
"maaf tuan"
Tama yang baru saja sampai dikantor langsung dicegat oleh sekertarisnya,Reyna.
Alisnya menyernyit karena tidak biasanya wanita itu memanggil dirinya bahkan sebelum dia masuk kedalam ruangan "ada apa?" akhirnya Tama bertanya karena penasaran.
"i itu sebelumnya saya mohon maaf telah mencegat jalan anda, saya hanya ingin bertanya"
"jangan berbelit belit, cepat katakan!"
Reyna terkejut, tapi sebisa mungkin menguasai diri agar tidak gemetar "saya hanya mau bertanya apakah anda membutuhkan asisten rumah tangga?"
Alis Tama semakin menukik dia menatap wajah cantik sekertarisnya yang sudah bekerja dengannya hampir lima tahun "apa uang gajimu kurang?"
Reyna terbelalak lalu menggeleng cepat "tidak, gaji saya cukup, pekerjaan ini untuk adikku, dia sedang mencari kerja sampingan" jelasnya.
"adik? bukankah kamu anak terakhir dalam keluargamu? apa ayahmu selingkuh dan memiliki anak lain?"
Reyna mendengus kesal, kalau saja Tama bukan atasannya dia akan menendang mulutnya yang suka sekali asal bicara,
da kalau saja Elza tidak memintanya untuk mencari pekerjaan dirumah Tama, dia sama sekali malas berurusan dengan buaya darat itu, apalagi ucapannya tadi membuatnya jengkel "ayah saya setia!" ucap Reyna tegas. "tidak seperti anda!" gumamnya pelan.
"apa yang kau katakan?!"
Reyna tersentak "ah tidak tidak, saya tidak mengatakan apa apa tuan" ucapnya cepat membantah, dia tersenyum kikuk setelah mengatakannya.
Tama menghela nafasnya, dia mendengar ucapan Reyna barusan, Tama tahu pasti bagaimana wanita yang ada dihadapannya itu tahu luar dalamnya Tama, bahkan dulu teman Reyna adalah salah satu mantan kekasihnya dulu.
"sebenarnya kau mau mengatakan apa? saya tak ada waktu meladenimu"
"tuan kumohon, beri adik saya pekerjaan, hanya untuk membersihkan tempat tinggal anda, karena dia masih kuliah dan bekerja paruh waktu juga, dia butuh uang untuk melanjutkan hidupnya yang kesulitan" ucap Reyna mengiba.
"kau bilang dia adikmu?"
Reyna mengangguk.
"kau mau memasukan adikmu kekandang buaya?"
__ADS_1
Reyna terbelalak, dia tahu betapa brengseknya Tama, dia juga tidak mau sampai Elza terjerat dengan pria berkuasa yang memiliki banyak kekasih itu.
"hahaha lihatlah, kau ragu bukan?" Tama masuk kedalam ruangan meninggalkan Reyna yang masih berdiri memikirkan apa yang Tama katakan.
Laras yang melihat Reyna menghampiri Tama dan berbincang cukup lama merasa sebal, dia menghampiri patnernya dalam bekerja itu "hey Reyna!"
Reyna yang masih terbengong menoleh kesumber suara "apa?" tanyanya malas.
"kau ngapain mencegat bos? mau menggodanya?" tanya Laras sarkatis.
Reyna menatap wajah Laras dengan tatapan tajamnya "menggoda? cuuih ambil sana!"
"hey Reyna! kemari kau!"
"apalagi?" tanya Reyna mulai jengah, dia menatap kesal Laras.
"jangan dekati boss, karena dia adalah milikku!"
Reyna tertegun sebentar "buahahaha" tawa Reyna menggelegar, dia adalah wanita kuat dan tidak akan bisa ditindas, selain kuat ucapannya pun cukup pedas saat bicara.
"sialan! apa yang kau tertawakan?!" ucap Laras tak terima.
Reyna menatap Laras dari atas dan bawah dengan pandangan menilai "kalau dilihat lihat kau tak ada apa apanya dengan model yang sering datang kemari" ucapnya mencemooh.
"kaaau!"
"sudahlah Laras berhenti mengangguku! cepat selesaikan berkas yang tadi aku berikan! setengah jam lagi kita meeting dengan boss"
"ck urusan kita belum selesai" Laras mendengus kesal, tapi menuruti ucapan Reyna dan segera duduk mengerjakan apa yang tadi Reyna bilang, dia tak mau sampai Tama memarahinya.
"murahan!" batin Reyna mengumpati Laras.
Reyna segera menghubungi Elza dan mengatakan kalau Tama menolak keinginannya.
***
Elza yang baru saja sampai dikampus mendapatkan kabar mengenai penolakan Tama, dia memegang ponselnya sembari jalan pelan dilorong.
__ADS_1
"kumohon bujuklah dia kak" pesan yang Elza kirimkan ke Reyna.
"akan kakak usahakan, tapi kalau dia menolaknya lagi kakak nggak mau lagi, kakak muak sekali memelas dihadapan pria jelek itu!"
Elza terkekeh melihat pesan yang Reyna kirimkan "baiklah kak, terimakasih"
"senyum senyum sendiri, lagi balas chat siapa sih?"
Elza terkejut, dia menoleh kesamping dan melihat pria yang saat ini tengah berjalan bersisian dengannya dan sedang berusaha melihat ponselnya, jangan lupakan wajahnya yang sangat dekat dengan dirinya membuat Elza merasa waspada "jauh jauh lo!" mendorong bahu pria itu sampai menjauh darinya.
"ishh lo itu cewek, kok kuat banget sih" keluhnya, dia adalah salah satu pria populer dikampus, dia adalah Davin.
"jangan dekat dekat gue! pergi sana!" ucap Elza jutek.
"ini tempat umum , lo nggak bisa mengusir gue!"
Elza mendengus, dia melangkah lebih cepat agar cepat sampai dikelasnya.
Tapi dengan tak tahu malu Davin menarik tangan Elza, Elza yang tak siap pun tertarik dan terpelanting kebelakang, menubruk dada bidang pria itu.
Elza terbelalak saat Davin memeluk pinggangnya "loo!" ucapnya memekik.
"kemarin lo nendang kaki gue, gue kesakitan" ucapnya dalam, dia menatap lekat wajah cantik alami Elza.
"itu karena elo menganggu! gue harus menyingkirkan siapa pun yang menghalangi langkahku!"
"hahaha.. elo arogan sekali jadi cewek!"
Elza melengos, dia mencoba lepas dari pelukan pria itu, beberapa mahasiswi dan mahasiswa yang melihat kejadian itu mulai berbisik bisik, membicarakan kedekatan Davin dengan wanita yang sama sekali tidak mereka kenal, Elza memang jarang bergaul sehingga banyak yang tak tahu namanya.
"lo membuat kita jadi pusat perhatian bodoh!"
"biarin! gue mau lo tanggung jawab" ucap Davin sedikit keras.
Dan makin hebohlah orang yang mendengar penuturan Davin barusan., apalagi para wanita yang memuja pria itu
Elza menghela nafasnya, dia tak bisa menghindari pria yang suka seenaknya ini, dan mau tak mau hendak bertanya tapi sebelum mulutnya terbuka.
__ADS_1
bruk
Elza terbelalak saat melihat Davin tersungkur kelantai, dia menoleh kesamping dimana ada seorang pria yang baru saja melayangkan bogemannya kewajah Davin.