DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
masih Lisa pikirkan


__ADS_3

Diteras depan setelah kepergian Tama dan Elza.


Lisa menatap wajah pria yang baru saja menangkap tubuhnya setelah didorong oleh Tama. Dia menatap takjub melihat betapa sempurnanya wajah pria yang saat ini tengah memeluknya dengan erat itu. Jika dari dekat wajahnya sangat menawan dengan rahang yang kokoh dan garis wajahnya seperti campuran dari negara Eropa. Sangat tampan sekali.


"ah--- mimpi apa semalam bisa dipeluk cogan" ucap Lisa tiba-tiba membuat Arlendra tersadar dari lamunannya.


Arlendra kemudian mengangkat tangannya keatas secara tiba-tiba.


bruug


"aww--" pekik Lisa saat Arlendra melepaskan rengkuhan tangannya. Dia menatap kesal pria yang saat ini tengah mengusap tangannya kebaju yang ia kenakan. "hey.. kau kurang ajar sekali tuan! setelah membuatku terjatuh kau bahkan mengelap tanganmu?! kau kira aku ini kotoran?" ucap Lisa sembari berdiri. Dia tidak terima sekali diperlakukan seperti ini. Bahkan Arlendra tidak mau membantunya sama sekali.


"kau memang kotoran" jawab Arlendra dengan suara datar. Arlendra berbalik dan melangkah meninggalkan gadis galak yang saat ini tengah memberengut dan menatapnya kesal.


"hey! tunggu!"


Arlendra menghentikan jalannya saat Lisa menahan tangannya. Dia menolehkan wajahnya kebelakang "jauhkan tangan Anda nona Lalisa Fredly!"


Lisa terkesiap saat pria yang tengah ia cekal ini berucap. Kenapa ia bisa tahu siapa namanya? Tapi bukannya melepaskan Lisa malah membalikkan tubuh Arlendra sehingga sekarang menghadapnya.


"ck.. merepotkan sekali" gerutu Arlendra. Lagi-lagi ia mengusap bekas tangan Lisa yang tadi bertengger dikedua bahunya.


"bagaimana anda bisa tahu namaku tuan?" tanya Lisa menyelidik. Dia menuding dada Arlendra dengan jarinya "mencurigakan sekali, jangan-jangan kau adalah penguntit"


Lisa mendengus saat melihat Arlendra hanya diam dan menampik tangannya "jawab aku!"


"tidak penting" ucap Arlendra acuh, ia kembali membalik tubuhnya hendak menjauhi gadis ini.


Tapi bukannya menjauh, Lisa malah mengekori kemanapun ia pergi "anda tidak ada kerjaan ya nona?! kenapa mengikutiku sedari tadi?" gerutu Arlendra terdengar kesal. Dia memang kesal dan risih diikuti terus.


"aku memang tidak ada kerjaan. Disini tidak ada orang lain yang bisa ku ajak bicara. Elza dibawa tuan Tama entah kemana"


Arlendra menghela nafasnya panjang "kau bisa memilih salah satu kamar untuk beristirahat. Banyak sekali kamar yang kosong, kau tanya kepenjaga villa sana!" ucapnya mengusir Lisa dari hadapannya.


Lisa menggeleng "aku ingin berkeliling. Maukah--"


"tidak!" secepat kilat Arlendra menjawab. Membuat Lisa mendengus kesal.

__ADS_1


"aku tidak peduli, kau harus menemaniku! atau nanti setelah pulang dari sini aku akan melaporkanmu pada pihak berwajib kalau kau telah membawaku kabur" ancamnya.


Arlendra menatap tajam mata Lisa "kalau aku menenggelamkan mu kelaut terlebih dahulu, kau tak akan bisa lapor polisi kan ya?" tanya Arlendra diselingi dengan ancaman.


Lisa memelototkan matanya, dan secara spontan memukul bahu Arlendra "kamu berani mengancam ku?"


Arlendra terkesiap karena selama ini tidak ada wanita yang berani bersikap seperti ini padanya "kendalikan tangan Anda nona. atau nanti saat anda pulang tanganmu itu hanya tinggal satu"


glek


Lisa menelan ludah, dia merasa takut mendengar ancaman Arlendra yang terdengar tidak main-main ini. "dia menakutkan sekali" batinnya berseru.


Melihat wajah pias Lisa, Arlendra menyeringai. Menyenangkan juga membuat gadis ini ketakutan. batinnya berucap.


"anda hanya bercanda kan tuan?"


"apa aku terlihat sedang bergurau sekarang?"


"sial.. Dia serius" Lisa memalingkan wajah saat pria ini terus saja menatapnya tajam. "ehem" setelah berdehem, Lisa menatap Arlendra kembali "tuan.." ucapnya dengan lembut, dia tersenyum dengan sangat manis. Biasanya semua lelaki tidak bisa berkutik melihat senyum mautnya ini.


"kau kenapa? ingin buang air?"


Tanpa Lisa sadari, Arlendra menarik sudut bibirnya melihat tingkahnya yang sangat lucu "eh--- lucu? cih ... yang ada tingkahnya yang konyol" batinnya meralat pikirannya yang semula terasa aneh.


Dia berjalan meninggalkan Lisa kembali, tapi lagi-lagi gadis ini mencekal tangannya. Alisnya menyernyit "ada apa lagi?!" ujarnya sembari menggeram.


Lisa menghela nafasnya panjang saat Arlendra yang tampak hampir kehilangan kesabarannya "kalau anda menolak untuk menemaniku berkeliling, makan beritahu siapa namamu saja tuan"


"tidak penting!"


"ishh... ini sangat penting karena aku sangat penasaran"


"nona.." Arlendra menekan suaranya, menandakan jika ia hampir kehabisan kesabaran.


Lisa melepaskan tangannya keatas "baiklah.. aku menyerah. Dasar pria menyebalkan!" gerutunya. Dia membalik tubuhnya dan duduk diatas kursi yang tadinya diduduki oleh Tama. Membuka kaleng minuman yang tergeletak diatas meja.


Hal itu tak luput dari pandangan mata Arlendra, pria tampan itu membalik badannya ketika sampai diambang pintu.

__ADS_1


Dia menyernyit melihat gadis itu meraih kacang panggang yang ada diatas meja, memasukan satu kacang dengan kulit-kulitnya kedalam mulutnya "gadis yang sangat aneh" ujarnya sembari terus melihat Lisa yang membuka kacang dengan menggunakan giginya.


"Lo terpesona melihat gadis itu Ar?"


Arlendra terkesiap saat mendengar bisikan dari seseorang, dia menoleh dan menatap sebal pria yang saat ini tengah terkikik karena berhasil membuatnya kaget. "terpesona? cih.. kalau jijik iya"


Tama kembali tergelak melihat reaksi Arlendra yang bergidik melihat tingkah Lisa. "jangan jijik Ar. Padahal gue mau menjodohkan elu dengannya"


Mata Arlendra terpelotot "what?!" pekik Arlendra yang terkejut mendengar ucapan Tama. Dia menoleh kearah gadis yang tengah asik memakan kacang "dengan gadis model seperti itu?" Dia bergidik lagi.


"hahahaha" tawa Tama menggelegar, dia menepuk bahu Arlendra karena merasa sangat lucu "jangan terlalu pemilih Ar. Nanti Lo jadi bujang lapuk"


Arlendra memutar bola matanya jengah "wanita? makhluk yang sangat merepotkan! jauh-jauhlah dari kehidupanku!"


Tama berjalan kearah Lisa, meninggalkan Arlendra yang tengah berdiri dengan wajah kesal "ehem"


Lisa menoleh dan terkejut melihat Tama yang saat ini berdiri tak jauh dari tempatnya duduk "di mana Elza?"


"dia sedang mandi, apa nona Lisa yang manis ini mau mandi juga?"


Lisa memutar bola matanya, sama seperti Arlendra tadi.


"tingkah mereka sama, mereka cocok nih" Tama.


"jangan menggodaku tuan! aku tidak akan tergoda oleh pria playboy sepertimu, meskipun aku tahu kau sangat-sangat tampan"


"hahaha" Tama tertawa saat mendengar ucapan Lisa, ternyata gadis ini sangat ceplas-ceplos. "baiklah. aku tidak akan menggoda mu, sekarang pergilah kekamar Elza dan bersihkan dirimu, kalau mau makan mintalah pada pelayan untuk membuatkanmu"


Lisa mengangguk mengerti lalu berdiri, dia berjalan menuju pintu. Tapi sebelum itu Lisa kembali menoleh kebelakang "kamarnya dimana?"


"apa nona Lisa mau ku antar?" tanya Tama sembari menaik turunkan alisnya.


Dan sama seperti sebelumnya. Lisa memutar bola matanya lagi "tidak! tunjukan saja kamarnya!" meski Lisa tahu kak Zara meninggal bukan karena pria yang sedang mengobrol dengannya ini, tapi melihat tatapan genit dan ucapan manis pria ini sungguh membuatnya jengah. Lisa paling anti pria playboy cap buaya buntung seperti Tama. Terlabih lagi Lisa meyakini jika Elza sudah sedikit memiliki perasaan padanya. Bagaimana ia tahu? karena ia paling mengenal bagaimana Elza.


Lisa melihat dengan matanya sendiri jika Elza tampak lega karena bukan Tama yang menyebabkan meninggalnya kak Zara, meski Elzaa tak menceritakan perasaannya tapi Lisa dapat menerkanya sendiri.


Sebagai sahabat. Lisa akan mendukung sahabatnya apapun keputusannya, tapi jika mengingat bagaimana breng-sek nya Tama Aditya membuatnya berfikir kembali. Apakah nantinya Elza tidak akan tersakiti jika ia bersama dengan Tama?

__ADS_1


Hal itulah yang masih ia pikirkan.


Tama mengangguk dan memberitahu dimana kamar yang ditempati oleh Elza dan Lisa segera menuju kekamar Elza.


__ADS_2