
"siapa yang kau sebut breng-sek?!"
Mata Elza terbelalak saat mendengar suara seseorang, seseorang yang dia kenali. Gadis cantik yang saat ini tampak berantakan itu membalik badannya "kau!" ucapnya dengan suara rendah. Dia menatap tajam pria yang dua hari ini ingin sekali ia temui yaitu Tama.
Elza menatap benci pria yang telah menculiknya. Membawanya kesebuah pulau yang tidak terjangkau oleh manusia. Gadis itu berjalan dengan cepat mendekati Tama.
Kedua tangannya terulur untuk menyergah pria yang ingin sekali dia cekik sampai mati ini. Saat sudah dekat tanpa Elza duga Tama menghindarinya "kyaaa" pekiknya dengan kencang saat tubuhnya hampir saja terjungkal kedepan.
greb
Tama menangkap tangan Elza sehingga gadis itu tidak sampai jatuh. Elza menoleh kebelakang, tangan yang satunya dia gunakan untuk berusaha memukul Tama.
greb
Tama berhasil menangkap tangannya juga "ah-- lepaskan!" ucapnya memberontak. Gadis ini berusaha lepas dari cengkraman Tama.
Tama memberi isyarat pada Arlendra dan semua anak buahnya agar segera menyingkir, mereka yang tahu kode itu menunduk lalu pergi. Meninggalkan pasangan itu.
"lepaskan aku breng-sek!!" umpat Elza.
Tama menyeringai. Pria tampan itu membalik tangan Elza sehingga wanita itu membelakangi dirinya. "bagaimana kabarmu El? ku dengar kau selalu mengamuk?"
Elza terdiam saat Tama berbisik didekat telinganya, dia merinding merasakan deru nafas pria itu yang mengenai lehernya.
"apa kamu tidak betah berada disini?"
"siapa yang betah berada ditempat pengasingan seperti ini?!"
"pengasingan? hahahaha.. kau tak tahu ya jika pulau ini selalu menjadi incaran semua Sultan dinegara ini?" tanya Tama. Memang Vila pribadi ini sangat diminati oleh para pengusaha, mengingat tempat ini sangatlah indah.
Elza tidak peduli, dia menoleh sehingga dapat melihat wajah Tama "masa bodo!"
"hahaha.. kau berantakan sekali El? kau tidak pernah mandi ya?"
Elza membelalakan matanya, memang dia dua hari ini tidak mandi. Yang ada dipikannya hanya bagaimana caranya bisa kabur. Elza sama sekali tidak memperhatikan tubuhnya.
__ADS_1
"diam kau! lepaskan aku sialan!"
Elza dapat melihat wajah Tama yang menyeringai. Jika dilihat dari dekat memang Tama sangat tampan. Pantas saja setiap wanita mau dengan senang hati menghangatkan ranjang Tama, selain memiliki uang yang banyak dia benar-benar makhluk Tuhan yang sangat sempurna. Elza menggeleng, bagaimana bisa dia malah terpesona akan penampilan luar seorang baji-ngan ini?
"jangan mencoba menyakitiku atau aku tidak akan mau melepaskanmu"
"jangan menyakitimu? hahaha kau bodoh ya? aku bahkan ingin sekali membunuhmu sekarang!"
cup
Elza terbelalak saat Tama berani mengecup pipinya.
"kau!! beraninya kau menciumku!"
"aku tidak menciummu El, aku hanya mengecupmu saja. Apa kau mau berciuman? tampaknya kau menginginkannya" ujar Tama sengaja menggoda Elza.
"kalau berani, kau akan kuhabisi"
Tama menyeringai lalu mendekati wajah Elza. Membuat gadis itu membelalakan matanya. Lalu dia melengos dan menghadap kedepan.
"aish.. benar-benar" ucap Tama. Pria itu memutuskan untuk melepaskan tangan Elza. Kasihan juga jika dipegang seperti itu terus. "kalau kau menyerang ku, aku tidak akan segan padamu"
"kalau kau berani, aku tidak segan untuk merobek bajumu dan bermain denganmu El"
Tama menyeringai melihat wajah Elza yang tampak takut. Wajahnya juga sudah tidak seberingas sebelumnya. Sepertinya gadis itu menganggap candaan Tama serius.
Elza tampak menunduk, dia tidak akan bisa melawan Tama. Selain kekuatan Tama yang begitu hebat, Elza yang tidak memiliki senjata ini pasti akan kalah telak.
"duduklah sini El" ucap Tama sembari menepuk sofa yang sedang dia duduki. Saat melihat wajah jengah Elza Tama mendengus "kalau tidak mau disofa, maka duduklah di pangkuanku" ujarnya sembari menepuk pahanya.
Elza mendengus, dia akan mencari cara untuk bisa kabur dari sini. Gadis itu pada akhirnya patuh karena lelah tidak bisa menyerang Tama. Tapi dia memilih duduk sangat jauh dari Tama.
Tentu saja dia takut berada didekat pria yang menurutnya jahat itu.
"kenapa jauh sekali? ada hal penting yang akan aku bicarakan denganmu"
__ADS_1
"aku bisa mendengarnya tuan, jadi bicaralah" ucap Elza tidak mau menuruti ucapan Tama. Setelah dia meluapkan emosinya kemarin gadis itu sudah tidak mau bersandiwara dan bersikap baik dihadapan Tama bukan?.
"oh begitu? padahal aku ingin memberitahumu tentang seseorang yang sangat kau sayangi, sehingga kau berani masuk kedalam kehidupanku"
Mata Elza terbelalak, saat mengetahui Tama ternyata sudah mengetahui identitas nya yang sebenarnya "a-apa maksud anda tuan?" tanyanya berlagak tidak mengerti dengan apa yang sedang Tama ucapkan.
"Zara Kamila"
deg
Mata Elza terpejam. Dia menahan rasa sakit saat Tama menyebut nama kakaknya yang telah tiada. Tangannya terkepal erat sekali "apa yang mau kau bicarakan?" tanyanya dengan suara datar. Tidak ada air mata. Elza tidak mau sampai membuat Tama menilai dirinya lemah.
Tama menatap Elza dengan pandangan yang dalam. Tama tahu sekali jika gadis ini berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersedih setelah dia menyebut nama kakaknya itu. Jika dilihat dari gerakan tubuh Elza Tama tahu sekali jika Elza akan merasa lemah dan sedih saat menyebut nama kakaknya yang sangat Elza sayangi itu, keluarga satu-satunya.
"kau mau mendengarkan ceritaku?"
Elza menatap datar Tama "cerita apa? cerita bagaimana kau menyakiti kakakku?" ujarnya dengan suara yang sinis.
"oh Elza.. kau adalah gadis berpendidikan, jadi jangan pernah menilai sesuatu hanya dari sudut padangmu saja"
"sudut pandang ku saja? cih.. aku tahu cerita kalian berdua!" ujarnya mulia terpancing emosi "kau pria baji-ngan yang memutuskan hubungan begitu saja sehingga membuat kakakku bunuh diri!"
Tama tampak menghela nafasnya panjang "apa kau tidak pernah berfikir jika kakakmu adalah wanita baik dan tangguh. Dan lagi dia adalah wanita cerdas yang selalu memaki logika saat berfikir. Jadi tidak mungkin dia bunuh diri hanya karena putus cinta"
"bisa saja! dia sangat mencintaimu" ucap Elza. Tangannya terkepal erat saat mengatakan hal itu. Entah kenapa hatinya merasa tidak enak.
"hahaha.. kau membual apa sih El? kupikir kau adalah adiknya, tapi kau sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya kakakmu itu"
"lalu siapa yang tahu? kau begitu? kau yang menghancurkan hatinya tidak akan tahu bagaimana dia! kau yang membual!"
Tama menggeleng melihat Elza yang semakin naik darah. Gadis itu tidak bisa berfikir dengan jernih saat sedang marah "tenangkan dirimu dulu! kita bicarakan hal ini nanti saja" ujar Tama pada akhirnya. Dia tidak akan mau memaksa Elza untuk mendengarkan ceritanya jika tempramen gadis itu tidak stabil.
"hey mau kemana kau!" pekik Elza saat melihat Tama beranjak dari duduknya. Dengan cepat Elza menarik tangan Tama. Menyentaknya dengan kasar.
Tama yang kehilangan keseimbangan pada akhirnya ambruk kesofa dengan Elza yang berada dibawah Kungkungan nya.
__ADS_1
Mata mereka bertemu pandang, Entah kenapa Elza merasa jantungnya berdegup kencang sekali. Dia terbengong untuk sesaat.
"kau sengaja menggodaku ya El?" tanya Tama sembari menyeringai. Pria itu hampir tertawa melihat wajah gadis yang ada dibawahnya ini memerah.