintu "kenapa lama sekali?" keluh Tama saat melihat gadis yang ia tunggu akhirnya membukakan pintu untuknya.


Tama terdiam saat melihat gadis itu terkesiap "kenapa anda kemari?" tanyanya.


Tama menyernyit melihat wajah Elza dan penampilan Elza. Gadis itu masih mengenakan baju yang ia pakai tadi pagi.


Wajahnya tampak sayu dengan mata yang sembab. Wajahnya juga pucat "kamu sakit?" tanya Tama dengan khawatir, dia memegang kening Elza. "panas, kamu demam Elz"


Elza menggeleng "tidak papa, aku akan minum obat penurun panas nanti. Ada apa anda kemari?"


"Ck dasar gadis bodoh, ayo kerumah sakit sekarang!"


Elza terbelalak "eh-- tidak perlu tuan. ini hanya demam biasa kok"


"tidak bisa! kamu harus segera diobati" ucapnya sembari menarik tangan Elza.


"aku punya obat penurun panas didalam. aduh kepalaku sakit"


Tama menghentikan langkahnya saat mendengar keluhan gadis itu, ia menoleh kebelakang "astaga, baiklah-baiklah.. aku tidak akan memaksamu" ucapnya saat melihat wajah Elza bertambah pucat.


Dengan gerakan cepat, Tama menggendong tubuh Elza.


"ah-- tuan! apa yang anda lakukan?!" pekik Elza karena terkejut


"diamlah! kamu itu sedang sakit kenapa marah-marah seperti itu"


"tapi aku masih bisa jalan, aku hanya demam! tidak pincang"


"diam atau aku akan melemparmu kelantai!"


Tama menyeringai saat melihat gadis ini akhirnya menuruti ucapannya. Sebelum masuk kedalam mata Tama melirik keluar gerbang, dia merasa kesal sekali karena terus diperhatikan dari jauh "awas kau tukang intip! jangan salahkan aku jika besok matamu hilang satu!"


brak


Elza terkesiap kaget saat Tama menutup pintu dengan kencang menggunakan kakinya.


Tama menunduk "kamu terkejut?"


Gadis itu mengangguk, wajahnya polos dan tampak lemah.

__ADS_1


"maaf" ucap Tama sembari tersenyum, dia membawa Elza menuju kamar dengan diarahkan oleh Elza tentunya.


Tama meletakan Elza dengan perlahan, menyelimutinya dengan telaten. Tama duduk dipinggir ranjang, dia memegang kening Elza kembali. Panas sekali, gumamnya pelan.


"kamu istirahatlah, aku keluar sebentar"


Elza menolehkan kepalanya "mau kemana?"


"kenapa? apa kamu tidak rela jika aku pergi?" tanya Tama sembari menaik turunkan alisnya, menggoda gadis yang tengah demam ini.


"pergi sana!" ketus Elza menjawab, hal itu membuat Tama terkekeh.


Tangannya terulur untuk mengelus rambut Elza dengan lembut. Lalu ia keluar dari kamar tersebut.


Elza memegang kepalanya yang baru saja dipegang oleh Tama, hangatnya tangan pria itu masih terasa. Matanya terpejam dan helaan nafas panjang ia lakukan untuk menguasai hatinya yang berkecamuk. Ada rasa yang membuncah dihatinya saat pria itu seperhatian ini padanya. Tapi disisi lain ia juga takut, takut jika nantinya ia akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh kakaknya. Yaitu dicampakan.


**


Elza membuka matanya perlahan saat merasa ada tangan hangat yang mengelus kepalanya, dia melihat wajah tampan Tama yang tengah tersenyum padanya.


"Kamu akan diperiksa oleh dokter"


Elza menoleh kesamping Tama, alisnya menyernyit saat melihat ada seorang laki-laki yang tengah berdiri. Mana dokter yang dikatakan oleh Tama?


Apa pria yang berpakaian santai ini adalah dokter itu? bukankah seorang dokter akan mengenakan jas putih jika hendak memeriksa pasien? tapi yang ia kenakan justru kaos oblong dan celana pendek? bahkan rambutnya berwarna ungu, lucu sekali.


"hai cantik.." sapa pria itu


sembari melambaikan tangannya.


"kenapa reaksinya seperti itu Tam? apa gue terlihat jelek?" tanyanya.


"hahaha.. Lo memang jelek! cepat periksa gadisku ini"


Elza menoleh kearah Tama dengan sinis saat pria itu mengatakan jika dirinya adalah gadisnya.


"iya.. iya.. belum! cepat periksa dia dokter jelek!"


Pria itu mendengus tapi segera duduk disisi Tama "kalau lo disini bagaimana aku memeriksanya?! kau menyingkirkan lah dulu"


Dengan wajah yang terlihat tidak terima Tama berdiri dari duduknya "awas kalau elu asal pegang!"


Pria itu menyeringai menatap Tama. Dari tatapan liciknya terlihat sekali jika ia hendak melakukan sesuatu yang membuatnya kesal.


"jangan coba-coba!" ucap Tama dengan wajah mengancam.


"hehehe.. gue ini dokter profesional, gue tidak akan memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadiku" ucapnya bersungguh-sungguh.


"jangan banyak bicara! cepatlah lo periksa dia!"


Pria itu mengangguk lalu menoleh kearah Elza "hai.. apa kabar nona?"


"anda lihat?!"

__ADS_1


"pfffttt.."


Pria itu menoleh sinis kearah Tama yang tengah mentertawakan dirinya. Lagian aneh sekali, sudah jelas kan keadaan Elza tengah tidak baik-baik saja.


"aish.. ternyata nona gadis yang menarik ya? pantas saja buaya seperti dia bisa bertaubat" ucap pria itu menyindir Tama.


"sialan kau!" umpat Tama tidak terima.


"santai bung, gue akan memeriksanya sekarang" ucapnya dengan segera, saat menyadari Tama hendak memukul kepalanya.


Pria itu memperhatikan wajah pucat Elza, dia memegang keningnya untuk memastikan sepanas apa demam gadis ini. "astaga.. hampir 40 derajat"


"dari mana lo tahu?! elu bahkan tidak menggunakan termometer untuk memeriksa panasnya" ucap Tama protes.


"ck.. kau tidak percaya sekali padaku! gue ini dokter yang sudah ahli"


"mana bisa kupercaya? wajahmu saja tidak seperti dokter. Lo itu lebih mirip seperti gig*lo" ujarnya dengan ketus, bukan tanpa alasan dia berbicara seperti itu. Karena memang penampilan pria ini sering kali seperti seorang gig*lo.


"diam atau kusuntik lo nanti!" ancamnya.


Elza menatap interaksi keduanya, jika dilihat dari apa yang mereka bicarakan sepertinya mereka sangat dekat satu sama lain. Hal itu dapat ia simpulkan begitu karena ia melihat bagaimana mereka terus saja berdebat semenjak mereka datang.


"kamu merasa pusing ya? biar nanti aku lakban sekalian supaya dia diam" ucap pria yang katanya seorang dokter profesional pada gadis yang sedari tadi hanya diam saja.


"kamu hanya demam biasa, kamu juga flu. Apa kamu stres atau kelelahan akhir-akhir ini?"


"sepertinya aku cukup stres akhir-akhir ini" jawab Elza.


"stress bisa mempengaruhi daya tahan tubuhmu, jadi kusarankan untuk tetap slaaay" ucapnya meniru nada suara seseorang yang sempat viral disalah satu media sosial.


Elza mengangguk saja mendapat saran seperti itu.


"aku akan memberimu obat penurun panas dan vitamin"


Elza mengangguk lagi. Dia memperhatikan dokter itu yang tengah mengeluarkan obat dan kemudian meletakkannya diatas nakas.


"oh iya aku sampai lupa.. kita belum berkenalan kan?" ucapnya dengan antusias setelah ia memasukkan semua alat-alat yang telah ia gunakan kedalam tas.


"tidak boleh!" sambar Tama dengan cepat. Dia tidak setuju.


Pria itu mengulurkan tangannya tanpa peduli akan penolakan Tama, karena gadis itu tak merespon pria itu menyambar tangan Elza dengan cepat "perkenalkan, aku Sean"


"E-Elza"


"Elza? wah.. nama yang cantik, sepertinya kita cocok. Elza itu singkatan dari Elza dan Zean" prok prok prok.. bertepuk tangan dengan heboh setelah menemukan kecocokan antara namanya dan nama gadis ini. Dia terlihat senang.


"banyak bicara sekali kau! keluar sana!" usir Tama, ia bahkan menarik Sean agar cepat keluar dari kamar Elza.


"jangan lupa dimakan obatnya nona Elza" pekik Sean lalu ia mengedipkan satu matanya.


"mau gue colok matamu itu hah?!"


"mata secantik ini mau dicolok?! kau gila ya?!"

__ADS_1


"diam! cepat keluar!" pekik Tama lalu ia menarik Sean keluar kamar.


Elza hanya menggeleng melihat tingkah kedua pria itu.


__ADS_2