
Elza menatap sendu wajah Tama saat melihat kejujuran di mata Tama setelah bercerita. Pria yang awalnya ia kira adalah pria jahat yang telah menghancurkan kakaknya.
Satu hal yang Elza setuju dari apa yang Tama ucapkan sebelumnya, jika kakak nya tak akan bunuh diri hanya karena putus cinta. Tapi saat kak Zara murung beberapa hari, Elza kira karena dia diputuskan oleh kekasihnya. Sebelum itu memang Zara bercerita mengenai hal ini. Makanya dia mengira jika kak Zara bunuh diri karena hal itu.
Tama memang tak menampik jika ia mempermainkan perasaan kakaknya, tapi dia juga segera meminta putus pada Zara. Mengingat kakaknya Elza itu adalah gadis baik-baik. Elza patut mengacungi keberaniannya untuk mengatakan hal itu.
Elza mengusap rambutnya kebelakang. Permasalahan ini harus diselesaikan. Jika sebelumnya Elza salah paham akan Tama, lalu apa yang melatar belakangi kak Zara untuk mengakhiri hidupnya?
"kau pasti penasaran dengan apa yang membuat Zara bunuh diri kan?"
Elza mengangguk, karena tadi dia memang sedang memikirkan hal itu.
"berapa lama kakakmu mengurung diri dikamar?"
Elza melirikan matanya keatas untuk berfikir, gadis itu mencoba mengingat-ingat "sekitar satu minggu. Kak Zara bahkan selalu menghindari ku"
"sebenarnya aku tidak ingin membuatmu terluka karena mengungkit kejadian ini. Tapi kalau aku menutupinya kau akan terus salah paham padaku"
"apa yang mau kau bicarakan?" tanya Elza tak sabar. Memang hal ini membuat luka yang ada dihatinya kembali terbuka, tapi ia pun mau mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Masalah apa yang membuat kak Zara sampai nekat untuk mengiris pergelangan tangannya sendiri. Padahal Elza tahu sekali jika kak Zara tidak akan mau meninggalkanku seorang diri.
Sepertinya saat kak Zara memutuskan hal itu, karena dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri atau memang masalah yang ia hadapi sangat sulit?
Tama meletakkan sebuah map dihadapan Elza. Membuat gadis itu menyernyitkan keningnya.
"itu adalah visum milik kakakmu yang aku dapatkan dari rumah sakit"
Dengan tangan yang bergetar Elza menjulurkan tangannya hendak mengambil map tersebut.
__ADS_1
greb
Elza menoleh kearah Tama saat tangannya digenggam oleh Tama "kau kuat?" tanyanya tampak khawatir.
Elza mengangguk "ya. Aku harus kuat" menghela nafasnya panjang lalu mengambil map tersebut. Membukanya secara perlahan lalu membuka hasil visum milik kak Zara.
Sebelum membaca Elza menoleh kesamping, menatap mata Tama "bagaimana kau mendapatkan ini?" bukankah dia saja dulu tak mendapatkan hasil ini? lalu dari mana Tama mendapatkannya?
"apa yang tidak bisa kudapatkan?" ujarnya dengan nada suara pongah.
Tama menatap mata hazel milik Elza dengan begitu dalam "hanya hatimu saja yang sulit untuk kudapatkan" ujarnya diteruskan dalam hati.
"cih.. percaya diri sekali"
"tentu saja aku percaya diri. Buktinya aku bisa mendapatkan ini meski kau yang notaben nya adalah keluarganya saja tak mendapatkan nya"
"itu karena ada seseorang yang sengaja menutup kasus ini. Menyuap beberapa orang agar kebenaran dari kasus ini tak terungkap" ucap Tama dengan suara yang serius.
"ck... penegak hukum malah berkomplot dengan orang jahat? menggelikan"
"itu bukan hal baru lagi El, tentu saja mereka sangat menyukai uang yang tak sedikit itu"
Elza mengangguk membenarkan. Hukum dinegara ini memang sangat lemah. Elza tak lagi menjawab, dia membuka kertas yang ada ditangannya. Matanya awas memperhatikan tulisan tersebut.
Tiba-tiba saja matanya kemudian terbelalak saat menyadari jika ada tulisan yang menyebutkan kakaknya sebelum itu telah meminum racun juga "apa-apaan ini?"
"ya seperti yang kau lihat, sepertinya Zara mengalami depresi setelah kejadian--" ucapan Tama terhenti membuat Elza menyernyit kan alisnya.
__ADS_1
"kejadian apa? cepat ceritakan! ada kejadian apa yang membuat kak Zara sampai depresi?"
Tama menghela nafasnya panjang, sepertinya ia harus menceritakan segalanya sekarang. Tama menyerahkan satu map lagi dan memberikannya pada Elza. "kakakmu diper-kosa oleh penanggung jawab proyek yang sedang ia kerjakan"
"what?!" pekik Elza terkejut, bahkan matanya terbelalak karena kaget "jangan sembarangan bicara sialan!" ucap Elza sembari menyergah Tama. Dia mencengkeram kerah baju yang Tama kenakan.
"apa aku terlihat bercanda?" tanya Tama dengan suara rendah. Kalau saja dia tidak memiliki perasaan pada gadis ini sudah Tama pastikan akan menghabisinya setelah berbuat kurang ajar seperti sekarang. "kau bisa melihat semua bukti yang sudah aku kumpulkan"
Elza melepaskan cengkramannya, dia merosot sampai dilantai. Hatinya merasa hancur, apalagi dia yang tak tahu apa-apa mengenai keadaan terakhir kakaknya sendiri. Elza merasa menjadi adik yang sangat bodoh.
Dengan gemetar, Elza membuka map tersebut.
"hiks.. hiks.. hiks.. "
Elza sudah tak tahan untuk menahan air matanya. Dadanya terasa sangat sakit melihat kakak satu-satunya menderita seperti itu. Semua bukti dan foto-foto yang Tama perlihatkan padanya benar-benar membuatnya terpukul.
Tama hanya diam, dia membiarkan Elza untuk melepaskan emosinya agar hatinya lega.
Tama yang melihat bagaimana Elza terisak mulai merasa tidak nyaman, dia ikut duduk dilantai. Tangannya dengan cepat merangkul Elza. Memeluk erat tubuh gadis yang saat ini tengah terpukul sekaligus hancur.
Tak ada penolakan karena Elza saat ini memang butuh sekali bahu untuk bersandar. Bahu untuknya menumpahkan segala perasaan yang menyakitinya "a-aku benar-benar adik yang bodoh! aku tidak tahu jika kakakku sangat menderita hiks.."
"aku adalah adik yang tidak berguna! semua kebutuhan yang kubutuhkan semua kakakku yang menanggung. Dia kerja siang dan malam hanya untuk membuatku bahagia. Tapi aku benar-benar adik yang sangat bodoh sampai tak mengetahui bagaimana menderita dan terguncangnya kak Zara setelah kejadian itu"
dug dug
Elza memukul dadanya yang terasa sesak "kak Zara telah menjadi kakak sekaligus orang tua untukku, aku benar-benar adik yang sangat jahat! aku tidak pantas menjadi adiknya! huaaa..." tangisnya semakin pecah.
__ADS_1
Tama menepuk-nepuk punggung Elza dengan lembut. Tama tak menimpali ucapan Elza, dia membiarkan Elza meluapkan segala emosi yang selama ini dia tahan "menangislah.. kau akan lega setelah ini. Aku membiarkanmu membasahi bajuku dengan air mata dan ingusmu kali ini El" batinnya berbicara. Pria itu mengeratkan pelukannya. Memberikan kesan bahwa Elza tak lagi sendirian. Ada dirinya yang siap untuk menemani Elza dikala dia hancur.