
Elza berjalan santai sembari menarik koper miliknya, dia hendak pergi menuju unit tempat Tama tinggal.
Langkahnya terhenti saat dia melangkah kesalah satu lift khusus, dia dihadang oleh dua orang berbadan kekar.
"anda mau kemana nona?" tanyanya datar, dia menatap tajam gadis cantik itu.
"saya mau menuju keunit teratas" jawabnya cuek, tadi dia bertanya pada satpam apartemen tersebut dan mengharuskannya memakai lift khusus karena lift umum tak sampai kelantai teratas gedung apartemen mewh ini.
"maaf nona, itu adalah unit tempat tinggal tuan kami, apa nona sudah membuat janji?"
Elza mengangguk "ya" jawabnya enggan.
"tunggu sebentar, saya konfirmasi dengan tuan terlebih dahulu"
Elza mengangguk lagi, dia melipat tangannya didada dan menyandarkan tubuhnya disebelah lift.
Gadis itu melirik pria yang sedang menelfon, terdengar suara keamanan tadi tampak menciut dan mengangguk beberapa kali, bahkan dia juga meminta maaf pada seseorang disambungan telefon itu yang Elza yakini adalah Tama.
"penjagaannya ketat sekali" batin Elza bermonolog, dia memperhatikan dua orang yang tadi menghadangnya dihampiri tiga kawannya.
Pria yang tadi mengkonfirmasi ke Tama mendekati Elza, lalu membungkuk memberi hormat "maaf nona telah mempersulit anda"
"ah tidak papa, jangan membungkuk begitu pak, saya hanya tukang bersih bersih kediaman tuan Tama kok" ucap Elza jujur, karena dia memang hendak menjadi asisten rumah tangga Tama.
"silahkan masuk nona" menekan tombol lift, memepersilahkan Elza masuk kemudian dia bahkan membantu Elza menarikkan koper milik gadis itu.
"tidak perlu pak, biar saya saja" tolak gadis itu dengan sopan.
"ah tidak tidak nona, saya bantu, silahkan naik tuan sudah menunggu anda"
Elza pasrah dan masuk kedalam lift, dia mengangguk pada pria pria yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit Elza artikan.
"bukannya tadi dia bilang hanya tukang bersih bersih saja? kenapa kau sopan sekali?" tanya salah satu keamanan pada pria yang melayani Elza barusan.
"tuan tidak pernah mengizinkan wanita wanitanya untuk menginjakan kakinya ke kediamannya, aku rasa hubungan mereka tidak sesederhana antara majikan dan asisten rumah tangga"
Pria itu mengangguk setuju, dia tahu sendiri bagaimana jejak tuan yang dia layani selama ini, tentu saja dia sudah paham sekali kalau seorang Tama tak pernah memperbolehkan siapapun masuk ketempat tinggalnya kecuali sahabat sahabatnya, dan secara tiba tiba ada seorang wanita yang mengaku sebagai seorang tukang bersih bersih dan diizinkan memasuki unit tersebut, sudah pasti wanita tadi memiliki arti tersendiri bagi tuannya.
**
Elza membuang nafasnya panjang. dia merasa berdebar debar, bukan karena jatuh cinta akan tetapi dia merasa sangat gugup saat ini.
"kuasai dirimu el~" gumamanya, dia meraih sesuatu didalam saku mantel yang dia kenakan.
__ADS_1
Tangannya membuka bungkus permen rasa buah kesukaannya, dan setelah memasukan permen kedalam mulutnya perasaannya menjadi lebih baik sekarang.
"permen ini membantu sekali"
tring
Elza menarik koper kecil miliknya, dia keluar dari dalam lift menoleh kekanan dan kiri. "eh--" dia terkejut karena tak melihat pintu yang lain, hanya satu pintu diunit ini.
Elza menganga "gila! kalau satu unit ini miliknya semua pasti ruangannya luas sekali, nanti saat membersihkannya pasti akan sangat melelahkan"
Elza yang telah sampai didepan pintu menyandarkan kepalanya tepat didepan pintu.
Apa dia batalkan saja menjadi asisten rumah tangga Tama? karena dia merasa akan memasuki penjara saat melihat penjagaan disini sangat sangat ketat.
Tama yang penasaran karena Elza belum juga sampai dan menekan bel, dia meraih ponselnya, dia membuka CCTV yang telah terhubung pada ponsel.
"dia kenapa?" tanya Tama saat melihat Elza masih saja menyandarkan kepalanya didepan pintu.
Tama berjalan menuju pintu dan segera menempelkan jarinya dan pintu langsung terbuka.
"aaahhhk" pekik Elza, dia terhuyung kedepan.
Dengan sigap Tama menangkap perut Elza, Elza yang hendak mencium lantaipun tak terjadi.
"huuuhhh... syukurlah" Elza menghela nafas, dia merasa lega dan bersyukur tak jadi jatuh.
Elza terkesiap, dia segera bangkit dan kemudian menatap canggung pria yang telah menyelamatkannya itu "te-terimakasih"
"sama sama, silahkan masuk"
Elza mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki Tama, dia mengedarkan pandangan matanya dan menyusuri setiap sudut ruang tamu yang terlihat mewah dengan penataan yang sangat rapi.
"silahkan duduk"
"eh- i-iya" Elza segera duduk disofa.
"siapa yang menyuruhmu duduk disitu?" tanya Tama serius, kemudian dia duduk menghadap gadis itu.
Elza terkesiap dan dengan gerakan cepat segera berdiri "maaf tuan, tapi tadi anda yang menyuruhku duduk, lantas saya harus duduk dimana? lantai?"
"tentu saja"
Elza membelalakan matanya, dia menunduk dan melihat lantai yang tampak mengkilap itu, lalu kemudian menatap datar Tama.
__ADS_1
"hahaha kau serius sekali el, saya hanya bercanda, silahkan duduk" menunjuk sofa yang tadi Elza duduki.
"tidak tuan, saya berdiri saja" ucapnya ketus.
"oh ayolah, jangan marah, saya hanya bercanda tadi, silahkan duduk atau kamu mau saya pangku saja?" menepuk pahanya dua kali.
Elza melotot, dia langsung duduk disofa dengan wajah yang ditekuk.
"ehem" Tama berdehem membuat gadis itu terfokus padanya.
"apa pekerjaan saya tuan?"
"seperti yang Reyna katakan, kalau kamu ingin menjadi asisten rumah tanggaku, kamu hanya perlu membersihkan semua ruangan apartemen ini"
"lalu?"
Tama tampak berfikir "kamu bisa masak?"
"bisa walau rasanya biasa saja"
"kamu juga harus memasak"
Elza mengangguk mengerti "baiklah tuan"
"heey aku ini adalah temanmu kan? kenapa memanggil tuan? panggil Tama saja"
Elza menggeleng menolak "tidak bisa, karena saat ini anda adalah tuan saya"
"terserah kamu saja lah, sebenarnya saya merasa tidak enak hati mempekerjakan kamu yang sudah saya anggap teman sendiri"
"tidak, jangan seperti itu tuan, saya benar benar membutuhkan pekerjaan ini, tapi bolehkan kalau saya berangkat kuliah dan bekerja paruh waktu saat pekerjaan disini telah selesai?" tanyanya penuh harap.
"tentu"
Elza tersenyum senang "terimakasih"
"mari saya antar kekamar, saya akan berangkat bekeja satu jam lagi"
Elza mengangkat pergelangan tangannya, ternyata sudah jam tujuh "baik"
Tama memimpin jalan menuju kamar, diapartemennya ini memiliki empat kamar, satu kamar utama, dan tiga kamar kosong lainnya.
"ini adalah kamar tamu, kamu boleh menempatinya"
__ADS_1
Elza mengangguk "terimakasih"
"saya akan bersiap pergi kekantor" pergi meninggalkan kamar tersebut, kedua sudut bibirnya terangkat, senyum lebar menghiasi wajah tampan Tama, dia merasa hatinya berbunga saat melihat gadis itu, apalagi sekarang dia akan tinggal disini, membuatnya girang dan bahagia.