DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
baik sekali


__ADS_3

ehem


Elza yang sedang duduk di kursi taman sembari memperhatikan anak anak terlonjak kaget saat mendengar suara Tama berdehem lalu duduk disamping dirinya.


"geseran sedikit tuan!" ucap Elza karena pria itu duduk menempel disisi tubuhnya, mendorong pelan bahu Tama menggunakan jari telunjuk.


"sempit el" jawab Tama cuek, dia terkekeh melihat gadis itu mematutkan bibirnya.


"kalau sempit biar saya saja yang berdiri"


Tama segera menahan lengan Elza saat gadis itu hendak beranjak "jangan pergi"


Elza sedikit risih saat tubuh mereka menempel seperti ini "ta tapi"


"duduklah yang tenang, aku hanya mau bertanya pendapatmu tentang tempat ini"

__ADS_1


Elza menoleh kearah Tama yang sedang melihat kearah anak anak, wajahnya yang tampan sesekali tersenyum melihat tingkah anak anak yang tampak menggemaskan "menurutku tempat ini sangat nyaman,disini udaranya masih sejuk dan jauh dari hingar bingar ibu kota, tempatnya juga sangat bersih"


"benar, tapi menurutku yang paling menonjol disini adalah kekeluargaanya yang menambah nilai plus tempat ini, mereka yang mengurus anak anak memperlakukan anak dengan sangat tulus, seperti keluarga sendiri" ujar Tama lirih, dia adalah pria yang hanya hidup sebatang kara tak jauh berbeda dengan Elza sehingga selalu merindukan suasana hangat seperti ini.


Sebenarnya dia memiliki paman, akan tetapi adik dari mendiang ayahnya itu sekarang mendekam didalam jeruji besi gara gara membunuh kedua orang tua Tama dan akan membunuh dirinya kalau saja dia tak diselamatkan oleh Arsen sahabat baiknya sekarang.


Elza menatap wajah Tama yang tampak sendu "apa anda sering kemari?"


"jarang, tapi aku selalu mengirim mereka makanan dan mainan, serta baju dan juga uang"


Tama menoleh kesamping ke arah gadis kecil itu "hehehe tidak juga, aku hanya bingung saja bagaimana menghabiskan uang" selorohnya sembari terkikik geli, apalagi melihat wajah kecut Elza saat mendengar ucapannya yang terdengar begitu menyebalkan.


"aku tahu hatimu benar benar tulus untuk membantu mereka, aku yang dulu tak mengenalmu hanya tahu hal buruk tentang dirimu saja, tapi setelah menyelami kehidupanmu dan melihat hal ini kenapa hatiku menjadi goyah?"


"dari mana anda tahu tentang tempat ini?"

__ADS_1


Tama menatap langit yang begitu cerah hari ini "mereka pernah menyelamatkanku dulu" ucapnya jujur, karena memang benar dulu dirinya yang sedang bertugas memimpin pasukan Tiger White bertarung dengan musuh harus menelan pil pahit karena kalah, dan dia sudah dalam keadaan tak baik baik saja saat mencoba kabur, dan beruntungnya Tama bertemu dengan Ibu Desi dan menyelamatkan nyawanya.


Pagi harinya Tama bangun dalam keadaan tubuh yang dililit oleh perban, dia melihat sendiri bagaimana tempat yang menampungnya saat itu sangat kumuh dan kotor, padahal banyak sekali anak kecil.


Dan yang membuatnya prihatin, mereka semua kekurangan makanan tapi masih berbaik hati memberinya makan.


Sungguh hatinya terenyuh dan dia makan dalam diam tapi matanya tak berhenti mengeluarkan air mata.


"jadi ini sebagai bentuk balas budi?"


Tama tersenyum "bisa dibilang begitu, bisa dibilang kalau ini semua adalah takdir sehingga kita bisa bertemu dan menjadi keluarga"


Elza tersenyum, dia mengusap bahu Tama lembut "anda baik sekali" ucapnya dengan begitu tulus, dia dapat melihat bagaimana andil tangan Tama karena nyamannya tempat ini sekarang.


Tama terkesiap, dia merasa bahagia sekali melihat Elza yang tampak perhatian pada dirinya "aku bukan orang baik!"

__ADS_1


Ya Elza tahu kalau pria itu bukan orang baik, dia bahkan mengakuinya didepan Elza langsung, entah dia harus memberikan reaksi apa kali ini mendengar ucapan Tama tapi yang dia tahu hatinya mulai goyah.


__ADS_2