DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
tidak memperkirakan


__ADS_3

Pagi harinya Tama terbangun dengan suasana hari yang cukup bagus, dia bahkan berdendang saat mandi dikamar mandi.


Selepas bersiap, dia pergi keluar sembari menenteng tas kerjanya lalu duduk dikursi makan.


"kemana gadis kecil itu?" gumam Tama. dia tak melihat batang hidung Elza yang biasanya menyapa saat dia duduk dikursi makan.


Saat hendak mencari kedapur, dia mendengar suara langkah kaki mendekat, senyum simpul nan lembut dia persembahkan pada gadis kecil yang tampak sudah sangat cantik datang menghampiri.


"selamat pagi tuan Tama" sapa Elza ramah, dia tersenyum ceria.


"pagi" Tama berdiri, dia meneliti setiap inci wajah gadis itu dengan seksama, wajah Elza tampak cantik meski dia hanya memoleh tipis wajahnya dengan bedak.


Alis yang rapi alami serta bibir merah bak cheri yang manis, tampak begitu menggoda baginya "ayo sarapan" menarik tangan Elza lembut.


Pelakuan Tama barusan berhasil membuat gadis itu terhenyak.


"tuan"


Tama menoleh, dia menarik sudut bibirnya, sungguh Elza terkesima melihat ukiran wajah sempurna pria yang ada dihadapannya, pantas saja setiap wanita yang melihatnya bisa sampai tergila gila, kalau dia tak memiliki dendam padanya mungkin dia pun akan sama dengan mereka.


"seandainya saja anda tidak jahat pasti saya akan gila juga melihat wajah sempurna ini setiap hari, aissh.. apa yang gue pikirkan! singkirkan jauh jauh pikiran nyeleneh itu!!"


"saya sarapan nanti saja" terangnya pelan, dia merasa tak pantas makan satu meja mengingat dia adalah asisten Tama saat ini, tentu Elza tahu diri.


"ini perintah!"


Elza mengangguk lemah "baiklah" pasrah pada akhirnya karena malas mendebat pria itu. "ya kau bosnya!"


Tama tersenyum penuh kemenangan, dia meraih susu yang sudah Elza siapkan, setelah gadis itu datang Tama tak lgi melewatkan sarapan serta satu gelas susu hangat untuk memulai aktifitasnya.


Hati Tama menghangat melihat gadis itu mulai mengunyah makanannya.


"kamu mau pergi kuliah?"


Elza mendongak, sehingga membuat mata cantiknya langsung satu titik dengan mata Tama "matanya cantik sekali, jernih dan berbinar seperti bintang"


"iya tuan" Elza menjawab setelah menggunyah makanannya.


"apa besok kamu ada waktu?"


Elza terdiam sejenak memikirkan sesuatu "waktu? besok kan weekend, apa jangan jangan dia mau mengajakku kencan?"

__ADS_1


"memang kenapa tuan?" Elza memilih bertanya dulu memastikan apa yang dia pikirkan tadi.


"saya akan mengajakmu kesuatu tempat"


"apa anda mau mengajakku kencan?" Elza terkesiap, dia merutuki kebodohannya yang mengeluarkan isi hatinya.


Tama tampak menarik sedikit sudut bibirnya "kencan?" terdengar meyenangkan karena dia belum pernah berkencan sebelumnya.


"ah bukan ya? hehe saya pikir--"


"bisa dikatakan begitu" cepat memotong ucapan Elza.


"hah? dia serius?" batin Elza tak pecaya.


"bagaimana? kamu ada waktu?" tanya Tama lagi.


"tentu saja ada" menjawab secepat kilat.


Tama tergelak, dia melihat wajah Elza yang tampak malu dan sekarang membekap mulutnya sendiri dengan tangan setelah terkesiap kaget menyadari jawabannya sendiri.


"cepat habiskan sarapannya! agar cepat besar"


Tama hanya menggeleng "kamu masih kecil"


Tama sepertinya menikmati wajah kesal Elza, terlihat lucu saat dia marah sehingga terus memancing kekesalan gadis itu.


"apanya yang kecil?" tanya Elza dengan seringai kecil disudut bibirnya.


uhuk


Tama tersedak makanan yang sedang dia kunyah saat mendengar ucapan ambigu dari gadis yang sedang duduk dihadapannya.


"lihatlah dengan jelas! menurutku sudah besar dan aku juga masih dalam masa pertumbuhan sehingga kemungkinan masih bisa terus tumbuh!"


"apa yang kamu katakan!" Tama meraih gelas susu dan segera menenggak cepat sampai tandas tak tersisa.


"kenapa panas sekali? padahal dia hanya menjelaskan tentang tubuhnya yang akan semakin besar dan tinggi, tapi kenapa otakku malah tertuju pada dadanya itu! aaahhk please otak! jangan berfikiran sembarangan!" batin Tama menjerit, lebih ke merutuki pikirannya sendiri.


Elza melihat sekilas tadi Tama memperhatikan dadanya, sudut bibirnya tersenyum,tidak! bukan senyum tulus tapi senyum jijik terkesan mecemooh karena baru dipancing begitu saja wajah Tama tampak merah padam sunguh pria dengan iman yang begitu dangkal "pria cabul !!" umpatnya dalam hati.


Tama sekarang fokus kemakanannya, dia tak mau sampai lepas kendali saat menatap gadis cantik yang ada didepaannya itu, meski dia sungguh tersiksa sekali.

__ADS_1


Makanan telah habis, dan Elza sedang membereskan piring dan gelas kotor hendak dia cuci sebelum pergi kekampus.


"El.. kita berangkat bersama mau?" tanya Tama penuh harap.


Elza mendongak dan menghentikan pekerjaannya "tidak perlu tuan, saya sudah membawa mobilku kemari"


"ngomong ngomong tentang mobil, aku jadi teringgat sesuatu" ucap Tama, dia ingin melihat reaksi Elza saat dia menyinggung perihal mobil.


Alis Elza menyernyit "apa?" tanyanya penasaran.


"aku seperti tidak asing melihat mobil itu, aku seperti pernah melihatnya tapi dimana ya? aku lupa"


Dapat Tama tangkap wajah Elza yang berubah, apalagi sekarang dia tampak menggenggam erat sendok yang sedang dia pegang.


Nah benar kan? kamu tegang begitu, gumam Tama dalam hati.


"mobil itu kan sangat pasaran, mungkin anda melihat dijalan" jawab Elza dengan sedikit gugup.


"tapi aku seperti mengenal nopol nya juga"


Elza semakin pias, tapi sebisa mungkin menutupinya dengan wajah yang tenang "saya membeli mobil second tuan" otaknya dengan cerdas langsung bekerja, disaat genting begini untung otaknya masih bisa dia pakai.


Tama menggakui jika gadis itu sangat pintar menutupi kegugupannya "oh begitu? mungkin aku mengenal pemilik mobil sebelumnya"


"iya, iya pasti begitu hehe, saya kebelakang cuci piring dulu tuan" Elza cengengesan sambil menganggkat piring, hendak kabur.


"silahkan, aku juga mau berangkat"


Elza meengangguk "oh i-iya, kalau begitu hati hati"


Tama tersenyum dan mengangguk "aku pergi" berdiri dan segera pergi keluar dari apartemen.


Elza mengelus dadanya yang berdebar, membuang nafasnya panjang sekali "untung bisa buat alasan tadi, dan bodohnya gue tak memperkirakan ini sebelumnya!" gerutunya kesal, dia merutuki kebodohannya yang memakai mobil milik mendiang kakaknya, dia tak mau menjual mobil kenangan itu sehingga mau tak mau dia pakai agar tak rusak.


"kedepannya gue harus berhati hati, jangan sampai dia curiga"


**


hey hey readers kesayangan. selamat pagi...


jangan lupa like komen dan kasih bunga/coffee ya..

__ADS_1


__ADS_2