
Malam harinya Tama duduk sendiri diruangan VVIP sebuah club malam yang terletak dilantai dua, dia menyandarkan tubuhnya disofa yang nyaman.
Sembari menatap dance flour yang berada dilantai dasar, dari sana masih bisa melihat bagaimana wanita wanita malam yang sedang melanggak lenggokan tubuh indahnya dilantai tersebut untuk menarik pria hidung belang.
Tama menghala nafasnya dalam, dia sama sekali tidak berniat untuk menarik salah satu wanita malam itu masuk kedalam ruangan tersebut.
Entah kenapa dia merasa jijik melihat wanita yang hanya mengenakan bikini, padahal dulu Tama akan dengan semangat ikut berdansa dan menarik salah satu yang menarik perhatiannya.
"sialan! mereka benar benar membuatku ingin muntah" ujarnya. dia melengos agar tak melihat pemandangan panas yang ada disana.
brak
Tama terbelalak saat pintu ruangan yang ditempatinya saat ini didobrak dari luar, dia secara sepontan berdiri lalu mangambil pistol yang ada didalam saku jas miliknya, dia menodongkan kearah pintu, tatapan matanya menajam.
Dia merasa terkejut bukan main.
"hey turunkan senjatamu itu!" pekik seseorang yang baru saja masuk.
Tama menghela nafasnya panjang, dan menatap kesal pria yang saat ini sedang berjalan mendekatinya "apa tidak ada cara yang lebih elegan saat membuka pintu?" tanyanya tidak suka, dia menatap kesal teman dan juga sahabatnya, Bastian.
"tumben marah-marah begitu, apa ada masalah?" tanya Bastian, dia duduk disofa dan menenggak satu gelas wine mahal yang dipesan oleh Tama.
__ADS_1
Tama mendengus, dia duduk kembali dan menyimpan pistolnya lagi kedalam jas.
Bastain tatap serius wajah Tama , entah apa yang saat ini pria itu pikirkan tapi tatapan matanya menajam tetapi terlihat khawatir dan mengiba.
"ada apa dengan tatapanmu itu?" tanya Tama sembari menyernyitkan alisnya.
Bastian menghela nafas, lalu menggeleng tanda kalau dia papa "jangan tatap wajah gue begitu! cepat ceritakan tumben sekali elu kemari sendiri tanpa adanya antek antek jala*g yang menemani"
"gue jijik melihat mereka" ucap Tama dengan jujur.
Bastian terdiam, dia ngelag sebentar lalu "buahahaha seorang casanova macam elu jijik? apa dunia ini sudah mau kiamat ya?" ucapnya sembari terus tertawa ngakak.
Tama mendengus "gue serius bodoh!"
"mungkin" ucapnya ragu. dia menilikkan matanya keatas.
"bodoh sekali lo tam!" ucap Bastian meremehkan, dia saat ini benar benar menatap Tana dengan pandangan mencemooh.
"ck! tidak semudah itu meyakinkan hati gue sialan! gue masih ragu"
"terserah lah, tapi kalau cewek itu diambil orang, jangan nangeees!" ucap Bastian meledek, dia menggoyangkan tubuhnya sembari menunjuk matanya sendiri dia peragakan seperti mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Tama mengehala nafasnya saat sahabatnya itu justru meledeknya, dia membuang muka kesamping.
"tapi gue tekankan tam! buka mata elu sebelum jauh melangkah!" ucap Bastian dengan serius.
Tama tatap wajah Bastian, dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Bastian barusan tapi karena masih merasa kesal Tama malas bertanya.
"sekarang, ayo kita minum minum sampai mabuuuuk" pekik Bastian kemudian, dia meraih botol wine dan menengguknya langsung dari bibir botol.
"gila lu!"
"hahaha makasih pujiannya" ujar Bastain sembari tertawa.
"dih siapa juga yang muji elo!"
Bastian kembali terbahak, dan tanpa sadar Tama jadi ikut tertawa karena tawa Bastian benar benar menular.
Bastian yang sempat mendapatkan titah dari Arsen untuk menyelidiki kehidupan Tama akhir akhir ini telah mengetahui apapun mengenai kehidupan Tama termasuk siapa yang akhir-akhir ini membuat Tama galau.
Dan Bastian juga menyelidiki kehidupan wanita cantik yang saat ini sedang berusaha mendekati Tama dengan niat tidak baik.
"akan gue lindungi elu tam! walaupun gue tahu seseorang yang akan menghancurkanmu itu benar benar telah masuk kedalam hatimu, gue akan berusaha menjaga agar dia tidak menyakitimu! " batin Bastian penuh tekad, dia tatap wajah sayu Tama yang tampak kurang bersemangat seperti biasanya.
__ADS_1
"wanita cantik dan baik yang sedang berusaha menjadi rubah betina!"