
Elza tampak berdiri didepan sebuah ruangan, ruangan yang menurutnya patut dicurigai.
Dengan sapu ditangan agar tak tampak sedang mencari tahu sesuatu dia mulai membuka pintu tersebut, membuang nafasnya beberapa kali untuk membuang rasa gugup yang mendera hatinya.
Tangannya meraih handle pintu, dia memasuki kamar utama yang tak lain adalah kamar Tama.
ceklek ceklek
"ck sial" ucapnya mengumpat, karna ternyata pintu kamar terkunci, dia menatap kesal lockdoor digital yang mengharuskannya menekan pasword.
"sedang apa kamu?"
Elza terperanjak, dia menjatuhkan sapu yang dia pegang kemudian langsung membalik badan "eh tuan"
Tama mendekati Elza, dari gestur yang dilakukan oleh Elza sekarang terlihat kalau gadis itu tampak gusar, dia mencengkeram tangan gadis itu "apa yang mau kamu lakukan dikamarku?" tanya Tama, dia mendekatkan wajahnya kearah wajah Elza.
Elza menelan salivanya susah payah, dia berusaha tenang "sa saya hanya ingin membersihkan kamar anda tuan" hembusan nafas Tama mendera kulit wajah Elza, membuat gadis itu menahan nafas dan tak mau melihat mata pria tersebut.
Tama tatap wajah cantik Elza, dia tahu kalau Elza hendak membersihkan kamar karena sapu yang tadi dia pegang, tapi kenapa dia gugup sekali seperti menyembunyikan sesuatu? membutanya curiga saja. "bernafas el"
Elza melotot, dia kemudian membuang nafasnya sangat panjang, tadi dia benar benar lupa caranya bernafas saat wajah Tama sangat dekat dengan wajahnya.
Tama masih menyusuri wajah Elza dan matanya berhenti dibibir ranum Elza yang sedikit terbuka, sangat meggoda iman Tama yang dangkal itu.
__ADS_1
"tu-tuan?" ucap Elza pelan.
Tama tekesiap, dia menjauhi wajah Elza dan melepaskan cekalan tangannya. "kalau mau membersihkan kamar, ayo" Tama menempelkan ibu jarunya dan pintu kemudian terbuka.
Elza mengikuti langkah kaki Tama, dia menoleh kekanan dan kiri, ruangan luas yang didominasi warna biru laut dan abu abu itu terlihat sangat nyaman saat memandangnya, apalagi penataannya yang rapi.
bruk
Elza menubruk punggung Tama, dia tak melihat kedepan karena sibuk memperhatikan kamar tersebut "ma-maaf tuan"
Tama berbalik, dia menatap wajah Elza "perhatikan langkahmu!"
tuk
Tama tertegun saat suara Elza terdengar sangat se*i, suara desa*an Elza barusan membuat otaknya bertraveling.
Geleng geleng
Tama menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran kotor yang baru saja melintasi otaknya "sialan! ada apa dengan otakku!"
Sudah lama sekali Tama tak menyalurkan hasratnya sehingga membuatnya selalu gelisah, dan terkadang satu satunya jalan dia main sendiri karena saat bermain dengan wanita manapun dia tak berselera lagi, satu wajah yang selalu terbayang saat hendak menyalurkan hasrat pada wanita lain yaitu wajah gadis yang sekarang ada dihadapannya.
"tuan" menepuk bahu Tama karena melihat Tama melamun.
__ADS_1
"ah- ya sayang?" Tama terkesiap kaget saat menyadari apa yang dia katakan barusan, apalagi melihat wajah bingung Elza.
"eh hehehe maaf, saya salah ucap, ada apa el?"
Elza menggeleng "padahal saya suka loh tuan dipanggil begitu, tapi karena anda hanya salah ucap ya sudahlah" terkekeh geli saat melihat Tama membelalakan matanya.
"kalau begitu saya bersihkan dulu tuan kamarnya" berjalan mendahului Tama.
"tunggu" mencekal tangan Elza.
"kenapa?" tanya Elza, dia menatap tangannya.
"eh maaf" melepaskan tangan Elza "tadi apa yang kamu katakan?"
"yang mana?"
"ck, panggilan sayang" ujar Tama sedikit kesal.
"oooo itu, saya hanya bercanda tuan, jangan terlalu serius hehe" meringis memperhatikan giginya yang putih "kalau anda memanggil ku begitu, bisa habis saya sama pacar anda"
Tama mengangguk canggung "oh.. kalau begitu teruskan pekerjaanmu"
Elza mengangguk "baik" dia berjalan menjauhi Tama, seringai licik muncul dibibirnya yang tipis.
__ADS_1
"sedikit sedikit kau akan jatuh kedalam pesonaku!" batinnya berseru, dia tak tahu saja kalau sebenarnya Tama sudah memiliki rasa padanya, hanya saja pria tersebut masih menampiknya.