DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
sahabat


__ADS_3

Tama berjalan kearah lemari yang ada dipojokan ruang tamunya, lemari kaca yang berisi koleksi minuman miliknya.


Tangannya terulur untuk mengambil wine dan gelas, dia membawanya dan meletakkannya diatas meja.


Menyajikan minuman itu untuk kedua sahabat baiknya itu.


"jadi.. apa yang mau kalian dengar dariku?" tanya Tama saat dirinya sedang menuangkan minuman kedalam gelas, memberikannya pada Arsen dan Bastian.


Mereka berdua langsung menenggaknya dan meletakkan gelas diatas meja.


"selain gue mau marah sama elu, gue juga mau merayakan hari bersejarah ini"


Tama menoleh kearah Bastian "kalian berdua nggak mau penjelasan apapun dariku?"


"Lo kira kami nggak tahu?! cih.. Lo meragukan kemampuan kami?" ucap ketus Bastian, dia menoleh kearah Arsen yang hanya diam saja.


Arsen menatap Bastian saat sadar jika dirinya sedang diperhatikan "apa?!" tanyanya dengan galak.


Bastian buang muka kesamping , dia malas menjawab pertanyaan Arsen barusan. Lalu ia kembali menatap Tama yang sedang menikmati winenya.


"kami kemari untuk merayakan hari dimana seorang buaya seperti elu bisa menikah dan bertaubat" ucap Bastian santai, ia melipat kakinya dan meletakkan nya diatas paha.


Tama menatap jengah Bastian, dia berdecih karena merasa kesal "cih.. sialan!"


"padahal elu pernah berkata tidak mau menjalin hubungan serius dengan wanita manapun yang nantinya akan mengekang kebebasanmu, cih.. apanya yang tidak mau? bahkan Lo menikah tiba-tiba seperti buang air" sindir Bastian, dia ingat sekali saat Tama mengatainya bucin dan sepertinya dia akan terkena karma sebentar lagi.


Tama yang merasa tersindir hanya diam malas menimpali.


"ehem"


Tama dan Bastian menoleh kesumber suara dimana Arsen berdehem. Mereka berdua menantikan ucapan yang akan Arsen ucapkan.


"Lo mau hadiah apa?" tanya Arsen to the poin, dia menatap Tama dengan serius.


"diih.. nggak ada basa basinya jadi manusia! kasih selamat atau apa kek.." bukan Tama yang menjawab melainkan Bastian.


Arsen mendengus lalu beralih menatap Tama dengan pandangan mata yang serius "selamat atas pernikahan Lo yang kayak buang air ini!"


Tama mendengus mendengar ucapan Arsen yang meniru ucapan Bastian tadi. Tapi detik berikutnya matanya berbinar saat mendengar ucapan bijak dari pria dingin yang selalu melindunginya ini.


"dan satu yang haus Lo ingat Tam! ini adalah sebuah pernikahan. Pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral. Bukan hanya janjimu pada gadismu itu saja tapi ini adalah janjimu pada Tuhan untuk selalu bersama dengannya suka atau duka. Ikatan yang sangat suci yang diikat langsung oleh sang maha kuasa, jadi

__ADS_1


Lo harus bertanggung jawab dan menjaganya dengan baik, jangan kau sakiti dia apalagi sampai elo menduakannya!" ucap Arsen panjang lebar, pria yang biasanya irit bicara ini, sekalinya membuka mulut yang keluar adalah hal yang berbobot.


"kyaaa... Elo keren banget sih sen" pekik Bastian sembari memeluk Arsen "sumpah ya..kalau Lo masih jomblo udah gue nikahi" sambungnya lagi sembari mengusal dilengan kekar Arsen.


Arsen mendorong tubuh Bastian yang menempel padanya "jangan menyentuhku! Lo itu bau taik!"


"ck.. mana ada, gue wangi gini kok"


Tama tersenyum sembari menatap kedua sahabatnya itu. Sahabat yang selalu mendukungnya dalam susah ataupun senang. Apalagi kata-kata yang baru saja Arsen ucapkan benar. Dia bertanggung jawab untuk melindungi Elza mulai saat ini.


"ada apa ini? kok peluk-pelukan begitu?"


Semua orang menoleh kearah pintu saat mendengar suara seseorang. Saking berisiknya Bastian sampai tak menyadari seseorang yang baru saja sampai.


"Setan! ngapain Lo kesini?" pekik Bastian, dia melepaskan pelukannya lalu menatap pria tampan yang baru saja sampai itu.


Pria yang juga adalah sahabat Tama itu mendengus "ck.. dasar mulut sampah!" umpatnya dengan kesal saat Bastian memanggilnya setan, padahal namanya kan sangat bagus sekali Sean.


"mulutmu yang sampah! dasar dokter gila!"


Sean hanya acuh, dia berjalan mendekati Tama. Duduk disisinya sehingga ia berhadapan dengan Bastian dan Arsen. "Lo benaran nikah Tam?" tanyanya pada Tama, dia yang baru saja tahu mengenai pernikahan Tama segera pergi menuju rumahnya. Ternyata kedua sahabatnya itu juga ada disini.


"hmm"


Tama memutar bola matanya malas "udah gue buang kelaut" jawabnya acuh.


"benarkah?! Lo emang benar-benar serius dengan pernikahan ini ya?" tanya Sean. Dia benar-benar tak menyangka seorang casanova seperti Tama bisa membuang semua wanita seksi nya begitu saja hanya untuk menjalin hubungan dengan satu wanita. Ini sungguh keajaiban dunia.


"ya iya lah.. Masa pernikahan mau dia buat mainan. yang benar saja" sela Bastian.


Sean menatap Bastian sekilas lalu kembali menatap Tama "Ck.. Lo semua jahat banget sih ninggalin gue sendirian? Tama yang awalnya gue kira nggak akan menikah juga tiba-tiba menikah. Gue jomblo sendiri ish.." keluhnya begitu menyedihkan.


"terus pria muda yang ada di apartemen nggak elo anggep?"


Tama dan Bastian menatap Arsen saat pria itu berucap. Bahkan Bastian sampai terbatuk saking terkejutnya. Benarkah Sean memiliki pacar? dan lagi seorang pria? Kalau benar, Bastian telah ketinggalan berita.


Bastian segera mendekati Sean kemudian memegang kedua pipinya "Se.. Gue tahu Lo jomblo akut! tapi gue mohon jangan sampai elo belok!"


"Gila Lo ya Se.. Lo pacaran sama cowok?!" Tama ikut menimpali. Tak menyangka.


Sean menampik tangan Bastian "sialan! gue masih suka wanita!"

__ADS_1


"Lalu pria itu siapa? kenapa Lo pelihara diapartemen?" tanya Bastian dengan menyelidik. "Lo nggak beneran suka pisang kan? gue jadi takut deket-deket sama elu Se.." tambahnya sembari merinding kemudian berjalan menjauh, dia kembali duduk disisi Arsen.


"kok malah jadi membahas gue? gue kemari cuma mau memastikan pernikahan Tama saja, kenapa kalian malah menuduh gue suka pisang?!"


"Tadi Arsen bilang elu memelihara pria muda diapartemen? astaga Sean! ayo ke psikolog gue anter, jangan-jangan karena Lo depresi karena elo nggak punya kekasih makanya Lo sampai pindah haluan seperti itu" ucap Bastian dengan wajah serius.


"ck... Arsen lu percaya! gue baru saja memelihara anjing diapartemen, mana ada gue pindah haluan" ucap Sean menjelaskan dengan kesal, dia melipat tangannya didepan dada.


"hahaha syukurlah.. Gue kira Lo benaran jadi gay! kalau iya Lo bakalan gue black list dari list sahabat gue, ya kali nanti saat gue lengah Lo nyosor gue kan gawat!"


Tama terkikik mendengar perdebatan antara Bastian dan Sean, teman-temannya itu selalu membuat mood nya naik. Padahal tadi dia sempat kesal karena mereka mengganggu malam pertamanya. Tapi setelah perbincangan yg cukup lama Tama merasa nyaman dan senang.


Mereka berempat mengobrol mengenai pesta pernikahan dan hal lainnya sampai larut malam, mereka juga minum sampai menghabiskan beberapa botol wine.


"duh.. kayaknya gue mabuk nih!" ucap Bastian saat dia melihat jari tangannya berubah menjadi dua belas. Kepalanya berdenyut sakit.


"elo memang mabuk Bas, nanti kalau pulang siap-siap dipukul sama sweetheartmu yang galak itu" sambung Sean, wajahnya memerah karena benar-benar mabuk.


"gawat kalau grizku marah, bisa-bisa nanti gue nggak dapat jatah"


"kalau nggak dapat Lo bisa main sendiri, dikamar mandi hihihi"


Arsen menggeleng mendengar celetukan dua orang yang sudah mabuk berat itu. Arsen memang hanya minum dua gelas saja sehingga ia tak mabuk. Begitupun dengan Tama, meski wajahnya memerah tapi dia masih sadar. "gue bawa dua cecunguk ini pulang"


Tama mengangguk sembari tersenyum.


"gue tahu Lo mau making Love dengan istri elo kan?"


Tama mengangguk malu "Lo emang yang terbaik sen" ujarnya saat Arsen memahami dirinya.


"hati-hati sama gadis perawan Tam! karena dia bisa berubah jadi kucing liar yang mencakar sana sini" ucap Arsen sedikit tergelak saat mengingat punggungnya yang penuh dengan bekas cakaran setelah dia berhasil mengambil kesucian istrinya.


Ah.. Arsen jadi merindukan istrinya sekarang setelah mengingat hal yang tak akan bisa ia lupakan.


Arsen mencengkeram baju bagian belakang Sean dan Bastian, dia membawa keluar dua pria yang sedang asik berbincang itu. Meninggalkan Tama seorang diri.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Tama segera pergi menuju kekamarnya.


Saat masuk kedalam kamar, kamarnya dalam keadaan gelap. Dia melangkah kearah ranjang dan melihat istrinya sudah terlelap didalam selimut.


Tama terkekeh dan menggeleng "sepertinya kali ini gue gagal melakukannya" gumamnya. Dengan pelan Tama masuk kedalam selimut. Menarik lembut tubuh Elza agar masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Selamat malam istriku sayang" ucapnya pelan sembari mengecup kening Elza dengan penuh cinta. Lalu pria tampan itu tidur dengan memeluk erat istri yang baru saja ia nikahi tadi siang.


__ADS_2