DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
episode 4 Masa Lalu


__ADS_3

Yuri langsung menghempaskan tubuhnya terlentang ke atas kasur ketika tiba di rumah, mata yuri menatap langit-langit kamar dan sedikit melamun "sepi" bisik suara kecil keluar dari bibir yuri.


kembali yuri mengingat semua kejadian yang baru saja di alaminya di sekolah tadi, yuri membalikkan badannya kini yuri bertiarap di atas tempat tidurnya. Tidak ada keinginan untuk mengganti seragamnya, yuri hanya memandang kosong tempat tidurnya kemudian ia mulai bertanya-tanya dalam hati "mengapa bisa begini ? apa yang sedang baru saja terjadi ? bukankah mereka bilang kalau rio masuk rumah sakit jiwa" pikir nya,


yuri bukannya berharap kalau rio benar-benar masuk rumah sakit jiwa, dan yuri memang dari dulu terus mencari keberadaan rio, yang yuri tidak menyangka bahwa semua petunjuk jejak keberadaan rio yang selama ini ia kumpulkan dan simpan tak ada satupun yang sesuai, nyatanya rio bertemu dengan yuri di sekolah terbaik yang bahkan sekolah itu adalah milik rio secara pribadi, "ada apa ini ? " yuri pun bangkit dari tempat tidur nya mengambil buku tebal dari dalam laci membuka semua halaman yang ada. Ya, buku ini adalah semua catatan dan petunjuk tentang keberadaan rio yang menghilang tiga tahun silam. Yuri menggigit bibir bawahnya saat ia memegang salah satu foto nya bersama rio, "ya foto ini diambil saat kami berdua mulai masuk SMP".


***


Yuri mengingat betul foto itu di ambil saat mereka merayakan kelulusan Sekolah Dasar dan memulai untuk masuk SMP.


yuri pun sangat ingat betapa dia sangat bahagia di saat-saat itu.


Yuri membuka kembali satiap lembaran foto yang di ambil oleh ibunya ketika yuri dan rio masih kecil, yuri membuka semua kenangannya bersama rio satu persatu.


ketika mereka makan bersama.



ketika yuri ketiduran dirumah rio, dan rio mengantar yuri sambil menggendong yuri untuk pulang.



Dan ketika mereka pergi liburan bersama keluarga.



Yuri dan rio adalah sahabat sejak TK dan selain itu mereka juga adalah tetangga yang rumahnya bersebelahan, ibu yuri sangat suka mengabadikan setiap momen yuri dan rio.


Dan semua foto ketika mereka masih kecil tersimpan dengan rapi di buku milik yuri. Dan foto bersama mereka terakhir adalah saat semua hal yang merubah hidup mereka di SMP terjadi.


***foto ini di ambil saat mereka lulus SD dan dua bulan sebelum mereka mulai masuk SMP.


dan ini adalah foto terakhir mereka.



***ini kisah tiga tahun yang lalu***


Awal masuk SMP


"maaa, aku berangkat ya" teriak yuri setelah ia selesai memasang sepatu dan buru-buru membuka pintu untuk pergi berangkat sekolah. "ee..eeh tunggu yuri bekal nya " sahut ibu yuri sambil setengah berlari dari dapur menuju kedepan, yuri yang sudah membuka pintu depan tidak jadi melangkah pergi dan berbalik untuk mengambil bekalnya "hehe, untung mama ingatkan, hampir yuri lupa " yuri cengengesan,


"itu dua bekal kaya biasa, satu buat rio, jangan lupa di kasih ya sayang" jawab ibunya sambil tersenyum, "ok, mama bos" jawab yuri bercanda seperti biasanya saat ia mematuhi perintah ibunya. "yuri berangkat ma " yuri pamit, "iya hati-hati" sahut ibunya sambil melambaikan tangan.


Yuri bergegas keluar rumah dan keluar pagar, sesosok anak laki-laki berjaket putih berdiri di depan pagar rumah tetangga sebelah yang tidak lain adalah rio , rio sedang menunggu yuri untuk sama-sama berangkat ke sekolah.

__ADS_1


yuri sesaat mulai terpesona dengan rio yang sudah 2 bulan setelah foto bersama ia tidak bertemu rio karena nenek yuri sakit parah dan yuri serta keluarganya pergi ke rumah neneknya untuk merawat neneknya yang tinggal sendirian di pedalaman desa yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya yuri dan papa mama nya ini.


Yuri hanya membuat janji lewat Hp dengan rio agar bisa berangkat sekolah bersama, ketika semester awal SMP, itupun hanya ia dan ibunya yang kembali sedangkan ayahnya masih di rumah neneknya karena nenek yuri tidak kunjung sembuh.


wajah yuri memerah karena sangat merindukan rio.


" heii, rambut mu panjang " sapa yuri


"poninya mulai nutupin mata, padahal dua bulan yang lalu baru kamu potongkan " lanjutnya.


" iya nih, biarin deh" jawab rio singkat.


"yuk berangkat entar terlambat " ajak rio


mereka pun berjalan menuju sekolahan , mata yuri sedikit mencuri-curi pandang melihat rio saat mereka sambil berbincang di jalan menuju sekolahan, "anak ini benar-benar tampan" dalam hati yuri berkata,



"ada apa ? ada yang aneh ya di wajahku ? " tanya rio


"apa ? engga kok, aku hanya takjub melihat rambutmu yang tumbuh dengan cepat " ujar yuri malu sambil mengalihkan pandangannya ke bawah, karena ketahuan melirik rio


"aish, kamu ya suka banget kalo ada apa-apa melihat kebawah " jawab rio sambil menegakan kepala yuri yang tadinya menunduk, "ehehe, masa sih " yuri tertawa sambil menggaruk kepalanya sendiri.


sesampainya di gerbang sekolah mereka pun ke kelas mereka masing-masing, ya tidak perlu melihat papan pengumuman pembagian kelas,


Rio di kelas 1F dan yuri di kelas 1A, sesampainya di kelas yuri yang terkenal pintar sejak SD menjadi sorotan teman-temannya yang tidak lain adalah teman sewaktu ia dan rio SD dulu juga, mereka menyapa yuri dan berusaha mengakrabkan diri dengan yuri.


"Yuri, ayahmu itu seorang jaksa kan ? " tanya seorang teman yang bernama Lim, "ya begitulah " jawab yuri dingin,tanp senyuman sedikitpun. Yuri memang termasuk anak yang populer karena ia anak seorang jaksa di daerahnya, julukannya anak berwajah boneka, kerena tidak pernah tersenyum serta memiliki otak yang pintar, walaupun awalnya yuri adalah anak yang cengeng dan tidak bisa bergaul tetapi karena riolah yang mengajarkan yuri cara berteman dan menjadi orang yang tidak mudah menangis maka dari itu yuri bisa seperti ini, hanya pada rio lah yuri menunjukkan semua ekspresinya dan hanya rio lah yang benar-benar mengenal yuri.


"kau masih, berteman akrab dengan anak laki-laki berwajah perempuan itu, sahabat mu itu " tanya seorang anak perempuan teman dari lim yang lainnya,


" iya,tentu saja, memangnya kenapa " yuri bertanya, berusaha menahan amarah karena anak itu mengatakan rio berwajah perempuan.


"eh engga papa sih, cuma aku merasa kau sangat baik mau berteman dengan anak yang miskin itu, dia kan beasiswa pedahal ini di kampung, sebegitu tidak mampunya kah ? " jawab anak itu sedikit nyinyir, yuri terdiam, menggenggam erat tangannya yang mengepal di dalam lacinya, yuri ingin sekali menjawab tapi di sisi lain pun yuri takut kalau dia sembarangan menjawab anak-anak perempuan di kelasnya tidak ingin berteman lagi dengannya, karena di tempat ini kekayaan adalah kehormatan bagi keluarga, orang memandang kekayaan sangat berlebihan dan yang miskin hanyalah bahan ejekan.


Rio pernah berkata "jika orang mengatai-mu karena aku, biarkan saja, asalkan kau baik-baik saja, aku tak apa, aku tak ingin orang membenci mu dan keluarga mu hanya karena aku dan ayahku " terngiang perkataan rio di kepala yuri, membuat yuri pun hanya menelan liur dan menjawab sedikit saja " begitulah, aku tidak pilih-pilih teman " jawab yuri.


"sudah kami duga kau ini memang terlalu baik" jawab anak itu sambil tertawa dan teman-teman nya yg tadinya berkumpul bersamanya di dekat yuri ikut tertawa seolah-olah itu sebuah candaan, "tidak lucu" kata hati yuri tanpa berani mengatakannya langsung.


jam istrahat pun telah tiba, yuri yang kelelahan usai pelajaran menatap ke arah bekalnya, "ini harus aku kasih ke rio " ujarnya dalam hati, yuri mengambil plastik isi dua kotak bekal mereka dan berdiri dari kursinya, tapi


sebelum yuri melangkah untuk pergi ke kelas rio, lim dan teman-temannya mendekati yuri "hei mau ikutan ke kantin ?" ajak lim,


"eeng, aku bawa bekal " tolak yuri lembut sambil menunjukkan plastik berisikan kotak bekal di tangannya "oh, baiklah " jawab lim sambil tersenyum, kemudian lim dan teman-temannya pun pergi ke kantin dan yuri pun bergegas ke kelas 1f.

__ADS_1


saat yuri tiba di kelas 1F ia mencari-cari keberadaan rio dan bertanya dengan teman kelas rio " hei, maaf, apakah rio ada " tanya yuri dengan seorang anak perempuan di kelas rio, "hah ? oh si rio, dia tadi ke Toilet dengan kim dan kawan-kawannya " jawab anak itu dengan sedikit nada menyepelekan, "eh, apa aku salah lihat dan salah dengar, kenapa anak ini berbicara seperti tidak wajar terhadap teman sekelas " pikir yuri,


"Oh begitu ya, ya sudah terima kasih " ujar yuri kepada anak itu, belum sempat yuri mencari rio, yuri melihat ke arah jam tanganya bahwa waktu istrahat tersisa 15 menit lagi, maklum lah karena kelas yuri adalah kelas unggulan jadi waktu istrahat mereka hanya 15 menit berbeda dengan kelas yang lainnya dan kalau ia habiskan untuk mencari rio, ia takut ia tidak punya waktu untuk memakan bekalnya sendiri dan lagi yuri juga sudah sangat lapar.


Yuri pun berbalik ke kelas rio dan bertanya pada anak perempuan yang tadi "maaf mengganggu lagi, tempat duduk rio dimana ? " tanya yuri,


"itu di pojok" anak itu menunjuk dengan tangannya tanpa menoleh ke arah tempat duduk rio, sambil terus membaca majalah di mejanya. Sekali lagi hal tersebut membuat yuri merasa ada yang aneh, tapi yuri hanya menganggap "mungkin memang ini sifat anak itu" pikir yuri. Yuri pun berjalan ke meja rio yang berada di paling belakang di ujung ruangan itu, yuri menaruh bekal yang di buatkan ibu nya kedalam laci milik rio, dan ia pun buru-buru kembali ke kelas agar bisa lekas memakan bekalnya, dan yuri tidak lupa mengirim pesan ke Hp rio bahwa ia meletakkan bekal di dalam laci meja rio.


sesaat setelah yuri kembali ke kelas, rio berjalan sedikit sempoyongan dari arah toilet, kemudian ia bersandar pada dinding sekolah dan memeriksa pesan di Hp nya ia pun buru-buru masuk ke dalam kelas, dan rio melihat ke arah bawah lacinya dan benar saja kotak bekal yuri ada di dalam lacinya.


"sedang Lihat apa kau " suara seorang anak laki-laki mengagetkan rio dan membuat rio terperanjat kaget, kim dan teman-temannya berdiri di samping meja rio, mereka juga sudah datang dari Toilet.


"t..**..tidak ada " jawab rio sambil menunduk


"yo, byeol, cek lacinya " perintah kim kepada salah satu teman se gengnya sambil sedikit mendorong anak yang bernama byeol ke arah kursi tempat rio duduk, byeol pun melihat ke bawah laci dan mengambil kotak bekal milik yuri itu, "itu hanya bekal kosong" kata rio pelan PPLLAAAK!! tangan kim yang besar menapar pipi rio, "buka kotak bekalnya" perintah kim pada byeol, byeol pun membuka kotak bekal itu dan melihat isi bekal yang di berikan yuri untuk rio,


"hmm rio cantik, ini apa, apa ini terlihat kosong" ujar kim sambil mengambil bekal itu dan sengaja membuat bekal itu terjatuh ke lantai "oops, rio cantik gimana nih, jatuh, mubazir, kan ibumu sudah susah-susah buatkan bekal, aih aih aku lupa rio kan tidak punya ibu, lalu bekal ini dari siapa" tangan kim memegang kerah baju seragam rio, dan kemudian melepaskan kerah rio


"makan itu, makan semua nasi dan lauk di laintai ini, kau kan tidak mau guru masuk dan melihat ada makanan berserakan nanti kelas kita jadi terlihat seperti kelas yang kotor " perintah kim dengan wajahnya yang sangar dan penuh senyuman jahat. "tapi aku..." belum habis rio menjawab, kim pun mulai menjambak rambut rio, "kau rupanya masih kurang pelajaran yang ku berikan, seperti di toilet tadi ? " tanya kim sambil melotot.


rio yang ketakutan pun merangkak dan mulai memungut makanan agar ia bisa memakannya, "hei, langsung pakai mulut, aku tidak menyuruhmu memungutnya " ujar kim, dan rio sambil menahan malu dan menahan air mata nya menuruti perintah kim,


" hihihi jijik " tawa seorang wanita sambil berbicara dengan teman-temannya yang lainnya mereka menertawakan serta mengejek apa yang sedang di lakukan rio.


Jam sekolah berakhir yuri buru-buru menyiapkan buku-buku nya memasukkan kedalam tas dan berlari ke depan pagar sekolahan, yuri mencari-cari rio yang tak terlihat di depan gerbang, "mungkin dia belum keluar kelas " pikir yuri, ia pun menunggu rio sambil mengirim pesan mengatakan bahwa ia menunggu di depan gerbang sekolahan.


rio baru menyimpan bukunya setelah semua murid di kelasnya pergi dan terlambat keluar kelas tuntuk menghindari kim dan teman-temannya, Cling!! nada pesan Hpnya berbunyi rio pun segera melihat pesan di Hp nya dan tak lama setelah menerima pesan dari yuri, rio berjalan buru-buru menuju ke depan gerbang. Dan ia melihat yuri yang berjongkok karena telah menunggu 30 menit lamanya.



"Yuri " hati rio terasa sedih dan sakit, ia memanggil yuri di dalam hati, ingin mengadu pada yuri tentang yang di alaminya tapi di sisi lain harga dirinya sebagai laki-laki akan hancur jika meminta bantuan kepada seorang wanita, Rio berjalan menuju ke arah yuri dan tiba-tiba kim dan teman-temannya merangkul rio di bahu dan kim berbisik "oh itu, ibu yang membuatkan bekal mu, cantik sekali seperti boneka " bisik kim, rio tidak menyangka bahwa kim dan teman-temannya tadi hanya berpura-pura keluar kelas seolah sudah pulang tetapi sebenarnya mengintai gerak gerik rio, sepertinya kim tau sesuatu tentang sahabatnya rio yang memberikan bekal.


rio ketakutan dan gemetaran saat melihat yuri yang berlari kearahnya karena yuri menyadari rio yang datang menuju gerbang sekolahan bersama "teman-teman" nya, saat yuri mendekati rio, kim menyapa yuri


"hai, aku kim teman sekelas rio, nama mu siapa ? " kim menjulurkan tangannya untuk bersalaman, mata yuri menatap rio sebelum ia bersalaman dengan kim, "rio kenapa anak ini tatapannya begitu ? " pikir yuri dalam hati "dan lagi ini anak, masa anak SMP ? " yuri melihat kearah rio yang hanya diam dan yuri memandang kearah kim sambil menatap ke arah tangan yang di julurkan oleh kim, kim yang masih menjulurkan tangannya, terlihat



di mata yuri, lebih kepada kim menodongkan pistol dari pada menjulurkan tangan tanda persahabatan, yuri yang ragu-ragu akhirnya menerima tangan kim untuk bersalaman, "nama-ku Yuri, sahabat rio " jawab yuri, datar dan buru-buru melepas salaman mereka.


"wahh kau memiliki wajah yang seperti boneka ya, hahaha datar sekali, bahkan tidak tersenyum " kim tertawa, "hei ku pikir kalian ini lebih cocok seperti dua orang anak perempuan yang menjalin persahabatan, bukan begitu rio ? " ujar kim lagi sambil menghadapkan wajahnya ke rio seolah memberikan pertanda agar rio pura-pura bersikap akrab dan jangan hanya diam saja,


rio yang paham dengan arti tatapan itu sontak menjawab "ahaha, ada-ada saja kau kim, mungkin kami memang terlihat seperti itu, iyakan yuri ?"


yuri yang mengkhawatirkan rio tanpa mempedulikan kim, menjawab singkat "sudah jam segini ayo kita pulang rio" yuri menarik tangan rio agar terlepas dari rangkulan kim dan membawa rio untuk pergi, kim dan teman-temannya hanya berdiri dan memandangi rio dan yuri yang pergi keluar dari gerbang sekolahan dan menghilang di balik tembok pagar sekolahan,

__ADS_1


" aku mau perempuan itu " ujar kim pada teman-temannya sambil kim tersenyum sinis.


__ADS_2