DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
dimana ini?


__ADS_3

"emmh" Elza bergumam, dia memegang tengkuknya yang terasa sakit. Gadis cantik itu membuka matanya perlahan.


Alisnya menyernyit saat silau cahaya mulai mengenai kornea mata nya. "aku dimana?" gumamnya saat matanya sudah terbuka dengan sempurna. Gadis itu menoleh ke kanan dan kekiri. Bahkan dia mendongak keatas untuk memastikan dirinya ada dimana. Dia saat ini berada diatas ranjang Queensize, sudah dipastikan jika dirinya berada disebuah kamar. Kamar yang sangat luas dan mewah dengan ornamen yang sangat elegant meski kamar ini didominasi oleh warna hitam dan abu-abu.


Gadis itu memijit pelipisnya, dia memang berada ditempat asing saat ini. Elza mengingat kembali pertengkaran antara dirinya dan Tama sebelum dia dibuat pingsan oleh pria itu "aish.. sialan!" umpatnya setelah semua memori telah kembali.


Elza menurunkan kakinya kelantai. Lalu gadis itu berjalan menuju jendela. Menyingkap gorden untuk memastikan dirinya ada dimana "dimana ini?!" ucapnya dengan shok saat melihat lautan lepas sebagai baground kamarnya saat ini.


Elza menjadi panik, apalagi dia berada ditempat yang asing. Dengan langkah cepat Elza berjalan kearah pintu, tangannya terulur untuk membuka pintu tersebut.


klek


"Eh-" gadis ini menatap pintu dengan cengo saat pintu berhasil ia buka. Tadinya ia pikir jika pintu kamar ini akan terkunci dari luar. Tanpa banyak berfikir Elza segera keluar dari kamar. Saat dua langkah dia meninggalkan kamar, Elza terkejut saat melihat banyaknya orang berbadan besar menoleh kearah dirinya. Elza terdiam dan sedikit takut mengingat dia hanya seorang diri, meski ia bisa ilmu bela diri jika dihadapkan dengan pria berbadan besar sebanyak ini Elza pasti akan kalah.


"Nona"


Elza tersentak dan menoleh saat dipanggil oleh seseorang.


"mari ikut saya untuk sarapan" ujar seorang wanita, jika dilihat dari pakaian yang dia kenakan sudah dia pastikan jika wanita ini adalah salah satu maid disini.


"dimana ini?"


"mari" bukannya menjawab, wanita itu malah mengulurkan tangannya agar Elza berjalan kearah tangan yang ia tunjukan.


"ini dimana?!" Elza sudah menaikkan satu oktaf suaranya. Dia merasa kesal karena pertanyaan nya tidak dijawab.


"maaf nona, saya tidak bisa mengatakannya"


Elza mendengus "cih.." berjalan dengan cepat menuju tangga. Dia hendak pergi dari tempat ini.

__ADS_1


"nona, mari sarapan terlebih dahulu, nanti tuan marah" ujarnya sembari mengekori kemana Elza berjalan.


Elza menoleh dan menatap sinis wanita tersebut "dimana tuanmu?"


"tuan sedang ada urusan, nanti baru akan datang"


Elza semakin berjalan mendekati pintu keluar, saat langkah kakinya sampai diluar matanya disuguhkan oleh pemandangan indah pantai berpasir putih. Sungguh tempat ini sangat cantik sekali akan tetapi karena saat ini Elza tengah panik dia acuh dan tidak peduli.


"kau mau kemana nona?"


Elza yang hendak berjalan semakin jauh terhenti. Lalu dia membalik badannya. Sejauh ini meski disini banyak pria yang berjaga tapi mereka semua tidak ada yang berani mencegat atau menyela dirinya. "siapa kau?"


Pria yang tampak tampan itu berjalan mendekati Elza "kau mau kemana? kabur dari sini?"


"tentu saja iya! kau siapa hah? dan dimana ini?"


"kabur? hah... kau tidak akan bisa" ujarnya dengan suara yang dingin.


"tentu saja! ini adalah sebuah pulau yang sangat yg jauh, kau hanya bisa pergi dari sini melalui jalur laut atau udara" ucapnya sembari menunjuk laut dan langit.


Elza terdiam, pantas saja para penjaga itu tidak ada yang mencegat dirinya. Rupanya dia memang tidak bisa kabur.


"tapi jika kau bisa berenang, bisa dicoba. Kemungkinan kau membutuhkan waktu satu hari untuk berenang" ucapnya dengan santai, lalu pria itu duduk di kursi santai yang ada didepan Villa.


Elza mendengus mendengar ucapan pria itu. Meski ia memberikan saran, tapi saran itu adalah hal yang sangat mustahil. Sebelum dia sampai didaratan, sudah dipastikan jika Elza akan mati jika dia harus berenang selama itu. Gadis itu berjalan dengan menghentakkan kakinya lalu duduk diseberang pria yang tampak santai sembari memainkan ponselnya.


"Boleh aku pinjam ponselmu?"


Pria itu tampak menatap jengah Elza "kau pikir aku akan meminjamkan nya?"

__ADS_1


Elza terdiam karena hal itu sangat mustahil "siapa namamu?" dia memilih untuk bertanya namanya saja. Karena dia yakin jika pria ini memiliki hubungan dengan Tama. Entah saudara atau temannya tapi yang Elza yakini pria ini cukup dekat dengan Tama saat melihatnya tampak santai berada disana, tidak seperti pria-pria yang berdiri disetiap sudut Villa ini yang fokus berjaga.


"Arlendra"


Tanpa Elza duga, pria itu menjawab "aku Elza"


"sudah tahu!"


Arlendra adalah salah satu rekan Tama di dunia bawah. Pria tampan ini adalah salah satu orang penting di kelompok Tiger White, dan dia juga salah satu pria yang dihormati disana. Selain itu Arlendra sangat dekat dengan Tama dan dua sahabat Tama.


Elza menatap malas Arlendra "ini dimana sebenarnya tuan? lalu dimana pria breng-sek yang membawaku kemari?"


"kau tidak perlu tahu ini dimana, lebih baik kau sarapan dan jangan banyak bertanya padaku!"


"ck.. aku tidak akan mau makan, biarlah aku mati"


"mati juga tidak ada hubungannya denganku"


Elza terbelalak saat pria yang katanya bernama Arlendra itu tampak acuh tak acuh padanya. Apalagi setiap kata yang dia ucapkan selalu ketus. "menyebalkan sekali"


Elza memilih untuk berdiri dan berjalan-jalan saja, siapa tahu dia bisa menemukan cara untuk kabur dari sana.


Dengan berte-lanjang kaki, Elza berjalan menyusuri pantai "bagaimana ini? aku tidak bisa kabur dari sini, apa yang harus kulakukan?" ujarnya sembari menggigit kukunya sendiri. "kenapa dia membawaku kemari? aku ingin pulang"


Langkah kakinya semakin melemah, dia memilih untuk berjongkok dan menulis sesuatu diatas pasir "TAMA JAHAT, BAJ-INGAN"


Matanya memerah, dia teringat bagaimana pertama kalinya ia berhubungan dengan pria yang menurutnya jahat itu, pria yang Elza yakini adalah pria yang menyebabkan kakaknya tiada.


Dengan nekat Elza menyusun siasat untuk membalas dendam, mendekati pria playboy yang sangat mudah digoda oleh kecantikan. Dan tanpa Elza duga, Tama segera menerima dirinya.

__ADS_1


Tapi sebelum dia menyelesaikan misi yang dia susun, sekarang dia malah terkurung dipulau ini. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Karena yang Elza tahu jika Tama tidak membiarkan nya pergi.


Elza menghapus air mata yang mengalir tiba-tiba "menyedihkan sekali" gumamnya meratapi nasibnya yang buruk setelah mengenal seorang Tama Aditya.


__ADS_2