
Keesokan harinya.
Diluar matahari telah terbit, cahayanya menghangatkan bumi. Mengikis embun yang semakin menguap terkena sinar hangatnya.
Seorang gadis yang tak lain adalah Elza masih bergelung dalam selimut yang menutupinya dari udara dingin. Udara disana memang sangat dingin mengingat pulau ini memang dikelilingi oleh laut.
brak
Elza yang tadinya masih menjelajahi alam mimpi terlonjak kaget mendengar suara pintu yang dibuka dengan paksa. Atau lebih tepatnya didobrak. Matanya yang masih buram mengerjap beberapa kali. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya.
Terlihat langkah kaki mendekat, Elza mendongak agar melihat siapa yang datang.
"kamu baru bangun El? apa semalam kamu begadang?" suara bariton pria yang saat ini berdiri disisi tempat tidur berucap. Yeah.. suara yang ia kenali, yaitu milik Tama.
Elza mengangguk lemah, karena semalam ia memang terus mengobrol dengan Lisa sampai hampir pagi.
Eh ngomong-ngomong tentang Lisa, di mana gadis itu? Elza menoleh kesisi tubuhnya. Ternyata gadis itu masih tidur. Tidak terganggu oleh suara dobrakan pintu tadi.
Elza kembali menatap Tama yang masih diam, dia lalu menoleh kearah pintu yang sudah ia pastikan jika pintu tersebut rusak akibat ulah Tama "kenapa kamu mendobrak pintu itu tuan? jadi rusak kan" gerutunya.
"aku tidak peduli, salah siapa kamu menguncinya"
Elza menghela nafasnya panjang "aku hanya takut ada seseorang yang menyelinap kemari mengingat disini banyak sekali pria" ujar Elza.
"termasuk pria buaya sepertimu. aku harus lebih waspada" tambahnya tapi dalam hati. Tidak mau sampai pria ini tersinggung.
"aku memastikan jika tak ada yang berani mengganggumu, kalaupun ada mereka cari mati"
Elza terbelalak setelah mendengar ucapan menekan dari Tama, terdengar serius saat ia berucap.
Tama yang menyadari keterkejutan Elza segera merubah raut wajahnya, dia tersenyum "aku hanya bercanda El. Sekarang kamu mandi, aku akan menunggumu dibawah untuk sarapan bersama"
Elza mengangguk.
Tama tersenyum , wajah bantal Elza terlihat begitu menggemaskan sekali. Tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala Elza. "aku keluar dulu" ucapnya pelan lalu membalik badan dan pergi begitu saja.
Elza memegang kepala yang tadi diusap oleh Tama "kenapa tangan laki-laki ini terasa hangat ya?" gumamnya pelan. Lalu ia menggeleng dan segera turun dari tempat tidur. Ia akan membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri. Elza memakai pakaian yang tersedia disana. Semua pakaian itu pas sekali ditubuhnya. Tapi ia tidak terlalu suka modelnya karena kebanyakan adalah dress yang sangat feminim. ini bukan gayanya.
Elza lebih suka berpakaian santai, kaos dan celana daripada memakai dress seperti yang sekarang ia kenakan. Terpaksa ia kenakan karena tak ada yang lain lagi.
__ADS_1
Disana juga sudah tersedia berbagai alat make up yang begitu lengkap. Tapi Elza hanya memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan ia menggunakan liptint agar bibirnya terlihat fress dan tidak pucat.
Setelah menyisir rambutnya, Elza hendak keluar kamar. Tapi sebelum itu Elza berjalan menuju ranjang. Menggoyangkan tubuh Lisa. Mengguncangnya dengan sedikit keras "bangun"
"eeemmh" hanya terdengar lenguhan dari gadis itu.
"Lis.. bangun! Lo nggak laper apa?"
Kepala Lisa terangkat. Matanya terbuka sebelah "jangan menggangguku! gue masih mengantuk" gerutu Lisa lalu ia menutup wajahnya menggunakan selimut. Memunggungi Elza kemudian kembali terlelap.
Elza menggeleng melihat sikap Lisa "kalau sudah bangun, gue diluar ya?"
"hmm" meski malas, Lisa membalas dengan gumaman.
Elza melangkahkan kakinya keluar, lalu ia segera turun tangga.
"selamat pagi nona"
Saat sampai dibawah tangga, seseorang yang tengah berdiri disisi tangga menyapa dirinya. "pa-pagi" jawabnya terbata karena terkejut.
Lalu ia berlalu hendak pergi menuju ruang makan yang sudah ia ketahui letaknya. Sebelum itu Elza menoleh kearah pria yang masih berdiri disisi tangga dengan sikap siap. "apa dia bertugas untuk menjaga tangga ya?" gumam Elza pelan. Berjalan sembari menatap pria tersebut.
"ah" Elza terkejut karena menabrak sesuatu yang keras. Dia kembali menghadap kedepan, sedikit mendongak untuk melihat siapa yang ia tabrak barusan.
"apa dia sangat tampan sampai kau tidak memperhatikan langkah kakimu?" tanya pria yang tak lain adalah Tama. Dari tatapan matanya terlihat sangat jelas jika ia sedang kesal.
Elza memutar bola matanya jengah.
"ayo sarapan" Tama segera manarik tangan Elza menuju ruang makan. Tapi sebelum itu Tama melirik anak buahnya yang saat ini berwajah pias.
"mati aku. Tuan tampak marah. Padahal kan aku tidak melakukan apapun, nona sendiri yang menatapku tadi" batin si anak buah.
.
.
.
Tama dan Elza duduk bersisian. Sarapan dengan hening. Tak ada obrolan sama sekali. Yang ada hanya kedua orang yang menghabiskan makanan diatas piring dengan pikirannya masing-masing.
"cih.. menjengkelkan sekali. Bagaimana dia dengan santai menatap pria lain dengan begitu intens? merusak moodku saja!" Tama yang uring-uringan melihat Elza menatap pria lain terus menggerutu dalam hati.
__ADS_1
"apa yang harus kulakukan nanti? apa membuat rencana seperti saat gue mendekatinya?" Elza melirik Tama sebentar "tapi mengingat bagaimana keadaan gue saat ini. Gue nggak akan mau melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya. Karena ide bodoh ini gue terkurung bersamanya sekarang"
Sarapan itu berakhir juga, dan setelah itu mereka berdua masih saling diam. Saling lirik karena dua orang itu masih saja malas memulai percakapan.
"ehem.. tuan"
"hmm" jawab Tama berdehem. Dia masih kesal agaknya.
Elza kembali diam, dia menoleh karena pria yang biasanya selalu berbicara padanya diam saja. Aneh saja melihatnya "dia kenapa sebenarnya?" akhirnya peka juga.
Tama berdiri dari duduknya, tanpa menoleh Tama berlalu begitu saja.
Merasa ada yang aneh, Elza memberanikan diri untuk mencekal tangan Tama. Hal itu membuat Tama menghentikan langkah kakinya. Menunduk untuk melihat tangan yang bertengger dilengan nya. Senyum tipis terbit setelah mengetahui jika itu adalah tangan Elza. "kenapa?" berpura-pura cool bertanya.
"anda kenapa? apa aku berbuat salah?"
Terdengar helaan nafas lelah Tama. Ternyata gadis ini tidak peka jika ia sedang cemburu padanya "nggak papa"
"nggak papa tapi sikap anda berubah"
Tama kembali menghela nafas panjang. Membalik tubuhnya sehingga menghadap kearah Elza. Tangannya terulur untuk memeluk pinggang ramping Elza. Menyentaknya sampai membuat gadis itu terhentak menubruk tubuhnya.
Mata Elza melotot, dia tidak bisa menghindar karena kecepatan tangan Tama saat merengkuhnya. Elza menahan dada bidang Tama menggunakan kedua tangannya agar tubuh mereka tidak menempel seratus persen.
"kamu bertanya aku kenapa?"
Elza mengangguk pelan. Dia masih menahan tubuh Tama. Aroma maskulin Tama tercium jelas diindera penciumannya.
Tama mendekatkan wajahnya ketelinga Elza "karena aku cemburu!" ucapnya berbisik. Tapi setiap kata yang ia ucapkan Tama tekan. Menandakan jika ia masih marah. "Aku tidak suka kamu menatap pria lain!" kembali menekankan ucapannya. Jika ia benar-benar menyukai gadis yang saat ini masih Tama peluk.
Tama tidak akan membiarkan gadis ini jauh darinya lagi, akan ia nikahi kalau perlu karena takut gadis ini pergi dari sisinya.
Elza sampai merinding mendengar bisikan Tama, tapi yang lebih merinding lagi kata-kata yang ia lontarkan. Dia tahu jika Tama sudah memiliki perasaan padanya. Tapi berbuat seperti ini bukannya ia terlalu berani?
Jantung Elza pun tanpa bisa ia cegah berdebar tidak karuan. Aliran darahnya mengalir dengan cepat dan terasa mengumpul diwajahnya.
Sepertinya sekarang wajahnya sudah semerah udang rebus.
deg deg deg
Dan debaran jantungnya semakin cepat saat kata-kata Tama berikutnya. Bahkan jantungnya terasa hampir melompat dari tempatnya karena tak menyangka ucapan tersebut bisa keluar dari mulut seorang Casanova liar ini.
__ADS_1