
Bbrukk, rio terhempas ketanah dalam keadaan terduduk, kim mendorongnya kuat dan membuat para anak wanita cekikikan tertawa , "hihihihi, lihat dia maniskan" bisik mereka
"lakukan apapun yang ingin kalian lakukan, dia budak ku, aku ijinkan kalian bermain" tambah kim "jangan sekali-kali kau melakukan perlawanan" . Lalu kim dan teman-temannya duduk di atas bebatuan besar sambil menyulutkan rokok yang di bagikan oleh seorang perempuan yang sudah SMA.
Kemudian seorang kakak senior wanita yang memegang botol kecil berisi minuman beralkohol, menaiki tubuh rio dan tanpa malu-malu ia meletakan bagian ujung botol minuman itu di bibir rio, lalu mengarahkan botol dengan tangannya agar minuman itu bisa tumpah ke dalam mulut rio "minum lah !! " perintahnya sambil jari jempol dan empat jari tangan kanannya menekan dan menjepit pipi rio agar bibir rio terbuka kemudian memaksa meminumkan minuman itu ke rio dan dengan tatapan dinginnya menikmati wajah rio yang terpaksa meminum minuman itu.
Rio memejam kan matanya dan meminum minuman yang di paksakan itu, minuman pahit yang membakar tenggorokan sampai kedalam dada itu rio habiskannya dalam satu kali tenggakan karena tumpahan yang tak henti bahkan tidak bisa di tolak, setelah minuman itu habis anak perempuan SMA itu bangkit dari atas tubuh rio dan mendekati temannya yang sedang duduk bersama dengan kim.
Rio menjadi pusing dan lemas, ada rasa ingin memuntahkan semuanya, "kau akan mati jika memuntahkan itu semua" ujar kim yang duduk di jarak yang tidak jauh dari situ, seolah sangat tau kalau rio mungkin akan muntah.
Rio yang tak kuat mengontrol tubuh lemasnya, dengan pandangan kabur, mual tapi tak boleh muntah akhirnya terkulai lemas di tanah, para wanita tertawa, "hei, selanjutnya apa ?" ujar anak perempuan yang sekelas dengan rio, "buka bajunya, bukannya kalian ingin bermain, lihat lah anak itu berwajah cantik dan lucu, bermainlah, kurasa "barang" nya tidak buruk" ujar anak SMA yang memaksa rio minum, "kau sangat tau " sahut teman anak SMA satunya lagi yang sedang duduk bersandar di sebelah tubuh kim, "senior duluan !!" seru seorang anak perempuan sekelas rio, dengan senyum malu-malu sambil menghisap rokok gugup "dasar pemula" ujar seorang perempuan senior kelas tiga SMP mereka, senior itu mendekati rio dan membuka baju rio, dan tangannya bergerak membuka resleting celana rio.
Rio masih merasa pusing, ia bahkan tak tau bahwa ia sedang di lecehkan anak-anak perempuan dari kelasnya, dan kakak-kakak perempuan senior di SMPnya, sedangkan dua anak perempuan yang SMA hanya mengambil vidio dan foto yang hanya fokus pada tubuh telanjang rio, mereka berpesta, bermain sepuasnya dan tertawa.
Bukit ini memang tak banyak pengunjung dan tak ada penjaga nya karena bukit ini adalah salah satu tanah milik keluarga kim.
Setelah puas bermain, dan berpesta mereka pun meninggalkan rio yang masih mabuk dalam keadaan tanpa pakaian satupun di tubuhnya, kim dan teman-temannya pun ikut pergi bersama anak-anak perempuan, mereka melanjutkan pesta malam mereka di tempat lain. Rio sadar tiga jam setelah kim dan semua teman-temannya yang wanita dan laki-laki pergi, rio menggigil kedinginan, memakai bajunya, tubuhnya kotor dan terluka dan Sekarang sudah pukul 01.00 pagi, rio pulang dengan baju-bajunya yang kotor membuka pintu depan rumah dan menutup dangan menghempas keras pintu itu Bbraak!!! rio membuat ayahnya terkejut dengan bunyi pintu yang ia banting dan sontak membuat ayahnya yang sejak tadi gelisah di ruang tamu sambil memegang hpnya menunggu rio pulang menjadi sangat emosi " anak bodoh!! mengapa baru pulang sekarang, ayah mencari-cari kau di mana-mana dan tak ada yang tau kau kemana" ayah rio berteriak sangat marah, Pppllaakkk !! bunyi tamparan ayahnya melayang di wajah rio "kau anak idiot, bau alkohol, kau, kau masih SMP, mengapa kau sudah berani-beraninya? aku pikir kau hanya pergi bermain kerumah teman-teman mu aku tak bertanya karena aku percaya anak ku, ternyata kau mengecewakan ayah" suara ayah rio gemetar dan penuh emosi, tak lagi bisa tenang "sudah puas? aku ingin tidur, aku sangat lelah" rio tak mempedulikan ayahnya melangkah menuju tangga, ayah rio yang terkejut dengan sikap rio hanya bisa termenung berdiri membatu dan tak mengucapkan sepatah kata pun saat rio mulai menghilang ke dalam kamarnya.
Ayah rio masuk ke kamar, berjalan lemas, duduk di samping tempat tidurnya menutup wajah nya dengan tangannya, entah apa yang ada dipikiran seorang ayah saat melihat putranya yang tak ia kenal lagi.
__ADS_1
Rio muntah-muntah di kamar mandi pribadinya yang ada di kamarnya, air mata tak tertahankan, di bukanya dengan kasar semua bajunya kemudian memutar keran air agar air mengalir dari shower, air itu dingin rio tak menggunakan air hangat untuk membasuh dirinya yang ia rasa kotor.
"yuri, tolong aku" isaknya, di dadanya terasa sangat sakit, tangan rio mencengkram kuat rambutnya sendiri, ia duduk membungkuk dengan air terus mengalir, merasa sangat jijik pada dirinya sendiri.
Rio mungkin ia mabuk dan pusing saat itu tapi bukan berarti ia tak tau apa yang terjadi, tapi ia tak kuasa berbuat apapun karena ia tak pernah sekali pun meminum minuman beralkohol dan ini adalah pertama kalinya.
"***Apa salahku*? aku hanya ingin hidup normal** "
kata yang keluar dari bibir rio hanya berbentuk bisikan di sela tangisnya, tamparan keras ayahnya tak lagi terasa di bandingkan sakit hati rio.
Pagi pun tiba, rio tak kunjung turun dari kamarnya, ayahnya mengetuk pintu kamar rio "rio, bangun! kau akan terlambat, jika ini pengaruh alkohol aku akan menghukummu" ancam ayahnya, tapi rio tak kunjung menjawab, ayah nya berusaha membuka pintu kamar rio, tetapi sepertinya di kunci dari dalam, lalu ayahnya mengambil kunci kamar cadangan milik rio dan membuka paksa pintu kamar rio, pintu kamarpun terbuka. Ayah rio yang geram melihat rio yang masih tidur dengan seluruh badan di tutupi selimut, ayahnya langsung membuka selimut rio dan mendapati rio tidur dengan lengan tangannya yang menutup matanya, "bangun!!!" bentak ayahnya "aku tidak ingin sekolah" jawab rio singkat "lalu kau ingin apa? minum lagi? jadi berandalan? " ujar ayahnya semakin emosi "mungkin lebih baik" jawab rio "bagus nak jawaban mu bagus, ayah tak ingin berdebat, jika kau mau sekolah terserah dan jika kau tak ingin sekolah terserah kau saja" ayah memutar badan hendak pergi dari kamar dan sebelum keluar ayah rio berbalik sebentar dan berkata "oh iya, aku berangkat kerja sekarang, dan jika kau ingin makan sesuatu kau masaklah sendiri, anak ku bukan seorang pemabuk, aku tak mengenal kau siapa, dan aku hanya memasak untuk anakku" sekali lagi suara ayahnya bergetar berusaha menahan amarah sebelum akhirnya melangkah keluar kamar dan berangkat bekerja.
Rio mengangkat lengan tangannya dan membuka matanya yang sembab karena menangis menatap langit-langit kamarnya "maafkan aku ayah, aku ingin mati" ujar rio sedih di dalam hati, tapi rio sadar bahwa ia tak punya keberanian mengakhiri hidupnya, "benar, karena aku pecundang menyedihkan, apa yang harus ku lakukan, aku harus bagaimana"
ucap nya dalam hati.
Rio hanya mengurung dirinya dalam kamar, mematikan handphonenya dan tak melakukan apapun saat lapar ia hanya memakan mi instan dan ayahnya benar-benar tak mau tau tentangnya, dan hari berlalu tiba saatnya kedatangan yuri dari desa neneknya.
Yuri, ibu dan ayahnya tiba di rumah menggunakan mobil, dan hal pertama yang di lakukan yuri saat turun dari mobilnya adalah kerumah tetangganya yang tidak lain adalah rumah rio, seperti biasa yuri hanya langsung membuka pintu depan rumah rio tanpa mengetuknya, tapi pintu rumah itu terkunci, yuri pun terpaksa mengetuk serta memencet bel rumah rio, dan tak ada respon serta jawaban. "aduh yuri, jangan maksa ini jam mereka sedang tak di rumah" panggil ibunya dari luar pagar rumah rio, karena tidak nyaman dengan sikap yuri yang sangat memaksa memencet bel berkali-kali dan mengetuk pintu berkali-kali. "aneh bu, rio hp nya sudah tiga hari ini tidak aktif " yuri keluar pagar dengan kecewa,
__ADS_1
"ayah rio lagi di sekolahkan jam segini ?,dan rio juga pasti sedang sekolah nanti malam datang saja pasti ayahnya dan rio ada dirumah" ujar ibu yuri berusaha menghibur yuri, yuri hanya mengangguk dan menjawab seadanya "yuri takut seandainya rio sakit bagaimana?", "do'akan saja tak ada yang seperti itu" ibu yuri berusaha menghibur.
"yuri" sapa rio yang hanya menatap dari balik jendela kamarnya, hati nya mulai terasa sakit, dan malu, ada rasa ingin bertemu karena rindu dan ada rasa tak mau bertemu karena merasa ia seorang pecundang yang menyedihkan.
Malam pun tiba, yuri yang sejak tadi melihat ke arah jam menantikan kedatangan ayah rio segera berlari keluar rumah dan menuju rumah rio, benar saja pintu rumah rio tak terkunci, "Riiiiioooo!!!" panggilnya ia berlari tanpa permisi, ayah rio yang berada dalam kamar segera keluar kamar, tapi belum sempat ayah rio menyambut yuri, yuri sudah berada di depan pintu kamar rio. "Tetapi ini aneh kamar rio terkunci" ucap yuri di dalam hati, yuri agak sedikit syok dengan kejadian ini karena seumur hidupnya kamar rio tak pernah terkunci apalagi saat yuri memanggil nama rio dari lantai bawah rio pasti akan membuka kunci kamarnya agar yuri bisa langsung masuk ke kamarnya. Tak pernah sekalipun kamar rio terkunci untuk yuri.
"rio ?" panggil yuri pelan, menempelkan telinganya kepintu berusaha mendengarkan pergerakan aktivitas di dalam kamar rio,
ayah rio yang menyusul yuri naik ke lantai atas hanya berdiri sedikit jauh dari yuri, "paman, rio kemana " yuri bertanya karena menyadari ayah rio berdiri di belakangnya "paman tidak tau, hanya di dalam kamar tak kemana-mana, rio dari empat hari setelah kamu dan orang tua mu pergi ia mengunci dirinya di kamar, dan makan hanya saat paman tak ada di rumah, ia pun sudah tiga hari tak masuk sekolah " ujar ayah rio menjelaskan dengan pelan, datar dan kemudian membalikan badan dan melangkah turun ke lantai bawah.
"hah? rio ini yuri, benar kan kau memang ada masalah di sekolah, aku sudah curiga, rio kasih tau aku atau aku akan bertanya ke kelas mu" ucap yuri dengan nada sedikit mengancam, "yuri" bunyi suara dari dalam kamar, suara rio "besok aku akan menunggu mu seperti biasa berangkat sekolah ya, aku hanya ingin istirahat" suara rio lembut seperti biasanya, membuat hati yuri luluh dan sedikit lega karena akhirnya mendengar suara rio, "baiklah, jangan bohong ya" ujar yuri singkat saja sambil menyentuh pintu kamar rio dengan tangannya dan kemudian yuri pun pulang dengan sedikit ada rasa sedih, yuri tak ingin memaksa kan rio membuka kamarnya, hanya ingin agar rio merasa nyaman, dan yuri sangat tak sabar untuk bertemu besok pagi. Rio berdiri di dekat pintu sangat lama dan tangannya juga menggapai pintu mendengar suara yuri di balik pintu kamarnya, serta mendengar suara langkah kaki yuri yang pergi menjauh dari kamarnya, kemudian rio masih hanya berdiri mematung di depan pintu kamarnya, masih berpikir "dengan wajah apa aku harus menemuinya besok" .
Pagi pun datang dengan cepat, dan hari yang tak bisa rio hindari, rio bergegas mandi dan terburu-buru menggunakan baju sekolahnya karena saat ia bangun tidur ia sadar bahwa ia terlambat, "semoga yuri tidak menunggu ku" ucapnya di dalam hati, ayahnya yang sedang sarapan di meja makan terheran melihat rio yang turun dengan baju sekolahnya "akhirnya kau mau sekolah" ujar ayahnya "tak sarapan" tambah ayah rio, "aku berangkat" hanya jawaban singkat dari rio. Ayahnya melihat putranya berangkat ke sekolah dari meja makan dengan hati yang masih sangat khawatir.
Rio keluar pagar rumahnya dan mendapati yuri berdiri di samping pagar rumahnya, "selamat pagi" sapa yuri dengan wajah yang tak ceria melainkan wajah penuh dengan kekhawatiran, rio tersenyum dan menjawab "selamat pagi"
"bagaimana caranya aku memastikan kau baik-baik saja" ucap yuri dalam hati dengan perasaan yang sedih. ketika melihat rio yang memakai masker di wajahnya, apakah ia sedang sakit ?
__ADS_1