
Tama mengulurkan tangannya pada handle pintu, dengan pelan dia menarik hadle ke bawah.
ceklek
Pria tampan itu melongo saat tahu pintu kamar tersebut ternyata tidak dikunci "ceroboh" gumamnya pelan.
Mendorong pintu dengan pelan karena sedikit ragu, tapi setelah meyakinkan diri dia melangkah pelan masuk kedalam kamar, terlihat kamar tersebut gelap, hanya lampu tidur yang menyala.
Langkah kakinya terhenti disebelah tempat tidur dimana seorang gadis sudah terlelap dibawah selimut, dia adalah gadis yang pagi tadi datang ke apartemennya, Elza.
Sudut bibir pria itu tertarik sedikit, tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis cantik itu. "apa yang sebenarnya kamu rencanakan?" batinnya bertanya tanya, dia bukan pria bodoh yang akan percaya begitu saja dengan alasan Reyna, terlebih sekertarisnya itu tahu betul bagaimana sifat dan kelakuannya selama ini.
Lalu tangannya dengan begitu lancang turun kebawah dan mengusap pipi gadis itu.
"enggh"
Tama terbelalak saat gadis itu melenguh, dia langsung menarik tangannya, dan berbalik badan kemudian berjalan perlahan meninggalkan kamar, saat pintu tertutup dengan sempurna Tama menghela nafasnya panjang sembari tangannya mengusap dadanya yang berdebar karena takut ketahuan menyelinap masuk kedalam kamar tersebut.
"apa yang tadi gue lakukan?" ujarnya pelan, dia berjalan menuju kamarnya dengan otak yang dia buat untuk berfikir, kenapa tadi dia malah masuk kedalam kamar Elza? tadi dia hanya iseng menarik handle pintu kamar Elza.
Tama merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, dia menatap langit langit kamar, memikirkan akan perasaannya pada gadis kecil yang saat ini berada didalam apartemennya.
"ah tau lah, pusing gue!" pekiknya, dia meraup wajahnya beberapa kali lalu bangkit dan menuju kedalam bathroom, dia hendak membersihkan diri dan segera tidur.
**
__ADS_1
Pagi harinya Tama sudah bersiap hendak pergi kekantor, pakaian formal yang melekat pas ditubuhnya membuat pesona seorang Tama Aditya semakin keluar.
Tak lupa parfum mahal koleksinya dia semprotkan pada seluruh bagian tubuhnya.
Menyisir sekali lagi dan memperhatikan penampilannya, sungguh saat ini Tama sangat tampan dan gagah.
Langkah kaki lebarnya keluar dari dalam kamar, dia tertegun saat melihat Elza yang sedang mengenakan celemek baru saja keluar dari dalam kamar.
"eh tuan" ujar gadis cantik itu menyapa, dengan senyum yang lebar.
"kamu masak didalam kamar?" pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulut Tama, dan dengan wajah yang begitu polos membuat gadis itu tergelak.
"ya kali masak dikamar, tuan ada ada saja" menggeleng kan kepalanya karena merasa tak habis fikir.
Tama menggaruk tengkuknya dan meringiskan giginya.
"pantas saja semua wanita tergila gila padanya, dia sangat tampan" Elza terbelalak lalu menggelengkan kepalanya saat tersadar dari fikirannya.
"kamu kenapa?" tanya Tama penasaran.
"eh-hehehe tidak papa, mari sarapan, saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda" meraih lengan Tama tanpa sadar.
Tama yang terkejut terdiam, dia menoleh kearah tangan lentik Elza yang bertengger dilengannya.
Elza yang merasa tak ada pergerakan menoleh kebelakang, melihat tangannya yang tanpa sadar menarik lengan Tama dia terkesiap dan segera melepaskannya "ma-maaf" ujarnya lirih sembari menunduk.
__ADS_1
Tama tersenyum, dia melihat betapa menggemaskannya gadis itu saat terkejut.
"silahkan jalan terlebih dahulu tuan" Elza minggir kesamping, dia masih menunduk.
Tama semakin tersenyum lebar, dia berjalan dan kemudian menarik tangan Elza.
"eh-"
Elza terkejut bukan main saat Tama menggenggam tangannya, dia menunduk dan dapat melihat jari mereka berdua yang saling terpaut.
Elza dapat merasakan hangatnya tangan pria itu.
"el"
Elza tersadar dari lamunannya, dia menoleh kesamping dimana wajah Tama yang tampak begitu tampan sedang tersenyum padanya, dia sampai tak menyadari kalau saat ini telah sampai diruang makan.
Tangan merekapun sudah terlepas.
Elza menarik panjang nafasnya, membuangnya perlahan, dia tersenyum "silahkan duduk tuan, biar saya siapkan sarapannya"
Tama terkekeh melihat reaksi gadis itu, dia kemudian duduk dan memperhatikan gerak gerik gadis itu saat menyiapkan sarapan.
"kamu tidak sarapan?" tanya Tama saat melihat Elza hanya berdiri setelah selesai menyiapkan sarapan untuknya.
"saya nanti saja tuan, silahkan dinikmati"
__ADS_1
Tama mengangguk , dia sebenarnya ingin mengajak gadis itu untuk sarapan bersama, tapi dia urungkan karena melihat Elza tampak canggung setelah kejadian tadi.