
Elza masih terisak didalam pelukan Tama. Tangannya mencengkeram jas yang Tama kenakan untuk menahan hatinya yang terasa sakit. Terasa nyeri sekali dadanya saat ini.
puk puk puk
Tama menepuk kepala Elza dengan pelan. Hal itu membuat gadis ini tersadar dari kesedihannya. Dia melepaskan pelukannya dengan cepat. Tapi entah kenapa setelah dipeluk oleh Tama perasaannya lebih baik. Dia mengusap air mata yang tersisa di pelupuk matanya. Isak kecil masih terdengar meski tak seintens tadi.
Tama mengulurkan tangannya. Hendak membantu Elza membersihkan wajahnya, tapi secara spontan Elza menampik tangan Tama.
Gadis ini mendongak dan sedikit terkesiap setelah menyadari tindakan spontan yang ia lakukan membuat Tama terkejut "maaf" ucapnya lirih merasa bersalah. Secara alami tubuhnya menolak Tama. Itu menandakan jika Tama masih menjadi ancaman untuknya.
Tama menggeleng "tidak mengapa" ucapnya pelan. Dia memaklumi hal itu.
Elza kembali terdiam, dia menunduk. Jika benar apa yang Tama ucapkan tadi, berarti dia telah salah paham selama ini. Dia yang awalnya menyusun rencana untuk menghancurkan Tama menjadi merasa bersalah. Padahal ia telah menipu Tama mentah-mentah. Mempermainkan perasaannya. Elza memang benar-benar merasa menjadi gadis yang sangat jahat sekarang.
Gadis cantik ini kemudian mendongak pelan, tatapan mata hazlenya bertemu padangan dengan mata Tama. Elza merasa malu setelah dia salah selama ini.
"sudah lebih baik?"
Suara bariton Tama bertanya, dia menatap mata yang tampak menyipit setelah menangis lama sekali diperlukannya. "bajuku jadi basah seperti ini"
Elza memperhatikan baju yang Tama kenakan. Memang terlihat basah karena ia benar-benar menangis lama disana. Didalam pelukan Tama tadi ia merasa sangat nyaman sehingga ia terbuai dan menumpahkan semua perasaannya "maaf"
Tama tergelak "sudah dua kali kamu meminta maaf. Satu kali lagi kamu akan dapat piring cantik El" selorohnya agar suasana canggung ini mencair. Tama tidak suka sekali dengan suasana ini.
Elza menghela nafasnya panjang "siapa dia?"
Alis Tama menyernyit setelah sekian lama Elza terdiam kata itu yang terucap.
"siapa yang telah menyakiti kakakku? yang merampas kehormatannya dengan tidak beradab! aku ingin sekali melihat bagaimana tampangnya!" ucapnya menggebu dengan tangan Elza yang terkepal setelah berbicara, dia merasa marah. Karena dia, Elza kehilangan satu-satunya keluarganya.
Tama menatap wajah Elza yang diselimuti amarah. Tama mengulurkan kedua tangannya untuk menarik bahu Elza kemudian ia memeluk tubuh Elza yang memang saat ini tampak lemah dan seperti kehilangan semangat hidupnya setelah mengetahui alasan kakaknya meninggal.
Elza menerima pelukan Tama, bahkan ia melingkarkan tangannya dipunggung kokoh Tama "kenapa? kenapa nasib kak Zara sungguh malang? padahal dia adalah kakakku yang paling baik!"
"Aku merasa sangat kesal. Aku marah pada pria baji-ngan itu.."
__ADS_1
Elza mendongak sehingga membuat matanya bertemu pandang dengan Tama "siapa dia tuan? beritahu padaku! aku akan membalas dendam atas nama kakakku!"
Sssttt
Tama berdesis agar Elza diam. Menarik kepala Elza agar kembali terbenam didada bidangnya. Agar gadisnya ini tidak berbicara lagi.
Elusan tangan Tama yang membelai rambut membuat Elza merasa nyaman, amarahnya sedikit demi sedikit mereda.
"jangan marah El.. Aku akan memberitahumu nanti"
Elza mengangguk, kalaupun ia tahu sekarang Elza bingung langkah apa yang akan ia lakukan. Tapi yang jelas, Elza mau keadilan untuk kakaknya tercinta.
Saat merasa telah tenang, Tama melepaskan pelukannya. Dia tatap dengan dalam wajah cantik yang saat ini tampak sayu dan tak bersemangat. Tangannya terulur untuk mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya. "kamu boleh menangis sampai kamu puas. Tapi ingat setelah ini kamu harus menjadi Elza yang selama ini aku kenal. Gadis cantik yang kuat dan tegar. Memiliki semangat yang membara untuk mencapai sesuatu. Aku akan menemanimu. Aku akan mendukung apa yang akan kamu lakukan"
Bibir Elza kembali menjatuhkan bibir bawahnya, ia akan kembali menumpahkan air matanya sebentar lagi.
Hal itu membuat Tama tergelak melihat reaksi lucu Elza. Dia menarik bibir bawah Elza dengan gemas "ini hampir saja jatuh. Biar aku bantu sekalian" ucapnya sembari terkekeh geli.
Elza memukul dada Tama. Memundurkan wajahnya agar tangan Tama lepas dari bibirnya. Lalu ia mengusap matanya yang hampir melelehkan cairan hangat dari sana.
Setelah beberapa saat Tama melihat Elza yang sudah tenang. Wajahnya benar-benar berantakan dengan mata dan hidungnya yang memerah. Matanya bahkan menyipit sekarang. "sudah lebih baik?"
Elza terkesiap saat Tama menusuk pipinya dengan jari sehingga ia yang tadinya melamun kembali tersadar. Dia menatap wajah tampan Tama dengan kernyitan dikeningnya.
"aku memiliki hadiah untukmu"
Alis Elza semakin menukik.
"kenapa ekspresi mu seperti itu El? aku akan memberikan hadiah yang sangat menarik loh"
"apa?"
Tama tersenyum lalu ia menunjuk pipinya "kiss dulu"
Elza memutar bola matanya jengah"kalau begitu walaupun menarik aku tidak mau!"
__ADS_1
"benar? padahal ini adalah salah satu sesuatu yang kau inginkan sekarang"
"ck.. cium ya cium saja!"
cup
Dengan cepat Elza mengecup pipi Tama. Hal itu membuat Tama terkesiap saat ucapan main-main nya direalisasikan oleh Elza. Dia merasa senang.
"kenapa reaksimu seperti itu?" tanya Elza yang merasa tersinggung karena ia kira Tama tidak menyukai kecupannya barusan.
Tama meringiskan giginya, menggaruk kepala nya dengan tangan padahal ia tidak merasa gatal sama sekali. Dia merasa salah tingkah sekarang. "ehem" berdehem sekali untuk menguasai diri agar terlihat cool kembali.
prok prok
Tama bertepuk tangan, memberikan kode pada seseorang yang ada disisi ruangan yang saat ini ia tempati. Lalu selang beberapa saat Arlendra masuk diikuti oleh seseorang dibelakangnya.
Elza terkesiap saat melihat seseorang yang ia kenal. Gadis ini segera berdiri "Lisa!" pekiknya.
"Elz.."
Gadis yang dibawa oleh Arlendra ternyata adalah Lisa. Sahabat baik Elza. Elza kemudian menatap wajah Tama tidak percaya karena Tama mendatangkan sahabatnya. Saat ini Elza memang butuh sekali sosok Lisa hanya untuk mendengarkan keluh kesah dan resahnya. Elza butuh pelukan dari sahabatnya ini.
Tama menarik kedua sudut bibirnya keatas, ternyata mendatangkan sahabat Elza benar-benar membuat gadis ini senang. Dia akan berterimakasih pada Arlendra setelah mendapatkan ide ini darinya tadi siang "berbincanglah dengan sahabatmu, aku akan pergi membersihkan diri"
Elza mengangguk kemudian menatap punggung Tama yang berjalan pergi dari ruangan ini "tunggu tuan" saat melihat Tama berbalik badan. Elza berlari mendekati Tama lalu menubruk tubuh Tama. Memeluknya dengan pelukan yang hangat.
Tama tersenyum dan membalas pelukan tersebut. Tama merasa senang sekali karena kali ini Elza memeluknya dalam keadaan sadar seratus persen.
"terimakasih" ucap Elza dengan pelan. Dia merasa Tama sangat baik padanya.
"sama-sama."
Setelah pelukan itu terurai. Tama pergi dengan Arlendra yang ikut pergi juga.
Elza tersentak kaget saat tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang. Dia tahu sekali jika pelakunya adalah Lisa.
__ADS_1
"Lo hutang penjelasan Elz!" ucapnya dengan cepat. Dia tadi sangat terkejut melihat Elza yang berinisiatif untuk memeluk pria yang dia tahu adalah musuh Elza. Pria baji-ngan yang selama ini ingin Elza hancurkan.
"iya-iya nanti gue jelaskan" ujarnya sembari menarik tangan Lisa pergi. Dia akan membawa Lisa ketempat yang enak untuk mengobrol.